Regina berjalan dari rumah utama dan menghampirinya. Dia tersenyum. Namun senyuman itu seperti senyuman meminta maaf. Dia tahu bahwa Julia masih takut untuk bertemu banyak orang, terutama seluruh kawanan Voref.
“Julia, aku tahu kau terkejut karena ini. Tapi kumohon dengarkan aku, oke?” kata Regina setelah berada di dekatnya.
Julia terlihat tidak yakin. Matanya lalu beralih menatap ke kerumunan di balkon rumah utama yang ada di belakang Regina. Kerumunan orang-orang itu kini mulai penasaran akan dirinya.
“Aku sudah mendiskusikan ini dengan Matteo, bahkan aku sudah menghubungi Lucinda, orang yang paling dekat denganmu itu. Mereka setuju bahwa ini sudah saatnya bagimu untuk diperkenalkan pada seluruh kawanan,” jelas Regina.
Julia tahu bahwa tidak ada gunanya terus bersembunyi dari kawanan yang lain. Suatu saat mereka akan tahu tentangnya. Lagipula selama empat hari dia berada di sana, ia tidak melihat ada yang aneh dari kawanan Voref. Mereka sama seperti kawanan Werewolf yang lain, hidup berkelompok. Hanya saja cara hidup Werewolf Voref lebih liar dari Werewolf biasa. Tidak ada yang membahayakan juga dari mereka, seperti yang dirumorkan. Mungkin label bahaya yang ditujukan pada mereka adalah karena mereka terbiasa menjalani hidup sebagai serigala di alam liar lebih lama daripada sebagai manusia, sehingga insting berburu dan membunuh mereka jauh lebih tajam dan terasah.
Julia akhirnya mengangguk. Memang sudah waktunya ia untuk mengenal anggota kawanan yang lain. Regina balas tersenyum lega. Ia lalu mengambil kardus yang dibawanya dan memberikannya pada Rolando. “Bawa semua barang itu ke tempat Rafael,” perintahnya.
Rolando memutar bola mata seraya mengerang. “Kenapa selalu aku?” keluhnya. Namun ia tetap menuruti perintah Regina dan berjalan menuju rumah kabin milik Rafael.
Ketika Rafael mulai berjalan untuk mengikuti Rolando, Regina menghentikannya dengan menahan tangannya. “Kuharap kau setuju dengan ini. Maaf karena aku tidak memberitahumu terlebih dulu. Aku akan menjelaskannya padamu nanti.”
“Tidak apa-apa,” balas Rafael. Ia kembali melanjutkan berjalan menuju tempatnya untuk menaruh barang-barang Julia.
Regina tersenyum padanya dan menggiring wanita itu menuju rumah utama, dimana seluruh anggota kawanan Voref sudah menunggunya. Ketika ia menginjakkan kaki di balkon tersebut, mata semua orang menatapnya seolah-olah dia adalah sebuah patung emas di tempat itu. Ia melihat Mariana, mate Rolando yang berjalan menghampirinya.
“Halo Julia,” sapanya. “Kuharap kau tidak terlalu terkejut dengan ini.”
“Kuharap begitu. Tapi sayangnya kalian benar-benar berhasil membuatku sangat terkejut,” balas Julia. “Kalian membuatku sangat gugup.”
Mariana tertawa. Kemudian tiga orang berjalan menghampirinya. Itu dua wanita dan satu pria. “Halo,” sapa salah satu wanita dengan tersenyum. “Aku Belinda. Aku terkejut saat Mariana bilang akan ada ras Arctic yang datang.”
“Sebenarnya aku sudah mencium bau asing selama beberapa hari ini di wilayah kita. Tapi aku tidak menyangka bau itu dari serigala Arctic,” kata si pria dan tersenyum. “Halo, aku Lucas.”
“Julia!” suara seseorang menyapanya.
Mereka semua menoleh ke asal suara tersebut dan melihat Matteo yang baru saja keluar dari rumah utama, diikuti seorang pria dan wanita di belakangnya. “Senang melihatmu lagi setelah beberapa hari,” kata pria itu saat sudah berada di dekatnya. “Syukurlah kau terlihat baik-baik saja. Omong-omong maaf soal ini karena aku tidak memberitahumu dan Rafael terlebih dulu,” katanya dan tersenyum sedih.
“Tidak apa-apa,” balasnya tersenyum. “Lagipula cepat atau lambat mereka akan tahu.” Matanya lalu beralih ke pria dan wanita yang berjalan di belakang Matteo tadi yang kini juga menghampirinya. Ia mengerutkan dahi. Ada yang familiar dengan pria itu.
“Halo,” sapa pria itu tersenyum ramah.
“H-halo,” balasnya.
Mengetahui pertanyaan yang tergambar di wajahnya, Regina bersuara. “Dia Rey. Putraku. Kakak pertama Rafael.”
Julia menatap Regina terkejut, kemudian kembali menatap Rey. Itu sebabnya dia terasa familiar, pikirnya. Saat menatapnya, Julia menyadari bahwa Rey memiliki senyuman yang sama dengan Rafael. Mereka berdua sama-sama memiliki senyuman yang menawan.
“Aku sudah tahu kalau Rafael sudah menemukan mate-nya. Tapi dia tidak pernah mengatakan kalau kau adalah Arctic, sampai ibuku memberitahuku,” jelas Rey. “Ini Leya, istriku,” katanya memperkenalkan wanita di sampingnya.
“Halo,” sapa Leya tersenyum. “Senang betemu denganmu, Julia. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan serigala Arctic. Kuharap kau nyaman berada disini.”
“Oke, baiklah!” potong Mariana tiba-tiba. “Biarkan Julia duduk terlebih dulu. Tidak baik membiarkan tamu utama kita berdiri terlalu lama. Lagipula makan malam kita sudah tiba.”
Setelah Mariana mengatakan itu, Julia mencium bau menggiurkan yang datang dari dalam rumah utama. Lalu ia melihat Silvia, mate Matteo, dan beberapa orang lainnya keluar dengan membawa makan malam dan meletakkannya di meja tersebut. Itu jelas bukan daging mentah yang masih penuh dengan darah, tapi benar-benar sebuah masakan untuk makan malam.
“Oh!” ucap Silvia menepuk tangannya setelah melihatnya. “Akhirnya kita bertemu lagi,” tambahnya dan tersenyum pada Julia.
Saat mereka mulai mengeluarkan semua makanan itu dan orang-orang mulai duduk rapi untuk bersiap-siap menikmati makanan yang disajikan, Rafael dan Rolando datang. Rafael duduk di samping Rey sementara Rolando duduk di samping Mariana.
“Kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal?” tanya Rey pada Rafael setelah pria itu duduk.
“Aku memang sengaja untuk tidak memberitahukannya dalam waktu dekat,” jawab Rafael.
“Apa kau takut seseorang mengambilnya darimu mengingat dia―”
“Rey,” potong Rafael dan menatap kakak pertamanya itu.
“Oke, baiklah. Maaf,” ucap Rey dan tersenyum. “Aku bersyukur kau terlihat lebih baik setelah kedatangannya,” tambahnya.
Matteo melihat semua orang-orang di meja itu sudah duduk dengan rapi. Dia lalu berdeham dan bersiap untuk mengatakan sesuatu, membuat perhatian semua orang mengarah padanya.
“Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, kita semua tahu bahwa acara makan malam hari ini diadakan karena untuk memperkenalkan seorang anggota baru di kawanan kita pada kalian,” katanya dan menatap Julia yang berada tepat di seberangnya. “Dia bukan hanya anggota biasa. Dia adalah ras Arctic, yang dirumorkan bahwa keberadaan mereka hanyalah mitos. Ini juga pertama kalinya bahwa salah satu anggota kita memiliki seorang mate dari ras lain. Sebuah kehormatan bisa bertemu denganmu, Julia. Dan kuharap kau tahu bahwa kami semua tidak pernah berniat untuk mencelakaimu.” Matteo tersenyum padanya.
Setelah sambutan singkat dari Matteo itu, mereka semua menyambutnya dengan mengangkat gelas berisi cairan merah. Itu bukanlah acara makan malam seperti yang ia hadiri selama ini, yang dimana semua orang mengenakan pakaian rapi dan bagus. Orang-orang itu hanya mengenakan pakaian biasa. Bahkan ada yang hanya mengenakan celana jins. Tapi hanya karena dari cara berpakaian mereka, bukan berarti sikap mereka sangat buruk. Julia berpendapat justru kawanan Voref lebih baik dari manusia-manusia itu, yang dimana mereka selalu menilaimu lewat tatapan dan mengkritikmu.
Sungguh aneh karena terkadang yang dianggap monster bisa bersikap lebih manusiawi daripada manusia itu sendiri.
Julia memang tidak pernah menghadiri acara makan malam dari kawanan lain selain Voref untuk melihat perbandingan sikap mereka. Tapi ia tak perlu membandingkan itu karena bagaimanapun, kawanan Voref sudah bersikap sangat baik padanya dan baginya itu saja sudah cukup.
Makan malam hari itu berjalan dengan lancar dan menyenangkan. Ia tidak pernah menyangka bahwa semua orang akan menerima keberadaannya dengan tangan terbuka. Seperti yang dikatakan Matteo, bahwa mereka tidak berniat untuk mencelakainya ataupun memanfaatkannya sekalipun jika semua ras Arctic masih hidup. Itu sudah menyelesaikan satu hal bahwa kawasan Voref benar-benar aman baginya untuk tinggal. Dan dari cara kawanan Voref memperlakukannya, ia merasa seperti kembali memiliki sebuah keluarga, yang sudah lama hilang darinya.