Ricuh. Semua terasa berputar di sekeliling Lolla. Tanpa suara. Bahkan Lolla tidak bisa mendengar suaranya sendiri yang berteriak memanggil-manggil nama Sakka. Darah terlihat semakin deras mengalir, walau Sakka berusaha menutupinya agar Lolla tidak semakin panik. "Gue nggak apa-apa, Lol." Begitu kata Sakka, tapi wajahnya sama sekali tidak bisa berbohong. Kepalanya sudah bertumpu di paha Lolla, matanya sudah terasa semakin berat untuk tetap terbuka. "Bertahan, Ka. Ambulans sebentar lagi dateng!" "O-oke." Sakka tersenyum. "Maaf, harusnya gue ngehajar b******n itu lebih banyak, atau matahin tangannya biar nggak bisa nusuk gue. Maaf, Lol." "Lo ngomong apa, sih?!" Lolla benar-ben

