49

1291 Kata
Alista pulang dengan kepala menunduk dan bibir melengkung. Sekarang dia ada di tepi jalan. Kakinya itu terus melangkah tanpa tujuan. Alista tak peduli akan hal itu. Pertemuan kedua yang seharusnya membuat Ibu Marsel menyukainya, kini berubah drastis. Dia melempar sembarang botol yang menghalangi. Alista tidak mood melakukan apa-apa sekarang. Dia terduduk di salah satu bangku taman TK dan memandang bosan bocah-bocah yang tengah bermain riang. “Bodoh! Bodoh!” Alista memukul pelan kepalanya. Entah di kehidupan masa lalu dia mempunyai kesalahan apa sampai terjadi seperti ini. “Lo bodoh Alista! Bodoh!” Tiba-tiba terasa sesuatu yang dingin di kepalanya. Langsung saja dia menengok ke belakang. “Lo?” Karisa tersenyum menanggapi. Cewek itu mendarat duduk di sebelah Alista. “Lagi ada masalah? Minum ini,” dia menyodorkan botol berisi minuman jeruk dingin. Alista mengambil alih, “Tau aja Lo apa yang gue butuhin,” “Tau dong. Masa enggak. Dikira gue baru jadi teman Lo apa,” perhatian Karisa tertarik pada sebuah rantang di sebelah Alista. “Lo bawa makanan? Buat siapa?” dia menggeser benda itu, mendekat pada dirinya. Dengan sigap dia membuka rantang itu hingga tampaklah makanan yang menggiurkan. Karisa tanpa bertanya langsung memakan masakan itu. Alista menepuk pelan keningnya. “Jangan dimakan, Ri!” “Loh, kenapa? Haah... Hah... Gila Lo! Kok pedes banget, sih?!” Karisa memuntahkan makanan itu. Lidahnya kini jadi korban. Dia merebut minuman yang tadi diberikan pada Alista, lantas menengguknya hingga habis tak tersisa. “Ya ampun, Kar. Itu minuman gue.” Alista memutar malas bola matanya. “Lo kasih cabai berapa, hah?! Lo mau bikin kenyang orang atau meracuni orang sih?” “Ish. Lebay amat. Mana ada orang yang mati karena makan pedas? Ada-ada aja Lo,” “Lo mau kasih makanan ini ke siapa?” tanya Karisa serius. “Bahkan makanan ini dibalikin lagi ke gue,” Alista menunduk sedih. “gue enggak nyangka berakhir kayak gini. Ekspetasi gue terlalu tinggi, Kar.” “Tunggu-tunggu. Gue enggak ngerti deh. Maksud Lo apa?” “Gue datang ke rumah—“ Alista merapatkan bibir. Hampir saja dia bilang ke rumah Marsel. Apa reaksi Karisa nanti mengingat Sahabatnya itu melarang keras dia dengan Marsel. “Rumah siapa? Kebiasaan Lo kalau ngomong setengah-setengah.” “Udah lupain. Antar gue pulang, yuk.” Alista mulai berdiri dan mengusap-usap roknya karena dirasa kotor. “Eh, bentar. Gue mau jemput Abi dulu.” “Abi? Keponakan Lo?” Alista mengerjap kaget. Serius, dia tidak menyangka ini sebelumnya. “Iya, keluarga adik Ibu gue baru aja pulang tadi siang. Lo wajib main ke rumah gue deh!” “Gak bisa. Gue harus jenguk Bagas sekarang,” Alista baru ingat akan jadwalnya hari ini. Sayangnya dia belum membeli bunga, jadi memakan waktu lagi untuk membeli. “Maaf gue enggak bisa nganterin, Al. Biasa, kan, Lo pergi sendiri?” ___***___ Di sinilah Alista berada. Dia masuk ke dalam ruangan tempat di mana Bagas tidak sadarkan diri dengan alat medis terpasang di beberapa bagian tubuh. Alista meletakkan sebuket bunga di nakas samping brankar. Ia kemudian duduk di bangku yang sudah tersedia. “Lo enggak kangen gue, Gas? Udah tiga hari ini Lo koma, tapi enggak bangun-bangun. Betah banget Lo di sana? Bangun dong. Gue butuh teman nih. Tadi Rachel bikin ulah lagi. Kalau Lo ada, gue yakin Lo Cuma orang yang bisa bongkar kedok Rachel. Siapa yang bikin Lo kayak gini, sih? Harusnya dari awal Lo bilang siapa pelakunya. Walau lo Cuma bilang inisialnya aja, gue akan tetap berusaha cari.”’ Alista mengusap air matanya yang mengalir turun. “Jahat Lo, Gas. Perkataan gue enggak Lo dengerin,” Alista melengkungkan bibir, berlagak sedang marah. “gue nggak akan jadi sahabat Lo lagi! Dalam dua hari Lo enggak bangun, persahabatan kita putus.” Alista membekap mulutnya sendiri. Dia berusaha keras menahan isakan. Sampai suara pintu dibuka terdengar. Alista menengok ke sumber suara dan mendapati Keyla berdiri di ambang pintu. Menatapnya seolah memberi isyarat ‘kita bicara di luar’. Alista berdiri, keluar dari ruangan sunyi itu. “Kak Key...” Keyla langsung memeluk Alista. Air mata itu tumpah. “Siapa yang tega nusuk dia? Gue mohon cari pelakunya, Al.” “I—iya, Kak.”’ Alista sedikit merasa tidak nyaman dengan pelukan Keyla yang terlalu erat ini. Dia juga terkejut tiba-tiba dirinya diminta mencari pelaku penusukan itu. Ia mau saja, tetapi resikonya membuat Alista berpikir dua kali. Mengajak Arsen mungkin adalah jalan terbaik. “Apa di sekolah dia punya musuh?” Alista menggeleng, “Bagas orangnya baik kok. Semua orang yang ada di sekolah suka sama sikap dia. Kayaknya enggak mungkin deh kalau pelakunya orang satu sekolah. Aku akan berusaha cari sama teman-teman aku, Kak. Kak Keyla jangan sedih,” “Gue gak bisa tidur tenang sebelum pelaku itu ditemukan, Al.” Kata Keyla. Alista bisa menduga itu dari mata Keyla yang cekung dan juga hitam. “Enggak udah. Kakak istirahat yang cukup aja,”’ ___***____ Nandin menabur bunga itu di makam kedua orang tua. Air mata itu tidak berhenti mengalir meski Nandin sudah berusaha keras menahannya. “Ibu, Ayah, kalian bahagia di sana, ya. Aku bakal mengunjungi makam kalian satu Minggu sekali.” Dia berdiri. Meski berat untuk beranjak pergi, dia mencoba merelakan ibu dan Sang Ayah. Saat Nandin memandang lurus, dia dikejutkan oleh dua orang berbadan tegap berdiri di hadapannya tanpa ekspresi. Nandin mundur, akan menghindar, namun salah satu dari Mereka angkat bicara. “Nama Anda Nandin Auralaska?” “Be—benar. Kalian siapa?” “Kami berdua anak buah Kakek Anda. Sebaiknya kau ikut dengan kami karena Kakekmu ingin didampingi cucunya,” sambung Pria satunya lagi. “Kakek?” selama ini Nandin tidak pernah melihat dan tahu bagaimana kondisi Kakeknya sejak dia diusir dari rumah megah itu karena kesalahpahaman yang terjadi antara dia dan bibi tirinya. “dia enggak mungkin membutuhkan aku.” Jawab Nandin. Toh, memang benar. Selama ini Sang Kakek membencinya. “bahkan ketika aku datang ke rumah itu meminta tambahan uang untuk biaya pemakaman Ibu dan ayah, mereka sama sekali tidak membuka pintu.” Lanjut Nandin dengan suara gemetar. “Anda salah paham. Kemarin semua orang pergi ke rumah sakit untuk mengecek keadaan kakek yang sudah sangat lemah. Permintaannya sekarang adalah bertemu denganmu. Kami harap dengan kedatanganmu, keadaan kakek membaik.” Nandin berpikir. Kalau sudah menyangkut nyawa dan permintaan, tak ada alasan baginya untuk menolak. “Aku harus pulang dulu untuk membawa Elsa,” “Elsa sudah ada di mobil. “ Astaga, mereka niat sekali. Nandin berdeham beberapa kali. Pandangan itu tidak berani menatap Mereka. “Antarkan saya sekarang,” Tiga puluh menit menempuh perjalanan, mobil mereka berhenti di sebuah bangunan dengan warna serba putih. Apalagi kalau bukan rumah sakit. Dua orang berbadan tegap membimbing Nandin masuk. Sementara Elsa digendong oleh babysitter yang disewa dadakan. Salah satu pria itu membuka pintu sebuah ruangan VIP. Terdapat brankar besar dan cukup tinggi. Ruangan ini begitu luas dengan fasilitas lengkap. Nandin baru kali pertama masuk ke ruangan seperti ini. “Ayo, silahkan ke sana,” Pria tersebut mempersilahkan Nandin untuk mendekat ke Sang Kakek. “Nandin? Ini cucu Kakek, kan? Nandin sudah memaafkan kakek?” suara itu terdengar lirih, tapi masih bisa didengar jelas oleh Nandin. Cewek itu terenyuh mekihat keadaan Kakeknya sekarang yang Jauh berbeda dari beberapa tahun lalu. Nandin mengangguk cepat. “Iya, aku Nandin. Cucuk Kakek,” ia mengatakannya dengan terharu karena selama ini Sang Kakek tidak pernah menganggapnya cucu. “Ka..kek... Titip rumah ke kamu...” Nandin menggenggam lengan kurus Kakeknya. “Emang Kakek mau pergi ke mana? Jangan bilang Kakek pergi. Nandin mau merawat Kakek lebih lama.” “Kakek sudah tidak kuat lagi... Cu...” d**a Pria yang sudah tua itu naik turun, pertanda sudah kesulitan bernafas. Nandin langsung menengok ke ambang pintu. Selang beberapa detik, dokter datang memeriksa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN