Perpisahan

1720 Kata
Mirza terperangah kala dirinya mendapati Arvin sudah tak sadarkan diri dengan mulut yang berbusa serta kedua mata yang masih terbuka. Di sudut kamar, sosok arwah Arvin yang tadi dilihatnya di rumah sakit itu tengah berdiri menatapnya sendu. "Kak Arvin!" Panggil Mirza sembari melangkahkan kakinya untuk memasuki kamar Arvin, melintasi Aksa yang terlihat tengah menghubungi seseorang sambil meraung-raung. "Kak! Apa yang kau lakukan?!" Gertak Mirza. Rasa kesal, sedih, sakit semuanya bercampur menjadi satu. Adapun sejujurnya air mata begitu ingin mengalir deras, tapi apa daya, arwah tidak bisa menangis. "Kau sendiri? Apa yang kau lakukan sampai harus melompat dari atas jembatan segala?!" Nyalak Arvin. "A-aku…" Mirza dibuat skakmat sampai dirinya tertunduk kehabisan kata. "Kau tidak bisa menjawabnya, bukan?" Ketus Arvin. "Kak... Aku mohon…" kata Mirza dengan suara yang bergetar dirinya mengambil langkah agar menjadi lebih dekat dengan arwah Arvin di pojok sana. "Kembalilah pada tubuhmu kembalilah!! Aku mohon!" Selorohnya. "Lihatlah!" Jari telunjuk Mirza menunjuk ke ambang pintu yang mana terdapat Aksa yang masih tersedu, air mata terus membanjiri wajah lelaki itu. "Lihat betapa dalamnya rasa sakit Kak Aksa melihat kebodohanmu ini?! Itu baru Kak Aksa, belum yang lain! Kembalilah Kak! Kumohon kembali!!!" Gertak Mirza, kali ini dirinya menyeret arwah Arvin untuk mendekat ke arah tubuh Arvin yang terbujur kaku itu. Meski Mirza sendiri terkejut kalau ternyata dirinya bisa bersentuhan dengan sesama arwah. "Lihat dirimu dulu! Kenapa kau malah ada di sini bersamaku sekarang? Kalau kau benar-benar tidak ingin menyakiti mereka seharusnya kau jangan ambil tindakan bodoh dengan melompat ke dalam sungai!" Serang Arvin tak mau kalah. "Kak! Ini tentangmu, bukan tentangku! Kumohon cepat kembalilah ke dalam tubuhmu!!" Lagi-lagi Mirza berusaha mendekatkan arwah Arvin dengan tubuh Arvin, mendorong-dorongnya agar lelaki itu bisa kembali bersatu dengan tubuhnya. "Tidak bisa!" Bentak Arvin yang seketika membuat Mirza tersentak. "Sebaiknya kau yang kembali pada tubuhmu sekarang! Aku… aku sudah tidak bisa lagi kembali, Mirza!" Ujar Arvin dengan penuh penekanan, bahkan suaranya terdengar bergetar sebab menahan isaknya. "Kak…." "Kembalilah, Mirza… Brian, Nevan, Darel, Aksa, dan bahkan aku… ingin kau lekas siuman. Kembalilah, Mirza... Kembali…" Tutur Arvin, kali ini nada bicaranya terdengar begitu lembut bahkan Mirza bisa merasakan ada sebuah ketulusan di sana. Lantas perlahan Mirza mengambil langkah mundur. Dengan berat hati, Mirza meninggalkan Arvin dan kembali ke rumah sakit. Kaki Mirza melangkah dengan gontai. Riuh klakson mobil dan deru mesin kendaraan yang berlalu lalang menggema di telinga Mirza, mengiringi perjalanannya menuju ke rumah sakit. Di tepi jembatan, Mirza menatap pembatas jembatan yang menjadi saksi bisu percobaan bunuh dirinya, juga aksi heroik Darel yang ikut melompat demi menyelematkan Mirza. Kemudian Mirza menengadah, menatap langit biru yang tanpa awan. "Apa ini kesempatan yang semesta berikan kepadaku? Apa jatah hidupku belum waktunya berakhir?" Gumam