"Sekarang, kamu harus makan." Sakka berdecak, karena Lolla hanya duduk di sofa dengan wajah murung. Sakka tahu, Lolla pasti bingung. Bagaimana bisa sahabatnya sendiri mengaku suka kepada pacarnya? Itu sedikit aneh. "Ka, apa gue harus relain lo buat Nada?" Sakka duduk lebih tegap, lalu mengecek dahi Lolla dengan telapak tangannya. "Lo sakit, ya?" "Gue serius, Ka." Lolla langsung cemberut. "Gue bukan barang yang bisa lo kasih ke sahabat lo, Lol. Jangan ngajak ribut, deh." Lolla sedikit mendengus geli. "Udah lama lo nggak marah. Kangen juga ternyata." "Aish, sini lo." Sakka menarik Lolla ke rangkulannya, dan menjitak kepala pacarnya itu dengan gemas. "Sekali lagi ngomong kayak gitu, gue ajak
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


