IV. Sudahlah

1811 Kata
Jakarta, 2021. Grizella, gadis pemilik nama lengkap Grizella Queen Sean sedang berdiri menatap Aarave yang sibuk mengelap motor Vespa yang belum lama diberikan kedua orang tua laki-laki itu. Bibir tipis nan pink miliknya membentuk lengkung menunjukkan betapa kagum dan bahagianya dia melihat sosok Aarave di depannya. Rambut gelombang berkat kaos kaki semalam, dielusnya lembut. Dia tidak sabar melihat raut terkejut Aarave karena penampilannya yang berbeda hari ini. “Kak Zella, aku hari ini sama Aarave lagi, nggak papa ‘kan?” Grizella menatap saudari kembarnya cepat. Lengkung indah di bibirnya sedikit mengendur mengetahui jika lagi-lagi rencananya untuk bersama Aarave gagal. Padahal Aarave itu kekasihnya. “Ih, padahal Aarave itu berangkat sama gue hari ini, Zelle,” ucap Grizella dengan kesal. Adiknya ini memang selalu begini, apalagi Aarave yang mendukung dan fine-fine saja jika jadwal berangkat bersamanya terhalangi. “Please ... gue harus beli karton sama fotokopi dulu, Kak. Kalau gue naik taxi kelamaan.” Akhirnya, Grizella mengangguk pasrah. Dia meninggalkan Grizelle yang mulai mendekati Aarave. Mau sekeras apa pun dia, tidak mungkin dia tega membuat saudari kembarnya kesulitan. °^°^°^°^°^°^° Grizella menatap kelasnya dengan bosan. Sial sekali dia harus mengingat kenangan itu dalam situasi sendiri seperti ini. Biasanya dia akan bersama Pita dan Loka bercerita ria menceritakan novel yang baru saja mereka baca, atau kadang juga menceritakan drama Korea, China, Thailand, dan drama-drama lainnya kecuali drama kehidupan pribadi. Dan semua itu mampu mengalihkan pikirannya sejenak dari Aarave dan Grizelle. Grizella memang tidak sekelas dengan dua anak manusia itu, dia tidak sepintar Grizelle yang bisa sekelas dengan Aarave. Mereka di kelas unggulan, sedangkan Grizella ada di kelas menengah ... ke bawah. Satu lagi, mereka itu IPA sedang Grizella IPS. “Anjir, gue tadi nginjek taik kucing!” umpat Loka berhasil merebut atensi Grizella. Dia mengernyit menatap Loka yang menjinjing sepatunya dalam keadaan basah. “Kenapa basah?” “Ya abis gue cucilah, Beg*!” Grizella mendengus. “Kenapa dibawa masuk? Nggak lo jemur aja di lapangan? Mumpung panas juga hawanya.” Loka terlihat berbalik, menatap lapangan yang tepat di depan kelas mereka. “Nj*r, ditipu gue,” keluh Loka. “Mendung, Coy, galap gulita!” “Alay,” ejek Pita sambil menyenggol tangan Loka. Sepatu basah milik loka terjatuh, airnya sedikit menyiprat ke sepatu dan seragam Pita. “Ih, nyiprat!” “Makanya jangan jail!” “Lo yang nggak bener pegang sepatunya, Lok!” “Ih apaan?!” Grizella memutar bola matanya lelah. Jika sudah seperti ini, perdebatan mereka akan panjang. °^°^°^°^°^° Pelajaran sudah dimulai, suasana membosankan dan sangat-sangat tidak enak harus Grizella rasakan. Hatinya ketar-ketir meski dia berusaha fokus menatap Bu Keti yang sedang asik menjelaskan. Entahlah, dia juga bingung dengan perasaan cemasnya. Antara cemas karena merasa sedikit terusik dengan kejadian tadi pagi atau karena ikatan batinya dengan Grizelle. Satu lagi, Bu Keti baru saja selesai marah-marah saat membuka kelas hari ini, jika ditanya kenapa, maka Marva sebagai jawabannya. Anak itu hilang dari kelas di jam pelajaran pertama. Grizella tersentak saat jejak langkah terdengar dari koridor. Terlihat jelas Grizelle baru saja melewati kelasnya dan ada Aarave yang tampak mengejar saudara kembarnya. Rasa khawatir langsung menyeruak ke dalam d**a, terlebih Grizella sempat melihat Grizelle mengusap pipinya. Sepertinya, adiknya itu sedang tidak baik atau bahkan menangis? Dengan cepat, Grizella berdiri dari kursi, berjalan berniat keluar dari ruang kelasnya dan menyusul Grizelle secepat yang dia bisa. Dia benar-benar khawatir, perasaan cemasnya terjawab sudah. “Mau ke mana Zella?!” Langkah Grizella terhenti. Gadis itu berbalik dengan cengiran lebar seolah tidak memiliki dosa. “Eh, saya kebelet, Bu. Sampe nggak sempet ingat harus pamit.” Tentu itu hanya alasan. Kenyataannya dia terlalu khawatir dengan keadaan Grizelle. Dia ingin cepat-cepat menemui adiknya! “Ya sudah, jangan bolos, ya!” ucap Bu Keti setuju. Grizella mengangguk dan segera keluar dari kelas tanpa peduli Loka dan Pita yang menatapnya penuh tanda tanya. °^°^°^°^°^°^° Grizella terus berlari menyusuri koridor berusaha mencari keberadaan saudari kembarnya. Demi apa pun, meski sudah ditusuk dari belakang, perasaan cemas dan khawatir miliknya tidak bisa dia abaikan begitu saja. Ikatan batin itu selalu ada, bahkan dia tidak bisa membenci adiknya itu. Grizella berbelok ke arah kiri, tepatnya menuju tangga yang akan membawanya ke rooftop sekolahnya. Entahlah, namun sepertinya itu tempat paling memungkinkan untuk menangis sepanjang hari. Grizella hanya berharap bahwa yang membuat saudari kembarnya menangis bukanlah Aarave. Kaki berlapis sepatu Vans itu mulai menapak di anak tangga pertama. Namun, ketika ingin kembali melangkah, tangannya dicekal dari belakang. “Jangan naik,” bisik seseorang yang ada di belakangnya. Grizella jelas langsung memutar kepala, menatap siapa yang menghalanginya. “Marva?!” Marva langsung membungkam mulut Grizella. “Jangan berisik!” ucap Marva dengan suara yang seperti tertahan di tenggorokan. Mata Zella jelas langsung melotot tajam, tangannya memegang tangan Marva yang membungkam bibirnya. “Kenapa?!” “Lo bakalan sakit.” Grizella tersenyum remeh. “Gue? Kenapa harus–” “Harus, karena di sana ada Aarave dan Grizelle,” potong Marva cepat. Sayangnya, Grizella tidak peduli. Dia hanya ingin memastikan keadaan adiknya, bukan untuk memedulikan dengan siapa adiknya sekarang! Gadis itu segera berlari menaiki tangga, membuka pintu besi yang sudah berkarat itu dengan kasar. “Udah gue bilang jangan, tapi lo nyari penyakit,” ucap Marva membuatnya semakin geram. Tangan Grizella mengepal erat menatap Grizelle yang kini berpelukan dengan Aarave. Pelukan yang berbeda dari biasanya, bahkan Grizella belum pernah dipeluk seerat dan selembut itu oleh Aarave. “Inget Zella, dia bahagia sekarang. Jangan merusaknya, okey?” katanya pada diri sendiri. “Lo mau pergi?” tanya Marva membuatnya tersadar. Grizella menatap Marva dalam, berusaha mencari sakit yang sama seperti yang dia rasakan. Namun, tidak ada. Mata Marva justru menyorot dengan rasa peduli ketika menatapnya. “Lo ... nggak sakit?” tanya Grizella sembari kembali menutup pintu besi itu. “Gue?” tunjuk Marva sambil tersenyum pahit. “Udah pernah, dan sekarang enggak lagi.” “Kenapa?” “Apanya?” “Kenapa harus putus sama Grizelle, Va? Kenapa lo mempermudah mereka bersama dan berhasil buat gue terluka?” Sialnya, isakan Grizella terdengar sekarang. Dia benar-benar tidak bisa menahannya. “Karena gue juga salah jalan, La. Yang gue suka ternyata bukan dia.” °^°^°^°^°^°^° Aarave tidak mengerti, Grizelle menangis tiba-tiba setelah dirinya menjelaskan tentang kejadian tadi pagi. Gadisnya itu mengira dia masih menyayangi Grizella layaknya seorang pacar. Sudah berkali-kali dia menjelaskan bahwa itu hanya sebuah bentuk kepedulian kepada sahabat, lagi pula Grizelle tampak khawatir dan membuatnya semakin yakin untuk melindungi Grizella. Soal Meli dan anak-anak lainnya, dia juga tidak mungkin melarang mereka berbicara begitu karena memang belum ada yang tahu putusnya dirinya dan Grizella. “Tapi mereka sangka kalian masih pacaran,” ucap gadis itu serak. Tenaganya terkuras karena harus berlari menuju rooftop setelah perdebatan mereka tadi. Aarave mendekat, meraih gadis mungil di depannya dan memeluknya dengan erat. “Sabar, ya? Aku bakalan buat mereka yakin kalau aku sama dia udah putus. Setelah itu, dua atau tiga bulan lagi kita publish hubungan kita.” “Aku nggak mau dikira pelakor, Rave!” Aarave mengangguk paham, tangannya mengusap lembut surai Grizelle. Namun, usapannya terhenti begitu pintu rooftop itu terbuka. Badannya menegang begitu tatapannya bertemu dengan Grizella, mantan kekasihnya. Entah kenapa, badan Aarave seolah ingin melepas pelukan antara dirinya dengan Grizelle. Kakinya seolah-olah ingin berlari ke sana, menjelaskan sesuatu yang jelas tidak akan berguna. Kini tangannya memegang kepala Grizelle dengan erat, agar gadis itu tidak melihat jika ada Grizella di balik tubuhnya. Namun, dia salah besar, Grizelle yang dia jaga justru tersenyum dengan tangan semakin erat memeluk. Dia merasakan itu, rasa bahwa Grizella-lah orang yang membuka pintu rooftop di belakang tubuhnya. Tidak hanya itu, kesialannya masih berlanjut, Aarave harus bersedia melihat Marva yang dengan seenaknya membalik tubuh Grizella, bahkan memegang kedua bahunya erat. Aarave tidak tahu, namun rasanya dia tidak bisa menerima begitu tahu bahwa Grizella seperti punya penenang lain selain dirinya. Ada sosok lain yang bisa bebas bersentuhan dan berinteraksi dengan Grizella. Apalagi sosok itu adalah Marva, mantan Grizelle yang sekarang menjadi pacarnya. “Aku tunggu kamu publish hubungan kamu sama kakak secepat-cepatnya. Aku nggak suka denger Aarave selalu diomongin cocok sama Grizella.” Aarave hanya mempu bergumam dengan napas terbuang kasar. Pintu rooftop kembali ditutup, membuatnya semakin penasaran dengan pembahasan Marva dan Grizella. Sialan! Aarave tidak cemburu bukan? Ini hanya rasa terhina karena Grizella seolah tidak pernah mencintai dirinya. Dia hanya merasa terhina karena sekarang Grizella tampak biasa saja setelah putus dengannya bukan? Iya, pasti iya! Aarave yakin sekali cintanya memang untuk Grizelle, gadis kecil yang memiliki senyum manis ini, cinta pertamanya. °^°^°^°^°^°^° Jakarta, 2014. “Sayang, bisa bantu Mama kasih kue ke tetangga sebelah? Kamu berdua sama Grizelle, ya?” tanya Rada kepada anak sulungnya. Matanya juga menatap Grizelle yang sedang asyik menghitung perkalian antar pecahan, pelajaran yang belum lama di dapatkan gadis itu di Bandung. “Boleh, Ma!” Grizella segera berdiri, meninggalkan buku ceritanya yang masih sisa setengah. Gadis yang tadinya berkucir kuda, kini rambutnya tergerai indah. Dia menatap kembarannya yang duduk di sebelahnya. “Ayo, Zelle! Siapa tahu ada temen baru di rumah sebelah!” Grizelle menggeleng. Gadis itu malah meletakkan dagunya di atas lengan. “Aku mau fokus ngerjain ini biar di sekolah baru nggak malu-maluin karena nggak bisa!” Rada tersenyum lembut, dielusnya pelan kepala si putri sulungnya sambil meletakan kue berukuran sedang di atas meja. “Ya, udah, kamu sendiri aja nggak papa, ‘kan?” Grizella pun mengangguk. Gadis itu membawa kue dari mamanya sambil bersenandung kecil. °^°^°^°^°^°^° “Permisi!!!” Grizella kecil berteriak dari depan gerbang setinggi dadanya. Cukup lama dia berdiri di depan gerbang, sampai akhirnya dia memilih membuka gerbang itu. Begitu kakinya tiba di depan pintu berwarna putih bersih, tangannya segera mengetuk dengan sedikit kesusahan karena membawa kue. “Permisi!!!” Cklek. Pintu terbuka, menampilkan sosok Soraya yang berambut pendek sepanjang bawah telinga. Soraya menunduk tersenyum menatap Grizella yang juga tersenyum. “Siapa kamu?” “Aku yang tinggal di sana, Tante!” jawab Grizella menunjuk rumah barunya dengan dagu. “Mama suruh aku sama kembaran aku anterin ini, tapi karena dia belajar, aku sendirian deh!” Soraya pun menerima sodoran kue yang Grizella berikan. “Wah, makasih, ya? Kamu mau masuk dulu?” Grizella kecil menggelengkan kepalanya. Gadis itu pun segera berpamit dengan begitu jujur kepada Soraya. “Enggak dulu, Tante, soalnya cerita aku belum selesai bacanya! Kalau besok aku ke sini, boleh?” Soraya tertawa pelan menanggapi Grizella. “Boleh, tapi kasih tahu dulu nama kamu siapa.” “Grizella, Tante.” °^°^°^°^°^°^°  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN