Lolla berjalan dengan malu saat memasuki kelas. Semua cukup terkejut melihat penampilan Lolla hari ini.
"Kok rambut dia jadi pendek gitu?"
"Kok di a nggak pake make up sama sekali?"
"Kok dia jadi kayak Nada, ya?"
"Mau jadi sok tomboy kayak Nada, kali. Biar keren."
"Lihat sepatunya. Tumben nggak pake sepatu warna pink yang mahal itu."
Lolla menghela napas dan duduk di kursinya. Nada belum datang, sih. Jika Nada mendengar semua itu, apa yang akan dia lakukan?
Lolla saja jadi takut membayangkannya.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Nada datang. Kelas menjadi hening.
"Lolla? Kayak ada yang beda, ya? Hmm, apa ya?" Nada berdiri di dekat lolla, dan memerhatikan Lolla dengan serius. "Ah, lo habis potong rambut? Keren! Harusnya lebih pendek lagi, biar kita bisa kembaran." Nada tersenyum lebar, dan menyentuh rambut sahabatnya itu.
"Gue terlalu berlebihan, ya?" tanya Lolla pelan, menunduk. "Gue bosen dinilai manja sama semua orang. Gue pikir, kalau penampilan gue berubah, gue akan--"
"Apanya yang berlebihan? Siapa yang bilang lo manja? Sini biar gue hajar!" Nada mengepalkan tangannya kesal.
"Hari ini gue nggak dandan. Pakai bedak aja nggak, Nad."
"Masa, sih? Lo tetep cantik kayak biasanya, ah. Malah lebih cantik sekarang." Nada tersenyum, lalu duduk di sebelah Lolla.
"Lo cuma menghibur. Gue sebenernya iri sama lo, Nad. Lo bisa bergaul sama siapa aja, dan penampilan lo juga terlihat keren, tanpa dibuat-buat. Sedangkan gue? Gue kayak tuan putri yang tersesat."
Tiba-tiba, Nada tertawa. "Kok bisa sih, lo mikir gitu? Keren apanya? Gue bahkan sering nggak dianggap sebagai cewek, sama semua cowok."
"Hah? Lo cantik, Nad."
"Tapi, lo jauh lebih cantik."
"Nggak, lo keren dan cantik."
"Apa kita mau terus berdebat sampai jambak-jambakkan?" Nada terkekeh pelan. "Kita berdua cantik. Okay?"
"Okay." Lolla tersenyum kecil. "Menurut lo ... gue pantes berpenampilan kayak gini?"
"Oh, maksud lo, nggak dandan serta rambut lo pendek? Lo tetep terlihat sama, ah. Cuma ... mungkin, sekarang lo terlihat lebih keren."
"Oh, ya?"
"Iya, dan hari ini lo pakai sepatu converse. Bukan sepatu yang harganya selangit. So, lebih terlihat normal aja."
Senyum Lolla semakin lebar. "Iya, gue nggak mau orang-orang menilai gue manja, kaya, ataupun cantik. Gue mau jadi biasa-biasa aja."
"Lo akan tetep dinilai cantik."
"Really? Apa gue harus permak wajah, ya? Gue nggak mau cantik..."
Nada menjitak kepala Lolla dengan keras. "Lagi bercanda, ya? Semua cewek itu mau cantik. Lo kenapa--"
"Gue cuma nggak suka dinilai begitu. Gue suka kalau ada yang bilang gue baik, pinter atau rajin. Tapi kalau cantik ... gue ngerasa, nggak enak. Apa mereka suka karena gue cantik? Apa mereka mau bicara sama gue karena gue cantik? Itu bener-bener ngeselin, Nad."
Nada menghela napas. "Terkadang, lo harus berhenti peduli dengan apa yang orang lain bilang. Mau mereka muji lo tulus ataupun nggak, biarin aja. Pasti keliatan 'kan, mana yang tulus dan mana yang modus? Jadi, kalo kata Troy, 'selow aja'. Hehe."
Lolla mengangguk. "Iya, lo bener. Ah, lo tau nggak? Troy ternyata udah punya pacar."
"Hah? Serius? Pacarnya cowok?" tanya Nada semangat.
"Cewek. Aneh, sih. Katanya, Troy cinta sama cewek itu sejak lama. Tapi, dia bilang ke semua orang kalau dia gay, karena dia dulu memang gay. Ah, tuh cewek hebat banget bisa buat Troy jadi normal."
"Huaa, gue mau coba nyari gay, ah. Siapa tau gue bisa buat dia normal..." Nada terkekeh, lalu tanpa diduga ada yang melemparkan segumpal kertas padanya. "Anjir! Apaan, sih ini?! Siapa yang lempar?!"
Saat Nada membuka kertas itu, ada tulisan yang ditulis besar dengan spidol hitam.
I'm gay. *uhuk* -Titan
Mata Nada melotot. "Si Setan ini nyari mati, ya?"
Lolla hanya tertawa dengan lepas, melihat Nada yang langsung menjambak rambut Titan dengan ganas. " Dasar bocah gendeng. Mau lo gay, atau kagak, gue tetep nggak doyan sama lo!"
"Aduh, sakit. Pelan-pelan, Sayang."
"Dasar setan! Jangan ambigu!"
Lolla tanpa sadar melihat Rey yang sedang tertawa juga. Mata Rey jadi menyipit saat tertawa, dan itu terlihat sangat manis.
Rey sempat melihat ke arah Lolla, tapi ia langsung menunduk, dan berhenti tertawa.
Ada apa? Apa yang salah?
***
"Rey, jadwal belajar pertama kita, mau di mana?"
"Lo gila, ya?" Rey menatap Lolla sambil menaikkan satu alisnya.
"Maksudnya?" Lolla sama sekali tidak mengerti.
"Lo berubah penampilan gini, cuma demi Sakka? Kenapa?"
Lolla menggeleng cepat, lalu menunduk. "Bukan karena dia. Gue cuma ... capek."
"Capek?" Rey mengernyit.
"Lo baru di sini, Rey. Lo nggak akan tau apa aja yang gue hadapi selama ini. Dan gue harap, lo jangan ikut campur."
"La, tapi--"
"Kerja kelompok di rumah lo. Oke?" Lolla kembali menatap Rey, tapi tatapannya terlihat berbeda. Sinis.
"Oke."
Lolla berlari keluar dari kelas, namun ia langsung menabrak seseorang.
"Kalo jalan pake mata dan kaki, dong!"
Lolla mengangkat wajahnya, saat mengenali pemilik suara itu. Ia langsung memasang senyum lebar. "Hei, Sakka." Baru saja, Lolla ingin ke kelas Sakka untuk pamer rambut.
"Oh ... my God. Lolla?" Sakka tertawa kemudian, dan mengacak rambut Lolla. "Kesambet apaan? Kok nggak kayak tuan putri lagi?"
"Gue udah potong rambut. Kita belajar bareng, jam lima, di rumah Rey. See ya." Lolla berjalan melewati Sakka begitu saja.
"Eh, tunggu! Rey itu yang mana?!" Teriakan Sakka tidak membuat Lolla berhenti berjalan.
"Gue Rey."
Sakka menoleh ke belakang. "Oh, Pak Ketua, toh."
"Jangan manggil gue begitu." Rey menatap Sakka datar.
"Oke. Tapi, gue mau nanya ... Lolla kenapa? Dia rada aneh tadi." Sakka menggaruk kepalanya.
"Bukan aneh. Tapi, sangat aneh."
"Gue hampir nggak ngenalin dia. Dan cara dia bicara tadi tuh, keliatan banget kalo dia lagi kesel."
"Mungkin, karena omongan gue. Sori, lo jadi kena imbasnya."
"Haha, selow aja." Sakka baru kali ini bisa bicara dengan murid lain tanpa melihat ketakutan di mata orang tersebut. Oh, Rey murid baru.
***
Jam lima sore, kelompok Rey sudah berkumpul.
Rey cukup repot menyiapkan tempat belajar, dan cemilan untuk teman-teman satu kelompoknya. "Sori, ya. Rumah gue nggak terlalu luas."
" Ngapain minta maaf? Kita ngerasa nyaman, kok." Lolla tersenyum dan memakan keripik kentang yang disediakan Rey. Kali ini, Lolla juga hanya memakai jeans dan t-shirt. Yah, walau masih mahal, tapi Lolla sudah berusaha berpenampilan senormal mungkin.
"Iya, masih kecilan rumah gue, kok." Titan menyengir. "Soalnya gue tinggal di apartemen. Sendirian, kayak jomblo. Tapi, nggak mengenaskan kok."
"Bodo amat ya, Setan." Nada berdecak malas. "Oh iya, Sakka belom dateng?"
Lagi-lagi, Titan dikacangin.
"Palingan terlambat." Rey mengedikkan bahunya.
"Iya, dia hobi banget terlambat." Lolla terkekeh.
"Tada! Gue kali ini cuma terlambat sepuluh menit. Rekor baru!" Sakka masuk ke dalam rumah Rey dengan santai. Mereka belajar di ruang tamu, dan duduk di lantai.
"Bodo amat dengan rekor lo, Sakk. Nggak ada yang peduli." Nada dengan tenang berterus terang, lalu Sakka hanya menghela napas dan langsung duduk di sebelah Titan.
Titan tidak terlalu kenal Sakka. Tapi, menurut gosip yang beredar, Sakka itu menyeramkan. Jadi, Titan bangkit berdiri dan pindah ke tengah-tengah Lolla dan Nada.
Lagi-lagi seperti ini. Batin Sakka.
"Ngapain lo deket-deket? Mau mati lebih cepat, ya?!" Tentu saja Nada kesal. Tapi, Titan hanya meringis seperti meminta perlindungan.
Lolla bangkit berdiri dan berpindah duduk di sebelah Sakka. "Hei, Sakka."
Sakka melirik. "Apa? Mau gue cekik, ya? Jangan deket-deket."
Lolla semakin menggeser tubuhnya, agar lebih dekat. "Gue nggak takut mati, kok."
Rey menggaruk kepalanya, bingung. Lalu akhirnya dia duduk di sebelah Lolla. "Udah, jangan pada berantem. Ayo kita mulai belajarnya...."
***
Satu jam kemudian....
"Otak gue ngebul! Lolla, lo liat asap yang keluar dari ubun-ubun gue 'kan?"
Lolla menggeleng. "Nggak ada asap, Nad."
"Masaaa? Tapi, gue udah merasa nggak kuat dengan Kimia ini." Nada menempelkan kepalanya di meja. "Dan gue iri sama si b******k itu."
Yang Nada maksud, mungkin adalah Sakka. Karena Sakka malah tidur saat belajar baru dimulai lima menit. Ia bahkan membawa bantal kecil dari rumah. Niat sekali.
Lolla terkekeh. Dan memerhatikan wajah damai Sakka yang sedang tertidur. Sakka tadi hanya menaruh bantal kecilnya di meja, lalu tidur. Mudah sekali ia tidur. Dan kebetulan, wajahnya terlihat sangat jelas dari sudut pandang Lolla.
Wajah Sakka terlihat begitu damai saat matanya terpejam. Membuat siapapun iri, karena ia bisa tidur setentram itu. Seperti tidak ada masalah.
"Lolla, lo deket sama dia, ya? Kok bisa? Padahal dia kan menyeramkan...." Titan sepertinya benar-benar takut dengan Sakka. Ini tidak bisa dibiarkan.
"Sakka baik sama gue. Dia pernah ngasih plester, saat liat lutut gue berdarah. Dia juga pernah ngasih topi, saat kami dijemur karena terlambat. Menurut gue, semua orang di sekolah udah salah menilai dia. Sakka nggak seburuk yang kita kira...."
"Wow." Titan bertepuk tangan pelan. "Dia bisa sebaik itu sama lo? Apa dia bisa baik sama gue juga?"
"Pasti bisa. Karena dasarnya, Sakka emang baik."
"La, gue mau nanya serius." Rey berdeham sejenak. "Kapan gue boleh nyiram tuh anak pake air seember? Gue udah cukup sabar dari tadi, loh."
Lolla tertawa. "Sabar, Rey. Kayaknya, sebentar lagi dia bangun."
Lima menit kemudian...
"Dia masih belom bangun! Gue mau isi ember dulu, deh."
"Sabar. Bentar lagi, kok!"
Sepuluh menit kemudian...
"La, dia masih tidur. Dan sekarang malah ngorok!"
"Haha, sabar, Rey...."
Dua jam kemudian...
Sakka akhirnya terbangun. Ia meregangkan ototnya yang kaku karena tidur dengan posisi duduk. "Aah, nyenyak sekali tidur gue. Sori ya, gue ketidu ... ran. Eh, pada ke mana?"
Sakka melihat Rey yang berdiri, sambil melipat tangannya di depan d**a. Menatap Sakka tajam. "Mau pulang, atau gue tendang? Cepet pilih!"
"Eh, ampun! Ha-ha, yang lain udah pada pulang? Gue juga pulang, deh. Good night, Bro!"
Sakka bangkit berdiri, dan langsung ingin keluar dari rumah Rey secepat kilat.
"Jangan sok akrab! Dasar kebo!"