09.the Furious Lady

1624 Kata
Julia berpikir bahwa hal yang wajar bila rumah kawanan Werewolf Voref sulit untuk dijangkau, namun kenyataannya adalah ada satu jalan rahasia yang lebih mudah dijangkau menuju tempat parkir yang berada dekat dengan air terjun waktu itu. Jalanan itu kecil dan hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki. Menjelaskan kenapa tempat parkir itu berada cukup jauh. Namun yang ia tidak mengerti adalah, mengapa waktu itu Matteo membawanya melewati jalanan perbukitan? Saat ia menanyakannya pada Rafael, ia mengatakan bahwa jalan rahasia itu hanya digunakan orang-orang dalam kawanannya. Tentu karena Julia belum menjadi bagian dari kawanan Rafael pada saat ia dibawa kemari, jadi Matteo membawanya melewati jalan utama menuju rumah kawanan. Bagi Julia, itu hal wajar karena setiap rumah kawanan serigala pasti memiliki tempat atau jalan rahasia yang tidak diketahui orang luar selain kawanannya sendiri. Julia berjalan bersama Rafael menuju tempat parkir yang dirasanya sudah memakan waktu sepuluh menit. Itu sama dengan jarak waktu yang ia tempuh bersama Matteo saat melewati perbukitan. Tentu karena melewati undakan-undakan tinggi cukup memakan waktu meskipun dalam wujud serigala. Selama berjalan, Rafael terus menggenggam tangannya dengan erat dan dirinya yang terus menatap ke atas dengan tatapan kagum. Rafael tentu tahu bahwa Julia tidak akan pernah berhenti menatap kagum pemandangan dedaunan di sekelilingnya. Ia bisa melihat mata biru itu selalu dipenuhi kekaguman dan perasaan bahagia semenjak datang kemari. “Apa kita akan melewati jalan ini setiap hari?” tanya Julia. “Iya,” jawab Rafael singkat. Kemudian mereka sampai di goa itu dan memasukinya. Saat berjalan memang cukup memakan waktu, tapi Julia tidak masalah dengan itu. Lagipula goa tersebut memang tidaklah dalam. “Bagaimana kalian bisa menemukan tempat ini?” “Kita hanya membangun tempat tinggal di tempat yang sudah tersedia, sayang. Bukan menemukannya.” Rafael menoleh dan tersenyum pada Julia. Pipi Julia memerah. Semenjak kemarin Rafael mulai tersenyum padanya, dan ini pertama kalinya dia memanggilnya dengan sebutan sayang. Dia segera menolehkan kepalanya dari Rafael agar pria itu tidak menyadari wajahnya yang sudah memerah seperti tomat. Rafael sudah menyadarinya sejak awal dan tidak mengatakan apapun, dia hanya tersenyum kecil. Rafael melepaskan genggaman tangan mereka dan memindahkan tangannya ke pinggang Julia. Dia menarik wanita itu mendekat dan menciumnya. Julia terkejut mendapatkan ciuman yang tiba-tiba itu. Ciuman itu hanya sesaat, sebuah kecupan singkat, namun bisa membuat jantungnya berdebar kencang. Tidak lama kemudian mereka sampai di tempat parkir. Rafael berjalan menuju mobil Rolls-Royce miliknya. Ia membuka pintu mobil tersebut dan masuk ke dalam, diikuti Julia yang duduk di kursi penumpang di sampingnya. Rafael mulai menyalakan mobilnya dan mereka berkendara menuju hotel milik keluarga Rafael. Setelah sampai di depan sebuah hotel, Rafael langsung menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk. Dia keluar dari dalam mobil yang juga diikuti Julia di sampingnya. Rafael memberikan kunci mobilnya kepada penjaga, namun mata penjaga itu jelas mengarah pada Julia yang baru saja keluar dari mobil. Penjaga itu jelas terkejut karena ini pertama kalinya Rafael datang ke hotel sendirian dan bersama seorang wanita. Julia mendekati Rafael dan pria itu segera melingkarkan lengannya ke pinggang Julia dengan cara yang posesif. Mereka berdua masuk ke dalam hotel meninggalkan penjaga di luar yang masih terkejut akan kedatangan Julia. Saat mereka sudah berada di dalam hotel, Julia tak bisa berhenti menatap sekelilingnya. Hotel itu jelas terlihat menawan. Banyak tanaman yang menghiasi disana. Tanaman ivy yang rimbun terlihat menggantung di atas mereka setelah melewati pintu masuk. Di belakang meja resepsionis, adalah sebuah dinding dari kayu dan tanaman. Saat melihatnya, Julia bisa merasakan bentuk rumah kawanan Werewolf Voref. Hotel itu jelas mirip dengan suasana rumah kawanan Voref, dengan sentuhan alam dari tanaman-tanaman itu hingga membuatnya seperti berada di dalam hutan. Sekali melihatnya, Julia langsung menyukai hotel tersebut. Mereka berdua tidak mempedulikan semua mata yang memandang mereka begitu mereka masuk ke dalam hotel. Rafael tahu orang-orang itu menatapnya serta Julia, namun dia tak mempedulikannya. Untuk Julia, jelas ia belum menyadarinya karena terlalu sibuk mengagumi interior yang ada disana. Mereka berjalan menuju meja resepsionis. Salah satu resepsionis langsung memberitahu tempat para tamu yang sedang menunggu kepada Rafael tanpa ia perlu mengatakan apapun. Mata wanita resepsionis itu tak pernah berhenti melirik Julia. Ia tentu begitu penasaran siapa wanita itu, sama seperti yang lainnya. Mereka berdua berbalik dan segera meninggalkan meja resepsionis tersebut untuk menuju ke ruangan tempat para tamu itu menunggu. Kini Julia bisa merasakan bahwa semua mata sedang memandangnya. Ia juga bisa mendengar bisikan-bisikan dari orang-orang itu. Semua bisikan itu hanya menjelaskan satu hal, siapa dia. Mereka masuk ke dalam lift dan Rafael menekan angka lima belas. Setelah mereka keluar dari lift dan berjalan di lorong, Rafael tiba-tiba menghentikan langkahnya. “Aku ada pertemuan dan mereka sedang menungguku. Aku akan membawamu ke kamar yang ada di ujung lorong ini.” Julia menolehkan kepalanya dan melihat sebuah kamar dengan dua daun pintu di ujung lorong. Julia mengangguk. Mereka lalu berjalan menuju pintu kamar tersebut. Saat masuk ke dalam, Julia bisa melihat bahwa itu adalah salah satu kamar khusus di dalam hotel tersebut. “Urusanku mungkin akan memakan waktu lama, kalau kau menginginkan sesuatu tekan saja tombol angka satu di telepon dan seseorang akan membawakan sesuatu untukmu kemari,” jelas Rafael. Julia duduk di tempat tidur. “Baiklah,” katanya menghela napas. Rafael menyentuh wajahnya dan menciumnya. “Tunggu aku,” katanya sebelum pergi keluar dari kamar tersebut. Julia menghembuskan napasnya lewat mulut dan menolehkan kepalanya menatap jendela kaca besar yang ada di belakangnya. Jendela kaca di kamar tersebut hampir mengelilingi seluruh dinding kamar dan menampakkan pemandangan gedung-gedung kota. Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju ruangan di sebelahnya. Itu seperti ruang keluarga, dengan sofa dan sebuah TV lebar di depannya. Julia duduk di sofa tersebut dan menyalakan TV. Setelah ia menonton TV selama satu jam, ia mulai merasa bosan. Rafael belum kembali dan ia berpikir bahwa pertemuan itu memang cukup lama. Ia menghela napas dan bangkit berdiri, lalu berjalan menuju telepon yang ada di nakas di samping tempat tidur. Ia menekan tombol angka satu. “Hai, bisa kau panggilkan aku salah satu orang untuk datang ke lantai lima belas di kamar paling ujung?” “Tentu, nyonya. Akan aku panggilkan,” jawab seorang wanita disana. Setelah itu Julia menutup teleponnya. Ia menunggu tidak sampai satu menit dan setelah itu terdengar suara ketukan di pintu. Ia membuka pintu tersebut dan melihat seorang wanita muda yang ia pikir berumur sekitar awal dua puluhan. Ia memakai atasan kemeja putih dan bawahan rok berwarna hitam. Dilihat dari ekspresi wajahnya, dia terlihat gugup. Dia bahkan terus menatap ke bawah, tidak berani menatap mata Julia. “Apa kau yang dikirim kemari?” tanya Julia. “B-benar, nyonya,” jawabnya gugup. Julia mengerutkan dahinya. Dia memang baru berada di hotel tersebut dan belum tahu keseluruhan tentang hotel itu, tapi dia bisa melihat bahwa wanita di depannya itu terlihat lebih muda dari karyawan hotel yang lain. “Kau baru disini?” Pertanyaan Julia membuat wanita itu mengangkat kepalanya dan menatapnya terkejut. Ia lalu menunduk kembali. “I-iya, nyonya,” jawabnya. “Boleh aku tahu umurmu?” Kali ini Julia bisa melihat bahwa wanita itu menelan ludahnya dan ekspresinya terlihat ketakutan seolah-olah ia baru saja ketahuan mencuri. “S-sembilan belas tahun, nyonya.” Julia mengangkat kedua alisnya, tidak menyangka bahwa ia masih sangat muda. Ia tidak mengerti mengapa dia yang ditugaskan untuk datang ke kamarnya mengingat dia masih baru dan masih perlu pembelajaran dari seniornya. Bukannya ia tidak percaya sama sekali padanya, hanya saja ia merasa sedikit aneh. Apalagi gadis di depannya terlihat gugup dan ketakutan. “Boleh aku tahu namamu?” Gadis itu mengangkat kepalanya. “Umm…F-Frida, nyonya.” “Baiklah Frida, bisa kau antar aku mengelilingi hotel ini?” Frida melihat Julia tersenyum padanya. “T-tentu, nyonya. Tapi apakah… maksudku… tuan Cruz…” Julia mengerutkan dahinya. “Tuan… Cruz?” Frida mengangguk. “Benar. Tuan Rafael Cruz, yang datang bersama anda kemari.” Julia membuka mulutnya, mulai mengerti. Sekarang ia tahu nama lengkap mate-nya itu. Rafael Cruz. Julia berpikir nama itu terdengar sangat cocok untuknya yang penuh misteri dan tidak banyak bicara. “Tidak apa-apa, lagipula dia sudah mengizinkanku. Aku bosan hanya duduk diam di kamar dan tidak melakukan apapun. Bawa aku ke tempat-tempat menarik di hotel ini.” “Baiklah nyonya…” “Julia. Panggil aku Julia,” kata Julia tersenyum. “Baiklah ny. Julia, mari ikut aku.” Julia keluar dari kamar dan mereka mulai berjalan melalui lorong-lorong kamar tersebut. Julia berpikir bahwa Frida akan membawanya masuk ke dalam lift dan turun ke lantai dasar, tapi ternyata mereka berjalan menuju keluar dari lorong. “Lantai lima belas adalah salah satu lantai yang cukup istimewa. Di lantai ini juga ada sebuah kolam renang privat. Apa anda ingin kesana?” Julia mengangguk. “Tentu. Bawa aku kesana.” Frida lalu membawanya masuk ke dalam sebuah ruangan yang di dalamnya ada sebuah kolam renang panjang. Sebuah jendela kaca yang panjang mengelilingi depan kolam tersebut dan menampilkan pemandangan sebuah kota. Tempat itu juga penuh dengan tanaman yang menempel di dindingnya, dan beberapa ada yang di dalam pot. Julia bisa melihat dengan jelas bahwa hotel tersebut benar-benar mengambil konsep hutan tempat tinggal Werewolf Voref. “Boleh aku tahu kenapa lantai ini disebut lantai istimewa?” tanya Julia pada Frida. “Umm, sebenarnya saya agak kurang mengetahuinya, nyonya. Saya hanya diberitahu bahwa lantai lima belas adalah lantai khusus dan tidak ada tamu yang diizinkan menginap di lantai ini.” Julia mengerutkan dahinya. Ia tidak berpikir bahwa lantai ini beda dengan lantai yang lain. Tapi Rafael langsung membawanya menuju lantai ini jadi ia tidak tahu seperti apa lantai yang lain. Ia memutuskan untuk menanyakannya pada Rafael nanti. “Frida, maaf jika perkataanku ini akan menyinggungmu. Tapi bukankah ini masih terlalu awal untukmu ditugaskan menemani tamu dari pemilik hotel ini? Dimana seniormu yang lain? Tidakkah hotel ini memiliki semacam pimpinan karyawan atau apapun itu?” Frida menelan ludah dan mengalihkan pandangannya. Julia jelas bisa melihat bahwa gadis itu mulai terlihat ketakutan. Ia juga bisa melihat dari ekspresi Frida bahwa sepertinya gadis itu dipaksa melakukan tugas ini. Tangan Frida bermain-main dengan jemarinya karena gugup, hal itu juga tak luput dari perhatian Julia. Ia tak suka ini. Julia tak suka jika ada seorang karyawan baru yang dipaksa melakukan suatu pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh seniornya. Ini sama saja dengan pembullyan. “Boleh aku tahu siapa yang memaksamu melakukan tugas ini dan apa alasannya?” tanya Julia. Frida menatapnya. “Nyonya, a-aku, aku―” “Katakan. Aku hanya ingin tahu siapa yang menyuruhmu,” potong Julia. Frida kembali menelan ludahnya. Sebelum Frida bisa menjawabnya, tiba-tiba seorang wanita masuk dengan kemarahan yang memenuhi sekelilingnya. “Dimana wanita yang dibawa Rafael kemari?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN