Rumah sakit itu berisi anak manusia dan Werewolf. Julia tahu itu rumah sakit anak, tapi ia belum tahu siapa pemilik rumah sakit ini. Yang pasti dia adalah salah satu dari kawanan Voref. Bangunan tempat mereka dipisah. Tentu, siapa yang ingin melihat tiba-tiba ada seekor serigala yang berkeliaran di dalam rumah sakit, terutama manusia. Anak-anak sulit diatur. Meskipun mereka sudah diberitahu berulang kali untuk tidak melakukan perubahan secara sembarangan, mereka masih sering melakukannya karena berubah menjadi serigala memang menyenangkan. Mereka bisa berlarian dengan bebas.
Mereka berjalan menuju bangunan paling belakang yang memiliki area lebih luas dari bangunan di depan yang diperuntukkan untuk pasien manusia. Yang luas dari area ini adalah lahan belakangnya, hampir bisa dijadikan untuk sebuah ladang. Sedangkan bangunannya sendiri hanya memiliki kamar yang tidak terlalu banyak karena memang banyak dari seorang Werewolf yang lebih memilih memiliki dokter sendiri di dalam kawanan.
Rafael membawanya menuju ruangan kepala rumah sakit tersebut. Julia mengira bahwa pria atau wanita yang ada di balik ruangan tersebut mengenakan pakaian seperti dokter-dokter pada umumnya; sebuah jas putih. Tapi perkiraannya salah. Ketika Rafael membuka pintu, ia melihat wanita itu hanya mengenakan celana jins dan kaus dengan potongan leher berbentuk v. Pakaiannya sangat biasa, seperti ia sedang mengenakannya di dalam rumah. Ia bahkan sedang menikmati makanannya di dalam kantornya.
“Rafael? Tidak biasanya kau datang kemari?” tanyanya heran. Matanya lalu beralih menatap Julia, memeriksanya sejenak dan berhenti di mata biru cerahnya. Ia kembali menatap Rafael. “Aku belum mendengar kalau kau sudah menemukan mate-mu? Dan dari ras lain?”
Rafael menutup pintu di belakangnya. “Arctic,” katanya seraya melepas kacamatanya.
Mulut wanita itu terbuka dan ia segera bangkit berdiri. “Tolong katakan kalau kau tidak bercanda.”
“Apa aku orang yang suka bercanda?”
Wanita itu menatap Julia sejenak sebelum kembali menatap Rafael. “Tunggu, tunggu! Bagaimana? Kapan kalian bertemu?”
Rafael langsung mengajak Julia untuk duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut. “Di kastil Oleas,” jawab Rafael.
“Oh ya Tuhan, aku hampir tidak percaya ini,” gumamnya seraya menatap Julia. “Arctic benar-benar masih ada?”
“Aku yang terakhir,” kata Julia pelan.
“Bisa kau beritahu padaku bagaimana kau bisa bertahan hidup dan mitos soal darah penyembuh yang ras Arctic miliki?”
“Cukup. Kami datang kesini karena sesuatu,” potong Rafael.
“Ayolah Rafael, kau sama sekali tidak asyik.” Dia kembali menatap Julia dan tersenyum seraya mengulurkan tangan. “Aku Imelda. Siapa namamu?”
“Aku Julia,” jawa Julia dan menjabat tangan Imelda.
“Jadi, apa yang membawamu kemari?” tanya Imelda pada Rafael.
Sebelum Rafael bisa mengatakan sesuatu, Julia menghentikannya dan meminta agar dia sendiri yang menjelaskannya. Rafael mempersilahkannya. “Bisa aku bekerja disini?”
Imelda menatapnya dengan kedua alis terangkat. Ia menatap Rafael untuk meminta penjelasan namun dia tidak mengatakan apapun, jadi ia kembali menatap Julia. “Maaf, tapi kenapa kau ingin bekerja disini?”
“Yah, sebelumnya aku seorang perawat di rumah sakit anak. Aku keluar dari sana setelah Rafael membawaku. Aku hanya merasa bosan karena tidak bisa melakukan apapun di rumah kawanan, jadi aku ingin bekerja lagi. Dan Rafael hanya mengizinkanku bekerja di tempat ini,” jelasnya.
Imelda kembali menatap Rafael untuk meminta kebenaran, namun sekali lagi dia tidak mengatakan apapun dan hanya menatapnya. Tapi dari tatapan matanya, Imelda sudah bisa melihat bahwa Rafael berkata ‘iya’.
“Lagipula kenapa kau membuatnya keluar dari tempat kerjanya yang sebelumnya?”
“Seseorang sedang mengejarnya,” jawab Rafael.
“Apa?” ucap Imelda terkejut. “Apa ini karena mitos darahmu yang bisa menyembuhkan itu sehingga seseorang mengejarmu?”
“Umm, sebenarnya itu bukan mitos. Darahku memang bisa menyembuhkan,” kata Julia.
Imelda menatapnya dengan mata terbelalak. “Kau serius?” ucapnya. Kemudian secara tiba-tiba ia menarik tangan Julia hingga membuatnya bangkit berdiri.
Rafael yang terkejut langsung menahan tangan Julia dan menatap Imelda dengan tajam. “Apa yang kau lakukan?” tanyanya.
“Tenanglah Rafael, aku hanya ingin mengajaknya ke kamar salah satu pasien.”
“Pasien?” tanya Julia.
“Benar. Aku hanya ingin memastikan apa darahmu memang benar-benar bisa menyembuhkan,” katanya. “Aku bukan orang yang mudah percaya begitu saja terhadap rumor soal Arctic memiliki darah penyembuh sehingga mereka diburu.”
Julia menoleh menatap Rafael. “Boleh aku pergi dengannya?”
Rafael menatap Imelda dengan tajam, hingga membuat Imelda memutar bola matanya. “Aku tidak akan melakukan sesuatu padanya. Aku hanya membawanya sebentar, dan aku jamin dia aman bersamaku. Santailah sedikit, Rafael.”
Rafael menghembuskan napas seraya menyandarkan punggungnya. “Baiklah,” katanya.
Julia menunduk dan mengecup bibir Rafael. “Aku akan segera kembali,” katanya sebelum ia dan Imelda keluar dari ruangan tersebut.
Setelah mereka berdua berjalan di lorong, Julia mulai bertanya. “Apa kau memintaku untuk menyembuhkan salah satu pasien?”
“Jika memang bisa menyembuhkan, kuharap kau bisa menyembuhkannya,” kata Imelda. “Dia bukan hanya sekedar pasien, dia teman terbaikku. Dan dia manusia”
Benar saja, Imelda membawanya menuju bangunan depan yang dimana merupakan kamar untuk pasien manusia. Julia sempat menanyakan soal mata Imelda karena dia tidak memakai apapun, tapi dia mengatakan bahwa dia tidak masalah karena temannya ini sudah tahu soal matanya. Saat masuk ke dalam kamar, disanalah Julia melihat seorang gadis kecil tanpa rambut di kepalanya sedang menatap ke jendela di sampingnya.
Merasakan kehadiran seseorang, gadis itu menolehkan kepalanya. Senyuman lebar terukir di bibirnya melihat kedatangan Imelda. Julia kini bisa melihat sebuah selang oksigen yang terpasang di hidungnya. Gadis itu terlihat kurus, jelas karena sakit yang dideritanya. Namun senyuman cerah tetap tak menghilang dari wajah kecilnya. Mata berwarna coklat terang itu kini menatapnya.
“Halo,” sapa Julia tersenyum. “Aku Julia, teman Imelda.”
“Halo,” balasnya tersenyum senang. “Aku Alisa. Senang bertemu denganmu, nona Julia.”
“Oh, panggil saja aku Julia.”
“Karena kalian sudah saling memperkenalkan diri, kini giliranku yang harus memperkenalkan Alisa padamu, Julia. Dia pasien disini semenjak dua tahun yang lalu. Aku sering menemani Alisa saat orangtuanya tidak disini.”
“Boleh aku tahu berapa umurmu, Alisa?” tanya Julia.
“Aku baru berumur sebelas tahun bulan lalu.”
“Baiklah Alisa, aku harus bicara dengan Julia sebentar. Aku akan segera kembali,” kata Imelda tersenyum dan lalu mengajak Julia keluar dari kamar tersebut.
Mereka berjalan menuju taman belakang dari bangunan di depan. Taman tersebut cukup luas dan banyak anak-anak bersama orangtuanya yang sedang menikmati waktu istirahatnya disana. Bangku-bangku disana sudah dipenuhi oleh orang-orang. Ada satu yang masih kosong namun terlalu dekat dengan kerumunan manusia, jadi Imelda menuju tempat yang jauh dari kerumunan manusia itu.
“Jadi, itu temanmu?” tanya Julia.
Imelda mengangguk. “Dia mengidap kanker, stadium akhir,” katanya.
“Oh! ya Tuhan,” gumam Julia menutup mulutnya dengan tangannya. “Aku memang sudah sering melihat anak-anak mengidap penyakit parah. Tapi melihat Alisa… sepertinya dia tidak bisa bertahan lama.”
“Benar. Dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Aku membawamu menemuinya dengan maksud agar kau bisa menyembuhkannya dengan darahmu itu. Bisakah, Julia?”
Julia menggigit bibir bawahnya. “Aku tidak tahu apakah darahku bisa menyembuhkannya atau tidak. Darahku hanya bisa menyembuhkan, bukan menghilangkan penyakitnya. Untuk masalah hidup dan mati, aku tak bisa ikut campur dalam hal itu.”
“Apa maksudmu?”
Julia menghela napas. “Ini sedikit rumit. Darah kami itu seperti kekuatan Dewa yang dititipkan pada kami. Kami ‘mungkin’ bisa menyembuhkan penyakit parah dalam diri seseorang. Tapi jika orang itu memang ditakdirkan untuk segera pergi dari dunia ini, darah itu tidak akan bekerja. Sebaliknya jika masih ada harapan untuk hidup, orang itu akan sembuh dari penyakitnya,” jelas Julia.
“Jadi maksudmu… ini ada hubungannya dengan campur tangan Dewa?”
“Seperti itulah,” jawab Julia pelan.
Imelda menghela napas dengan keras. “Jika Alisa masih memiliki harapan untuk hidup, dia akan langsung sembuh dengan darahmu. Jika tidak, tidak akan ada perubahan pada kondisinya. Kekuatan yang cukup masuk di akal,” katanya dan menatap Julia. “Tapi lebih baik dicoba daripada tidak sama sekali, kan?”
Julia mengangguk. “Sebenarnya sedikit saja darah dariku sudah bisa membuatnya sembuh.”
“Sekarang aku mengerti mengapa kaummu diburu hingga tak tersisa,” ujarnya. “Ayo, aku harus mengambil darahmu.”
Imelda kembali mengajaknya berjalan menuju ruang penyimpanan obat-obatan. Selama berjalan, terlihat sekali bahwa beberapa orang menatap Imelda, atau lebih tepatnya matanya. Namun beberapa dokter dan perawat yang kebetulan lewat tidak terkejut dengan warna mata Imelda. Julia berpikir bahwa para dokter dan perawat yang bekerja disini sudah tahu soal warna matanya. Imelda adalah tipe wanita yang nyaman dengan dirinya sendiri sehingga ia cukup berani untuk menampakkan warna mata kuningnya di depan umum.
Setelah mereka sampai disana, Imelda segera mengambil sebuah alat suntik sementara Julia duduk di sebuah kursi.
“Seberapa banyak aku boleh mengambil darahmu? Kau tahu, aku masih tetap harus meminta izin dan kau pun masih memerlukannya untuk yang lain,” katanya.
“Aku tidak menggunakan sebanyak yang kau pikirkan,” kata Julia seraya ia meletakkan satu lengannya ke atas meja. “Di tempatku bekerja sebelumnya, tidak semua anak akan kusembuhkan.”
“Apa maksudmu?” tanya Imelda penasaran.
“Di kawananku sebelumnya, kami memang punya tugas untuk melindungi anak-anak, menyembuhkan, dan menuntun orang-orang yang tersesat. Setelah aku datang kemari, aku sadar bahwa tidak semua orang layak mendapatkan kesembuhan,” jelasnya.
Imelda masih menatapnya dengan penasaran. Julia menghela napas. “Entah semua kawananku dulu seperti ini atau hanya aku, tapi aku seperti bisa merasakan bahwa ada sesuatu dari anak-anak itu yang membuatku menolak untuk memberikan darahku.”