Tanpamu ...
Aku takut duniaku berubah semu
Aku ragu bisa menjalani hidupku
Aku tidak yakin berdiri dengan kakiku
Tapi itu hanya dalam ingatku
Ternyata hidupku masih bisa bahagia
Tanpamu ...
(Reina Sekartaji)
Rapat terbuka, Senat Universitas Internasional Indonesia, dalam rangka wisuda Program Sarjana, Profesi, Magister, dan Doktor segera dimulai.
Pembawa acara membacakan susunan acara prosesi wisuda sebuah Universitas. Ada sekitar seribu dua ratus calon wisudawan/ti yang mengikuti proses ini, salah satunya Reina.
Dalam sebuah gedung, Reina berbalut kebaya merah yang terlihat senada dipadukan dengan toga hitamnya. Rambut di gulung ke atas agar terlihat rapi. Heels setinggi tujuh centi menambah kesan jenjang pada tubuhnya.
Tubuhnya terlihat kurus namun lebih sexy daripada dulu. Pengalamannya pernah gagal menikah, membuatnya ingin selalu mementingkan penampilan. Bahkan dia sampai mempunyai trainer gym untuk membimbingnya. Juga untuk menjadi mentor asupan makanannya. Hidupnya lebih teratur sekarang.
Penyerahan penghargaan, kami panggil lulusan terbaik Universitas Internasional Indonesia, Dr. Mahfud Prasetyawan lulusan terbaik program doktor, Reina Sekartaji, M.A.B. lulusan terbaik program pascasarjana____.
Suasana riuh terjadi, rekan wisudawan/ti memberikan tepukan kepada mereka yang berhasil mendapat penghargaan terbaik. Salah satu nama yang terpanggil adalah Reina. Senyum lebar tidak pernah luntur dari wajahnya. Langkah anggunnya membuat semua mata tertuju padanya. Tidak sia sia usahanya selama satu setengah tahun ini, setiap malam selepas bekerja, Reina selalu belajar, bahkan sabtu dan minggu disaat orang yang lain menikmati weekend, Reina harus mengejar bimbingan kepada dosennya. Reina mengambil kelas non reguler, jadi perkuliahan efektif di hari sabtu dan atau minggu.
Dua setengah tahun yang lalu, sekitar enam bulan setelah kedatangan surat resmi perceraiannya, Reina dinyatakan lolos seleksi penerimaan pegawai baru di salah satu perusahaan besar milik pemerintah. Resikonya Reina harus bersedia untuk ditempatkan di seluruh Indonesia. Namun kali ini Reina cukup beruntung, dia hanya beda kota, masih satu pulau dengan orang tuanya. Gajinya cukup besar, sehingga dia bisa membeli rumah meskipun masih menyicil setiap bulan. Selain itu dia juga mendaftar kuliah strata dua nya secara mandiri. Sebenarnya bisa saja Reina mengambil beasiswa, otak nya sangat mampu untuk bisa lolos seleksi penerima beasiswa itu, hanya saja ia tidak ingin jadwal kuliah menganggu pekerjaannya. Jadi dia memilih biaya mandiri, yang dimana bisa memilih jadwal kuliah di hari dia tidak bekerja.
"Selamat, anak ibu." Bapak ibu juga kakak Reina datang. Begitu melihat wisuda Reina selesai, ibunya langsung menghampiri Reina. Tangan ibunya meraih tubuh Reina, melingkarkannya pada perut Reina, dan memeluknya.
"Terimakasih ibu, semua berkat doa ibu." Reina membalas pelukan ibunya dengan tangan kiri membawa sebuket bunga yang diberikan oleh rektornya saat penerimaan penghargaan.
"Akhirnya lulus juga ya na," ucap bapaknya tampak sumringah yang dibalas Reina dengan anggukan mantap.
"Congratulations sister," ucap Reino, kakak lelaki Reina sambil menepuk pundak Reina.
"Thank you brother." Reina merentangkan kedua tangan ke arah Reino, niatnya akan memberi pelukan kepada kakak tersayangnya itu.
"Aunty____." Suara cempreng terdengar dari arah belakang Reina, siapa lagi kalau bukan Keenand, keponakannya, anak Reino.
Keenand berlarian menubruk tubuh Reina.
"Aduhh," ucap Reina terkaget.
"Aunty cantik sekali," ucap balita umur lima tahun dengan mulut cemong es krim.
"Iyalah, auntynya siapa dulu dong."
"Selamat ya Reina." Kali ini kakak iparnya, Bella, istri Reino yang memberi ucapan sekaligus pelukan singkat.
"Ayo foto keluarga!" ajak Reino.
Seperti momen wisuda pada umumnya, banyak fotografer yang menjajakan jasanya. Setelah melihat lihat dari banyaknya fotografer yang menawarkan produknya, akhirnya reina memilih seorang lelaki yang kelihatannya masih cukup muda. Dilihat dari hasil foto foto yang dicontohkannya, sepertinya hasil fotonya cukup bagus.
Fotografer itu mengarahkan Reina dan keluarga untuk memilih lokasi yang tepat. Di depan tulisan universitas, dari sana terpampang gedung yang tadi menjadi lokasi inti rapat wisudanya di gelar.
Reina berada ditengah sambil membawa ijazah, piagam penghargaan sekaligus bunga. Dislempangkannya tulisan cumlaude pada tubuhnya. Orang tuanya berada di sisi sebelah kiri, sedangkan Reino, Bella dan Keenand berada di sisi sebelah kanan.
"Satu, dua, tiga, senyum____." Sang fotografer memberi instruksi, memulai aksi untuk memotret.
Setelah hampir menghabiskan waktu satu jam akhirnya sesi foto foto selesai. Seluruh softfile hasil foto diberikan dengan syarat harus ada biaya tambahan. Karena sesuai perjanjian awal, hanya ada lima belas foto, namun kenyatannya saat ini ada lebih dari tiga puluh foto. Tidak masalah! Berapapun akan Reina bayar untuk membeli tanda kenangan itu.
"Setelah ini kita makan ya, Reina sudah booking resto enak deket sini." Mereka sekeluarga menuju mobil rush hitam yang terparkir di bawah pohon trembesi, cukup lumayan jauh dari gedung wisuda Reina. Ada ribuan kendaraan yang digunakan orang untuk menghadiri acara wisuda, sehingga menyebabkan sulitnya mencari lahan parkit terdekat dengan lokasi gedung.
"Yey, nanti belikan Ken es krim ya aunty," ujar Keenand antusias dengan memberikan senyum menawannya.
"Tadi kan sudah bunda belikan." Suara Bella menginterupsi anaknya
"Tapi kan Ken masih pengen bunda." suaranya nampak dibuat sedih, Ken atau Keenand ini memang sangat menggilai es krim. Bahkan giginya sampai habis karena terlalu sering memakan makanan manis itu.
"Ashiapp kapten." Tangan hormat Reina menandakan kesiapan membelikan keponakannya itu es krim. Maklumlah, Keenand satu satunya anak kecil di keluarga itu, jadi apapun keinginannya pasti ada yang menuruti, kalau tidak orang tuanya, ya berarti Reina, atau kadang nenek kakeknya.
***
Mereka telah sampai di sebuah resto yang dipesan Reina. Bukan tempat mewah, cenderung sederhana namun tidak bisa dikatakan murahan, karena menu makanannya rata rata lebih dari lima puluh ribu setiap porsinya.
"Aunty aku makan ikan emas," ucap Ken.
"Mana ada ikan emas?"
"Ada, dikolam itu ada ikan emas aunty." Tangan Ken menunjuk ke arah aquarium di sudut ruangan yang berisi ikan ikan kecil berwarna keemasan.
"Itu ikan pajangan, bukan untuk dimakan sayang," ucap sang papa, Reino sambil menoel pipi gembul sang anak.
"Yahhh, padahal aku mau makan ikan itu." Bibirnya mengerucut lima senti, menambah kesan gemas Ken.
"Pesan ikan kecap saja bagaimana?" tawar Reina.
"Kecap?" Matanya membelalak, mendengar salah satu olahan yang sering menjadi teman makanannya, kecap.
"Iya, ikannya nanti dikasih kecap banyak."
"Aku mau aku mau," ujarnya antusias.
Dua puluh menit menunggu, menu makanan yang dipesan telah tiba. Mereka memakan dengan semangat empat lima. Rasa lapar ditambah ini adalah makanan kesukaan keluarga mereka menjadikan rasa makanannya berkali kali lipat lebih lezat dari biasanya.
"Jadi gimana, udah punya gebetan belum dek?" ujar Reino.
Muka Reina seketika kecut, senyumnya memudar, tatapannya datar, tak terbaca. Ikan gurame bumbu asam manisnya belum habis, namun sepertinya sudah tidak ada selera untuk melanjutkan makannya.
"Kamu harusnya cariin Reina kenalan, bukannya tanyain terus terusan," ujar ibu Reina membela anak perempuannya.
"Kalau kamu belum punya___," ucapan Reino terpotong.
"Aku belum berniat punya pasangan," putus Reina.
"Bagaimanapun kamu harus menikah, ini perintah!" ucap ibunya tegas. Reina paling takut dengan kata kata ibunya. Bukan berarti
tidak takut pada ayahnya, hanya saja rasanya ketika ibunya yang berbicara dia lebih merasakan sesuatu yang berbeda.
"Sudahlah na, lupakan yang sudah berlalu, lanjutkan hidupmu, bahkan dia juga sudah bahagia dengan pilihannya," ujar ayahnya melunak, memberi hawa kelembutan pada kekalutan hati Reina.
"Ada temanku, dia nyari istri dek, anaknya baik, ganteng lagi, gimana?" tawar Reino.
"Polisi?" tanya ibu.
"Iyalah, sekantor sama aku, baru pindah dari Polda." Reino ini adalah seorang polisi.
"Dia duda?" tanya reina.
"Enggak, masih single, belum pernah nikah."
Tawa reina sontak terdengar, bukan tawa bahagia, lebih ke tawa sumbang
"Mana ada lelaki lajang yang mau sama aku."
"Reina," bentak ibunya.
"Kenyataannya gitu kan bu, aku janda, terlebih aku bukan wanita sempurna. Lelaki lajang mana yang mau sama wanita sepertiku," ucap Reina tanpa ekspresi, matanya fokus ke arah makanannya, tidak melihat ibu yang tadi membentaknya.
Suasana menjadi canggung, ucapan Reina tidak sepenuhnya salah. Memang itulah kenyataannya. Tapi orangtua manapun menginginkan anaknya bahagia. Begitupun dengan orangtua Reina.
"Nanti aku send nomormu ke dia, namanya Lugas, coba aja dulu, siapa tau cocok," ujar Reino. Dia juga memberikan nomor Lugas ke Reina dengan harapan saat Lugas mencoba menguhubungi Reina, dia sudah tahu bahwa nomor itu milik Lugas. Suatu kebiasaan bagi Reina, apabila ada nomor tidak dikenali masuk ke smartphonenya, dia tidak akan mengangkat.