48

2372 Kata
Pak Andi masuk ke kelas X MIPA 2 seperti biasa, tetapi kali ini berbeda. Ada seorang wanita yang sedikit berisi berjalan di sebelah Beliau. Para murid bertanya-tanya karena sebelumnya tidak pernah melihat guru wanita itu. “Hari ini Beliau, Bu Ani dari SMA Pelita akan menjadi pengawas ujian hari ini.” Rasa penasaran semua murid akhirnya terjawab. Tiba-tiba salah satu Cowok mengangkat tangan dari pojok sana. “Altair? Apa yang ingin kamu tanyakan?” Pak Andi menaikkan kacamata yang sudah turun. “Saya dengar Cewek-cewek di SMA Pelita cantik-cantik. Apa mau Bu Ani memberikan nomor salah satu murid perempuan Ibu?” Altair cengengesan sambil mengusap leher. “HUUUUUU!” “Cewek mulu yang ada di otak Lo!” “Al! Lo beraksi di waktu yang salah!” “Si Altair cari pacar mulu! Hemran gue.” “Cintai produk sekolah, Al! Di sini juga banyak Cewek cantik contohnya Alista,” “Idih. Apaan bawa-bawa gue,” Alista memicing tajam. Enak saja dirinya dijodohkan dengan playboy macam Altair. “Hahahaha! Ngene—“ “DIAM!” pak Andi menggebuk-gebuk meja hingga semuanya bungkam. Tidak berani bicara satu kata pun. “Bu Ani, silakan bimbing Anak-anak. Saya akan ke kantor untuk mengambil kertas absensi.” Pak Andi melangkah lebar keluar ruangan. Kepergian pak guru buncit itu membuat seisi kelas menghela nafas lega. “Sekarang satu persatu akan saya cek kolong mejanya. Bila terdapat sesuatu yang mencurigakan, murid itu tidak akan mengikuti ujian dan akan dihukum di tengah lapangan sampai istirahat.” Jelas Bu Ani. Para murid ketar-ketir terutama untuk yang sudah menyiapkan contekan. “Ba—baik, Bu.” Seketika satu kelas mendadak jadi gagap. Bu Ani mulai melaksanakan tugasnya. Dia mengecek meja pertama yang ada di pojok kanan. Beliau tidak menemukan apa pun. Sampai satu baris sudah dia cek, tak menemukan contekan juga. “Jangan membodoh-bodohi saya. Jika kalian menyembunyikan dan berbohong, hukuman kalian akan bertambah!” ancam Bu Ani. Mereka menelan saliva susah payah. Bu Ani berhenti di dekat Alista. Beliau memperhatikan wajah murid perempuannya. Alista menyenggol sikut Karisa, memberi tatapan bertanya-tanya. Karisa menggedikan bahu samar. “Apa kamu keponakannya Vania?” tanya Bu Ani. Kening Alista berkerut. “Enggak, Bu.” “Siapa nama kamu?” “Alista,” Bu Ani tidak menjawab. Alista berdiri ketika Bu Ani hendak memeriksa kolong meja. Wanita paruh baya itu mengeluarkan selembar kertas dari sana. Bu Ani membaca hingga akhir. Mata Alista terbeliak. Ia menatap Karisa bingung. Kertas apa itu? Perasaan Alista tak pernah menyimpan apapun di kolong meja. Kecuali sampah jajan yang ia beli. Itu pun Alista langsung membuangnya. “Apa ini? Kamu menyontek!?” tanya Bu Ani dengan tatapan garang. Alista menggeleng kencang. “Bukan. Itu bukan kertas aku,” “Orang nyontek mana mungkin ngaku,” Rachel melipat tangan di d**a. Ia mengucapkan demikian tanpa menoleh sedikitpun. “Rachel! Salah gue apa, sih?! Kenapa Lo terus gangguin hidup gue!” sentak Alista tidak terima. Ia maju, akan menjambak Rachel, tapi lebih dulu Bu Ani bergerak menghalangi. “Alista! Keluar sekarang!” usir Bu Ani. Alista menggeleng cepat, “Enggak. Sumpah demi Tuhan, aku enggak menaruh kertas itu di meja, Bu. Itu semua jebakan Rachel! Dia sejak lama memang punya masalah sama aku, Bu.” “Saya tidak suka pengelakan. Pergi ke lapangan upacara sekarang. Tidak ada alasan lagi untuk menentang.” Bu Ani menggandeng tangan Alista, menggiring Cewek itu keluar. Tubuh Alista melemas. Pandangannya menunduk. Ia menahan air mata yang akan menetes. Rachel tukang fitnah! Awas saja dia akan membalas perbuatan Cewek itu. Alista menutupi wajahnya kala sinar matahari menerpa. Hari memang masih jam delapan