Julia tak bisa mengatakan bahwa yang dilakukan Rafael kasar. Ia bisa merasakan apa yang dilakukan pria itu sekarang penuh cinta. Bibir pria itu menciumi seluruh bagian tubuhnya, membuatnya merinding sekaligus terhanyut dalam kenikmatan. Bibir itu berhenti dan bermain dengan puncak payudaranya yang sudah mengeras, membuatnya mengerang penuh nikmat. Rafael menarik jinsnya dan membuangnya ke lantai, lalu melepas celana dalamnya dengan cepat. Kepalanya kini berada diantara kakinya, merasakan aroma dirinya dengan lidahnya yang membuatnya mencengkeram erat rambut pria itu dan membuatnya ingin berteriak.
Rafael terus mengingatkan diri untuk menahannya. Menahan segala emosi yang dirasakannya sekarang. Bertahun-tahun dia menyembunyikan emosi tersebut, namun kehadiran Julia langsung membuat emosi-emosi itu meledak dan tak terkendali. Ia takut melukainya. Namun di satu sisi ia ingin menandai semua yang ada pada wanita itu. Ia mate-nya. Miliknya.
Ia mendongak dan menatap wanita itu. Ekspresinya sama sekali tak menunjukkan ketakutan. Ia bisa melihat dalam mata biru cerah yang menakjubkan itu terbesit gairah yang membara. Julia menggigit bibir bawahnya, tiba-tiba merasa kecewa melihat Rafael berhenti dengan apa yang sedang dilakukannya.
“Rafael…?” tanyanya mengerang.
“Apa yang kau inginkan?”
Jangan. Berhenti. Dia merasa bahwa pria itu sudah tahu keinginannya. Dia bahkan sudah menunjukkan ekspresi memohon dengan jelas. Namun pria itu memilih untuk berpura-pura menunggu jawaban darinya. Detik kemudian Rafael mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibirnya.
“Dia menyukaimu.”
Itu bukan sebuah pertanyaan. Tentu Rafael menyadarinya. Perasaan Carlos padanya tergambar jelas di mata pria itu. Ia pernah berpikir bahwa jika dia bukan Werewolf dan hanya seorang manusia biasa, Carlos adalah pilihan yang sempurna untuk dijadikan pasangan hidup. Tapi dia Werewolf. Pasangan takdirnya sudah ditentukan oleh sang Dewa. Tidakkah sama saja dengan manusia? Perbedaannya mereka pernah menyukai beberapa orang sampai menemukan orang yang tepat.
“Ya,” jawabnya pelan. “Tapi kau sudah tahu jawabannya,” tambahnya.
Rafael kembali menciumnya. Ia bisa merasakan tangan pria itu kini mengelus pahanya yang tidak tertutup apapun, membuatnya mengerang dalam ciuman tersebut. Julia melingkarkan lengannya ke leher Rafael dan mencengkeram rambut pria itu. Detik berikutnya ia merasakan jemari pria itu masuk dan merasakan dirinya, membuatnya kembali mengerang dalam kenikmatan. Mereka saling melepas ciuman untuk mengambil napas, dan Rafael menatapnya dalam-dalam.
Ia merasakan bahwa wanita itu benar-benar sudah siap untuknya. Hanya tinggal satu langkah untuk membebaskan miliknya di balik celana jins itu dan memasukkannya ke dalam wanita tersebut. Ekspresi Julia benar-benar terlihat memohon. Memohon agar dia segera memasuki dirinya. Tapi dia sengaja untuk terus memainkan jemarinya di dalam sana agar bisa melihat wajah memohon itu lebih lama.
“Rafael… kumohon…,” erangnya dan menggigit bibir bawahnya.
“Teruskan,” balasnya tenang. “Aku ingin melihatmu memohon karenaku, Julia.”
Ia merasa bahwa pria itu sedang menghukumnya. Hukuman karena pernah berkencan dengan pria lain. Ia merasa itu tidak adil. Mereka bahkan belum bertemu saat itu. Bagaimana ia bisa menghukumnya atas sesuatu yang sudah terjadi di masa lampau? Ia bahkan tidak ada perasaan sama sekali pada Carlos. Rafael tahu Julia tidak bersalah atas apapun. Ia juga tahu bahwa wanita itu tidak memiliki perasaan apapun pada teman prianya itu. Dia hanya cemburu, dan tak tahu apa yang harus dilakukannya atas perasaan tersebut. Sudah terlalu lama ia menyembunyikan emosi-emosi miliknya, dan berpikir ia tidak akan pernah merasakannya lagi.
Ia memang sudah banyak mendengar pembicaraan di dalam kawanannya soal perasaan yang dirasakan setelah bertemu dengan mate. Mereka bilang hidupnya terasa lengkap setelah bertemu dengan seorang mate. Perasaan-perasaan yang tak pernah dirasakan akan menghampiri dan membuat emosimu campur aduk. Tapi bukankah itu yang dinamakan hidup? Ia ingat salah satu dari mereka berkata seperti itu. Ia pikir setelah bertemu mate-nya, ia tetap akan bersikap sama karena ia sudah menyembunyikan semua emosi-emosi itu dalam-dalam. Namun ia tidak menyangka bahwa wanita yang ada di hadapannya itu membuat semua emosi-emosi yang tersembunyi jauh di dalam dirinya, keluar dan meledak bagaikan sebuah bom. Kini ia bisa merasakan apa yang dinamakan emosi campur aduk tersebut.
“Kumohon… kumohon…,” pinta Julia seraya memejamkan matanya rapat-rapat.
Ia tak bisa menahannya lagi. Ia membutuhkan pria itu sekarang. Juga. Permainan jemari itu semakin membuatnya tersiksa. Dan tanpa aba-aba, ia merasakan milik Rafael sudah memasukinya.
Pria itu mulai bergerak dan memberinya kenikmatan yang seperti berada di puncak dunia. Kasur di bawah mereka bergerak mengikuti gerakannnya. Pendingin ruangan di kamarnya seolah tak berfungsi untuk mengalahkan suhu tubuh mereka yang semakin memanas. Desahan milik wanita itu masih menjadi nyanyian merdu di telinganya, yang membuatnya semakin tak bisa berhenti dan menginginkan seluruh wanita itu. Ia terus mengulang kata-kata dalam benaknya bahwa hanya dia yang bisa mendengarkan suara merdu itu. Desahan merdu itu adalah karenanya. Dia miliknya.
Ia semakin berada di puncak, begitu juga dengan wanita itu. Ia mempercepat gerakannya hingga miliknya keluar dan memenuhi wanita itu. Ia mengeluarkan desahan puas saat proses tersebut.
“Kau milikku, Julia. Kau milikku,” ucap Rafael.
“Ini… tidak adil,” balas Julia terengah. Ia masih kelelahan karena kegiatan yang baru saja mereka lakukan. “Bagaimana jika kau… juga pernah berkencan dengan wanita… lain?”
“Tidak,” jawabnya seraya turun dari tempat tidur.
“Pembohong.”
“Kau yang pertama, Julia,” jawab pria itu seraya berjalan keluar dari kamar tersebut.
Setelah beristirahat selama tiga puluh menit, mereka kembali melanjutkan kegiatan mereka yang sebelumnya. Barang-barang Julia tidaklah terlalu banyak. Untungnya mereka bisa membawa semua kardus-kardus itu ke dalam mobil dan tidak perlu kembali lagi besok. Sebelum kembali ke rumah kawanan, Julia berpamitan pada beberapa tetangga di apartemennya yang ia kenal dekat. Ia juga berpamitan pada teman Carlos yang memberitahunya soal kedatangannya. Pria itu bilang Carlos sudah menunggunya sejak lima hari yang lalu. Ia merasa tidak enak sudah membuat Carlos menunggu selama itu, tapi kini ia sudah tidak ada hubungannya lagi dengan pria itu.
Mereka melakukan perjalanan kembali saat sore, saat hari hampir menjelang malam dan waktu makan malam hampir tiba. Ketika mereka sudah tiba di tempat, Rafael segera menghubungi Rolando untuk menghampirinya di tempat parkir dan membantunya membawa barang-barang Julia. Mereka menunggu kedatangan Rolando selama beberapa menit, lebih lama dari perkiraan. Rafael berpikir apa yang membuatnya untuk datang selama itu? Dia tidak berpikir berjalan melalui jalan rahasia yang biasa digunakan oleh kawanan mengambil waktu cukup lama, hampir seperti melalui jalan utama yaitu perbukitan dengan wujud serigala.
Mereka berdua menoleh ke arah goa karena mendengar langkah kaki datang dari sana. Tidak lama kemudian sosok Rolando muncul dari sana dan berjalan dengan santai seolah ia merasa tidak bersalah telah membuat dua orang itu menunggu cukup lama.
“Aku tahu, aku tahu,” katanya. “Aku hanya perlu melakukan sesuatu terlebih dulu sebelum datang kemari.”
Rafael berdecak dan membuka pintu mobil belakang. “Kau beruntung kau kakakku,” ucapnya.
“Ayolah Rafael, santailah sedikit. Kau akan tahu nanti apa yang membuatku lama,” kata Rolando seraya mengambil dua kardus dari sana. Ia berbalik dan mengedipkan sebelah matanya pada Julia sebelum berjalan pergi menuju rumah kawanan.
Rafael menutup kembali pintu belakang mobil SUV milik kawanan itu sebelum mengangkat dua kardus di tangannya dan berjalan menuju rumah kawanan. Satu kardus dibawa oleh Julia, dan saat mereka tengah berjalan, ia melihat Rolando yang berada di depan mereka sedang memperlambat langkah kakinya hingga ia berdiri sejajar dengan Rafael dan Julia. Rolando tersenyum dan memperlihatkan giginya. Rafael hanya meliriknya tajam.
“Aku hanya ingin berbicara dengan mate-mu sebentar. Kau tahu aku tidak akan macam-macam padanya,” katanya pada Rafael dan tersenyum.
Rafael tidak mengatakan apapun dan hanya memutar bola matanya. Ia lalu melangkah lebih dulu ke depan. Rolando mendekati Julia dan berjalan beriringan dengannya.
“Terima kasih,” bisik pria itu.
Julia mengerutkan dahi dan menatap Rolando. “Untuk apa?”
Rolando tersenyum. “Aku hanya ingin berterima kasih karena kau sudah mau bersama Rafael.”
Julia tidak mengerti apa yang dimaksud pria itu. Ia ingin bertanya sekali lagi tapi ia merasa bahwa Rolando tidak akan menjelaskannya. Meskipun Rafael berada di depan dan mereka berbicara dengan berbisik, Rafael tetap bisa mendengarnya dengan pendengaran serigala yang dimiliki semua Werewolf. Ia merasa bahwa ini ada hubungannya dengan Rafael, namun Rolando tidak ingin membicarakannya. Atau takut.
“Apa kau sedang berburu tadi?” tanya Julia.
Rolando menatapnya sejenak sembari berpikir. “Ah! Itu, kau akan melihatnya nanti,” jawabnya setelah tersadar akan pertanyaan Julia dan tersenyum.
Julia hanya mengerutkan dahi namun tidak menanyakan apapun lagi. Mereka kembali berjalan dan tidak lama kemudian, mereka sampai di rumah kawanan. Ketika mereka hampir melihat pemandangan rumah utama, Rafael menghentikan langkahnya dan mencium udara. Kekhawatiran mulai tergambar di wajahnya.
“Rolls!” panggil Rafael.
Rolando berhenti dan memutar tubuhnya. “Aku tidak percaya kau memanggilku lagi dengan nama itu setelah sekian lama, Ruff!”
“Sial! Kenapa ada banyak bau mereka? Kupikir mereka sedang berburu?” kata Rafael.
Rolando menoleh ke arah rumah utama sejenak sebelum kembali menatap Rafael. “Dengar, ini semua ide Ibu. Dia juga sudah mendiskusikannya dengan Matteo. Kuharap kau bisa mengerti karena ini sudah waktunya.”
Julia tidak mengerti apa yang dibicarakan Rolando. Tapi ia melihat Rafael tidak mengatakan apapun untuk membalas Rolando. Rafael lalu menoleh menatapnya.
“Apa?” tanyanya bingung seraya menatap mereka berdua secara bergantian.
“Julia,” panggil Rolando dan tersenyum padanya. “Kuharap kau tahu bahwa kami tidak akan pernah menganggapmu berbeda,” katanya.
Sekali lagi Julia tidak mengerti apa yang dimaksud Rolando. Ia menatap mate-nya dan pria itu masih tidak mengatakan apapun dan hanya menatapnya balik. Ia juga merasa tidak ada gunanya terus bertanya karena mereka tidak terlihat akan menjawabnya. Detik kemudian Rafael tersenyum padanya.
“Ayo,” ajak Rafael.
Rafael dan Rolando kembali berjalan. Ia juga mulai mengikuti di belakang mereka. Sebenarnya ia juga sudah mencium banyak bau asing saat mulai memasuki kawasan tersebut, seperti yang dikatakan Rafael tadi. Bau itu terkumpul pada satu tempat. Pertanyaan yang sedari tadi ada di benaknya kini terjawab sudah saat penampakan rumah utama itu mulai terlihat dan menampakan orang-orang yang sedang berkumpul di balkon depan rumah yang luas. Mereka semua sedang menatap kedatangan mereka bertiga seolah-olah mereka sudah menunggu sedari tadi sampai sosok mereka terlihat disana.
Tidak. Bukan mereka.
Tapi hanya Julia.