37.

1008 Kata
Pelajaran olahraga baru saja selesai dilakukan. Panas yang begitu terik membuat sebagian murid perempuan berdumel mengeluh. Mereka berkali-kali menyeka keringat sekaligus mengipasi dirinya sendiri. Kebanyakan Murid perempuan duduk di tepi lapangan basket tepatnya di bawah pohon rindang. Alista merasakan tenggorokannya kering. Melihat Rifka sedang meminum es, rasa hausnya semakin menjadi. Tidak mungkin juga dia meminta minum. Alista menengok lagi ke Karisa yang ternyata sedang mengipas. Sepertinya Karisa tidak membawa minum—sama seperti dirinya. Alista bergeser. Ia ragu haruskah mengajak Karisa ke kantin atau tidak. Mengingat Karisa masih marah soal dia yang berpacaran dengan Marsel. Tapi... Tidak ada salahnya mencoba, kan? “Ka—“ “Minum buat kalian berdua,” Marsel datang membawa dua botol minuman dingin. Alista mendongak, sudut bibirnya terangkat bersamaan dengan matanya yang menyipit. “Terima kasih,” “Kasih satunya ke teman kamu biar dia sadar kalau gue udah berubah sepenuhnya,” Marsel melirik Karisa yang masih enggan menatapnya balik. “KOK CUMA MEREKA BERDUA DOANG YANG DIKASIH?! GUE ENGGAK, NIH?!” suara cempreng Rifka sukses membuat kuping Alista pengang. “Rif! Diem napa. Bisa-bisa kuping gue jadi tuli!” tegur Alista, mengusap-usap daun telinganya. “Lo udah bawa minum sendiri,” jawab Marsel pada Rifka. Ia kembali memandang Alista, “aku pergi dulu, Beb.” “AAAAAA! DIPANGGIL ‘BEB’! GUE JUGA MAU DONGGG!” rengek Rifka. Yang dipanggil Beb siapa, yang deg-degan siapa. “Mau? Kebetulan si Brian jomblo.” Marsel menyahut. “Gue enggak mau Brian! Gue mau dipanggil gitu sama Lo, Mar!” seru Rifka terdengar bersemangat. Alista menempelkan botol dingin itu ke mulut Rifka. Habisnya, sih, Rifka genit pada pacarnya. Dikira dia tidak marah apa. “Ihhh! Dingin, Al!” rengek Rifka. Marsel tertawa kecil sebelum akhirnya pergi dari sana. Cewek macam Rifka memang bahaya untuk dihadapi. “Dingin? Hati gue panas, nih. Gue kira habis nempelin botol ini ke bibir Lo, hati gue ikut adem, eh ternyata enggak.” Tutur Alista. Terdengar nada kesal pada pembicaraannya. “Yee! Bilang aja Lo cemburu!” ___***___ “Bibi, Arsen sama Ibu mana? Kok dari tadi belum kelihatan? Mereka masih tidur?” Alista menilik ke ruang makan. Biasanya Mereka ada di sana, tetapi sekarang... Tidak ada sama sekali. Apa ini tanggal merah? Ah, tidak mungkin. Jelas-jelas ia lihat tanggal hari ini normal seperti biasa. “Waduh, Non Alista baru bangun? Den Arsen sama Nyonya Bianca sudah pergi sejak tiga puluh menit lalu. Saya sudah berusaha membangunkan Non, tapi Non tetap tidak mau bangun tadi.” Jawab Bi Hanifah dengan raut tidak enak. Alista melebarkan bola matanya. “Sekarang jam berapa, Bi?!” “Tujuh lewat lima belas menit, Non.” “SERIUS?! Aduh, mampus gue! Mana telat lagi!” dengan panik Alista berlari keluar rumah. Bi Hanifah pun menyusul. “Non, tidak sarapan dulu?” “Enggak usah, Bi! Dadah!” suara Alista melirih seiring dengan tubuhnya yang menjauh. Ia melambaikan tangan dan enggan menoleh. “Ya sudah hati-hati!” teriak Bi Hanifah. Entah terdengar atau tidak oleh Alista. Sementara Gadis itu lari melewati halte. Jika menunggu bus, akan memakan waktu lama. Terlebih lagi dia hanya memiliki waktu lima belas menit. Mana sempat dia menunggu. Alista mempercepat larinya. Kedua matanya terbelalak melihat mobil melintas dan melindas genangan air kotor berwarna cokelat. Byurr! Air itu menyiprat rok selutut Alista. “WEY! KALAU NGENDARAIN MOB YANG BENER DONG!” teriaknya menegur. Pemilik mobil itu tidak menghiraukan dan tetap melajukan kendaraannya. Alista mengelap roknya dengan tisu yang ia bawa. Nodanya tidak hilang. Malah tangannya yang tercemar. Ah, menyebalkan. Kalau sudah begini, bisa-bisa dirinya gagal berangkat sekolah. “Naik,” sebuah motor berhenti di samping Alista. Cewek dengan kuncir kuda itu menoleh, “Marsel? Ya ampun, aku udah SMS kamu semalam buat berangkat bareng. Kamu malah datang sekarang,” “Aku udah datang jam setengah tujuh pagi, tapi kamu masih tidur katanya.” Alista meringis malu. Ia mengusap lehernya yang tidak gatal. “Maaf, aku semalam terlalu fokus ngerjain pr fisika.” “Jadi sampai kapan, nih, di sini terus?” “Iya! Aku naik.” Alista menaiki jok belakang motor Marsel. Motor pun melaju di jalanan yang becek akibat hujan deras semalam. “Kayaknya aku harus telepon kamu setiap malam biar enggak begadang lagi,” Marsel membuka pembicaraan. “Boleh. Kalau enggak ngerepotin kamu,” “Kamu enggak ngerepotin.” “Mar, Karisa masih belum percaya kalau kamu berubah.” Kata Alista. “Enggak usah dipikirin, Yang.” Alista melihat ke sekitar. Ia baru sadar. Ada sesuatu yang janggal. “Heh, kamu ngelewatin sekolah kita!” “Kita bolos. Sehari aja,” “Marsel!” Alista dengan spontan menabok pundak tegap Marsel. “Aduh,” Marsel meringis merasakan panas di pundaknya. “rok kamu kotor begitu, Yang. Kalau kamu tetap bersikukuh berangkat, enggak mungkin bisa. Roknya perlu dicuci biar nodanya hilang,” “Terus kita mau ke mana sekarang?” “Lihat aja,” Selang sepuluh menit, Marsel menghentikan motor di depan sebuah pasar. Banyak ibu-ibu yang berlalu lalang di sana. Suasana di sini cukup berisik. Terlebih lagi suara orang menawar-nawar harga. “Kok kita ke sini?” “Aku mau beliin sesuatu buat kamu." Marsel menggandeng tangan Alista kala Mereka akan masuk. "jangan lepas gandengan ini. Aku enggak mau kamu dianggap jomblo sama bapak-bapak di sini," Alista menganggukkan kepala. Ia masih bingung mengapa dari sekian banyaknya tempat, Marsel memilih pasar ini. Kan, enggak identik banget sama anak seusianya. "Bang, beli gelang hitam dua." pesan Marsel pada penjual aksesoris. Laki-laki itu mengambil barang yang dipesan Marsel. Marsel kemudian menghadap Alista. Ia meraih pergelangan tangan kiri kekasihnya itu, kemudian memasangkan gelang hitam berliontin huruf 'M' itu. "Di tangan kamu inisial nama aku, dan aku bakal pakai gelang inisial nama kamu." Marsel menyerahkan gelang satunya. Alista yang sudah mengerti pun langsung memakaikan gelang itu. "gelang ini sebagai tanda mata atas hubungan kita," "Aku kira cuma gelang biasa," Alista terkekeh. Ini pengalaman pertamanya. Wajar jika dia tidak mengerti perihal beginian. "Ayo," "Hah? Kita ke mana lagi?" "Bazar. Aku dengar di sana Mereka menjual makanan sama kerajinan tangan yang bagus. Kayaknya kita harus coba ke sana, Al."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN