4: Tugas Kelompok

1416 Kata
Beberapa hari kemudian, saat upacara bendera berlangsung, Pak Hadit--Wakil Kepala Sekolah, menyampaikan pidatonya sekaligus mengumumkan tentang perlombaan kelompok belajar. Beberapa terlihat semangat, mungkin karena hadiahnya yang lumayan. Tapi, beberapa juga ada yang malah mendesah malas. Mungkin, mereka takut tidak sekelompok dengan temannya karena semua diacak. Kecuali kelompok Lolla. Memang mungkin sedikit curang, tapi, Lolla tidak bisa apa-apa. Omong-omong, Lolla tidak berpapasan dengan Sakka lagi sejak beberapa hari ini. Entah lelaki itu yang sibuk, atau dia mungkin sengaja menghindari Lolla. Itu membuat Lolla menggerutu setiap hari pada Nada. Memangnya gue ini bawel banget, ya?! Saat upacara kali ini, akhirnya Lolla bisa melihat Sakka, walau ia harus memutar kepalanya untuk melihat ke barisan paling belakang. Menurut penglihatan Lolla, Sakka terlihat sama sekali tidak tertarik dengan pengumuman perlombaan kelompok belajar. Oh, tidak. Jika dia berniat untuk kalah, bagaimana?! Lolla juga bingung, karena Bu Sukma terlihat begitu percaya padanya untuk membuat Sakka semangat belajar. Padahal, Sakka itu kan sering marah-marah pada Lolla. Bagaimana caranya Lolla bisa membuatnya semangat coba? Bu Sukma ada-ada saja. Setelah upacara berakhir, semua murid bubar dan menuju kelas masing-masing. Mereka sangat penasaran dengan kelompok yang dibagikan. Katanya, akan diumumkan di mading saat jam istirahat. Lolla sih santai saja. Karena ia sudah mengetahui kelompoknya. Dan Lolla yakin, kelompoknya pasti bisa menang! Kenapa? Karena kelompoknya itu menarik. Semuanya berbeda, dan punya kelebihan masing-masing. Ada Rey, yang dingin-dingin tapi otaknya encer. Dia juga paling jago di bidang Fisika, Kimia, dan Matematika. Pokoknya, bisa diandalkan. Lolla masih berusaha membujuknya agar mau menjadi ketua. Ada Nada, yang pantang menyerah dan jujur. Dia juga masuk lima besar saat kenaikan kelas kemarin, dan dia punya semangat yang tinggi! Apalagi kalau dijanjikan hadiah. Lalu ada Titan juga. Walau Titan kadang bertingkah seperti anak kecil, pelajaran favoritnya itu Bahasa Inggris dan Kimia. Dia hobi bermain games. Dan tentu saja ada Lolla. Bagaimana ya menjelaskan fungsi kerja otak Lolla? Cukup membuat iri, karena Lolla sangat mudah untuk mengahafal materi ataupun rumus. Dan selain memiliki keahlian lebih itu, dia juga giat belajar. Karena ia pernah mencoba untuk malas-malasan, dan hasilnya sangat buruk. Terakhir, tentunya ada Sakka. Lolla tidak terlalu mengenal Sakka. Dia hanya sering bertemu dan berdebat dengan lelaki bereputasi buruk itu. Tapi, dibalik pertemuannya, Sakka sering sekali menolongnya. Kalau masalah otak dan pelajaran kesukaan Sakka, itu masih menjadi sebuah misteri bagi Lolla. "Hadiahnya enak banget ya, La? Liburan ke Puncak dan duit lima juta! Aaah, kelompok gue harus menang!" Nada sudah membayangkan liburan gratis, dan bisa dapat uang dari hasil kerja kerasnya sendiri. Menyenangkan sekali. "Iya, semoga kita menang, ya!" "La, kalau kita nggak sekelompok, gimana?" Lolla tersenyum lebar. "Entah kenapa, gue yakin kalau kita pasti akan satu kelompok! Tenang aja!" "Wah, optimis banget." Nada memandang Lolla curiga. "Tapi, semoga sekelompok, deh." Lolla hanya terkekeh pelan, lalu melirik Rey yang ketahuan sedang memerhatikannya. Sebenarnya, Lolla sudah merasa diperhatikan sejak lama. "Kenapa, Rey?" Rey membuang pandangannya. "Apaan, sih? Sok kenal." Nada tiba-tiba berdecak. "Nyebelin banget sih, belom pernah dilempar meja, ya?" Rey pura-pura tidak dengar. Ia memilih mengobrol dengan lelaki yang duduk di belakangnya. "Tan, menurut lo gimana soal perlombaan kelompok belajar itu?" Titan berhenti menggigiti pensilnya. "Hah? Hmm ... hadiahnya sih lumayan. Tapi, kenapa harus Puncak? Itu kan rawan macet. Harusnya Bali atau Pulau Komodo. 'Kan lebih asyik, tuh!" Rey memutar bola maanya. "Nggak tau diri, dasar." Titan tertawa puas lalu mengembuskan napasnya. "Rey, gue sebenernya rada takut. Kira-kira, temen sekelompok gue itu siapa aja, ya? Kalo seram, gimana?" "Tenang aja. Mungkin teman sekelompok lo yang seram cuma satu. Itu juga cewek." Maksud Rey adalah Nada. "Kok lo tau? Wah, lo bisa ngeramal, ya? Ramal masa depan gue, dong! Kira-kira, istri gue akan kayak gimana?" Rey tersenyum miring. "Istri lo itu pasti ... cewek." Titan menatap Rey tidak percaya. "Tadi itu lo bermaksud ngelawak, ya? Kurang lucu, huuuu." "Terserah, lah. Gue emang nggak jago ngelawak." Rey kembali duduk menghadap depan dan tepat setelah itu, Pak Syafarin masuk dan mulai mengajar Matematika. *** Mading sangat ramai. Semuanya ingin melihat nama kelompok mereka. Kebanyakan sih, kecewa karena tidak sekelompok dengan teman baiknya. Nada juga sedang berjuang melihat nama-nama kelompok. Dan terdengar sorakan keras dari Nada, saat mengetahui kalau ia satu kelompok dengan Lolla. "Horreee! Gue merdeka!" Lalu sorakannya terhenti saat melihat anggota kelompoknya yang lain. "Apa-apaan ini?! Kenapa bisa sekelompok sama mereka juga?!" Nada keluar dari kerumunan, sambil menekuk wajahnya. "Lolla, bad news! Kita satu kelompok sama Rey, Sakka, dan Setan." Lolla berdeham, menahan tawa. "Titan, Nad." "Ya, bodo amat deh siapa namanya. Pokoknya gue kesel! Gue nggak terima! Gue akan protes, sekarang juga." Saat Nada berbalik badan, Rey sudah berdiri di hadapannya. "Nggak usah buang-buang tenaga lo. Harusnya gue yang sedih karena satu kelompok sama lo berdua." "Tuh, 'kan! Dia mulai nyari ribut lagi, La! Biarkan gue menonjoknya, ya!" "Jangan, Nada. Sabar, sabar...." Lolla menahan Nada dari belakang, sambil menenangkan sahabatnya yang ganas itu. "Rey! Kita satu kelompok!" Titan datang, dan langsung memeluk Rey dengan manja. "Eh, gue seneng banget." "Cih, homo." Nada berdecak pelan, tapi tetap saja terdengar oleh Titan ataupun Rey. "Ayang Nada jangan cemburu gitu, dong. Aku nggak homo, kok. Mau aku peluk juga? Sini...." Titan merentangkan tangannya ke Nada, namun Nada dengan cepat kabur. "Jauh-jauh! Ih, geli!" "Jangan kabur, Sayang!" Lolla dan Rey tertawa melihat tingkah sahabatnya masing-masing. Dan tawa mereka reda, setelah Nada dan Titan sudah tidak terlihat lagi. Dan, suasana tiba-tiba jadi terasa canggung. Lolla memandang Rey, dan sebenarnya ingin mengatakan sesuatu. Tapi, dia takut Rey marah. "Ngomong aja, nggak usah takut." Rey mengembuskan napas beratnya. Seolah bisa membaca pikiran Lolla. "Eh, erm ... apa yang kita lakukan ini benar? Maksud gue, merahasiakan sesuatu dibalik perlombaan itu." "Ohh, lo tenang aja. Gue yang akan tanggung jawab kalau ada apa-apa." Lolla tersenyum kecil. "Jadi, lo berubah pikiran? Mau nih jadi Pak Ketua?" "Yah, terpaksa. Lagian lo susah dipercaya. Lo juga kayak anak kecil, gue yakin kelompok kita akan hancur kalo dipimpin sama lo." Lolla sedikit kesal dengan ucapan Rey, tapi itu semua ada benarnya juga, sih. Lolla tidak berani menjadi ketua. "Oke." Lolla akhirnya hanya mengangguk canggung. "Lo lihat Sakka? Kita harus bicarain masalah kelompok secepatnya 'kan?" "Sakka? Gue nggak kenal. Dia yang mana, sih?" "Serius? Sakka padahal populer, loh! Dia terkenal bandel, biang onar, tukang marah-marah, dan jago berantem. Terus dia--" "Ganteng, rajin menabung, dan berbakti pada orangtua. Iya 'kan, LOL?" Lolla berbalik badan, dan Sakka langsung tersenyum miring menatapnya. "Pantesan aja gue dari tadi bersin-bersin. Ternyata gue sedang diomongin, ya?" "Eh, Sakka? Udah lama berdiri di belakang gue?" tanya Lolla, mengaruk kepalanya. "Cukup lama. Sejak lo nyebut dia Pak Ketua. Apa tuh maksudnya?" Sakka sedikit penasaran. "Hmm, dia ketua kelompok kita, Sakka." Lolla melirik Rey. Dan sebenarnya sedikit awkward, karena Lolla berdiri di tengah-tengah Sakka dan Rey. "Kita? Maksud lo apa?" "Kita satu kelompok. Surprise!" Lolla menyengir lebar, walau merasa takut dengan tatapan Sakka. "Really?" Sakka menaikkan satu alisnya. "Oke. Gue mau protes." Saat Sakka mau pergi, Lolla langsung menahan lengannya. "Jangan, plis. Memang apa salahnya satu kelompok sama gue?" tanya Lolla sambil memasang wajah memelas. "Apa salahnya? BANYAK." Sakka melotot pada Lolla. "Gue nggak mau satu kelompok sama cewek manja." "Gue nggak manja!" "Lo manja. Buktinya ngak mau lepasin gue, nih." Lolla melepas tangannya dari lengan Sakka dengan cepat. "Ayolah, Sakka. Jangan protes, ya. Plis, plis, plis!" Lolla menyatukan tangannya, sambil memohon seperti anak kecil. "Oke. Tapi, ada satu syarat." "Apa syaratnya?" "Lo harus ... hmm, potong rambut lo. Berani?" Sakka yakin, Lolla tidak akan mau memotong rambut panjangnya yang indah itu. Lolla terlihat sangat menyayangi rambutnya. "Potong rambut? Kebetulan!" Lolla malah tersenyum pebar. "Gue emang niatnya mau ke salon hari ini. Gerah punya rambut panjang, lho." Sakka bengong. Dan lagi-lagi ingin mencekik Lolla. s**l. "Hah, terserah! Kalo besok rambut lo belom pendek sebahu, gue nggak mau ikut lomba nggak jelas ini. Bye, Tuan Putri." Sakka berlalu pergi, setelah mendengus kesal. Lolla menyentuh ujung rambutnya, dan memandang rambutnya dengan sedih. Ia baru saja berbohong pada Sakka. Ia tidak pernah merasa gerah memiliki rambut panjang. Ia juga tidak berpikir untuk memotong rambutnya dalam waktu dekat. Semua yang ia katakan tadi adalah bohong. "Lo nggak perlu dengerin Sakka. Kalo lo nggak mau potong rambut, yaudah. Jangan takut." Rey tiba-tiba menepuk kepala Lolla. "Dia nggak bisa keluar dari kelompok kita. Biar gue yang urus tuh anak." Lolla senang, karena Rey sedikit bersikap lembut padanya. Tapi, ia merasa memiliki kewajiban untuk memotong rambutnya. Demi Sakka. Agar dia berhenti menganggap Lolla manja, dan agar dia juga berhenti protes tentang kelompok lagi. "Nggak, Rey. Gue akan tetep potong rambut. Gapapa, kok." "Yaudah, terserah lo." []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN