“Aku masih tidak mengerti. Jadi maksudmu anak-anak itu seperti melakukan sebuah dosa hingga kau menolak memberikan darahmu? Kita semua tahu anak-anak tidak berdosa.”
Sekali lagi Julia menghela napas. “Aku tahu. Ini sedikit rumit.” Dia berhenti sejenak untuk berpikir. “Anggap saja seperti kau pergi ke suatu tempat. Lalu saat sampai di tempat itu, tiba-tiba kau merasa ragu untuk melanjutkannya, seolah akan ada sesuatu yang terjadi.”
“Yah… sebenarnya aku tidak pernah ragu dalam melakukan sesuatu. Tapi ya, aku bisa mengerti maksudmu. Jadi jika kau memberikan darahmu meskipun terpaksa, akan ada sesuatu yang terjadi?”
Julia mengangguk. “Abyssal adalah contohnya,” ucapnya.
Imelda yang baru saja selesai mengambil darah Julia langsung meletakkan alat suntik tersebut dan menatapnya dengan heran. “Mereka anak-anak, tidak mungkin jadi Abyssal. Lagipula aku yakin sekali anak-anak itu bukan Werewolf.”
“Darah ras Arctic memiliki efek buruk jika diambil secara paksa. Aku tahu anak-anak itu tidak meminta dengan paksa dariku, dan aku memberikannya secara sukarela. Tapi seolah-olah Dewa memberitahuku agar aku tidak perlu memberikan darahku, karena tidak akan berguna,” jelas Julia.
“Maksudmu…”
Julia mengangguk. “Anak-anak itu tidak bisa diselamatkan.”
“Lalu bagaimana dengan Alisa?” tanyanya dan berdiri secara tiba-tiba. “Kalau kau bisa merasakannya pada anak-anak itu, berarti kau juga bisa merasakannya pada Alisa, kan?”
“Sejujurnya aku tidak merasakan apapun. Ada kemungkinan dia masih bisa diselamatkan.”
Imelda menghela napas seraya duduk kembali. Ia lalu menundukkan kepalanya dan menahannya dengan kedua tangannya. “Kuharap darahmu bisa menyembuhkannya,” gumamnya.
“Sepertinya kau sangat menyayangi Alisa,” ujar Julia. Ia bisa melihat dari tatapan matanya saat menatap Alisa tadi.
“Benar,” jawabnya tanpa menatap Julia. “Dia sangat berarti bagiku.”
Julia tidak tahu bagaimana awal hubungan Imelda dan Alisa. Tapi yang jelas keduanya saling menyayangi seperti keluarga. Setelah mereka mengobrol sesaat, mereka kembali ke ruangan Alisa. Saat akan menyuntikkan darah tersebut ke lengan Alisa, Imelda menyuruhnya untuk menutup mata dan berdo’a agar obat tersebut bisa segera menyembuhkannya. Tentu ia melakukannya agar Alisa tidak tahu bahwa yang ia suntikkan ke lengannya adalah sebuah darah. Tapi bagi Alisa sendiri yang sudah berada di stadium akhir dan cukup pesimis akan kesembuhannya, merasa ragu namun tetap menutup matanya.
Setelah Imelda selesai menyuntikkan darah tersebut, ia menyuruh Alisa untuk segera memakan makan siangnya yang baru saja dibawakan oleh seorang perawat, sementara ia akan mengantar kembali Julia ke Rafael. Selama berjalan, Imelda bertanya-tanya bagaimana bisa Rafael memiliki mate dari ras lain. Hal yang sama yang pernah ditanyakan oleh anggota kawanan yang lain, pikir Julia.
“Tidakkah kau merasa aneh?” tanya Imelda. “Mate-mu adalah serigala pembunuh. Kuakui kami memang sering berburu karena itu sangat menyenangkan dan menantang. Dan kau sendiri adalah serigala penolong bagi yang lemah.”
“Percayalah, sampai sekarang pun aku masih memikirkan hal itu,” balas Julia.
“Tapi mendengar penjelasanmu tadi soal ras Arctic, aku jadi mengerti mengapa banyak yang menyebut kalian adalah roh musim dingin. Hubungan kalian dengan Dewa begitu dekat, sehingga kalian diberkahi dengan sesuatu yang tak Werewolf lain miliki. Di zaman sekarang, hubungan seperti itu sudah sangat jarang ditemui, baik manusia maupun Werewolf. Kuakui, kami tidak memikirkan apapun selain hanya berburu dan membunuh musuh kami, seperti layaknya binatang. Apapun yang kami lakukan, kami tidak memikirkan Dewa sama sekali. Aku yakin Werewolf lain juga berpikiran sama,” ungkap Imelda.
“Tidakkah kalian memiliki semacam tradisi atau apapun itu di dalam kawanan?” tanya Julia. “Kalian hidup tersembunyi, jadi kupikir kalian pasti memiliki semacam tradisi khusus yang berbeda dengan Werewolf lain.”
“Hanya karena rasku dan rasmu sama-sama hidup tersembunyi, bukan berarti kita menjalani cara hidup yang sama.” Imelda menoleh padanya sesaat. “Yang ada di pikiran kami hanyalah berburu dan bertarung, karena itulah cara kami bertahan hidup. Kita Werewolf, separuh serigala, jadi kami menjalani separuh hidup kami seperti serigala. Tidakkah Arctic juga seperti itu?” tanyanya.
“Ya. Kami memang berburu untuk bertahan hidup.”
“Aku pikir kita sama. Hanya saja kawananmu punya hubungan yang sangat kuat dengan Dewa, itulah perbedaan kita. Kupikir, mungkin ini cara Dewamu untuk menyatukan sesuatu yang sebelumya tidak mungkin,” kata Imelda dan tersenyum.
Setelah mereka sampai di ruangan Imelda, Julia segera menghampiri Rafael yang masih dalam posisi yang sama. Julia memberitahu bahwa jika darahnya berhasil di tubuh Alisa, keadaannya akan mengalami kemajuan secara perlahan mulai besok. Dia juga memperingatkan bahwa darahnya hanya menyembuhkan keadaan Alisa sekarang, bukan berarti kedepannya dia tidak akan pernah sakit lagi. Imelda akan menghubunginya besok untuk memberitahu keadaan Alisa, dan dia juga sangat menginginkan agar Julia bisa bekerja bersamanya dan mempelajari soal darahnya.
Setelah mereka berpamitan pada Imelda, mereka kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang. Dalam perjalanan, Julia mengingat sebuah cerita yang pernah diceritakan Tetuanya dulu. Itu adalah sebuah cerita tentang seekor serigala hitam dan putih yang pertama kali diciptakan. Dua serigala itu memiliki sifat yang sangat berbeda. Serigala hitam sangat agresif dan ganas, sementara serigala putih lebih tenang dan bersahabat. Tetuanya juga mengatakan bahwa manusia jaman dahulu mempresentasikan mereka sebagai sebuah sifat baik dan buruk, dan diceritakan pada anak-anak.
Julia ingat bahwa dulu ia bertanya tentang akhir dari kisah dua serigala itu. Namun Tetuanya malah mengatakan ia sendiri yang harus mencari akhir dari kisah tersebut, karena sampai sekarang kisah itu belum berakhir. Dua serigala itu harus dipisahkan jauh oleh Dewa karena suatu alasan, namun suatu saat akan bertemu kembali. Ia bertanya-tanya apakah Tetuanya dulu benar-benar mengisahkan soal dirinya? Karena sekarang dia seperti apa yang ada dalam kisah tersebut, berpasangan dengan serigala hitam.
Terlalu larut dalam pikirannya sendiri, Julia tidak menyadari bahwa ia telah sampai. Rafael bahkan sudah mematikan mesin mobilnya. Mengetahui bahwa wanita itu tidak berkutik dari tempatnya dan terlihat sedang memikirkan sesuatu, ia segera melepas sabuk pengamannya, mencondongkan tubuh dan mencium leher samping Julia. Merasakan geli dan basah, ia terperanjat dan segera menoleh pada Rafael.
“Rafael?” tanyanya seraya menyentuh lehernya.
“Kita sudah sampai.”
Julia segera melihat sekeliling dan menyadari bahwa ia sudah berada di lahan parkir milik kawanan Voref. “O-ohh…,” ucapnya seraya ia melepas sabuk pengamannya. “Maaf, aku tidak sadar.”
Julia melirik Rafael dan melihat pria itu langsung keluar dari mobil, tanpa mengatakan apapun. Itu justru semakin membuatnya bertanya-tanya. Ia tahu bahwa Rafael sangat pendiam, tapi tidakkah pria itu penasaran apa yang membuatnya melamun tadi? Ia segera keluar dari mobil dan mengikuti Rafael.
“Tidakkah kau ingin menanyakan sesuatu padaku apa yang membuatku melamun tadi?” tanyanya.
“Kau akan mengatakannya saat kau menginginkannya,” jawab Rafael.
“Bagaimana jika aku tidak menginginkannya? Apa kau tetap tidak akan penasaran?”
“Ada alasan mengapa kau tidak ingin mengatakannya. Aku masih sangat menghargai privasi orang lain,” jelasnya. Rafael melirik Julia dan melihat wanita itu tidak mengatakan apapun. “Sekarang, maukah kau memberitahuku?” tanyanya seraya menggandeng tangan Julia.
“Aku hanya memikirkan kenangan lama dengan kawananku,” ungkap Julia.
Rafael tidak mengatakan apapun dan tetap menggandeng mate-nya menuju rumah kawanan. Julia berpikir bahwa jika tragedi yang menimpa kawanannya tidak pernah terjadi, apakah dia tidak akan pernah bertemu Rafael? Dia tidak akan pernah melihat dunia luar dan akan memiliki seorang mate dalam kawanannya sendiri? Itulah yang akan terjadi, batinnya. Rafael bahkan akan memiliki seorang mate dari kawanannya sendiri.
Ibunya pernah mengatakan bahwa selain diberkati dengan darah penyembuh, ras Arctic juga memiliki penglihatan ajaib. Dulu ia tak tahu apa yang dimaksud oleh ibunya, tapi sepertinya sekarang ia memahaminya. Terkadang, ia melihat rasa sakit dan kehilangan yang begitu dalam yang tersembunyi jauh di dalam mata kuning tajam Rafael. Ia tahu bahwa ia tak berhak untuk menanyakan hal tersebut pada Rafael, karena ia merasa itu sangat terlarang. Ia tak tahu masa lalu seperti apa yang pernah menimpa mate-nya. Tapi yang jelas, pria itu pernah sangat menderita.