Mirza. Pada detik yang bersamaan saat Mirza hendak melanjutkan kembali langkahnya, sebuah ambulan melaju kencang dari arah yang berlawanan. Pun Mirza sejenak menoleh, pasti ambulan itu menuju ke kediamannya untuk menjemput jasad Arvin. *** Mirza tiba di halaman depan rumah sakit, terlihat Brian yang nampak mondar-mandir gusar di lobby. Ia tahu betul pasti rekannya itu tengah menanti kedatangan ambulan yang kini sedang dalam perjalanan menjemput Arvin. Kemudian Mirza melangkahkan kakinya mendekat ke arah Brian. "Kak, aku yakin kau bisa menerima semua ini." Ucap Mirza meskipun dirinya tahu kalau Brian tidak mungkin bisa mendengarnya. Tidak lama kemudian, suara sirine ambulan mulai terdengar. Ekspresi wajah Brian seketika berubah menjadi penuh pengharapan, pun ketika ambulan terhenti, Mirza dapat melihat Arvin yang turut hadir. Arwah lelaki itu kini melangkah ke arahnya. "Mirza… ini belum saatnya untukmu. Biar aku yang pergi lebih dulu, Kak Deon pasti sudah menunggu terlalu lama, dia pasti sangat kesepian." Tepat ketika Arvin menyelesaikan penuturannya, kedua arwah itu mendapati Brian yang tengah mendekap Aksa dengan begitu erat. Nampak juga Aksa yang benar-benar terpukul atas kejadian ini. "Aku tidak menyangka, Kak Aksa ternyata begitu sedih kehilangan aku." Celetuk Arvin. "Bodoh! Sudah mati masih saja sempat-sempatnya bercanda." Timpal Mirza sambil memicingkan matanya. "Harusnya kau lihat, Kak! Apa kau tega melihat Kak Aksa yang tidak pernah berekspresi itu sampai tersedu sebegitunya hanya karena merasakan pahit kehilangan salah seorang sahabatnya untuk yang kedua kali!" Berang Mirza. Sedang Arvin hanya menyunggingkan senyumnya. "Mirza…" Panggil Arvin seraya meletakkan tangannya di pundak Mirza. Namun Mirza malah menepisnya, menyingkirkan tangan Arvin sampai sang empunya hanya tersenyum tipis melihat perlakuan Mirza. "Apa kau benar-benar sudah tidak bisa kembali?!" Tanya Mirza dengan amat geram. Lagi-lagi dirinya begitu ingin menumpahkan air mata, ditambah ketika dirinya melihat senyuman hangat Arvin, yang baru dilihatnya lagi setelah dua tahun lamanya. "Ini sudah jalanku." Kata Arvin singkat, sebelum akhirnya ia mendekap Mirza dengan cukup erat. Rasa sakit kembali menyerang Mirza, di kamar tempat tubuhnya berada, grafik hijau pada layar monitor nampak naik turun dengan cepat dan tak keruan, pun air matanya mulai menetes dari dua ujung matanya yang terpejam. "Kak… aku memohon dengan sangat kepadamu…." "Ini sudah jalanku, Mirza." Sela Arvin dengan suara yang terdengar sedikit tercekat. Sejujurnya, berat bagi Arvin untuk meninggalkan rekan-rekannya itu. Namun ia rasa keputusannya untuk menghilang dari dunia ini adalah yang terbaik, sebab dirinya merasa kalau selama ini hanya menjadi beban bagi mereka semua terutama Nevan. Pun ketika jasad Arvin dibawa oleh rombongan perawat, serta diikuti juga oleh Brian dan Aksa. Arvin sempat menatap ke dalan dua manik Mirza dengan dalam, sebelum akhirnya berlalu untuk mengikuti rombongan perawat yang membawa jasadnya itu. "Kak!" Cegah Mirza, kala baru saja Arvin hendak melangkah. "Apa kau tidak ingin bertemu lebih dulu dengan Darel dan Nevan?" Tanyanya. Arvin sempat menundukkan kepala, sebelum kembali menatap Mirza dengan simpulan senyum. Tanpa mengucap sepatah kata lagi, Arvin menganggukkan kepala dan meraih tangan Mirza untuk menuju ke kamar tempat Darel dirawat. *** "Apa tidak sebaiknya kau masuk?" Tanya Mirza, keduanya berada di luar kamar, Arvin hanya memperhatikan dua orang rekannya yang berada di dalam dari bagian tengah pintu yang memang transparan. Lantas Arvin menggelengkan kepala, "toh mereka tidak bisa melihatku, bukan?" Benar juga, pikir Mirza. Lagi pula kalau pun Arvin masuk dan menemui mereka, tetap saja tidak bisa berinteraksi. "Nevan pasti sangat terpukul." Ucap Mirza, dapat terlihat dengan jelas dari tempat di mana mereka berada, Nevan tengah terduduk di tepian ranjang dengan kepala yang tertunduk, bahunya bergetar juga bergerak naik turun, suara isaknya bahkan terdengar sampai ke luar ruangan. "Harusnya dia senang, karena sudah tidak ada lagi beban di bahunya." Balas Arvin. "Tidak begitu, Kak!" Sanggah Mirza yang dengan cepat Arvin tempelkan telunjuk pada mulut lelaki itu. "Sstt! Sudahlah! Lagi pula aku sudah harus pergi sebentar lagi." "Kak… aku mohon untuk yang terakhir kalinya, bisakah kau kembali?" Lagi-lagi permintaan Mirza mendapat gelengan kepala dari Arvin. "Jangan terlalu lama tertidur, jangan buat mereka semakin khawatir. Jaga mereka, tolong jangan buat Brian semakin kesusahan." Pesan Arvin, sedang Mirza hanya menundukkan kepalanya. "Mirza… percayalah kita akan bertemu lagi di kehidupan selanjutnya. Sekali pun kita mesti terlahir lagi, kau, aku, dan mereka semua termasuk Deon pasti ditakdirkan untuk menjadi sahabat." Lantas Mirza tak lagi kuasa menahan rasa pedih dan sedihnya, didekapnya arwah Arvin seerat mungkin, seolah detik ini Arvin tidak boleh pergi kemana-mana. "Jangan tinggalkan aku, jangan tinggalkan kami…" pinta Mirza. Arvin pun tak lagi mampu mengucap sepatah kata, yang bisa ia lakukan hanyalah menepuk-nepuk lembut punggung Mirza, menyelipkan sisa-sisa kekuatan di sana. Sementara pada tubuh Mirza yang masih terbaring, air matanya kini sudah benar-benar membanjiri sisi kanan dan kirinya. Kenapa perpisahan itu, selalu ada? *** Setelah perpisahannya dengan Arvin, Mirza memutuskan untuk kembali ke ruangan tempat di mana tubuhnya terbaring. Ketika dirinya baru saja memasuki ruangan tak lama kemudian Mirza mendengar suara pintu terbuka, pun begitu dirinya menoleh, Brian, Aksa juga Darel yang masih harus menggunakan bantuan kursi roda terlihat memasuki ruangan tersebut menghampiri tubuh Mirza. Mirza yang berdiri di tepian ranjang pun menatap Brian yang perlahan mulai meraih tangannya, Mirza dapat merasakan sentuhan itu. "Mirza…" lirih Brian. "Maafkan Arvin, dia harus pergi lebih dulu meninggalkan kita." Sontak Mirza menggelengkan kepalanya dengan cepat, "tidak, Kak! Arvin tidak bisa dimaafkan!" "Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi… kumohon jangan menyerah. Setidaknya jangan hari ini." Tambah Brian. "Kak Mirza, kami akan mengurus pemakan Arvin dulu. Jaga dirimu di sini baik-baik, ya. Aku harap, setelah kami kembali, kami bisa melihat senyum kotakmu lagu." Kata Darel, yang segera ditanggapi dengan anggukan oleh Mirza. "Tunggu Kak," ketika Brian dan yang lainnya hendak melangkah meninggalkan ruangan ini, entah kenapa Nevan malah mencegahnya. "Bisa kau tunggu aku di luar? Ada yang perlu aku sampaikan secara pribadi pada Mirza." Sontak seketika Mirza menatap intens rekannya itu, meskipun Nevan tak dapat menatapnya balik. "Mirza…" panggil Nevan. "Aku di sini Nevan." Sahut Mirza yang tentunya tak terdengar oleh Nevan. "Seperti yang Kak Brian bilang tadi, jangan menyerah, setidaknya jangan hari ini. Kalau memang kau tak lagi bisa menemukan alasan untuk bertahan, cobalah kau ingat-ingat lagi hal sederhana yang bisa membuatmu merasa nyaman. Bertahanlah demi mie instan di jam dua pagi misalnya, atau demi secangkir teh hangat di tengah derasnya hujan. Bertahanlah demi hal-hal kecil yang bermakna dalam hidupmu," Nevan mulai meraih tangan Mirza, menggamit jemarinya dan menggenggamnya erat. Lagi-lagi Mirza bisa merasakannya. "Hey, jangan menangis!" Ujar Mirza kala dirinya mendapati air mata Nevan yang kembali mengalir entah untuk yang keberapa kali. "Jika kau tak lagi bisa berlari, ingatlah kau masih bisa berjalan. Jika kau tak lagi bisa berjalan, tidak apa merangkaklah. Meski harus merangkak yang terpenting kau tidak mati hari ini. Kau, berbeda dengan aku yang sama sekali tak lagi memiliki alasan untuk bertahan, bahkan hal-hal yang kusebutkan padamu tadi sudah tidak lagi bermakna dalam hidupku. Mirza… meski kadang aku terlihat menyebalkan, ketahuilah kalau sebenarnya aku menyayangimu," "Untuk kalimat yang terakhir, tanpa kau beritahu juga sebenarnya aku sudah tahu itu, Nevan." Lagi-lagi Mirza menimpalinya. "Terdengar picisan, bukan? Maka dari itu aku mengatakannya ketika kau sedang dalam kondisi tidak sadar. Mirza… Brian dan yang lain menaruh harap besar padamu, jadi jangan terlalu lama kau tertidur di ranjang ini, ya!" Kali ini Mirza tak menjawab sepatah kata pun, dirinya hanya mampu menundukkan kepala dalam-dalam, sebab Mirza sendiri juga tidak tahu berapa lama lagi ia harus berkeliaran sebagai arwah seperti ini. "Ah, iya, satu lagi. Mungkin, nanti ketika kau sadar, kau tidak lagi bisa bertemu denganku, Mirza." Mendengar penuturan Nevan, Mirza lantas mendongakkan wajahnya dengan ekspresi terkejut sekaligus panik. "Apa maksudmu? Apa yang baru saja kau katakan?!" Sergah Mirza. "Hey Nevan!" Pekiknya kala Nevan mulai beranjak dari kursi dan membalikkan badan untuk meninggalkan ruangan. "Nevan! Dengar aku! Apa maksud perkataanmu barusan? Apa kau berniat untuk meninggalkanku juga seperti Kak Arvin?!" Mirza terus memberondongnya sambil berusaha menyamai langkah Nevan, tapi ya apa daya? Nevan tidak bisa mendengar atau pun melihat Mirza. "Nevan! Jangan pernah kau lakukan itu! Aku akan sangat membencimu jika kau memilih untuk meninggalkan kami dan menyusul Kak Arvin!!!" Teriaknya sebelum Nevan menghilang di balik pintu. Kemudian Mirza terduduk lemas di atas lantai, sesak mulai memenuhi rongga dadanya, air mata pun mulai mengalir dari kedua matanya yang masih terpejam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN