Rey melangkah masuk ke kelas dengan jantung berdebar kencang. Ia tidak tahu, harus bersikap seperti apa di depan Lolla. Sakka sudah benar-benar membuat image Rey di depan Lolla terlihat sangat murahan. Saat Rey sudah duduk di kursinya, ia masih tidak berani melihat ke arah Lolla. Ia bahkan merasa keringat dingin sekarang. Mampus. Kenapa canggung begini? Ini semua salah Sakka. Rey sangat ingin menimpuk Sakka dengan lemari setelah pulang sekolah nanti. "Rey, are you okaaay?" Titan menepuk bahu Rey. "Lo kayaknya sakit, ya?" "Sakit? Hah, ini semua gara-gara--" Rey tidak boleh menyebut nama Sakka. Jika Lolla dengar, situasi bisa lebih bahaya. "Oh, I know. Salah gue, 'kan? Soalnya gue yang ngasih saran gitu ke dia? Sori, Rey."