pagi, tetapi terik matahari seperti sudah jam sebelas. “Jewer kedua telinga kamu. Angkat satu kaki!” intruksi Bu Ani. Mata Alista kini sudah berkaca-kaca. Dengan terpaksa ia menjewer telinganya sendiri serta satu kaki kirinya ia angkat. “Kalau kamu ketahuan kabur, jangan harap akan pulang tepat waktu.” Setelah itu Bu Ani melenggang pergi. Alista menunduk lesu. Ia berpikir keras dan mencoba mengingat hari-hari sebelumnya. Perasaan dirinya tidak berbuat salah pada Rachel. Dasar Rachel aneh. Mungkin dia harus berbicara baik-baik pada Rachel untuk mengetahuinya. “Masa sih. Emang Lo sendiri enggak punya siapa gitu buat memperhatikan Lo sehari-hari?” “Enggak ada, Ris.” Alista mendongakkan kepala saat mendengar suara Marsel. Tatapannya berubah sebal ketika melihat Kekasihnya berjalan dengan Larisa, primadona di kelas 12 IPS 1. “Marsel!” panggil Alista nekat. Yang dipanggil justru melanjutkan langkahnya seakan tidak mendengar apa-apa. Alista merenggut kesal. Ini benar-benar hari yang buruk. “Mar, itu Alista panggil Lo,” tegur Larisa. “Biarin. Paling ngemis-ngemis buat nemenin dia dihukum,” ___***___ Arsen tidak fokus mengerjakan ujian sedari tadi dia melihat ke arah jendela untuk memastikan Alista tak pingsan karena biasanya kalau Cewek itu kelamaan di bawah matahari, akan tidak sadarkan diri. “Ar,” panggil Aji, teman sebangku Arsen. Ia menggaruk kepala karena sama sekali tidak mengerti dengan soal di depannya. “Arsen, bantu gue tolong.” “Ar.., Ya elah. Perhatiin dia mulu dari tadi Lo.” Aji menatap datar Arsen. Dari gerak-gerik selama ini Arsen terlihat selalu memperhatikan Alista. Tapi dia tidak mau menyampaikan hal itu. Bisa-bisa Mereka berdua jadian dan Aji tak memiliki kesempatan untuk mendekatkan diri pada Alista. Arsen tiba-tiba mengangkat tangan. Bu Ani yang dari tadi memperhatikan semuanya kini terpusat pada Cowok tersebut. “Ada apa?” Arsen mengambil sebuah lipatan kertas pada saku celana Aji. Mata Aji terbuka lebar, panik Arsen akan membuka rahasianya. “Woy, parah Lo ah. Gue enggak—“ Tubuh tinggi Arsen berdiri. Dia menunjukkan lipatan kertas. “Saya dari tadi mencontek di kertas ini, Bu. Ibu boleh menghukum saya,” Semua murid berbisik-bisik. Tidak menyangka kalau Arsen termasuk murid pembangkang macam Aji dan Altair. Tapi yang menjadi aneh, Cowok itu malah mengakui. Bu Ani mendekati Arsen dan meraih lipatan kertas itu. Beliau membukanya. Benar saja. Di sana ada materi yang keluar di soal ujian. Bu Ani langsung meremas kuat kertas itu. “Keluar sekarang!” Arsen dengan santainya keluar dari kelas. Rasa khawatir itu berkurang. Setidaknya ia bisa menemani Alista dan mengurangi rasa sedih Adiknya. “Lap keringat Lo,” Arsen melepas dasi yang ia pakai. Diserahkannya dasi itu. Alista langsung menoleh. “Kakak? Lo kok bisa ada di sini?” tanya Alista kebingungan. “Dihukum juga lah.” Alista menerima dasi itu. “Beneran nih? Enggak pa-pa gue pakai buat lap keringat?” “Cepat dipakai sebelum gue berubah pikiran,” Alista menurut. Dia mulai menyeka keringat yang bercucuran di dahi. “Kalau udah pusing, jangan dipaksa.” “Gue enggak pusing kok,” “Jangan bohong. Muka Lo enggak pantas buat jadi pembohong,” peringat Arsen. Alista mendengkus. “Biarin.” Mereka terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Kejadian di rumah Aileen teringat di benak Alista. “Kak,” “Apa?” “Lo pernah suka sama Cewek enggak, sih?” “Pernah.” Cewek itu ada di samping gue. Lo sendiri, Ta. lanjutnya dalam batin. “Siapa? Gue kira Lo udah belok,” celetuk Alista. Arsen langsung menjitak kening lawan bicaranya ini. “Ssh...” Alista mengusap-usap dahi. “kasar Lo!” “Siapa suruh bicara sembarangan. Gue suka Cewek, tapi dia enggak bakal bisa gue dapat karena terhalang status. Lagian kalau gue kasih tau, gue yakin itu Cuma dianggap sebagai candaan.” Arsen membayangkan hal yang bahkan belum terjadi. “Harusnya Lo coba dulu dong, Kak. Siapa tau dia balik suka sama Lo. Zaman sekarang Cowok banyak. Gue takut Cewek yang Lo suka, jadi Cewek lain. Nanti ujung-ujungnya Lo jadi sadboy,” Alista tertawa kecil. Ia membayangkan betapa lucunya wajah Arsen ketika bersedih. “Gue suka Lo,” Alista terhenti. Ia berdeham karena perkataan Arsen terdengar samar tadi. “A—apa?” “Apa?” Arsen berlagak tidak nyambung. “Apa?” Alista balik bertanya. “Ya, apa?” Alista menatap geram. Tangannya menoyor kepala Arsen. “Di kehidupan masa lalu salah apa gue sampai-sampai punya Kakak lemot kayak Lo,” “Gue miris sama suami Lo nanti. Salah dikit langsung main pukul.” Arsen mengusap bekas pukulan Alista. “Biar otak Lo normal lagi, Kak.” Alista tersenyum lebar, namun hal itu membuat Arsen ngeri. Wajah Adiknya itu sebelas dua belas dengan psikopet. ___***____ Marsel tengah berlari kecil di sekitaran area kompleknya. Setiap orang yang melihat Laki-laki itu menyapa, namun sekalipun Marsel tidak berniat membalas sebab kupingnya sudah tersumpal oleh headset. Tentunya dia tak dengan sapaan Mereka. Bruk! Seseorang menabraknya dari belakang. Marsel melepas headset yang ia pakai. Tatapannya berubah tidak terima dan langsung menengok ke belakang. “Ma—maaf,” Nandin membungkuk berkali-kali. Matanya tidak berani melihat Cowok asing itu. “Sial! Lo kalau jalan yang bener!” Marsel mencekal lengan Nandin, berpindah posisi menghadap Gadis itu. Tangannya mengangkat, bersiap untuk menampar, namun ada tangan lain yang menahannya dari belakang. “Yang, udah. Lepasin dia. Gue lihat dia enggak sengaja,” cegah Alista dari arah belakang. Emosi Marsel meredam. Dia mengurungkan niat untuk memukul Nandin. Tapi tatapan tajam itu tidak lepas memerhatikan. “Permisi,” pamit Nandin, mendahului Mereka. “Jangan angkat tangan di tempat terbuka seperti ini. Kamu mau image hancur?” “Dia nabrak aku, Yang.” Marsel masih saja terlihat emosi. Alista langsung menangkup rahang Kekasihnya itu. “Berhenti marah. Aku enggak mau kamu jadi tua sebelum waktunya. “ “Yang, Dia udah—“ “Aku udah tau. Jangan dibahas lagi. Anterin aku ke rumah kamu, ya. Kebetulan aku masak buat kamu dan Ibu Eve,” Alista menunjukkan rantang yang dia bawa. Marsel menatap penasaran isi rantang itu. “Kamu masak apa?” “Rahasia! Kita buka aja di rumah kamu!” Alista menggandeng lengan Marsel. Dengan senyuman, Cowok itu mengikuti Alista. “Kamu kelihatan semangat banget, sih.” “Iya lah! Enggak sabar buat ketemu Ibu kamu. Sekalian memantaskan diri buat jadi calon mantu yang baik,” kata Alista lirih, namun terdengar jelas. Ia tersenyum malu setelahnya. Marsel bergerak mencubit pipi Alista. “Enggak sia-sia aku jadiin kamu pacar. Udah cantik, pintar masak lagi.” Puji Marsel membuat pipi Alista merona. Alista menyenggol sikut Marsel. “Jangan lebay. Kamu, kan, belum coba makanan ini.” Marsel mengikis jaraknya dengan Alista. Lengan Mereka saling bersentuhan. Cowok itu mendekatkan bibirnya di telinga Alista. “Dari baunya aja enak. Apalagi rasanya. Aku percaya sepenuhnya sama kamu, Sayang.” Tidak memakan waktu lama, Keduanya telah sampai di sebuah rumah besar dengan dinding berwarna biru laut, membuat siapapun nyaman memandang. “Marsel,” “Kenapa? Kamu enggak mau masuk?” Marsel bingung saat Alista masih saja di tempat. “Penampilan aku udah bagus enggak? Ada yang aneh? Rambut aku nggak berantakan? Aku enak dilihat, kan? Pipi aku—“ Marsel menempelkan jari telunjuk di bibir tipis Alista. “Ssst. Kamu udah cantik. Lebih dari itu.” Bluss! Semburat merah muncul lagi di pipi tirus Alista. Degup jantungnya meningkat lebih cepat layaknya habis lari maraton. “Ibu...” panggil Marsel sambil mengetuk pintu. Seorang wanita dengan perut buncit besar itu keluar membukakan pintu. Alista langsung menampilkan senyum manisnya. “Halo, Tante. Apa kabar?” “Eh, siapa yang kamu bawa ini? Tumben sekali ada perempuan yang main ke rumah ini,” Evelyn pangling dengan wajah Alista. Teman perempuan Marsel terlihat berbeda dengan polesan make up walaupun tipis. “Dia Alista, Pacar Marsel, Bu.” “Pacar? “ Evelyn terlihat senang menyambut kehadiran Alista. “iya sudah ayo masuk. Tidak baik berbicara di luar,” Alista merasa lega. Dia kira Ibu Marsel akan ketus atau sebagainya karena mereka sudah dua bulan lalu tidak bertemu. Dia mendudukkan diri di sofa bersamaan dengan diletakkannya rantang di meja. “Apa yang kamu bawa ini?” “Ah, ini makanan, Bu. Aku udah siapin ini khusus buat Marsel sama Ibu,” Marsel datang dari arah dapur dengan membawa satu gelas air dingin. “Minum dulu, Al.” Lanjutnya, kemudian meraih rantang yang tergeletak. “aku bakal pindahin makanan ini di piring.” “Usia kandungan Ibu berapa bulan?” tanya Alista basa-basi. “Delapan lebih dua Minggu.” “Wah, baby-nya sebentar lagi launching.” Evelyn terkekeh. “Benar. Jangan lupa hadir di persalinan Ibu nanti, ya?” “Pasti dong, Bu!” seru Alista penuh semangat. Di dapur sana Marsel memandangi interaksi Mereka berdua. Dia menuangkan satu persatu makanan itu di atas piring. Marsel melirik sekali lagi ke arah Alista. Tangan satunya mengambil satu sendok penuh bubuk cabai. Dia tuangkan itu di rendang sapi buatan Alista. Tidak cukup, Marsel membubuhkan juga di Masing-masing makanan yang dibawakan Kekasihnya. “Makanan udah siap!” teriak Marsel membawa semua makanan dari satu nampan. “Kamu bersikap seolah kamu yang memasaknya.” Kata Evelyn. Ia mengamati deretan makanan yang tersaji. “kelihatannya enak semua. Makanan ini kamu yang buat?” tatapannya beralih pada Alista. “Iya, Bu.” Evelyn meraih sendok, lalu menyendok rendang yang terlihat menggiurkan di antara yang lain. Alista semakin serius memperhatikan. Ia penasaran dengan penilaian dari Ibu Marsel. Evelyn terdiam sejenak. Kerutan di dahi wanita itu membuat Alista mengernyit bingung dan semakin bertanya-tanya. “Gi...mana, Bu?”’ Evelyn terbatuk-batuk. Marsel yang peka langsung mendekatkan gelas. Evelyn segera meminum air itu hingga habis. “Kenapa, Ibu? Ada yang salah?”’ “Bubuk cabainya terlalu banyak.” Tanya Evelyn. Hidungnya bahkan kini memerah. Serbuk pedas itu juga masih menyangkut di tenggorokan. Alista hampir terperanjat dari duduknya. Ia mengingat-ingat kembali bumbu yang dia masukkan. Rendang itu dia tak bubuhkan bubuk cabai. Alista sadar betul akan hal itu. “Ma—maaf, Bu.” Alista menundukkan kepala, merasa bodoh atas keteledorannya. Padahal jelas-jelas ia tak menambahkan itu. “Tidak apa-apa. Belajar masak lebih giat lagi, ya.” kata Evelyn masih menunjukkan sikap ramah. “Ibu perlu minum lagi? Entar biar Alista yang ambil,” Evelyn menggeleng menanggapi perkataan Alista. “Tidak. Tidak usah,” wanita itu terbatuk-batuk setelahnya. Marsel yang akan berdiri, langsung dicekal oleh Alista. Cewek itu berjalan terlebih dulu ke dapur dan mengambilkan teko berisi air putih penuh. Alista bergegas menuangkan air itu ke gelas. Tanpa sadar, tangannya menyentuh gelas lain. Alhasil saat Alista bergerak, gelas tersebut jatuh. Air yang ada di dalamnya menyiram paha Evelyn. Alista membelalakkan mata. Mulutnya ternganga. Dasar bodoh! Kenapa dia begitu ceroboh sekali?! Alista memaki dirinya sendiri di dalam hati. “Ma—“ “Sebaiknya kamu pergi dari sini.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN