Sikap Bimo berubah sejak saat itu. Dia lebih banyak diam, namun matanya selalu tertuju kepadaku. Kalau aku pergoki dia menatapku, daguku aku letakkan di telapak tanganku, menatap dia balik dengan senyuman nakal di bibirku. Dan dalam beberapa detik, dia akan melengos menahan senyumnya juga. Wajahnya memerah. Aku senang menggodanya. Setiap kali ada kesempatan berdua, entah di pantry atau di TP tangga darurat, Bimo akan mendekatkan badannya ke badanku, lalu dia akan menyudutkanku ke dinding, mengungkungku dengan kedua lengannya dan mengulum bibirku dengan panas. Entah sejak kapan, aku merasakan kenyamanan luar biasa setiap kali aku berdekatan dengannya. Hanya dengan melihat bayangannya saja, ada sesuatu di dalam hatiku yang ber

