Acara lamaran berjalan lancar. Panitia abadi perhelatan ini, si MC bertepuk tangan gembira.
Pernikahan ditentukan sebulan setelah acara lamaran ini.
Semua biaya ditanggung oleh keluarga calon mempelai pria.
For sure.
Nantinya aku hanya perlu membawa beberapa barang kecantikan pribadiku dan beberapa potong baju yang masih dalam kondisi bagus, itu yang dibisikkan MC kepadaku.
Selama menunggu hari H, kedua calon mempelai dilarang saling bertemu, alias dipingit. Katanya agar aku terlihat manglingin. Entah kenapa harus manglingin, toh make up akan membuat seseorang terlihat berbeda, bukan?
Ritual bolak-balik salon harus aku jalani selama sebulan masa penungguan itu. Ritus-ritus mempelai wanita tidak lupa aku ikuti sampai selesai, kata Mama biar legit!
Legit? Emang kue?
"Ri, kata mama gue, gue harus legit pas malam pertama," ini kataku pada Ririn, sahabatku di suatu hari sepulang dari salon.
Ririn melongo, lalu ngakak. Dia membanting tubuhna di ranjang kamarku.
"Lu tau nggak artinya?" tanya Ririn lagi sembari memainkan ujung gaun pengiring pengantin miliknya.
Well, aku memang cerdas, tapi sungguh istilah legit yang dipakai oleh Mama, nggak nyantol di otak sama sekali.
Ririn melompat mendekatiku, lalu berbisik.
Oh my God! Aku tertawa dan yakin wajahku sudah merah karena mendadak hawa panas menjalar.
Ririn ngakak lagi. Aku ikut tertawa. Beberapa kata bisikannya menari-nari di ingatanku: malam pertama, gituan, biar enak, suami puas. Astaga!
Pesta pernikahan anak tunggal pengusaha terkenal di kota ini diselenggarakan pada malam hari, secara mewah untuk ukuran kota kami. Pandangan iri dari para gadis seantero isi kota mengarah kepadaku semua malam itu. Pandangan MC yang pasti hadir juga menyelidiki para gadis yang akan menjadi sumber uangnya.
Resepsi berlangsung selama tiga jam, di sebuah ballroom mewah hotel berbintang lima. Bunga berwarna biru tua, biru muda, dan putih bertaburan di dalam ruangan. Hidangan melimpah ruah tidak ada habis-habisnya.
Tamu undangan yang berjumlah seribu orang lebih membuat pesta terlihat meriah.
Mama memakai kebaya warna biru navy, sama seperti yang dipakai oleh Mama Benny. Kedua adikku pun memakai baju senada.
Sepanjang acara kami banyak berdiri daripada duduk, membuat kakiku serasa kram.
Benny – hm! – suamiku, terlihat gagah dan ganteng dalam balutan tuksedo hitamnya. Dan gaun pengantin putihku yang panjang buntutnya saja dua meter, membuatku menjadi Cinderella dadakan hari itu.
Tangan kami tidak pernah lepas saling menggenggam.
Aku selalu tersipu kalau Benny meremas tanganku. Benny, suamiku adalah laki-laki pertama yang memegang tanganku dengan mesra begini. Jari-jemarinya terjalin di antara jariku. Laki-laki pertama yang membuatku jatuh cinta. Laki-laki pertama yang membuatku menjawab Yes I do sebelum kalimat Will You Marry Me terlontar dari mulutnya.
Kamar pengantin kami dihias elegan, warna putih, biru, dan perak mendominasi. Ranjangnya berukuran king, dengan seprai putih bermotif salur seperti tanaman merambat berwarna biru muda dengan aksen warna perak di sekeliling seprai. Perabotan tampak baru, berwarna abu tua dengan lis biru. Meja rias yang berbentuk elips dengan motif bunga biru yang merambat dan beberapa kristal kebiruan yang menempel menambah keanggunan kamar pengantin kami.
Sebuah vas bunga ada di pojok ruangan, sangat cantik dengan bunga lily putih dan bunga berwarna kebiruan semacam bunga forget–me–not, rimbun di sekelilingnya.
Semua ini membuat dadaku bergetar, pernikahan yang sempurna! Apa lagi yang kuharapkan??
Aku duduk di depan cermin hias dengan wajah merona merah. Aku satu kamar dengan seorang cowok!
Kyaaaaa!!
Benny membuka setelan tuksedonya, melangkah menuju lemari baju yang berwarna senada dan memiliki loma pintu, lalu berganti dengan piyama tidur. Dia mendekatiku, membantuku membuka slayer pengantin di kepalaku, membuka resleting panjang yang ada di belakang gaunku.
Aku tersipu malu….
Ketika gaunku melorot jatuh di kakiku, aku setengah telanjang, hanya memakai bra dan cd, Benny menatapku dengan seribu macam artinya. Lima detik!
“Ke sini, Liana….” Benny menarik tanganku ke depan lemari baju. Dia membuka lebar-lebar pintunya, sederet baju baru untukku sudah siap sedia tergantung rapi berderet di dalam lemari yang mengeluarkan aroma wangi. Dari baju tidur hingga gaun sederhana untuk pesta. Waow! Aku merasa takjub dengan persiapan Benny.
Benny menarik baju piyamaku dari lemari lalu menyodorkan agar aku memakainya.
Benny mulai naik ke ranjang, menepuk-nepuk sisi kosong di sebelahnya, mengajakku mengikutinya. Aku menghampiri Benny, menaiki ranjangnya perlahan, membaringkan tubuhku di sebelahnya.
Benny mencium keningku, memelukku erat, lalu memejamkan matanya.
Aku terdiam, jantungku berdetak kencang.
Semenit kemudian dengkurannya terdengar…. Benny tertidur!
Mungkin dia kecapekan. Positive thinking.
Aku bengong. Kata orang-orang, malam pertama adalah malam penuh kenangan, malam yang ditunggu-tunggu setiap pasangan pengantin. Kok kenyataannya begini?
Aku mengkerut dalam dekapannya, mataku masih jalang melotot kesana-kesini, masih mencerna apa yang terjadi hari ini.
Aku pulas tertidur setelah jam dinding di kamar berbunyi tiga kali.
ab