Arwah

1247 Kata
Mirza merasakan tubuhnya semakin jatuh tenggelam, semuanya nampak gelap. Samar-samar Mirza mendengar suara Darel yang meneriakkan namanya sebelum suara tersebut perlahan menghilang dan semuanya menjadi benar-benar gelap. *** Mirza tersentak, kedua matanya seketika terbuka lebar dan memandangi dinding putih yang berada di sekelilingnya, suara monitor yang menampilkan grafik garis hijau naik turun terdengar begitu nyaring. Kemudian matanya menatap lengan kanannya yang mana terdapat selang infus di sana. Lantas Mirza berusaha bangkit dari rebahnya, terduduk di atas ranjang sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang yang sepi ini. Pun perlahan Mirza mencoba untuk turun dari ranjang, sialnya, Mirza dibuat terkejut juga takut setengah mati ketika ia mendapati dirinya sendiri masih terbaring di atas ranjang dengan beragam alat medis bersarang pada tubuhnya. Sontak saja hal itu membuat Mirza mundur beberapa langkah dengan telapak tangan yang membekap mulutnya sendiri. "A-apakah aku sudah mati?" Tanyanya kepada diri sendiri. "Kenapa aku bisa keluar dari tubuhku sendiri? K-kalau aku sudah mati, kenapa aku… kenapa aku masih ada di sini?" Mirza benar-benar dibuat bingung bukan main. Perlahan kakinya melangkah dengan perasaan takut untuk mendekat ke arah tubuhnya yang masih terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang. Namun, begitu jemarinya berusaha menyentuh tubuhnya itu ternyata lengan Mirza malah menembusnya. Pun Mirza menatap lekat-lekat telapak tangannya yang sekarang gemetaran itu sebelum akhirnya ia mencoba untuk menyentuh benda-benda lain lagi yang ada di sekitarnya seperti; tiang infus, juga nakas. Bahkan Mirza bisa melintasi tubuh seorang perawat yang baru saja memasuki ruangannya untuk memeriksa kondisi Mirza. "Suster apa kau bisa melihatku?" Ujar Mirza serata melambai-lambaikan tangannya tepat di hadapan wajah sang perawat yang sedang memeriksa aliran infus. "Hey! Bahkan kau juga tidak bisa mendengarku sepertinya!" Gerutunya sendiri. Mirza mondar-mandir sambil mengacak rambutnya sendiri, mencoba untuk mencerna sebenarnya apa yang sedang terjadi pada dirinya? Tidak ada yang bisa melihatnya juga mendengarnya. Mirza seperti berada di antara ada dan tiada, berada di garis batas kehidupan dan kematian. Lantas apa yang harus Mirza lakukan sekarang kalau dirinya saja tidak bisa berinteraksi dengan manusia lainnya. Setelah kurang lebih tiga puluh menit Mirza kebingungan di dalam ruangannya, bahkan perawat tadi pun sudah meninggalkan ruangan tersebut. Akhirnya Mirza berusaha untuk keluar dari sana, berkali-kali berusaha meraih gagang pintu tapi dirinya tetap tidak bisa. Sampai akhirnya ia menghela napas frustasi. "Lalu kalau begini bagaimana caranya aku bisa keluar dari sini?" Gumam Mirza, sekali lagi ia berusaha meraih gagang pintu agar dapat membukanya tapi tetap nihil. "Arghhhh!" Teriaknya sambil berniat untuk menggebrak pintu tersebut. Namun, tangannya malah menembus pintu sampai keluar. Pun akhirnya Mirza menyadari sesuatu, dirinya kembali mengulurkan tangan sampai berhasil menembus pintu itu lagi. "Ya, ampun. Kenapa aku bisa lupa kalau diriku bisa menembus apapun!" Serunya dan segera menerobos pintu tersebut, melintasinya seakan tidak ada yang menghalangi. Begitu ia tiba di luar, Mirza dibuat kaget dengan seorang lelaki yang tengah berdiri menatap ke arahnya. Bukankah tak ada yang bisa melihat Mirza? Perawat yang tadi saja tidak bisa melihatnya, tapi kenapa lelaki itu terus-terusan menatap ke arahnya sampai membuat Mirza celingukan sendiri. "Kau… melihatku?" Tanya Mirza dengan bodohnya. Dan pada detik berikutnya kepala lelaki itu mengangguk, membuat Mirza terlonjak seketika. "Bagaimana bisa?!" Pekiknya. Lagi-lagi Mirza melihat ke sekeliling kanan dan kirinya, barangkali lelaki itu sedang memperhatikan seseorang yang berada di sekitaran Mirza, tapi ternyata Mirza salah, lelaki itu benar-benar memperhatikannya sebab tak ada orang lain lagi selain mereka berdua di sana. "Kau benar-benar melihatku?" Tanya Mirza sambil mengarahkan telunjuknya pada diri sendiri. "B-bagaimana bisa?" "Kau baru saja mati?" Alih-alih menjawab, lelaki itu malah melempar Mirza dengan pertanyaan lain. "Mati? Entahlah. Aku melihat tubuhku masih terbaring di atas ranjang dengan beragam alat medis bersarang di sana." Jawab Mirza. Pun lelaki itu mengangguk mengerti. "Kau sedang koma." Katanya. Tidak lama kemudian, rombongan para petugas medis melintasi koridor tempat Mirza dan lelaki itu berada. Satu hal yang berhasil mencuri perhatian Mirza, ternyata rombongan tersebut mengantarkan seseorang yang telah terbujur kaku dengan wajah pucat dan sangat mirip seperti lelaki yang berbincang dengannya itu. Lantas Mirza segera menangkup mulutnya dengan kedua telapak tangan. "K-kau…." "Aku harus pergi, semoga semesta cepat menyatukanmu kembali dengan tubuhmu." Ujar lelaki itu seraya menyunggingkan simpul senyum, dan berjalan mengikuti rombongan barusan, meninggalkan Mirza yang terpaku di tempatnya. "A-apa barusan, aku b-bicara dengan hantu?" *** Setelah berkeliling rumah sakit, akhirnya langkah Mirza terhenti di depan sebuah kamar, yang mana sebelumnya Mirza melihat Nevan memasuki kamar tersebut. Lantas Mirza pun mengikuti Nevan. Seperti biasa, karena dirinya tidak bisa menyentuh apapun, maka Mirza menembus pintu. Didapatinya Nevan yang tengah terduduk di tepi ranjang, di atas ranjang sendiri ada seorang lelaki yang masih terbaring lemah, bahkan ia terlihat seperti baru saja sadar, matanya yang masih sayu terbuka pelan-pelan. "Darel…" Lirih Mirza. Seketika Mirza teringat, kalau Darel menjadi seperti ini pasti karena telah menyelamatkan dirinya. Lantas cepat-cepat Mirza berdiri di sebelah Nevan yang tengah menggamit jemari Darel. "K-kak…" Lirih Darel begitu lelaki itu melihat Nevan berada di sampingnya kala dirinya baru siuman. "Iya, Darel? Aku di sini." Jawab Nevan. "Aku juga di sini, Darel." Kata Mirza. "B-bagaimana… K-kak Mirza?" Mendengar Darel langsung menanyakan kondisinya, Mirza tentu saja merasa tersentuh. Dirinya ingin sekali saat ini menggenggam tangan Darel seperti yang Nevan lakukan itu, tapi apa daya, Mirza tidak bisa menyentuh apa pun. Bahkan tidak ada yang bisa melihat juga mendengarnya. "Aku baik-baik saja Darel, aku di sini." Ucapnya. Sementara Nevan justru malah terisak begitu mendengar tanya yang dilempar Darel. Lelaki itu nampak menundukkan kepalanya. "Mirza… Mirza masih harus tertidur, Darel. Dia koma." Jawab Nevan. "Nevan! Aku di sini Nevan! Darel, ini aku! Aku baik-baik saja!" Sergah Mirza yang mulai merasa kesal sendiri sekaligus sedih. Sebab dirinya merasa benar-benar tidak ada gunanya. Dengan langkahnya yang gontai Mirza berjalan ke arah pintu. "Kenapa aku tidak mati saja sekalian?" Racaunya. Begitu Mirza melintasi pintu, ia mendapati Arvin yang tengah berdiri di sana sambil melihat ke dalam ruangan. Pikir Mirza, kenapa dia tidak langsung masuk saja dan kenapa harus mengintip dari luar begitu? "Kak Arvin?" Tak disangka-sangka, ternyata Arvin menoleh kala Mirza melontarkan namanya. Pun hal itu tentu membuat Mirza mengerutkan dahi keheranan. "Eh, kau bisa melihatku?" Tanya Mirza. Raut wajah Arvin pun ikut menyiratkan rasa bingung. Namun, alih-alih menjawab, Arvin malah buru-buru berlalu meninggalkan Mirza yang masih diselimuti rasa bingungnya. Sebab, bagaimana bisa Arvin melihatnya? Sedang Nevan, Darel dan perawat yang ada di kamarnya saja sama sekali tidak bisa melihatnya. Satu-satunya yang bisa melihat keberadaan Mirza dan berkomunikasi dengannya adalah sosok hantu lelaki tadi. Sontak seketika Mirza menyadari sesuatu. Sebentar, hantu? Tadi dia ingat betul kalau Arvin bisa mendengar juga melihat dirinya. Kalau begitu berarti Arvin… Secepat kilat Mirza berlari menyusuri koridor rumah sakit untuk mengejar lelaki itu. Namun nihil, Arvin jauh lebih cepat menghilang dari pandangan Mirza. Begitu dirinya berada di lobby utama rumah sakit, Mirza nampak berpikir sejenak. "Rumah!" Pekiknya. "Dia pasti berada di rumah!" Ujar Mirza sebelum dirinya berlari meninggalkan rumah sakit dan sempat berpapasan dengan Brian yang baru saja memasuki rumah sakit. Mirza menyadari itu, lantas ia menoleh dan meneriakkan nama Brian. "Brian!!" Bodohnya. Sudah tahu Brian tidak akan bisa mendengar dirinya. Alhasil Mirza kembali pada tujuannya untuk memeriksa ke rumah apakah Arvin berada di sana atau tidak. Apakah sosok yang bertemu dengan dirinya di depan kamar Darel itu betulan Arvin atau bukan. Dikarenakan saat ini naik kendaraan rasanya tidak memungkinkan bagi Mirza, maka lelaki itu memilih berlari untuk menuju ke kediamannya. Padahal jelas jaraknya sangat jauh jika mesti di tempuh dengan berlari begitu. Namun, entah kenapa Mirza sama sekali tidak merasakan lelah, bahkan peluhnya juga tidak menetes. Jelas saja, kan yang sekarang berkeliaran itu hanya arwahnya, sedang tubuhnya tetap terbaring di atas ranjang rumah sakit, tapi ternyata peluh keringat Mirza justru malah membanjiri tubuhnya yang masih terbaring koma itu. Bahkan kondisinya jadi melemah sebab kelelahan. Setibanya ia di rumah, Mirza dikejutkan dengan jeritan yang ia tahu itu suara Aksa. Cepat-cepat dirinya menghampiri Aksa yang berada di depan pintu kamar Arvin. "KAK ARVIN?!!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN