38.

2042 Kata
Bazar dipenuhi oleh banyak pengunjung. Mulai dari pakaian, baju, jajanan tradisional sampai luar negeri, dan aksesoris-aksesoris indah dijual di sana. Banyak yang berbondong-bondong membeli. Mereka tidak melewatkan kesempatan sebab bazar seperti ini diadakan satu tahun sekali. Dari banyaknya orang yang berlalu lalang, hanya Mereka berdua lah yang mengenakan seragam. Maka tidak heran semua orang terpusat memperhatikan mereka terutama ibu-ibu. Alista menatap takjub. Baru kali ini dia pergi ke Bazar bersama orang selain Arsen. "Gimana? Kamu suka tempatnya?" Marsel menilik wajah Alista. Ia menarik sudut bibir kala melihat wajah Alista yang terlihat senang. "Bagus!" "Sebelumnya kamu enggak pernah ke tempat gini?" Alista menggeleng pelan. "Ini baru pertamakali aku pergi ke Bazar sama pacar…" lirihnya malu-malu. Telapak tangan Marsel mendekat pada tangan Alista. Perlahan jari-jarinya masuk ke sela-sela jari Perempuan tersebut. Alista tersenyum. Ia menautkan tangannya pada Marsel. "Ayo!" Alista menarik Marsel ke salah satu sudut penjual makanan. Melihat jajanan kesukaannya yang begitu menggiurkan, perut Alista bergemuruh minta diisi. "Sosis telur gulung ya empat, Mang!" seru Alista. "Siap, Neng." Alista mendongakkan kepala, menatap Marsel. "Kamu mau?" "Enggak. Kamu aja," "Serius? Nanti aku yang bayarin, Mar." "Serius, Al. Nanti aku yang bayarin jajannya," perkataan Marsel membuat Alista merasa tak enak. "Beneran nih?" "Ini, Neng." Penjual itu memberikan pesanan Alista. Gadis berwajah manis itu langsung menerima. "Berapa?" "Dua belas ribu saja," Marsel merogoh dompet yang ia bawa, kemudian memberikan uang berwarna hijau. "Kembaliannya ambil." katanya, meletakkan kembali dompet ke saku. Marsel memandang Alista, "Kamu mau ke mana lagi?" "Lihat, Mereka membolos." "Anak zaman sekarang memang begitu, ya. Selalu melawan larangan guru." "Itu pasti pengaruh murid laki-laki di sampingnya." "Aku kasihan dengan orang tua Mereka. Percuma sekali membayar mahal biaya sekolah, sedangkan Mereka malah bermain-main seperti itu," "Semoga putriku tidak seperti Mereka," "Miris sekali," Dan benar saja. Mereka sekarang menjadi bahan omongan para ibu-ibu bermulut pedas dengan tatapan sinis yang menambah kengerian sendiri di mata Alista dan Marsel. "Mar, kita pulang aja yuk," ajak Alista dengan kepala tertunduk. Nyalinya seketika menciut. Ia meremas samping roknya. "Biarin. Mereka punya mulut dan udah hak Mereka mengkritik." Marsel tetap bersikap tenang. Ia menggandeng Alista dan mengarahkan Gadis itu ke satu sudut yang menjual deretan pakaian biasa. Mata Marsel tertuju pada dua pasang baju couple yang merupakan kaus putih polos. Di tengahnya ada logo kunci berwarna emas, sedangkan baju satunya berlogo gembok. "Kita pakai ini," Marsel mengambil sepasang baju tersebut. "Gantinya di mana?" "Di depan aku," celetuk Marsel. Alista langsung menabok mulut Cowok itu dengan sosis telur gulung yang masih panas. Kontan Marsel meringis sambil memegang rahangnya. "Ssh.." desisnya ngilu. Alista ikut meringis. "Aduh, maaf. Kamu sih kalau ngomong enggak dijaga! Mana yang sakit?" Alista membuka tangan Marsel yang menutupi rahang. Ternyata tidak apa-apa. Tak ada bekas merah juga. Rasa bersalah Alista seakan menguap. Hilang tidak berbekas. "Cuma gitu doang. Lebay!" "Tapi ini panas, loh, Yang." "Kan, sebentar doang." "Kamu kalau berdebat enggak mau ngalah, ya." tinjauan Marsel beralih lurus. "saya beli dua baju ini. Berapa harganya?" "Seratus ribu, Mas." Marsel menyerahkan nominal sesuai yang disebut Pedagang tersebut. Alista pergi ke kamar mandi diantarkan oleh Marsel. Setelah masuk dan berjaga secara bergantian, Mereka telah memakai baju couple itu dengan bawahan celana hitam yang sengaja Marsel bawa. Alista terheran-heran. Jangan-jangan Marsel sudah merencanakan ini dari awal. Tapi tidak apa-apalah. Alista senang sekarang. "Eh, ada kebab tuh." mata Alista berbinar-binar, tidak beda jauh dari sebelumnya. Tidak membuang waktu lagi, dia langsung mendatangi penjual tersebut. "Kebabnya tiga, Pak!" Marsel geleng-geleng kepala. Alista itu berbeda dari perempuan lain. Biasanya kan para wanita berbinar-binar ketika melihat pakaian bagus dan perhiasan, tapi Alista hanya dengan jajan murah itu saja sudah segembira ini. Alista memakan kebab itu satu persatu. Ia melirik Marsel yang tidak berhenti menatapnya. "Mau?" dia menyodorkan kebab. Sialnya ia malah menunjukkan yang sudah digigit. Kedua mata Alista membulat lebar ketika Marsel memakan bekas gigitannya. "Jangan yang itu!" sentaknya ketakutan seolah yang dimakan Marsel tadi adalah racun. "Habis yang mana dong? Kamu nunjukkin itu," "Ta--tadi aku enggak sengaja," Alista gelagapan. "muntahin cepat!" "Udah terlanjur ditelen," "Ish," Marsel tertawa lucu. "Kamu kenapa, sih? Kita sama-sama manusia. Kamu bertingkah seakan kamu itu hewan yang enggak boleh aku makan bekas gigitannya," "Tapi, kan, aku…" "Udah, jangan dibahas lagi." Marsel mengurungkan niat untuk menggenggam tangan Alista setelah mendengar suara pertengkaran tak jauh di dekatnya. "Mama! Jangan! Ini boneka aku!" "Kamu itu laki-laki! Seharusnya kamu bermain robot, bukan beginian!" "Tapi Arfan suka, Ma…" "Tidak boleh! Sekarang ikut Ibu pulang!" Wanita mengenakan daster itu menarik lengan putranya yang berusia lima tahun dan meninggalkan sebuah boneka Teddy bear begitu saja. Rengekan dari anak laki-laki itu terdengar nyaring, tetapi tak ada satupun yang mau untuk menolong. Marsel berjalan entah ke mana. Alista yang melihatnya hanya mengikuti. Ia bertanya-tanya saat Marsel mengambil boneka Teddy bear milik anak tadi. "Buat apa?" "Boneka ini masih bagus. Sayang kalau dibuang. Nih, buat kamu." Alista tercengung. Ia terkekeh dan menerima boneka itu. Kenapa Marsel tidak memberikan yang baru? Padahal banyak yang berjualan boneka di sini. "Hey, kenapa bengong?" ___***___ "Alista mana?" tanya Arsen, ia menarik bangku dan duduk di sebelah Karisa. Tanpa basa-basi, dirinya mengambil es teh manis milik Karisa, kemudian meminumnya. Karisa menggerutu kesal. Untung aja Lo kakak sahabat gue, kalau enggak, udah gue cincang Lo! Rifka berdiri dan menggebrak mejanya. Aksi heboh itu spontan dibalas tatapan heran dari orang di sekitarnya. "OMAYGATT! SKRINSOT! SKRINSOT! GAES, ARSEN MINUM DI GELAS BEKAS KARISA! APA MEREKA ADA SESUATU?!" Arsen merotasikan bola mata. "Temen Lo lebay amat, Kar." Karisa berdecak risi. "Lo ngapain, sih, ke sini? Udah tau Rifka biangnya gosip. Masih aja Lo cari gara-gara! Mau jadi bahan gosip Lo?" "Biasa aja kali. Sensian Lo." "Hayoooo! Kalian bisik-bisik apa?! Ayo cerita ke gue dong." Rifka menaikturunkan alisnya. Dia kembali duduk dengan kaki terangkat satu. "Kalian liat Alista?" tanya Arsen lagi. "Lo suka dia, ya?" Rifka masih saja menggoda. Arsen menatap jengah. "Alista? Enggak lah. Dia, kan, Ad--" Tepat saat itu juga Karisa meremas paha Arsen diiringi dengan picingan tajam. "Aduh, iya, sayang." sahut Arsen. Karisa mendesis jijik. "TUH, KAN! Kalian pacaran? Iya, hm? Iyalah masa enggak!" cecar Rifka. "Tanya sendiri, jawab sendiri. GWS buat Lo, Rif." Arsen berdiri. Menetap di sini hanya akan membuang-buang waktu saja. "Eh, Sen! Tunggu! Arsen!" Cowok itu hanya membalas bentakan Rifka dengan lambaian tangan tanpa menolehkan kepala. Arsen berhenti di koridor yang tengah sepi. Dia menyandarkan tubuh di tembok dan menelepon nomor Alista. Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Mohon-- Arsen mengesah panjang. Sebenarnya di mana Alista. Menyebalkan sekali sudah menghubungi beberapa kali, tapi tak juga direspon. "Sial!" ___**___ Langit-langit kini berubah menjadi orange. Matahari yang akan terbenam itu memantul di sungai. Tempat ini sekarang ramai. Mereka yang sudah berkeluarga, datang menikmati senja bersama ke sini. Di sinilah Marsel dan Alista berada. Mereka berdua duduk di bangku taman yang menghadap sungai langsung. Alista menyandarkan kepalanya di pundak Marsel. Perasaan nyaman itu muncul. Wait, sejak kapan jadi seperti ini? Dulu Alista adalah orang yang sangat anti bertemu atau berpapasan dengan seorang Marsel. "Mar, kita bakal seperti ini sampai kapan, ya? Katanya cinta pertama bisa jadi cinta terakhir, tapi ada orang lain yang juga bilang kalau cinta pertama adalah sumber luka yang menyebabkan mereka trauma lagi untuk menjalin hubungan sama Cowok lain," itu yang Alista pikirkan sejak tadi. "Mar, kamu masih ada rasa benci sama aku enggak, sih?" "Kenapa bilang begitu, hm?" "Tatap mata aku. Mulut kamu bisa aja berbohong, tapi enggak dengan mata." Alista kini berpindah posisi. Dia menyilang kaki dan menghadap Marsel. Marsel menghela nafas sebelum akhirnya menurut. Alista menatap kedua mata Marsel yang tajam itu. Bukannya fokus, dia malah tertawa. Alista memang begitu orangnya. Dia orang yang sulit untuk serius. "Kok ketawa? Apa kamu mau aku kasih bukti?" "Bukti?" Alista mengerjap. Tawanya berhenti seketika. "Mau?" Alista dengan polosnya melenggut. Marsel maju dan memegang leher Alista. Mata Laki-laki itu terpusat pada bibir milik kekasihnya ini. Jantung Alista berdegup-degup kencang. Oh, Tuhan. Apa yang akan Marsel lakukan sebenarnya?! Ia akan bergerak mengelak, namun rasanya sangat mustahil karena begitu susah. Marsel mulai mendekatkan wajah. Di bawah sana Alista meremas celana. Bersamaan dengan itu kedua matanya terpejam. Sampai dia merasakan sebuah benda kenyal menempel di bibirnya. Ah, bukan benda. Melainkan bibir Marsel. Ini… ini first kiss-nya! First kiss-nya telah diambil! "b*****t!" Seseorang datang dan mendorong tubuh Marsel hingga ciuman mereka terlepas. Alista gugup. Ia masih berusaha mengatur detak jantungnya yang masih menggila ini. Arsen mencengkram kerah Marsel membuat Cowok itu berdiri. Kepalan kuat tangannya mendarat mulus ke rahang Marsel. Suara tinju itu sukses membuat Alista tersadar dan memekik histeris. "KAKAK STOP!" "LO APAIN ADIK GUE YANG POLOS, HAH?! GUE ENGGAK AKAN AMPUNI LO! HARI INI LO AKAN TAMAT DI TANGAN GUE!" tatapan Arsen makin berapi-api. Lagi-lagi satu tinju mulai mendarat. Marsel terhuyung ke bawah. "KAK BERHENTI!" lengking Alista. Arsen tidak menggrubis. Ia memukuli rahang Marsel bertubi-tubi. Semua orang yang melihat justru berteriak ngeri. Mereka kompak menjauh. Tidak cukup itu, Arsen semakin membabi buta dan menendang punggung Marsel. Alista bergerak gusar. Kalau dibiarkan bisa-bisa Marsel terluka parah. Dia maju dan memberanikan diri untuk memeluk Arsen dari belakang. "Berhenti. Aku mohon berhenti, Kak." Arsen melepaskan cengkraman itu. Nafasnya yang terengah-engah seolah menjawab perkataan Alista tadi. "Mulai sekarang… Lo enggak boleh ketemu Adik gue!" Alista membelalakkan mata. "Kak, jangan--" "PULANG SEKARANG!" Arsen menggeret paksa Alista untuk pergi dari sana. "Enggak, Kak. Marsel--" Alista terus menengok ke belakang. Ia tak tega melihat keadaan Marsel seperti itu. "DIAM!" Alista berhenti. Dia menghempaskan tangan Arsen yang menggenggamnya. "KAKAK KENAPA, SIH?!" Arsen membalikkan badan, "Lo masih bilang soal itu?! Lo itu dirusak sama dia dan Lo masih belain dia?! Gue enggak habis pikir sama Lo, Al! Jangan bersikap seolah Lo itu Cewek murahan! Dari sekian banyaknya Cowok di dunia ini, kenapa Lo malah pacaran sama dia?" "Lo kok sensi banget sih! Lo terlalu berburuk sangka sama dia! Marsel udah berubah sepenuhnya, Kak!" lawan Alista menggebu-gebu. Gigi-gigi Arsen menggeletuk. "Kalian pacaran? Iya, hah? Putusin dia sekarang. Gue gak mau Lo dirusak lebih jauh." "Dirusak apa, sih, Kak?! Gue dan dia tadi sama-sama mau--" "Putus atau gue laporin ke Ibu. Sekarang Lo pulang dan enggak usah lagi ketemu dia untuk ke depannya!' Arsen kembali mencengkram pergelangan tangan Alista. Kali ini lebih kuat agar adiknya itu tidak bisa melepaskan. "Sial! Siapa yang kasih tau dia tentang keberadaan gue?!" gumam Marsel sambil menyeka darah yang keluar. __**___ "Kalian kenapa sudah pulang? Alista? Kenapa kamu menangis, Nak?" "Kakak kasar sama aku, Bu." Alista berlari ke dalam pelukan Bianca. Bianca mengusap-usap punggung Alista. Namun pandangannya tertuju pada Arsen. "Kamu apakan Alista?" "Kenapa harus aku yang ditanyakan? Seharusnya Ibu yang menanyakan ke dia. Tadi pagi dia membolos bersama Marsel dan Ibu tau apa yang mereka lakukan? Mereka duduk di dekat danau dan sedang berciuman. Apa Ibu masih marah padaku?" Arsen berlalu begitu saja di antara Mereka. Bianca beralih menatap Alista. Sorot matanya begitu kecewa sekaligus marah. "Apa benar?" Alista melepaskan pelukan. Ia tertunduk, memandang sepatunya yang sudah kotor terpecik air genangan tadi. "Alista, JAWAB! apa benar?" suara Bianca melirih di akhir kalimat. Matanya berkaca-kaca, tidak kuat menahan air mata yang hendak jatuh. "Be--benar…, Bu. Maaf…" "Maaf?!" Bianca menampar keras pipi Alista. Suara nyaring terdengar. Alista gemetar. Dia memegang bekas tamparan yang begitu panas serta perih. Rasanya bercampur jadi satu. "Kamu tidak bilang ke ibu soal itu! Kenapa?! Kenapa tidak bilang, Alista?! Waktu itu kamu menginap di rumah Marsel. Iya, kan? Apa yang terjadi di antara kalian sampai-sampai Kalian begitu dekat sampai saat ini? Apa?" Bianca mengguncangkan bahu Alista. Alista tidak kuat menjawab. Tenggorokannya tercekat. Kata-kata yang ia akan ucapkan seolah tertahan. Lidahnya kelu. Alhasil dia hanya bisa menangis terisak-isak. "Ibu kecewa sama kamu!" Bianca pergi masuk ke dalam kamarnya. Alista menggeleng samar. "Ibu! A--aku--" dia membekap mulutnya sendiri. Tubuhnya luruh ke bawah. Baru pertama kali ini dia melihat Sang Ibu semarah itu. Dirinya memang salah, tetapi… mengapa respons Kakak dan Ibunya terlalu berlebihan? "Non, ini minum." Bi Hanifah datang dan memberikan satu gelas air putih. Alista langsung menerima. "Makasih, Bi." Bi Hanifah berjongkok, tangan keriput itu mengusap wajah Alista yang basah. "Nyonya Bianca marah karena Non tidak memberi kamar sama sekali. Bibi pernah ada di posisi Nyonya. Marah itu wajar, Non. Nyonya Bianca tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Non. Dia sebenarnya sayang sama Non. Sudah, lebih baik Non mandi dan minta maaf. Tidak baik menangis terus,"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN