CHAPTER 2

1062 Kata
Tidak mudah melupakanmu Banyak kejadian harus kulalui Banyak hal harus kuhadapi Banyak cara yang harus kuuji Tapi kini kamu kembali Disaat perjuangan telah kuakhiri (Reina Sekartaji) "Selamat sore." Dua orang berseragam polisi datang menghampiri Reina, memberikan hormat. "Selamat sore," Reina membungkukkan badannya "Bisa kami berbicara." Tampak polisi itu mengisyaratkan untuk meminta waktu pada Reina. "Bisa, disana." Reina menunjuk sebuah bangku, dekat taman di sebelah ruang igd. Dari bangku itu, Reina masih bisa melihat dalam ruang igd dengan cukup jelas. Dan mereka pun berjalan menuju bangku itu "Bagaimana pak polisi?" "Apa hubungan ibu dengan korban dewa ini? Polisi memulai introgasinya. "Teman." "Ibu kenal keluarganya?" "Iya." "Ibu bisa menghubungi keluarganya?" "Tidak." Polisi itu mengerutkan keningnya. "Keluarganya hanya istrinya dan saya tidak memiliki nomor ponsel istrinya," jelas Reina. Tatapannya beralih menatap ke salah satu polisi yang memberinya pertanyaan. Kedua polisi itu saling menatap, meragukan omongan Reina. "Kalau begitu, ibu kami anggap sebagai walinya," putus salah seorang polisi. "Kenapa harus saya?" Reina memprotes. "Dalam ktp yang kami temukan, pak Dewa berstatus belum kawin. Kami kesulitan menghubungi kerabatnya apalagi istrinya yang ibu maksudkan tadi." "Dia punya ponsel, pasti nomor istrinya itu ada di dalam ponselnya." "Kami sudah mengecek, tidak ada kontak bernama istri, tidak ada juga riwayat chat yang kami curigai sebagai istrinya." "Nggak mungkin, saya tau pasti dia menikah." "Ini barang bapak Dewa yang kami temukan pada saat kejadian, ponsel juga ada di dalamnya," ujar bapak polisi sambil memberikan sebuah tas berwarna hitam kepada Reina. "Ibu bisa mengisi formulir ini." Ada beberapa lembar kertas yang disodorkan kepada Reina. "Formulir apa?" tanyanya heran. "Wali korban, kami akan meminta informasi apapun mengenai korban kepada ibu." Mau tidak mau Reina mengisi lembar isian itu. Tidak lupa di akhir tulisan, dia membubuhkan tanda tangan dan nama terang. "Terimakasih atas waktunya, kami permisi." Kedua polisi itu berlalu meninggalkan Reina. *** "Keluarga pasien atas nama Dewangga," panggil suster. Dengan cemas Reina menunggu di depan ruang igd. Dia tidak diperkenankan masuk karena alasan bisa menganggu konsentrasi dokter. "Iya saya sus." Mendengar nama Dewa dipanggil sontak membuat Reina berdiri dari duduknya. "Begini, pasien membutuhkan operasi. Ada tulang patah di bagian lengan kirinya." "Lakukan operasi segera sus." "Kalau begitu, silahkan urus administrasinya." Reina mengangguk, "iya," jawabnya. Dengan setengah berlari, Reina menuju ruang admin. Sungguh saat ini dia menginginkan kesembuhan untuk Dewa. Kring kring kring Ponselnya berkali kali berbunyi, namun tidak pernah diangkatnya. Seakan telinganya tuli hanya untuk sekedar mendengar dering ponsel. Reina sampai di depan ruang dengan kaca lebar bertulis administrasi. "Mbak, administrasi atas nama pasien Dewangga di igd yang baru saja kecelakaan," ucap Reina agak serak. Petugas menjelaskan seluruh rangkaian proses kepada Reina. Operasi bisa langsung ditangani jika pasien membayar dimuka. Ini rumah sakit swasta dengan sistem bayar lalu penanganan. Bisa menggunakan asuransi kecelakaan, tapi operasinya menunggu jadwal. Bisa besok, lusa, bahkan seminggu lagi, tergantung urutan pasien yang telah melakukan antri sebelumnya. Reina memilih menggunakan uang pribadinya untuk membayar seluruh tagihan praoperasi. Setelah menyetujui beberapa hal, Reina diharuskan menandatangani dokumen yang jumlahnya lebih dari sepuluh dokumen. Salah satunya adalah dokumen persetujuan tindakan operasi. Reina tidak punya pilihan lain, dia tidak tau harus menghubungi keluarga dewa siapa, karena setaunya keluarganya hanya istrinya, sedangkan Reina tidak tau nomor telepon istri Dewa. Satu jam setelahnya Dewa masuk ruang operasi. Lega? Belum Reina masih tidak bisa tenang sebelum menyaksikan Dewa sadar atau sebelum tau dewa baik baik saja. *** Reina melupakan sesuatu. Janjinya untuk pergi ke tempat gym. Dirogohnya ponsel pada saku celana sebelah kanannya. Ada beberapa pesan masuk dan panggilan tak terjawab. Ada dari trainer gym nya, orangtuanya, dan nomor tidak dikenal. Diabaikannya nomor tidak dikenal itu, paling juga nomor mama minta pulsa. Hal yang sering terjadi. Kalaupun penting juga pasti akan menelfon lagi. Dibukanya aplikasi w******p di ponselnya. Mencari nama trainer gym dan jemarinya mengetik pesan. Maaf, tadi ada insiden sedikit. Jadwal gym hari ini tidak usah diganti, anggap saja aku masuk Maaf juga tidak mengabari Dipencetnya tombol send, dan pesan otomatis terkirim. Biasanya Reina memiliki jadwal dua kali seminggu untuk berlatih dengan trainernya. Jadwalnya fleksibel, tergantung kesiapan Reina. Setelahnya Reina mencari kontak ibunya. "Assalamualaikum bu." "Waalaikumsalam." "Kenapa bu?" "Kenapa? Apakah ibu harus kenapa-napa dulu baru boleh menghubungi anaknya?" ucap sang ibu sarkas. "Ya bukan begitu." "Kamu tadi kemana nggak angkat telfon ibu?" "Oh tadi masih nge-gym, hp nya lupa reina silent," bohongnya. Bisa darah tinggi ibunya kalau tau Reina sama Dewa. Sejak kejadian anaknya diduakan itu, ibu Reina sangat sensitif dengan sesuatu yang berhubungan dengan Dewa. Bahkan ibunya itu sampai membenci profesi pilot. "Oh, tumbenan malem malem." Ya, ibunya sangat tau, jadwal gym Reina kalau tidak siang ya pasti sore. Reina lebih suka menghabiskan malamnya untuk istirahat, menonton film, atau membaca novel. "Tadi trainerku nggak bisa sore makanya diganti malem." "Ini kamu masih di tempat gym brarti?" "Iya," bohongnya lagi. Maafkan anakmu ini bu - batin Reina "Yaudah cepet pulang, hati-hati dijalan, ibu cuma kangen aja sama kamu" "Uhh, iya, Reina kangen juga sama ibu, bey. Assalamualaikum." Lalu dilepaskannya ponsel dari telinga. "Oh ya, tunggu dulu, weekend kamu pulang kan?" "Iya dong, udah kangen rumah." "Okee ibu tunggu," ucap ibunya antusias. "Waalaikumsalam" lanjut ibunya. Tumben! Biasanya juga biasa aja - batinnya Bib Tanda panggilan berakhir *** Lebih dari tiga jam Reina menunggu di depan ruang operasi. Selama itu pula tidak ada satu pun suster atau dokter keluar dari ruang operasi. Perutnya terdengar keroncongan, tapi diabaikannya. Dia tidak mau beranjak dari tempatnya kini duduk. Pikirannya takut, takut kalau dokter atau suster keluar membutuhkannya sedangkan dia tidak ada di sana. Matanya merah, menahan kantuk. Sekitar pukul satu dini hari lampu di depan ruang operasi mati. Itu tandanya operasi telah berakhir. Beberapa orang berpakaian hijau keluar. "Keluarga pasien atas nama Dewangga." Salah seorang suster memanggilnya. "Iya sus." Reina dengan sisa tenaganya menghampiri suster itu. Suster itu tidak sendiri, disampingnya ada seorang dokter laki laki berkacamata, tidak bisa dikatakan tua, namun juga tidak lagi muda. Berusia sekitar empat puluhan. "Operasi berhasil kami lakukan, pasien akan segera dipindahkan ketika sudah mendapatkan kesadarannya." "Apakah ada sesuatu yang gawat dok?" "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tulang yang patah sudah berhasil kami tangani. Tapi kemungkinan nanti proses penyembuhannya agak lebih membutuhkan waktu." Deg Mata Reina sayu, dia tetap khawatir dengan Dewa. Bagaimana kalau kecelakaan ini menyebabkannya kehilangan fungsi tangannya? Bagaimana dia akan bekerja kalau itu terjadi? Berbagai pikiran buruk terus menghantuinya. "Itu masih kemungkinan, kita lihat nanti perkembangan lebih lanjutnya setelah pasien sadar. Kita akan pantau terus," lanjut penjelasan dokter.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN