Bab 6. Menjenguk Papa Almira

1286 Kata
Almira melepaskan pelukan sang mama, ia langsung menatap lekat wanita paruh baya itu. "Bagaimana kabarmu, Ma? Lalu bagaimana kabar, papa?" "Mama baik, Nak. Papa pun sudah lebih baik dari sebelumnya." "Memangnya, apa yang sudah terjadi pada papa, ma?" tanya Mira berlalu meninggalkan mamanya dan menuju ranjang sang papa. Mira ingin memastikan lebih dekat apa yang terjadi pada papanya itu, sebab entah mengapa hatinya merasa ada kejanggalan. "Papa semalam kritis, Mir. Dan sekarang, sudah mulai stabil," jawab Mama menunduk tepat saat Mira mengalihkan pandangan padanya. Mira paham betul bagaimana Mama sambungnya itu, sebab mereka sudah bersama sejak wanita itu masih kecil. Jadi, kurang lebihnya, Mira paham bagaimana karakter Mama sambungnya. Sedangkan, Renata pun paham bagaimana karakter Mira yang tidak mudah dibohongi, wanita yang usianya sudah hampir menginjak empat puluh tahun itu seakan tahu jika lawan bicaranya sedang berbohong walau hanya memandang matanya saja. Detak jantung Renata berdegup lebih kencang dari biasanya, ia seolah paham bahwa kebohongannya akan segera terbongkar oleh Mira. Anak sambungnya itu melangkah kembali mendekatinya, memicingkan mata untuk memastikan bahwa tidak ada kebohongan yang diciptakan oleh Renata. "Kenapa kau memandang mama seperti itu, Mir?" tanyanya gugup. Mira tersenyum sinis, ia paham disini ada sebuah pengaturan yang jelas-jelas memang dibuat serapih mungkin tapi sayangnya, ia dengan mudah mengetahui semuanya. Wanita paruh baya yang saat ini berada di depannya itu tidak pandai berbohong, Mama akan selalu gugup setiap kali berkata bohong dan Mira tahu betul akan hal itu. Papa pun sebenarnya sejak tadi sudah terjaga namun tetap memilih untuk memejamkan matanya agar tidak ketahuan oleh Mira. Ia ingin tahu, sejauh mana anak semata wayangnya itu mengetahui semua kebohongannya atau tidak. Melihat dengan jelas kebohongan yang sedang diciptakan oleh Renata, membuat Mira mengalihkan pandangannya pada sang papa yang berada di atas brankar. Memandang lekat tubuh renta itu dan merasa curiga karena tidak menunjukkan sesuatu yang kritis. Mira tidak melihat alat-alat kesehatan yang terpasang, jika memang benar papanya itu kritis, sudah dapat dipastikan banyak sekali alat kesehatan yang terpasang di tubuhnya namun ini sebaliknya. Mira semakin yakin bahwa semua ini adalah tipu daya yang dibuat oleh papa agar dirinya kembali. Menyesal, ia sempat menyesal karena begitu sangat mengkhawatirkan lelaki paruh baya yang ternyata masih tetap sama. Papa akan melakukan segala macam cara untuk mencapai sesuatu yang diinginkan olehnya. Harusnya, Mira paham sejak awal bahwa papanya tidak mudah tumbang tetapi mudah melakukan segala cara demi kebahagiaannya sendiri. Mira masih mencoba mencari kebohongan demi kebohongan yang diciptakan oleh mama dan papanya itu. Ia mengelilingi brankar yang berisi lelaki paruh baya itu, dan memastikan sekali lagi bahwa memang tidak ada yang sakit disini. Lihat saja, oksigen pun seakan hanya digunakan untuk pajangan semata. Perlahan namun pasti, Johan membuka matanya agar tidak membuat anaknya itu semakin curiga. Ia yakin, pasti Mira saat ini sedang memeriksa dengan detail kondisi dirinya yang sebenarnya tidak kenapa-kenapa tapi seakan-akan dibuat kenapa-kenapa. Johan berusaha menunjukkan kondisinya yang lemah agar semakin mendukung kebohongannya itu. Johan tersenyum melihat Mira yang juga tengah menatapnya datar. Ia mencoba untuk tetap tenang agar Mira tidak curiga dan berusaha menyapa anak semata wayangnya dengan kelembutan. "Sayang, kamu sudah datang, Nak?" tanyanya tersenyum manis. "Maaf, papa begitu lelah sekali hingga tidak menyadari bahwa kamu sudah disini," imbuhnya. "Bagaimana kabarmu, Mira? Sudah lama sekali kita tidak bertemu ya, Nak. Berapa lama, Ma? Rasanya, papa sangat rindu sekali," ucapnya mengalihkan pandangan pada sang istri agar membantunya keluar dari tatapan menyelidik Mira. "Sudah lima tahun, Pa. Dan selama itu, tidak ada komunikasi di antara kita semua," jawabnya yakin. Renata menggenggam tangan Johan dengan penuh kelembutan. "Ah, ternyata sudah cukup lama tidak bertemu. Papa benar-benar sangat merindukanmu, Mir," imbuh Johan. Almira menatap keduanya jengah, ia sama sekali tidak tersentuh dengan drama yang sedang dimainkan oleh kedua orang tuanya itu. Mira justru semakin mendekat dan kembali mengelilingi ranjang untuk memastikan kecurigaannya itu. Ia meneliti semuanya dengan sangat detail sekali. Pandangannya berhenti pada selang jarum infus, ia mulai heran melihat jarum infus yang tidak benar-benar menancap di kulit sang papa. Kebohongan pertama sudah terbongkar. Mira pun kembali memastikan bahwa selang oksigen yang besar-besar hanya sebagai hiasan saja, tidak terpasang di tempat yang seharusnya. Kebohongan selanjutnya pun dengan mudah terkuak oleh Mira. Kedua orang tuanya itu saling memandang satu sama lainnya, mereka mulai sadar bahwa kebohongannya pasti sebentar lagi akan terbongkar semuanya. Renata menggenggam tangan erat sang suami, ia khawatir jika nantinya akan disalahkan oleh Mira karena mendukung kebohongan yang diciptakan oleh sang papa. "Ini, maksudnya apa, Ma, Pa?" tanya Almira sambil mengangkat selang oksigen yang tidak terpasang. "Itu –" "Kali ini, apa yang kalian inginkan? Apalagi permintaan kalian sampai-sampai harus melakukan hal konyol seperti ini?" tanya Mira jengah menatap keduanya sambil menggelengkan kepalanya. "Aku memilih pergi jauh dari Indonesia, menjadikan Singapura sebagai tempat tinggal yang nyaman selama bertahun-tahun, apakah itu semua masih kurang? Oh, atau mungkin aku harus pergi lebih jauh lagi agar kalian merasa puas? Iya?" cecarnya menahan amarah yang membara di dalam d**a. Sungguh, Almira tidak menyukai permintaan konyol seperti ini. Dimana ada orang yang mempermainkan kesehatan, tidak berpikir panjang dan bersikap sesuka hati. Padahal, mereka bisa memakai cara yang lain, tetapi itu belum tentu juga bisa membuat Almira pulang ke Jakarta. Almira menahan rasa sesak di dalam dadanya, ia menatap kesal dan penuh amarah pada kedua orang tuanya yang selalu bersikap sesuka hati itu. Mereka berdua seakan tidak paham dengan apa yang dialami olehnya dalam beberapa waktu belakangan ini. "Sayang, bukan begitu maksud kami–" "Lalu, apa maksud kalian untuk kebohongan kali ini, Ma? Kenapa mama terus saja mendukung semua hal konyol yang dilakukan oleh papa? Mama bahkan tega membohongi aku, demi papa?" tanya Almira menatap nyalang ibu sambungnya. “Dan, tunggu dulu. Oh … jangan-jangan kalian yang menyuruh Bi Mar berbohong untuk semua ini, iya? Hah?” "Sayang, maafkan. Mama tidak punya pilihan lain. Kami melakukan semua ini, demi kebaikan kamu." "Kebaikan? Kebaikan apalagi, Ma? Kebaikan seperti apa dan macam apa yang menurut kalian demi aku? Apa?" teriaknya tertahankan. Mira masih berusaha untuk mengendalikan dirinya agar tidak sampai menyakiti hati kedua orang tuanya. Ia sendiri bahkan tidak peduli dengan rasa sakit yang mendera hatinya. "Mama dan papa mempersilahkan dan tidak mempermasalahkan kamu tinggal di Singapura, semuanya demi kebaikan kamu, bukan? Semua itu dilakukan agar kamu benar-benar lupa dengan trauma yang dirasakan dan juga menjalani kehamilan kamu dengan tenang," jelas Mama Renata sedih. "Kami, hanya mau kamu sembuh, Sayang. Dan tidak mengganggu pikiranmu selama hamil di sana. Kami, sama sekali tidak berniat untuk mengasingkan kamu, di sana. Tapi, kamu sendiri yang menutup semua komunikasi antara kita. Lalu, dengan cara apa lagi, kami bisa berkomunikasi denganmu kalau bukan melalui Bi Mar,” imbuhnya. "Iya okay, aku terima alasan masuk akal itu. Aku pun, sangat berterima kasih karena kalian benar-benar menepati janji sesuai dengan apa yang aku inginkan. Tidak menemui aku, kecuali aku yang meminta kalian datang. Tapi, kalau memang ingin aku pulang, tidak dengan permainan konyol seperti ini, bukan!” sentaknya penuh emosi. "Dan sekarang, di saat aku sudah mulai mengobati luka, mulai hidup bahagia dengan anak-anak. Kenapa kalian harus melakukan hal konyol agar aku kembali? Kenapa tidak kalian saja yang minta izin padaku, untuk bisa datang ke Singapura untuk menemui aku dan anak-anak? Kenapa?" teriaknya lagi tertahankan. Sungguh, rasanya sangat sesak sekali jika tidak bisa meluapkan semua rasa sakit dan kecewa yang bersemayam di dalam d**a. Leher terasa tercekik dan nafas pun tersengal-sengal ketika tidak mampu melampiaskan semuanya. "Mama bisa jelaskan semuanya, Mir. Tolong jangan seperti ini, semua yang terjadi tidak seperti apa yang kamu pikirkan, Nak." "Ma, jangan," cegah papa saat mama ingin mengajak semuanya. Lelaki itu seakan tidak ingin putrinya tahu, apa alasan utama mereka sampai-sampai tidak pernah mengunjungi Mira di luar negeri. "Mira harus tahu semuanya, Pa," lirih Mama Renata. "Tidak, Ma. Jangan, belum waktunya–" "Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan dariku?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN