bc

EX-HUSBAND

book_age18+
17.3K
IKUTI
82.8K
BACA
family
playboy
badboy
goodgirl
drama
sweet
serious
mxm
expirenced
like
intro-logo
Uraian

Penyair bilang perihal cinta itu sang pencipta yang pilihkan sedangkan menikah itu kita yang tentukan. Dan seorang reina memilih menikah dengan lelaki yang dicintainya. Tapi lelaki yang telah menjadi suaminya itu ternyata tidak pernah mencintainya.

Cerita ini dimulai saat Reina benar-benar melepas suaminya, dan telah berhasil memulai hidupnya yang baru. Di saat itu justru takdir menemukannya kembali dengan sosok yang masih dicintainya, dewangga darmadjati yang tidak lain adalah mantan suaminya.

"aku mencintaimu re." Dewangga Darmadjati

"lupakan." Reina Sekartaji

chap-preview
Pratinjau gratis
PROLOG I
Aku salah, ku pikir kamu rumah Nyatanya aku hanya singgah Seberapapun aku coba menyanggah Tetap saja aku kalah Jadi… Biarlah aku yang patah Kamu? Tetaplah bertumbuh (Reina Sekartaji) Surat dari Pengadilan datang. Setelah hampir tiga bulan selepas persidangan terakhir, akhirnya surat itu dibawa oleh pak pos pengantar surat ke rumah orangtuaku. Kini surat itu telah ditanganku. Berwarna coklat berukuran sekitar empat belas kali dua puluh enam senti meter. Kubuka perlahan. Ada sebendel kertas didalamnya. k****a satu persatu kalimat dalam surat itu. Tibalah netraku pada kalimat, Berdasarkan uraian tersebut diatas, permohonan pemohon telah sesuai dengan____ oleh karena itu pemohon memohon kepada majelis hakim____ memutuskan bahwa mengabulkan permohonan pemohon____. Nafasku tercekat, mataku perlahan menutup. Kedua tanganku tanpa sengaja meremas surat itu. Cairan bening perlahan menetes dari kedua kelopak mataku. Sekarang pernikahanku benar benar telah usai. Welcome status baru, janda! Dunia ku hancur, aku kehilangan suamiku dan juga kehilangan anakku. Tidak sepantasnya aku menyesal, karena ini adalah pilihanku. Pilihanku untuk melepas suamiku. Dari awal pernikahan, hanya aku yang mencintai dia, tidak sebaliknya. Aku tidak ingin membuatnya semakin tersiksa karena menjalani pernikahan denganku, wanita yang tidak pernah dicintainya.   *** Alangkah terkejutnya aku ketika selepas wisuda ada seorang ibu yang datang ke rumahku, melamarku untuk anaknya. Beliau seorang janda yang menghidupi anak lelaki tunggalnya sendirian. Mendiang suaminya meninggal karena stroke. Beliau menderita kanker serviks dan dokter memvonis hidupnya tidak akan bertahan lama. Oleh karena itu beliau ingin, saat beliau pergi nantinya ada seorang yang bisa merawat anaknya. Dengan kata lain beliau ingin melihat anaknya menikah. Aku iba? Tidak, aku menerima lamaran itu karena aku memang mencintai anaknya. Dulu kami satu sekolah, seringkali bapak ibu guru memilih kami untuk menjadi pasangan saat ada event di sekolah. Misalnya saja saat ada kunjungan bapak Menteri Pendidikan, aku dan dia ditunjuk untuk menjadi duta sekolah, mewakili teman teman untuk menyambut. Selain itu juga saat dies natalies sekolah, ada sebuah drama kolosal bertajuk Ramayana. Dia memerankan Rama dan aku sebagai Shinta. Peran yang kami lakoni selalu sukses besar, karenanya kami selalu ditunjuk lagi dan lagi. Mereka bilang kami soulmate. Wajah kami yang mirip ditambah dengan chemistry diantara kami, terlihat seperti pasangan sungguhan. Tidak jarang juga teman teman menganggap kami sepasang kekasih. Bisa dibilang aku terlalu menikmati peran. Anggapan orang orang terlalu membuatku nyaman, mengganggap diriku sebagai pasangan asli Dewa dalam dunia nyata. Hingga akhirnya rasa itu pun ada. Aku mulai mencintai Dewangga Darmadjati. Itulah kenapa aku langsung menyetujui lamaran ibunya kala datang ke rumahku. Mematahkan harapan orang tuaku untuk melihat aku bekerja selepas sarjana. Tak apa, kata orang tua ku asalkan itu bisa membuat ku bahagia, beliau akan mendukung keputusanku. Aku menikmati statusku sebagai istri Dewangga. Aku tau di awal pernikahan Dewangga belum memiliki perasaan apapun terhadapku, tapi aku percaya dengan kekuatan cintaku dia akan mulai mencintaiku. Dewa tidak pernah menolakku, dia memperlakukanku dengan baik, itulah yang membuatku yakin. Dewa bekerja sebagai pilot salah satu maskapai penerbangan terkenal di Indonesia. Setidaknya selama satu minggu dia memiliki jadwal penerbangan rata-rata dua puluh lima jam. Tidak ada asisten rumah tangga dalam keluarga Dewa. Aku yang membersihkan rumahnya, merawat ibunya yang setiap minggu diwajibkan check up ke rumah sakit. Ibunya dewa memiliki sebuah minimarket di samping rumah, aku juga yang bertugas mengawasi karyawannya. Tidak mungkin aku membiarkan ibu mertuaku yang sedang sakit bekerja. Pun juga aku yang mengantar jemput dewa ke bandara ketika bekerja. Tidak ada sopir. Terkadang di jam dua belas malam, disaat orang terlelap, aku melajukan mobil untuk menjemput Dewa. Aku menempatkan kepentingan dewa dan ibu mertuaku di atas segalanya. Tidak ada agenda shopping dan travelling seperti saat aku masih melajang. Kalau dulu aku bahagia karena bisa menikmati udara di pegunungan atau mendengar deburan ombak laut, kini bahagiaku hanya melihat orang-orang yang kucintai tersenyum, terkhusus itu Dewa, suamiku. Malam itu, alangkah bahagianya aku ketika dewa mengutaran niatnya untuk memiliki keturunan dariku. Ibu mertuaku memang berkali kali meminta cucu kepada kami, tapi dewa tidak pernah menanggapinya. Ku pikir saat itu Dewa mulai memiliki perasaan untukku. Kami memulai program untuk kehamilan. Mulai mendatangi dokter kandungan agar aku segera hamil. Namun sudah lebih dari lima bulan tidak ada tanda tanda aku hamil. Mungkin salah satu faktor penyebabnya adalah intensitasku bertemu dengan Dewa yang sangat sangat terbatas. Bertepatan dengan moment natal, tahun baru dan liburan panjang membuat Dewa jarang ada di rumah. Kalaupun libur dia memilih menghabiskan waktu tidur di mess bandara, katanya biar tidak terlalu capek. Keadaan ibu mertuaku semakin hari semakin memburuk. Dokter akhirnya menyerah dan ibu mertuaku dinyatakan meninggal. Setelah kematian ibunya dewa jadi semakin jarang pulang. Tidak pernah menanyakan program kehamilan yang kami jalani. Hingga akhirnya aku tau, dewa ternyata menikah lagi. Dia wanita yang selama ini Dewa cintai. Satu fakta yang ku tau, mendiang ibu mertuaku tidak pernah menyetujui hubungan dewa dengan wanita itu. Dewa sangat mencintai ibunya, oleh karena itu dia menerima untuk dinikahkan denganku. Berpura-pura melepas wanita yang dicintainya padahal tidak sama sekali. Program kehamilan yang kami jalani juga ternyata atas desakan ibu mertuaku, bukan kemauannya sendiri. Mungkin memang Dewa tidak pernah menginginkan keturunan dari aku. Beberapa bulan setelah aku dan dewa menikah, kekasih Dewa juga minta dinikahi. Menurut penuturan Dewa, dia merasa cemburu dengan keberadaanku. Dewa menyetujui dan menikahinya secara siri. Dia, kekasih Dewa itu adalah seorang pramugari pada maskapai yang sama tempat dewa bekerja. Jelas intensitas mereka bertemu lebih dari aku. Bahkan mereka pernah honeymoon di Thailand. Sedangkan aku? Pergi berlibur berdua dengan Dewa saja tidak pernah. Setidaknya itulah kenyataan yang ku tangkap dari cerita Dewa. Lebih tepatnya aku memaksa Dewa menceritakan semua keadaannya. Aku memilih mundur. Melepas Dewa, bukan untuk wanita itu tapi untuk kebahagiannya. Cinta tidak boleh egois bukan? Kalau dipikir aku juga salah. Dulu sebelum aku menikah, aku tidak menanyakan kepada Dewa perihal perasaannya. Aku terlalu bahagia mendapati kenyataan bahwa aku akan menikah dengan lelaki yang kucintai. Aku bukan wanita super yang bisa begitu saja ikhlas menerima takdir sang kuasa. Setiap hari setelah kepulanganku ke rumah orangtuaku, aku tidak pernah keluar rumah, mengurung diri di kamar. Makanpun rasanya enggan, selalu muntah. Tidak menghiraukan penampilan juga kesehatanku. Hari-hari kuhabiskan untuk menangisi jalan hidupku. Seluruh proses pengadilan diurus oleh Dewa, bahkan Dewa memintaku untuk tidak menghadiri setiap panggilan persidangan. Menurutnya itu cara agar prosesnya cepat selesai. Dewa memberiku rumah, tanah, serta mobil untuk kehidupanku. Tapi aku menolaknya! Aku menikah dengan nya bukan karena hartanya. Lagipula aku datang ke rumahnya dulu hanya membawa baju, jadi biarlah hanya baju yang aku bawa pergi juga. Bahkan kartu kredit yang diberikannya juga ku kembalikan. Sudahlah. Surat dari Pengadilan sudah ku terima, itu artinya aku sudah resmi menjadi janda. Tidak mudah memang. Sudah cukup berbulan-bulan aku meratapi kesakitanku. Masih ada orang tua yang harus aku bahagiakan. Bahagia itu tidak akan datang jika aku tidak berusaha. Kini saatnya aku memulai usaha itu. Aku berdoa, semoga Dewa bahagia dengan pilihannya. Juga untuk kebahagiaanku dan orang-orang yang kucintai

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook