Masih di Omelas.
Kali ini tentang Mirza. Lelaki itu nampaknya mulai menyadari kalau ada sesuatu yang tidak beres. Sesuatu yang bahkan Mirza sendiri pun tak tahu, yang pasti sesuatu itu di luar nalar manusia. Semua bermula saat dirinya berada di sebuah bangunan yang ia dan rekan-rekannya sambangi tempo hari, yang mana Mirza mendapati Deon yang seakan telah tersihir kala lelaki itu memandangi lukisan yang berada di tembok utama. Lukisan abstrak, yang tak terdefinisikan maknanya, lukisan yang hanya Mirza tahu terdapat gambar menyerupai iblis dengan tanduk merah di kepalanya. Mirza yang memang punya ketertarikan pada dunia seni, awalnya hanya ingin melihat-lihat beberapa patung putih yang berdiri kokoh mengisi bangunan itu. Namun karena melihat tingkah Deon yang sudah seperti bukan Deon, jadilah Mirza memilih untuk terus mendampingi rekan tertuanya itu.
Kening Mirza dibuat semakin mengerut, ketika Deon tiba-tiba saja mendaratkan bibirnya tepat di bibir patung putih yang menyerupai seorang lelaki tengah merunduk, dengan sayap patah di punggungnya. Pun di saat yang bersamaan, patung tersebut mengeluarkan cairan hitam kental dari ujung mata selayaknya orang yang menangis. Anehnya, Mirza tak bisa berbuat apa-apa. Dari sekian banyaknya pilihan yang bisa Mirza lakukan, ia malah memilih hanya menggelengkan kepala.
Setelahnya, Mirza kembali mengekor, mengikuti langkah Deon menapaki satu persatu anak tangga. Mereka memasuki ruangan yang sebelumnya Arvin, Aksa dan Nevan sambangi. Ruangan yang mana terdapat buku-buku tersusun rapi pada rak yang menjadi tempatnya. Di sisi lain ada sebuah sofa bermuatan satu orang lengkap dengan meja juga perapian. Di atas meja, ada sebuah buku yang tergeletak seakan seseorang baru saja membacanya. Buku yang terlihat lusuh dengan sampul warna merah. Mirza menyaksikan jemari Deon perlahan meraih buku itu, membuka lembar pertamanya dengan ekspresi datar. Kemudian, Mirza mengedarkan pandangan guna mengeksplor seisi ruang. Dirinya membeku ketika mendapati tungku perapian yang menyala.
Oh tidak, ada seseorang di sini.
Bulu kuduk Mirza mulai meremang, ditambah dengan suara langkah kaki juga sosok berjubah hitam yang seakan baru saja melintas di luar ruangan membuat Mirza semakin yakin kalau ada sesuatu yang tidak beres di sini.
Mirza sudah sangat ingin melarikan diri dari tempat itu, tapi sayangnya Deon masih mematung dengan buku bersampul merah di genggamannya. Adapun Mirza yang sama sekali tidak memiliki keberanian untuk membuka pembicaraan dengan Deon, sebab sedari tadi Deon hanya terdiam dengan ekspresi wajah yang amat datar.
"Ayo kita pergi." Ucap Deon, seakan lelaki itu bisa mengetahui isi hati Mirza yang sudah sangat ingin beranjak dari sana.
***
Semenjak mereka meninggalkan bangunan misterius itu, Mirza semakin dibuat tidak mengerti akan sikap Deon yang berubah-ubah. Terkadang lelaki itu nampak menyeramkan dengan ekspresinya yang dingin, terkadang juga ia bersikap biasa saja seakan tak pernah terjadi apa-apa. Bahkan Mirza sendiri tidak yakin apakah Deon mengingat apa saja yang ia lakukan di bangunan itu.
"Kak," panggil Mirza, ketika keduanya sudah kembali ke penginapan dan sudah berada di kamar. Deon yang baru selesai mandi pun hanya menanggapinya dengan berdehem sembari mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil.
"Apa kau ingat apa yang terjadi di bangunan aneh itu?" Tanya Mirza begitu hati-hati, sebab dirinya takut kalau-kalau yang sedang bersamanya ini bukan Deon yang asli. Kedua matanya menatap lekat pada wajah Deon, menelisik ekspresi lelaki yang tampak sedang berpikir.
Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik.
"Tentu!" Seru Deon sembari melanjutkan aktifitasnya mengeringkan rambut.
"Mengapa kau tanyakan itu? Ya! Mirza! Apa bagimu aku ini sudah terlalu tua sehingga tidak lagi bisa mengingat dengan baik? Ehey! Jangan begitu Mirza! Aku tidak setua itu! Lihatlah wajahku ini masih imut!" Ocehnya sambil menunjukkan ekspresi seperti bebek, mengerucutkan bibir.
Mirza menghela napas lega, lelaki itu menyunggingkan senyum tipis sambil mengangguk. Tidak salah lagi, kalau sudah mengoceh begitu pasti ini Deon yang asli.
"Iya, Kak. Kau masih imut dan belum tua." Balas Mirza.
Sebenarnya masih ada sesuatu yang mengganjal, Mirza benar-benar masih penasaran apakah Deon betul mengingat apa saja yang ia lakukan di sana? Kalau ia mengingatnya, lantas apa hal yang membuat Deon mencium patung itu? Dan kenapa Deon tidak merasa janggal apalagi takut begitu melihat patung itu mengeluarkan cairan dari matanya?
Mirza melirik ke arah buku bersampul merah yang berada di atas nakas. Deon membawa buku tersebut dan kerap kali membacanya. Sebetulnya Mirza pun pada penasaran akan isi yang terkandung di dalam buku itu, tapi rasa takutnya lebih mendominasi kala dirinya melihat sisi lain dari Deon saat sedang membaca buku tersebut.
***
"Kau tidak ingin bergabung dengan yang lain?" Tanya Mirza seraya bangkit dari duduknya untuk bergabung dengan rekan-rekannya yang lain di halaman samping. Sekadar berkumpul menghabiskan malam dengan bercengkrama ditemani beragam makanan juga minuman persediaan mereka.
"Duluan saja." Balas Deon, kedua matanya tak teralihkan dari jajaran kata dalam buku yang digenggamnya. Lantas Mirza segera melangkahkan kaki meninggalkan Deon di kamar sendirian, sebab dirinya tak berani bersuara lebih banyak lagi kalau Deon sudah dalam mode misterius begitu.
Tidak seperti rekan-rekannya yang saling melempar canda dan tawa, Mirza malah nampak termenung di sudut meja bersama sekaleng minuman dingin yang telah diambilnya tentu saja dari lemari pendingin. Mirza masih memikirkan tentang apa yang sebenarnya terjadi khususnya pada Deon, berbagai pertanyaan menggelayut pada pikirannya sekarang. Sisi lain dalam diri Mirza mencuatkan rasa keingintahuan yang begitu besar, tapi sisi lainnya lagi seakan memaksa Mirza untuk tetap bungkam. Diam saja seolah tak terjadi apa-apa dan tidak ikut campur
"Kak Deon di mana?" Lamunannya buyar kala mendengar tanya yang dilempar Brian.
Pun ia menjawab, "di kamar."
Setelahnya Mirza kembali tenggelam dalam pemikirannya, sebelum akhirnya Deon keluar dan ikut bergabung dengan mereka. Kening Mirza kembali dibuat mengerut terheran-heran sebab melihat sikap Deon yang sudah seperti biasanya. Mirza sungguh tak mengerti. Lantas ia meneguk minuman kaleng itu sembari memejamkan matanya dan menggelengkan kepala untuk menampik semua pertanyaan yang masih bergelayut itu.
***
Di hari terakhir berlibur, tidak ada kejanggalan yang terjadi. Mirza pikir mungkin ini sudah selesai. Pun pemikiran Mirza sejenak teralihkan sebab lelaki itu begitu bersemangat menunggangi kuda. Hari itu benar-benar dilaluinya dengan tenang. Deon juga terlihat sangat menikmati liburan hari terakhirnya bersama rekan-rekannya itu.
Namun, ternyata dugaan Mirza kalau semuanya telah berakhir itu salah. Esok paginya, ketika dirinya dan Deon tengah berkemas untuk meninggalkan penginapan, dirinya melihat dengan jelas Deon memasukkan buku bersampul merah itu ke dalam ranselnya. Seperti biasa, beragam tanya mulai mencuat dalam batinnya. Apa tidak masalah jika buku itu di bawa sampai ke rumah? Bagaimana kalau pemiliknya tahu? Bukankah ia pasti marah? Sedang Mirza tahu pastinya pemilik buku itu bukan manusia. Kalau pun manusia, pasti dia bukan manusia biasa sebab memang kejanggalan-kejanggalan yang terjadi belakangan terlihat seperti ada kaitannya dengan buku itu.
Lidahnya terasa begitu kelu, tenggorokannya seakan tercekat kala dirinya hendak mengatakan pada Deon kalau sebaiknya buku itu jangan dibawa. Yang terjadi akhirnya Mirza hanya mampu memanjat doa agar kejanggalan tersebut tidak lagi terjadi apalagi kalau sampai menyeret rekan-rekannya. Mirza sangat berharap semoga ini bukan menjadi awal yang buruk bagi mereka semua.
Pun lelaki itu menghela napas, dalam batinnya ia berucap, "baiklah, sebaiknya aku melupakan kejadian semua itu."
Dan lantas melenggang pergi keluar kamar.