"Ibu Aura Xandra!" Panggilan perawat memecahkan gelembung emosi di antara mereka. Firdaus dengan sigap berdiri, membantu Aura bangkit, dan menggandeng tangannya masuk ke dalam ruangan praktik dokter. Di dalam ruangan, Dokter Amanda tampak sedang memeriksa berkas medis. Begitu melihat siapa yang masuk, alis sang dokter terangkat sedikit, ada raut terkejut yang tak bisa disembunyikan. "Wah, Pak Firdaus. Tumben sekali bisa hadir? Rasanya sudah lama sekali saya tidak melihat Bapak menemani Bu Aura," sapa Dokter Amanda. Nada bicaranya ramah, akan tetapi terselip sindiran halus yang cukup menohok bagi siapa pun yang peka. Wajah Firdaus pias seketika. Rasa bersalah kembali menamparnya. Tiga bulan lebih ia membiarkan istrinya berjuang sendirian melewati masa-masa berat kehamilan. "Iya, Dok. K

