Aku terbangun melirik jam di dinding. Jam sepuluh! Alamak jang! Kalau Mama tahu aku bangun sesiang ini, Mama pasti nyipratin air ke mukaku.
Benny sudah tidak ada di sampingku.
Aku cepat-cepat ke kamar mandi yang ada di kamar. Selesai berdandan aku keluar kamar, celingukan kanan kiri. Aku benar-benar merasa asing.
Aroma makanan akhirnya menuntunku dengan sukses ke arah dapur.
“Pagi, Ma….” Aku menyapa pada mama mertuaku yang kulihat sedang memotong sayuran. “Pagi, Pa…” sambungku lagi ketika kulihat papa mertuaku menyesap minumannya, duduk di kursi di meja makan.
“Sudah bangun kamu, Liana? “ Mama Lisa, mertuaku—Mamer—tersenyum dan langsung mencuci tangannya.
“Bisa tidur semalam kamu, Liana?” tanya Pamer—Papa Johny—mertuaku.
“Bisa, Pa….” Aku menunduk. Perasaan asing menyergap, aku selalu bangun di hari yang baru dikelilingi oleh orang-orang yang sudah aku kenal seumur hidupku. Sekarang tiba-tiba aku dikelilingi oleh orang-orang ‘asing’.
“Benny tadinya nggak akan ke kantor hari ini, Lia. Tapi tadi dia ditelepon orang kantor. Ada masalah yang Benny harus selesaikan segera….” Pamer menjelaskan keabsenan anaknya di hari bulan madunya sendiri.
“Nggak apa apa, Pa. Itu bagian dari tanggung jawab Benny….” Aku tersenyum memaklumi.
“Liana, ayo sini ikut Mama bentar.” Mamer menyeret tanganku ke ruang keluarga yang besar. Memaksaku duduk di sebelahnya.
Wajahnya tampak berseri-seri. Dari dalam saku bajunya dia keluarkan sepotong kain atau sesuatu yang terlihat seperti saputangan.
“Bu Dewi benar, kamu benar-benar masih perawan, Liana. Mama senang! Jaman sekarang susah ngatur anak gadis! Susah nyuruh mereka menjaga keperawanannya…!” Mamer berkata dengan nada berbisik, matanya juga melihat ke kanan ke kiri, seakan memastikan tidak ada orang yang mendengar percakapan kami.
Aku bengong, tidak mengerti apa yang dibicarakan Mamerku ini. Hanya bisa tersenyum kecil.
“Ini, di saputangan ini ada bercak darah keperawanan kamu. Benny memberikan ini ke Mama tadi pagi sebelum berangkat kerja…” jelas Mamer-ku lagi.
What?!
Mamaku tidak pernah cerita sebelumnya bahwa ada mertua yang memerlukan pembuktian tentang keperawanan menantunya.
Aku tersenyum bego. Aku harus menanyakan hal ini pada Benny…. suatu hari nanti.
Hari pertamaku sebagai istri Benny Setiawan, aku harus ikut Mamer ke butik langganannya. Dia membelikanku lima set baju baru—lagi. Lalu tiga tas resmi, dua tas santai, lima pasang sepatu, dan dua pasang sandal.
Ho ho ho ho!
Aku seperti putri dalam dongeng-dongeng. Menikah dengan pangeran tampan, yang mencintai sepenuh hati, yang kaya raya, dan it will be happily ever after!
Mamerku orangnya benar-benar baik, walaupun dia tipe suka mengatur, semuanya, termasuk perkawinanku.
***
Malam hari jam enam, Benny sudah pulang kerja. Wajahnya terlihat letih namun dia memaksakan diri tersenyum dan mencium kedua pipiku.
“Maafkan aku, Liana. Tadi pagi kamu terlihat tidur nyenyak, aku nggak tega ngebangunin kamu.” Jemarinya membelai pipiku lembut, ibu jari kirinya dibalut perban bergambar tokoh kartun.
“Nggak apa-apa, Ben….” Aku menjawab tulus.
Aku memutuskan memanggil namanya saja, biar cepat akrab, tentu saja juga sesuai persetujuannya kemarin.
“Aku jadi kangen sama kamu, Liana…” Benny mengusap rahangku, memelukku penuh arti. Aku tersipu, menikmati belaian sayangnya.
Dengan cekatan aku simpan tas kerjanya dan menyiapkan baju ganti. Pelajaran yang selalu didengungkan Mama: suami pulang kerja, ambil tas kerjanya, siapkan baju dan peralatan mandi lainnya, bantu buka sepatu dan bajunya, siapin air minumnya, siapin makanannya!
Jangan lupa, wajah harus tersenyum!
Jangan cemberut!
Sip!
Itu sih perkara gampang!
Benny tersenyum melihat aku mondar-mandir di kamar, meletakkan ini, mengambil itu.
Tangannya menangkap tanganku, ditariknya badanku rapat di badannya. Biarpun baru pulang kerja, badannya tidak bau keringat, wangi green tea masih tersisa di tubuhnya. Biarpun usianya 33 tahun, badannya masih tergolong ramping, tidak banyak lemak terlihat di tubuhnya.
Benny mendekatkan wajahnya, bibirnya hangat menyentuh bibirku. Aku mengejang tiba-tiba, diam saja, menunggu.
Wajahku panas, waktu tangannya membelai wajahku, menatapku lembut, lalu memelukku erat sekali! Aku balas memeluknya erat, menempelkan sisi wajahku ke dadanya, menciumi aroma tubuhnya, menyimpannya dalam otakku.
Aroma suamiku…. Kata ini terdengar seksi di telingaku.
Terlintas keinginan untuk bertanya tentang saputangan yang ditunjukkan Mamer pagi tadi, tapi aku pikir lain kali saja dibahasnya.
Benny melepaskan pelukannya, mencium kepalaku sekilas, lalu ke kamar mandi.
Aku setengah berbaring di ranjang, membaca buku tentang tempat-tempat wisata di dunia. Buku lecek yang selama tiga tahun ini selalu aku buka di saat senggang, menikmati keindahan ciptaan yang Maha Kuasa di setiap foto-foto yang terpampang di sana. Grand Canyon, Pantai Dominika, Bunaken, Great Wall. Aku tersenyum sendiri membayangkan bisa mengunjungi semua tempat fantastik di seluruh benua!
Tidak kusadari Benny sudah menyelesaikan mandinya dan berdiri di belakangku, memperhatikanku asyik dengan buku bacaanku.
Benny tiba-tiba menjatuhkan badannya, lalu menindih badanku dari belakang! Dia menciumi leher belakang dan bahuku.
Aku membeku merasakan hangat badannya yang menempel dan aroma bodysoap-nya super segar.
“Kamu suka baca, Liana?” suaranya pas di telingaku. Lengan kirinya menumpu berat badannya sendiri, sedangkan lengan kanannya mengelus jemari tangan kananku.
“Iya… aku suka baca tentang tempat-tempat wisata di seluruh dunia, Ben. Rasanya asyik kali ya, kalau bisa melihat langsung tempat indah seperti itu…” jawabku sambil tidak melepaskan pandanganku dari gambar.
“Suatu hari kamu pasti bisa ke sana, Liana…” Benny seakan-akan menghiburku.
“Kamu biasa main internet?” tanya Benny lagi. Aku mengangguk.
“Di warnet, kadang-kadang doang. Nggak sebulan sekali juga. Kalau pas ada tugas sekolah yang mengharuskan kita buka internet.”
Benny menggerak-gerakkan badannya ke badan belakangku. Aku bingung. Lihat gambar pemandangan jadi tidak fokus lagi.
“Sebenarnya aku sudah merencanakan bulan madu kita ke Venice, Liana. Cuma pekerjaan di pabrik saat peak season ramai begini nggak bisa ditinggalkan. Nggak apa-apa kan?” Benny masih mendekatkan bibirnya ke telingaku.
“Nggak apa-apa lah, bisa lain kali. Cari uang itu penting, nggak ada uang yah percuma nggak bisa jalan-jalan juga” aku menjawab, terkontaminasi pikiran Mama. Positive thinking.
Benny mencium pipiku dari belakang, lalu mengajakku makan malam. Aku tersenyum menerima uluran tangannya.
Setelah makan malam, kami ngobrol dengan Pamer-Mamer sambil nonton TV, lalu tidur.
Aahhhh indahnya hidupku!
***
Pagi-pagi aku bangun, melihat ke samping, suamiku masih tidur nyenyak. Kakinya selalu ditumpangkan di atas kakiku dan tangannya selalu merengkuh kepalaku dalam pelukannya.
Aku merasa nyaman dan aku mencintai laki-laki ini sepenuh hatiku.
Aku pindahkan kakinya perlahan dari kakiku, dan meloloskan diri dari lengannya nyaris tanpa membuat suara apapun.
Cepat-cepat aku mandi. Pelajaran lainnya dari Mama, bangun tidur langsung mandi, jadi suami akan melihat kita dalam kondisi wangi dan cantik. Lalu menyiapkan baju kantor, kaos kaki, sepatu, dan tas kerjanya, rapi tertata di atas kasur.
Benny tampak menggeliat terbangun ketika aku sudah selesai menyiapkan semuanya.
Dia membuka matanya, dan tersenyum. Aku mendekat, duduk disisinya, menikmati aroma seorang suami yang baru bangun tidur. Aku selusupkan kepalaku ke leher dalamnya, merasakan kehangatannya.
Benny menarikku memasuki selimut hangatnya, menciumi wajahku, tangannya melingkari kepala dan punggungku, mengusap penuh sayang.
“Aku seorang pria yang sangat beruntung memiliki istri seperti kamu, Liana…” ujarnya di telingaku. Aku merasa bangga.
Aku keluar dari selimut hangatnya dan duduk di pinggir kasur, menunggu Benny selesai mandi, lalu membantunya mengenakan baju dan kaos kaki.
Setelah siap, kami berdua sarapan. Mamer dan Pamer bergabung bersama kami pagi itu. Pamer sudah jarang ke kantor, pekerjaan sudah dialihkan seratus persen ke Benny.
Mamer memiliki kegiatan tersendiri, selain rutinitas memasak, belanja dan ke salon, senam taichi bersama Pamer dan ikut grup arisan di lingkungan rumah ataupun arisan marga.
Benny mencium keningku dan memberiku pelukan erat sebelum dia berangkat ke kantor. Hal ini sudah menjadi rutinitas yang menyenangkan bagiku.
Hari ini aku ikut Mamer ke swalayan, berbelanja kebutuhan untuk beberapa hari. Sepanjang hari aku membantunya masak.
Mamer mengajariku masak masakan kesukaan Benny. Ayam kungpao, tumis kerang dara, dan perkedel jagung adalah makanan favorit Benny. Minuman kesukaannya selain air putih dingin, adalah es teh manis dan milkshake cokelat.
Aku mencatat semuanya dalam otakku. Resep-resep Mamer aku tulis di buku agendaku. Kata mamaku, seorang istri juga harus bisa menyenangkan perut suaminya.
Malam harinya Benny pulang kerja membawakanku kejutan! Dia membelikanku sebuah tablet yang terbaru! Dengan bangga dia memperlihatkan cara memakai tablet itu yang ternyata sambungan internetnya juga sudah di-setting.
Mantab!
Dengan adanya pad ini, buku tuaku mulai tergeser. Pad ini telah menggantikan posisinya untuk memanjakan mataku dengan pemandangan-pemandangan indah di seluruh dunia! Tidak ada batasan lagi!
Aku berterima kasih pada suamiku, memberinya ciuman di pipi. Benny tersenyum, membelai mataku, hidungku, pipiku, rahangku, dan memberiku ciuman lembut di bibirku. Aku mulai merasakan nyaman setiap kali bibirnya menempel di bibirku.
***