Last Day

1694 Kata
Omelas, Musim Semi 2018 "Ahahahahaha!" Gelak tawa Deon sudah menggema di pagi hari, dirinya baru saja menyelesaikan permainan tenis meja bersama Nevan yang berakhir dengan kekalahan Nevan. "Sudahlah Nevan kau itu tidak pandai melakukan apapun!" Ledeknya. "Kak, ayo kita main baseball!" Usul Nevan sembari mengacungkan pemukul baseball yang baru saja diambilnya. "Oh, kalau begitu panggil yang lain. Bermain baseball akan lebih menyenangkan kalau kita memainkannya ramai-ramai." Saran Deon. "Tidak usah! Kita main lempar tangkap saja berdua." "Baiklah, baiklah." Pun akhirnya Deon menuruti keinginan Nevan, lelaki itu lantas meraih bola baseball dan bersiap melemparkannya pada Nevan agar ia bisa memukulnya. "Nevan kau siap?" Tanyanya. "1, 2, 3!" Bola berhasil dilemparkan dari tangan Deon, Nevan juga sudah mengeratkan jemarinya dengan posisi yang benar pada pegangan pemukul, matanya teramat fokus ke arah datangnya bola dan…. Tuingggggggg Bola yang dipukulnya melambung terlalu jauh. "Yaa Nevan apa yang kau lakukan?" Adapun lelaki itu hanya cengengesan sambil mengacak rambutnya sendiri. "Sekarang bagaimana? Lihat! Bolanya berada di tengah danau!" Semprot Deon. "Aah, bukankah kau akan membantuku mengambilnya?" Deon berdecak, tangannya berkecak pinggang. "Kau ini menyusahkan! Ayo cepat ikut aku!" Setelah melempar asal pemukul baseballnya, Nevan berlari kecil mengekor di belakang Deon seperti anak ayam. Mereka menuju ke tepian danau untuk bersiap mengenakan pelampung agar bisa mengambil bola tersebut menggunakan perahu. "Kak Deon! Nevan!" Panggil Brian yang baru saja keluar dari penginapan. "Hmmm?" Sahut Deon. "Kalian mau apa?" Tanyanya lagi. "Berjalan-jalan!" Jawaban Nevan mendapat jitakkan tepat di dahinya oleh Deon. "Jalan-jalan apanya? Lihat kelakuanmu itu yang memukul bola sampai ke tengah danau segala!" Protesnya. "Aku ikut!" Mendengar seruan Brian, lantas Deon segera melayangkan tatapan mematikan pada lelaki itu. "Kau lagi! Mau ambil bola saja pakai ingin ikut segala!" "Ayo, Kak! Biar kita ambil sama-sama." Berbeda dengan Deon, Nevan malah dengan senang hati mengajak Brian untuk turut ikut, membuat lelaki itu kegirangan bukan main dan bergegas mengenakan pelampungnya. Kali ini Deon memilih perahu dengan muatan yang agak besar, tapi untuk menggerakkan perahu tersebut harus menggunakan dayung, tidak seperti perahu yang satunya lagi yang sudah dilengkapi dengan teknologi mesin. Saat perahu mulai melaju, Nevan yang duduk di tengah-tengah antara Deon dan Brian malah kegirangan. Dengan tubuhnya yang mungil Nevan terlihat seperti anak kecil yang sedang mengarungi danau dengan kedua orang tuanya. Deon memimpin di depan dengan dayungnya, dirinya memang sudah seperti penghuni danau yang memahami seluk beluknya. Sementara Brian berada di paling belakang yang juga ikut mendayung. "Dayung terus Brian!" Komando Deon. "Iya!" "Ini menyenangkan!" Seru Nevan yang malah menikmati perjalanan mereka. "Oh, Kak, di sana!" Pekik Nevan sembari menunjuk ke arah bola yang ada di tengah danau. Deon terus memandu perahu untuk mendekati bola tersebut. "Sedikit lagi!" Seru Deon. "Hey kalian sedang apa?!" Teriak Arvin yang baru saja keluar dari penginapan bersama Aksa, lelaki itu membawa kamera milik Deon di tangannya. Lantas Aksa segera menghidupkan mode video untuk merekam kelakuan tiga rekannya yang berada di tengah danau itu. "Mereka terlihat seperti dua orang tua yang mengantar anaknya pergi sekolah menyebrangi sungai." Celetuk Aksa yang dihadiahi gelak tawa sekaligus pukulan oleh Arvin. "Kau ada-ada saja!" "Kak Brian, boleh aku mencoba mendayung?" Tanya Nevan. "Tentu!" Brian memberikan dayung yang semula digunakannya kepada Nevan, lelaki itu nampak lebih kecil daripada dayung yang digunakannya. "Brian lihat kemari!" Pinta Aksa, lantas lelaki yang dipanggil itu pun menoleh. "Oh, halooo!" Sapanya ke arah kamera sembari melambaikan tangan. "Nevan! Itu bolanya!" Ujar Deon. "Ah, iya. Kak Brian ini dayungmu ku kembalikan." Setelah menyerahkan kembali dayung kepada Brian, Nevan dan tangan mungilnya berusaha menjangkau bola yang mengambang di air. Setelah berhasil didapatnya, seketika tiga lelaki di atas perahu itu bersorak kegirangan. Demikianlah aksi mengambil bola baseball yang begitu dramatis. *** Siang ini, tujuh lelaki yang sedang menikmati hari libur terakhirnya di kota Omelas tengah bersiap untuk pergi. Mereka berencana untuk mengunjungi sebuah destinasi wisata yang mana terdapat pacuan kuda, Mirza sangat bersemangat untuk itu. "Ayo cepat! Nanti kita ketinggalan bus!" Celoteh Deon. Untuk urusan begini sudah pasti Deon selalu menjadi manusia paling cerewet, seperti seorang ibu yang repot mengurusi anak-anaknya. Mereka segera berjalan menuju halte bus terdekat dari penginapan. Beruntung tidak butuh waktu yang lama, bus yang mereka tunggu akhirnya datang. Untuk mencapai ke tujuan, perjalanan mereka kurang lebih akan mengabiskan waktu tiga puluh menit di dalam bus dan lima menit berjalan kaki. Seperti biasa, perjalan diwarnai kericuhan yang dibuat Nevan dan Darel. Ya bukan mereka namanya kalau tidak buat onar. Setelah di tempat tujuan, seperti yang sudah dikatakan tadi Mirza sangat bersemangat untuk menunggangi kuda. Lantas setelah membayar karcis masuk, lelaki itu segera menemui petugas di sana agar membantunya memasangkan perlengkapan yang dibutuhkan dalam menunggangi kuda. "Nevan apa kau juga akan ikut?" Tanya Mirza yang tengah memasang helm khusus sebagai pelindung kepalanya. "Ehey untuk apa menanyakan itu padaku?" Balas Nevan tengil. "Pak, apa sepeda-sepeda itu disewakan?" Tanya Nevan kepada petugas yang membantu Mirza. "Ya, langsung saja ke sana. Nanti kau akan dibantu oleh yang bertugas di sana." Jawab si petugas dengan ramah. Kemudian Nevan segera berlari menuju tempat penyewaan sepeda itu. Setelah menyerahkan beberapa lembar uang kertas, Nevan diberi beberapa perlengkapan pelindung untuk bagian siku juga lututnya, serta tak lupa helm agar kalau-kalau terjadi kecelakaan, otaknya yang memang tidak berfungsi itu tidak langsung rusak. Helm ini sangat penting, dalam berkendara roda dua, sepeda maupun motor, atau dalam berolahraga yang memiliki risiko terjatuh seperti menunggang kuda. Begitu kuda yang ditunggangi Mirza mulai melangkah bahkan berlari di padang rumput yang luas, Nevan dengan sepedanya pun tak mau kalah. Ia mengejar Mirza dari belakang, berhasil membuat Mirza yang menyadarinya malah jadi terbahak-bahak. "Aku tidak bisa menunggangi kuda, tapi aku ingin bermain bersamamu jadi aku menyewa sepeda!" Teriaknya dari belakang. Pun ketika Mirza menghentikan laju kudanya, Nevan juga ikut berhenti. Dengan hati-hati Mirza turun dari atas kuda, lelaki itu memang sudah piawai dalam hal yang satu ini meski hanya sempat mempelajarinya beberapa kali saja. "Apa kau juga mau makan rumput?" Tanya Nevan kepada sepedanya, begitu ia melihat kuda yang ditunggangi Mirza tengah melahap rumput. Tentu hal itu membuat Mirza kembali terbahak, apalagi Nevan sampai mengangkat bagian belakang sepedanya, membuat posisi seolah sepedanya itu benar-benar sedang makan rumput. Ada-ada saja memang kelakuan Nevan. Setelah selesai menunggangi kuda, pun Nevan puas bersepeda, keduanya mencari keberadaan rekannya yang lain untuk kembali berkumpul. Ternyata mereka tengah bersantai di salah satu sudut di mana terdapat meja dan kursi panjang untuk mereka bercengkrama. Juga ada sebuah ayunan yang sedang diduduki Darel. Melihat kelakuan Darel yang seperti balita, lantas Arvin merekamnya dengan ponsel pribadi. Sementara Darel tetap berayun dengan riangnya. "Jadi, besok kita pulang jam berapa?" Tanya Aksa sambil jemarinya bergerayang mengambil salah satu camilan di atas meja. "Aku sudah pesan tiket untuk pagi hari, jam 6." Jawab Deon. "Apa tidak terlalu pagi?" Timpal Mirza. "Kurasa tidak." *** Mereka sudah kembali sebelum langit gelap. Sebab Deon bilang, mereka harus merapikan area penginapan terlebih dahulu sebelum esok kembali ke rumah. "Kenapa begitu?" Tanya Nevan. "Karena saat pertama kali kita datang, tempat ini dalam kondisi rapi, bersih, dan siap huni. Maka ketika kita hendak meninggalkannya, ada baiknya kita meninggalkan dalam kondisi seperti semula." Jelas Deon. "Kau paham, Nevan?" Tambah Darel. "Anak ini! Kenapa kau terus-terusan menyebut namaku tanpa sebutan Kakak?!" Serangnya. "Aku tidak menyangka Nevan gila hormat." Celetuk Aksa. "Ah! T-tidak, bukan begitu maksudku." "Nevan gila hormat! Nevan gila hormat!" Gara-gara mulut sialan Aksa, Darel semakin menjadi-jadi meledek Nevan. Sementara Nevan sendiri sudah sangat merutuki bahkan mengumpat pada Aksa dalam hatinya. *** Dering alarm dari ponsel Aksa berbunyi, kedua mata lelaki itu masih rekat ingin terpejam. Namun suara riuh dari para rekannya membuat Aksa mau tidak mau tak bisa melanjutkan kembali tidurnya. "Kak Aksa! Cepat bangun, kita terlambat!" Teriak Nevan dan melemparkan bantal tepat di wajah Aksa. Bukannya segera beringsut dan bergegas, Aksa malah merenggangkan otot-otot tubuhnya dengan masih berbaring di atas ranjang. "Aksa! Bangun atau ku tinggal!" Begitu suara Deon terdengar nyaring, barulah ia bangkit dan berusaha membuka matanya, terduduk di tepian ranjang sambil berusaha mengumpulkan nyawa. Kemudian ia meraih ponselnya di atas nakas yang masih berdering, pukul 5 lewat 30 menit. Di tengah keribetan rekan-rekannya yang lain Aksa melenggang dengan santai menuju kamar mandi degan handuk yang dikalungkan. "Kubilang juga terlalu pagi." Ucap Mirza ketika dirinya tengah membereskan kamar bersama Deon. Namun ucapannya itu sama sekali tidak digubris oleh Deon. Ketika Mirza menoleh ke arahnya, lelaki itu tengah memandangi buku bersampul merah lagi sebelum akhirnya ia memasukkan buku tersebut ke dalam tasnya. Mirza sempat ingin menegur, kenapa buku itu dibawa pulang? Memangnya tidak apa? Bukankah kalau mengunjungi suatu tempat asing itu jangan meninggalkan atau membawa apapun dari sana? Namun anehnya Mirza malah mengurungkan niat, dirinya seakan lupa seketika akan apa yang hendak dilakukannya tadi. "Hey Kak Deon, Mirza! Cepat! Ini sudah jam berapa?!" Pekik Brian dari ambang pintu. "Aksa sudah?" Tanya Deon sambil menggemblok tasnya. "Sudah, sepertinya dia tidak mandi. Kita masih punya waktu 10 menit, ayo cepat!" Seru Brian. Lantas mereka segera bergegas meninggalkan penginapan yang telah ditempatinya selama satu minggu belakangan, setelah menyerahkan kembali kunci kepada sang pemilik, tak lupa Deon dan kawan-kawan mengucapkan rasa terima kasih mereka. Tujuh lelaki itu berlarian menuju ke halte bus, nahasnya, ternyata mereka masih harus menunggu untuk kedatangan bus yang selanjutnya. Sebagian dari mereka sudah menggerutu akibat kelalaian mereka sendiri sehingga menyebabkan keterlambatan ini. Bus pun tiba, satu persatu dari mereka menaiki bus dengan tergesa, bahkan Deon meminta sang supir agar melajukan busnya dengan kecepatan yang lebih tinggi. Setibanya di pemberhentian tujuan, arloji di tangan kiri Brian menunjukkan sudah tepat pukul 6. Namun sialnya mereka harus berjalan kaki untuk memasuki area stasiun, seketika tujuh lelaki itu kembali berlarian menyusuri stasiun. Begitu sampai di peron, ternyata kereta yang semestinya mereka tumpangi tidak ada di jalurnya. "Kita terlambat…" Keluh Darel. "Sial!" Gerutu Aksa. "Ini semua gara-gara kau, Kak." Ujar Mirza dengan nada yang begitu dingin, matanya menatap tajam ke arah Deon. "Aku?" Pun Deon membulatkan matanya, merasa bingung kenapa hanya dirinya yang disalahkan di sini? "Kau pesan tiket tanpa persetujuan kami dan jamnya itu terlalu pagi." Kata Mirza. "Bukankah kita tidak akan terlambat kalau kita tidak bangun kesiangan?" "Kita ada tujuh orang, membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk masing-masing dari kami bersiap." Entah apa yang ada di pikiran Mirza, tidak biasanya anak itu memancing pertikaian apalagi dengan rekan tertuanya, Deon. "Ey sudahlah…" Brian melerai keduanya, menyelinap di tengah-tengah antara Mirza dan Deon yang sedang berhadapan. "Kita tidak punya waktu lagi, kenapa kita malah membuang waktu dengan bertengkar?" Tuturnya. "Tapi memang seharusnya Kak Deon tidak memesan yang jam keberangkatannya terlalu pagi." Tampik Mirza. "Mirza, kubilang sudah." "Tidak, Brian. Aku memang salah, maafkan aku Mirza." Ucap Deon, tentu membuat Mirza merasa tidak enak hati dan seketika sadar kalau apa yang dilakukannya itu adalah kekanakan. Tidak semestinya ia meributkan hal-hal kecil semacam itu. Kemudian, di tengah suasana yang masih menegang, suara panjang klakson kereta pun menggema. Ternyata mereka tidak ketinggalan kereta, tapi keretanya lah yang mengalami keterlambatan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN