Bab 4: Takdir(2)

645 Kata
Masih ingat si MC, alias Mak Comblang? Ternyata dia tidak asal ngomong pada saat berkunjung ke rumahku pertama kali. Tadi Mamer memanggil dan tiba-tiba memberiku sebuah anak kunci. Aku bingung, kunci apa? Ternyata kunci sebuah rumah baru di kompleks perumahan yang baru dibangun di sisi lain kota ini. Ukurannya jauh lebih besar dari rumah kontrakan Mama, hadiah untuk mamaku. Aku melirik surat tanah dan surat rumah yang sedang dibuka, luas tanahnya saja 144 meter persegi. Aku tersenyum lebar ketika mengajak Benny ke rumah Mama, pada malam harinya. Sudah satu bulan tidak melihat Mama, rasanya kangen banget. Hari-hariku disibukkan dengan kegiatan mertua-menantu: ke salon, dapur, butik, salon, dapur, butik. Sepanjang perjalanan, wajahku terlihat semringah, bahagia…. Di setiap kesempatan, Benny selalu berusaha menyentuh wajahku. “Mama! Mama!” Aku berteriak memanggil mamaku begitu mobil Jazz Benny berhenti dan pintu mobil terbuka. Mama tampak tergopoh-gopoh menyongsongku ke halaman depan. Dia menciumi seluruh wajahku, memelukku erat. Aku peluk badan kurusnya, tak kuasa air mataku menetes. Mama tersenyum hangat, ada genangan air di matanya yang sengaja dia kerjap-kerjapkan agar tidak terjatuh. “Mama….” Benny menghampiri Mama, mencium pipi Mama, dan memberikan pelukan ringan. “Ayo, kalian cepat masuk ke rumah. Adik kalian nggak di rumah, masih main ke teman mereka.” Mama menggiring kami berdua. Benny mengenggam tanganku dan menarikku duduk di sebelah dia. Mama tersenyum melihat perlakuan Benny yang romantis. “Ma, Mama Lisa nitip kunci ini buat Mama.” Aku menyerahkan anak kunci dan sebuah amplop cokelat berisi surat hak milik atas nama diriku, yang dari tadi aku pegang. Mama mengkerutkan dahinya. Tidak mau menerima barang yang kusodorkan. “Kunci apa, Li?” “Kunci rumah baru Mama. Dari mamanya Benny, jadi Mama nggak perlu mikirin soal kontrakan rumah lagi,” jelasku bersemangat.    Wajah Mama tiba-tiba menegang. Dipejamkan matanya dan menarik napas panjang. Aku menelan ludah… sangat mengerti kalau Mama sudah begitu, artinya dia sedang dalam keadaan emosi yang dalam. Tidak terasa aku menggenggam tangan Benny lebih erat.  “Benny, tolong kasi tahu mama kamu ya. Dengan tidak mengurangi rasa hormat Mama, Mama terpaksa menolak pemberian mama kamu. Mama nggak mau ada anggapan miring tentang Liana suatu hari nanti, kalau dia menikah dengan kamu hanya untuk ditukar dengan sebuah rumah, kasarnya, seolah-olah Mama menjual Liana hanya demi sebuah rumah.” Mama menjelaskan alasannya dengan tenang. Benny terhenyak kaget, memandang mata Mama tidak berkedip selama beberapa saat. Dia tidak pernah menyangka akan mendapatkan penolakan seperti ini. Benny mengangguk, sangat mengerti tentang harga diri yang sedang dijunjung tinggi orangtua istrinya ini. Menurutku, Benny merasa salut dalam hati. “Saya mengerti maksud Mama. Saya akan bicara ke mama saya nanti, ya, Ma, tolong jangan tersinggung,” jelas Benny. Mama tersenyum menunjukkan kelegowoan hatinya. Ketika kedua adikku datang, mereka direcokin oleh Benny dengan beberapa barang yang sengaja Benny belikan untuk mereka. Aku segera ke kamar Mama, ingin mengobrol berdua. Aku mengempaskan tubuhku ke kasur yang sejak Papa meninggal selalu menjadi tempat tidurku, di samping Mama. Aku membalikkan tubuhku, kuciumi bau kasur yang sangat kurindukan. Kasur dari bahan kapuk, bukan jenis springbed. Lebih adem untuk tidur di kamar yang tidak memakai AC. Aku gerakkan tangan dan kakiku seperti gerakan berenang, merasakan lembutnya seprai tua yang Mama pakai. Mama duduk di sampingku, mengelus jariku yang memakai cincin kawin bermata berlian tunggal yang berkilau indah. Entah apa yang ada di benaknya, namun senyumnya selalu terkembang untukku. “Kamu dapet menstruasi bulan ini Li?” tanya Mama tiba-tiba. “Hah? Iya, emang kenapa, Ma?” Aku balik bertanya, bingung dengan maksud Mama. “Semoga kamu cepat hamil, Liana….” desah Mama, mirip berupa doa. Aku diam. Otakku cepat mencerna ke mana kira-kira arah pembicaraan ini melaju. “Benny sering berhubungan badan dengan kamu?” Mama bertanya hati-hati. Aku menunduk. Mempertimbangkan sesuatu. “Iya, Ma….” Aku pasang muka penuh rasa malu. Mama tersenyum arif. Salahkah aku tidak terbuka masalah rumah tangga kepada Mama? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN