6: Berubah

1261 Kata
Sakka kesal melihat penampilan Lolla yang tiba-tiba berubah. Apa segitu marahnya, karena dipanggil 'Tuan Putri' oleh Sakka? "Gue cuma nyuruh potong rambut, bukan berubah kayak gembel gini." Sakka mencegat Lolla yang baru keluar dari toilet. Penampilannya lebih parah dari kemarin. "Gembel?" Mata Lolla membulat. "Iya, gembel." Sakka mengusap wajahnya. "Rambut lo aja acak-acakan. Bukan Lolla banget. Dan apa tuh sepatu lo? Dekil amat. Mau lo apa, sih?!" "Gue nggak mau jadi tuan putri lagi. Gue cuma mau berbaur sama yang lain...." "b**o. Lo pernah denger pepatah, 'Tuan putri tetap tuan putri walau berbaur sama gembel', nggak?" Lolla menggeleng. "Emang itu bukan pepatah, sih. Baru aja gue bikin. Tapi, itu bener! Lo udah terlahir kaya raya, yaudah. Jangan berusaha jadi gembel, dan sok baik. Ngerti?!" Lolla menggeleng. "Ada penjelasan yang lebih sederhana?" "Nope." Sakka mengembuskan napas berat. "Besok, kalo lo tetep nggak dandan, pake sepatu dekil, dan rambut acak-acakan, gue akan langsung seret lo pulang. Deal?" "Lo galak banget, sih." Lolla cemberut. "Apa peduli lo, gue tampil kayak gimana?" "Siapa yang peduli?! Mata gue cuma sakit, ngeliat lo makin jelek gini!" Sakka membentak Lolla, tapi wajahnya terlihat lucu di mata Lolla, sehingga membuatnya tertawa. "Biarin aja jelek. Lo jadi nggak bisa manggil gue 'Tuan Putri'. Wleee." Lolla menjulurkan lidahnya. Mengejek. "Masa sih, Tuan Putri? Ha! Masih bisa, tuh." Sakka tersenyum miring, lalu mengedipkan satu matanya, dan berlalu pergi meninggalkan Lolla yang diam mematung. "Oh, God. What was that?" Kenapa jantung Lolla berdetak lebih cepat setelah Sakka pergi? Lolla berusaha tidak peduli, ia berjalan ke kelas dan duduk di sebelah Nada. "Kenapa muka lo pucat banget?" tanya Nada heran. "Dan kenapa hari ini style lo makin parah? Sepatu lo kok dekil amat? Kemaren kayaknya masih baru, deh." Lolla menyengir. "Kata adek cowok gue, sepatu itu makin dekil, makin keren. Yaudah." "Yaudah? Terus lo apain sepatu lo?" "Gue tukeran sama sepatu adek gue yang udah dekil ini." Nada manaikkan satu alisnya. "Hah? Terus sepatu lo yang baru itu buat Rendy?" Lolla mengangguk. "Lollaaaa, dia ngerjain lo! Dia cuma mau sepatu baru! Mungkin yah, karena sepatunya ini udah nggak layak pakai. Ew!" "Masa sih, Rendy sejahat itu?" tanya Lolla tidak percaya. "Iya! Aduh, juara umum macam apaan lo? Kok bisa sih, dibodoh-bodohin adek lo gitu?!" Lolla tertawa. "Yaudahlah, biarin. Besok gue pake sepatu pink gue aja." "Why? Lo mau tampil feminim lagi?" Lolla mengangguk. "Dipaksa Sakka. Katanya, mata dia sakit kalo lihat gue jelek gini. 'Kan kasihan." Nada mengembuskan napas. "Tadi Rendy, sekarang Sakka. Lo terlalu pinter apa gimana, sih? Dia bukan sakit mata karena lo jelek, tapi mungkin ... dia nggak mau lo berubah." "Apa urusan dia, Nad? Ngaco, ah. Mata dia pasti beneran sakit." Lolla mengeluarkan buku Bahasa Inggrisnya, dan pura-pura baca buku, agar Nada tidak mengomelinya lagi. Mr. Zack masuk ke dalam kelas, dan mulai menyapa murid-muridnya. "Apa kabar, Everyone?" "Baik, Sir!" "Good. Ayolah kita start belajar. Buka buku kalian halaman twenty eight." "Yes, Sir!" Mr.Zack menjelaskan materi, dan semuanya menyimak. Namun ada seseorang yang merasa terganggu dengan bahasa Mr.Zack yang campur-campur seperti rujak. "Sir, jangan ngomong campur-campur, dong. Kepala saya pusing, nih." Titan memegang kepalanya sambil meringis. "Apa ada problem?" "Jujur, saya nggak suka kalau--" Rey mengangkat tangannya. "Sorry, Sir. Titan memang lagi nggak enak badan. Makanya pusing." "Ohh, gitu. Yaudah bawa dia ke UKS saja." Untuk pertama kalinya, Mr.Zack bicara normal. "Baik, Sir." Rey berdiri, dan menyeret Titan keluar. "I'm fine, Rey! Kenapa lo bilang gue sakit, sih?!" Titan protes saat Rey sudah menyeretnya cukup jauh dari kelas. "Gue nggak mau, lo dinilai nggak sopan sama Mr.Zack. Ngapain sih, sok pinter mau protes cara bicaranya?" tanya Rey datar. "Gue cuma ragu, beliau bisa lancar bahasa Inggris. Itu aja..." "Lo cuma murid. Dan dia guru. Kalau lo pinter, berarti dia lebih pinter. Oke?" Titan mengangguk. "Iya, deh. Maaf...." "Gara-gara lo, kita jadi bolos pelajaran Mr.Zack." Rey kembali berjalan ke UKS. "Siapa yang suruh belain gue? Booo!" Titan tertawa dan merangkul Rey. "Ya, gue pengin aja." "Ow, Ayang Rey so sweet." "Jijik, Tan." "Oke, Om." Rey kembali tertawa sambil mengacak rambut Titan. Walau baru mengenal Titan, Rey merasa sangat cocok berteman dengannya. Entah, mungkin karena Titan lucu dan polos. Sesampainya di UKS, mereka berdua terkejut melihat seseorang sedang tertidur dengan nyenyak di brankar. "Sakka sakit apaan ya, Rey? Kok dia ada di sini?" tanya Titan polos. "Sakit jiwa, kali. Kerjaannya tidur mulu. Malem emangnya dia nggak tidur? Dasar aneh." Titan memiliki ide. "Main tebak-tebakan, yuk. Kita coba nebak, apa yang Sakka lakuin saat malem hari. Dan nanti kita tanya dia. Yang bener ... ditraktir seminggu di kantin sama yang kalah. Gimana?" "Seru juga. Oke, mulai?" Rey tersenyum miring. Dan Titan mengangguk. "Kayaknya, dia main di warnet sampai pagi." "Nggak, Sakka pasti jadi pembunuh bayaran," tebak Titan serius sambil mengusap dagu, menebak seperti detektif. Rey sempat bergedik ngeri. "Erm ... dia kayaknya suka nongkrong-nongkrong nggak jelas." "Pasti dia jadi rampok bank di malam hari." Lagi-lagi tebakan Titan membuat Rey takut. "Dia mungkin ... ke club. Mabok-mabokan gitu sama cewek." "Wih, keren tebakan lo! Gue setuju, tapi pasti habis mabok-mabokan, dia ngajak cewek buat ekhem-ekhem." Seseorang berdeham keras. "Apa itu ekhem-ekhem? Gue kok nggak ngerti, ya?" Titan dan Rey merinding. Mereka menoleh ke brankar, dan Sakka sudah duduk sambil melipat tangannya di depan d**a. "Eh, udah bangun?" tanya Rey menyengir ramah. "Gue nggak tidur, kok." Wajah Titan semakin pucat. "Jadi ... lo denger percakapan gue sama Rey, ya?" "Banget." Sakka mengangguk santai. "Rey, ayo kita kabur...." Titan berlindung di belakang tubuh Rey. "Sebelum kalian kabur, gue mau bilang, kalo semua tebakan kalian salah." Sakka menyisir rambutnya ke belakang. "Astaga, tebakan kalian jahat-jahat banget, ya? Padahal gue ini polos, lugu, dan menggemaskan, loh!" Rey berdeham. "Sori, kita cuma main-main aja. Jangan dimasukin ke hati, ya." "It's okay. Gue udah biasa." Sakka memasang wajah cool, walau sebenarnya dia sedang sangat kesal dengan kedua orang itu. Pembunuh bayaran? Rampok? Tukang mabuk? Yang benar saja! "Yakin?" tanya Rey, karena seharusnya, Sakka marah. "Yaudah. Sini kalian berdua!" Sakka akhirnya menatap Rey dan Titan dengan tajam. Mungkin, dia memang harus melampiaskan kekesalannya, agar tidak jadi penyakit di masa yang akan datang. Titan ketakutan, dan terus memegang lengan Rey. "Plis, jangan bunuh gue..." "Gue emang pernah membunuh. Tapi, bukan bunuh manusia..." Sakka berkata serius. Apa? Bukan manusia? "Terus? Apa, dong?" tanya Titan polos. "Gue pernah membunuh makhluk terkutuk! Lo tau kecoa? Astaga, kenapa makhluk itu diciptakan, ya?!" Sakka terlihat sangat membenci kecoa. Sangat tidak disangka sebelumnya, cowok segalak Sakka, takut dengan kecoa? Wow. "Ha-ha, oh kecoa." Titan terkekeh hambar. "Kenapa masih berdiri di situ? Sini!" Sakka kembali melototi Rey dan Titan dengan tajam. Menyuruh mereka untuk mendekat. Rey akhirnya melangkah maju, diikuti dengan Titan yang terus memegang lengannya. "Apa? Lo mau ngehajar kita?" tanya Rey dingin. "Yah, semacam itu." Pletak Pletak Sakka menjitak Rey dan Titan dengan sangat keras. Tapi, sepertinya lebih keras pada Titan. Lagian tebakan Titan keterlaluan, sih. "Hah, leganya." Sakka mengembuskan napas. Dan meregangkan otot tangannya. "Cuma jitak? Gue udah berekspektasi yang tinggi, loh!" Lagi-lagi Titan mencari masalah. Rey dengan cepat menutup mulut temannya itu dengan telapak tangan. "Jangan dengerin Titan, Sak. Dia cuma bercanda! Ha-ha." "Gue cuma jitak kalian, karena kalian satu kelompok belajar sama gue. Kalian beuntung." Sakka turun dari ranjang UKS, dan berjalan menuju pintu. "Dan kalo kalian penasaran, dengan pekerjaan gue, dateng aja ke panti asuhan Kasih Bunda. Peace out!" Sakka keluar, setelah membanting pintu. Tentu saja membuat Rey dan Titan merasa sangat bersalah. "Panti asuhan? Dia ngapain di panti asuhan malem-malem?" gumam Rey bingung. "Ayo kita dateng ke sana nanti malem, Rey. Gue penasaran...." "Ajak Lolla sama Nada?" "Boleh juga! Pasti seru, deh!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN