PART 26

1660 Kata
Setelah melaksanakan sholat Maghrib di Masjid Universitas, Mereka langsung menuju ke Gedung Olah Raga Universitas untuk melaksanakan gladi resik pembukaan acara Dies Natalis Universitas yang ke 51. Mereka menyiapkan peralatan yang diperlukan seperti sound system, lighting serta proyektor. Pelaksanaan gladi resik berjalan selama dua jam.  Sebelum pulang, mereka ber lima belas melakukan briefing terlebih dahulu untuk pelaksanaan besok dan kemudian dilanjut untuk meng-check kembali seluruh ruangan yang ada. Setiap ruangan menjadi tanggung jawab dua orang karena tidak semua ruangan langsung di pakai di hari yang sama. Sedangkan Fasa memutuskan untuk mobile me-monitoring setiap lokasi.  "Besok Mas jemput jam setengah enam ya, Dek!" ucap Fasa yang sedang mengendarai motornya untuk mengantarkan Aura pulang ke kosan nya. Tadi pagi mereka memang memutuskan untuk berangkat bersama.  "Iya. Tapi sebelum on the way ke kosan pokoknya harus nge w******p aku dulu ya. Biar Mas ntar nunggunya nggak kelamaan untuk aku siap-siap," pinta Aura dengan tegas karena Fasa sering sekali tiba-tiba sudah ada di depan rumahnya atau kosan nya.  "Siap calon ibunya anak-anak! By the way nggak usah dandan yang aneh-aneh aja kamu udah cantik, Yang!" ucap Fasa dengan semangat dan nada menggoda Aura.  Aura langsung memberikan hadiah cubitan pada pinggang Fasa yang sudah dilingkari oleh kedua tangannya. Sontak Fasa langsung mengaduh dan mengelus-elus tangan Aura. Aura memang sudah terbiasa seperti itu kepada Fasa dan tentunya sang lelaki yang berada di depannya tersebut juga tidak pernah protes tentang kelakuannya yang kalau di bilang oleh anak-anak cowok tim bidang perlengkapan termasuk bibit-bibit KDRT.  Lima belas menit kemudian, Motor Fasa sudah berhenti di depan kosan Aura. Aura turun dari motor Fasa dengan dibantu Fasa yang menggeggam tangan Aura agar perempuan yang ia sukai tersebut tidak hilang keseimbangan.  "Besok berangkat pakai motorku aja ya, Mas. Susah deh aku naiknya kalau pakai ini besok apalagi dress cloth nya yang cewek wajib pakai rok," ucap Aura dengan memelas.  "Oke. Besok motornya Mas tinggal di sini aja ya. Lagian lebih enak naik motormu juga. Soalnya ini susah juga buat angkut-angkut barang," ucap Fasa setuju dengan permintaan Aura.  "Siap. Makasih Masnya aku yang baik," ucap Aura dengan mata berbinar.  "Pingin bilang 'sama-sama sayangnya Mas' tapi takut kamu ilfeel malahan, Haha," ucap Fasa dengan terkekeh dan mengusap kepala Aura yang sudah terlepas dari helm.  "Ehm, Mas!" Deham Aura dengan ragu.  "Iya kenapa, Dek?" jawab Fasa dengan lembut karena ia tahu Aura sebenarnya ingin membicarakan suatu hal yang serius tapi ragu untuk menyampaikannya kepada dirinya.  Aura terdiam beberapa saat dan menatap mata Fasa dengan dalam. Fasa mengukir senyuman di bibirnya yang menandakan bahwa ia siap mendengarkan apa yang akan Aura katakan kepadanya.  "Hmm, aku mau tanya sesuatu tapi Mas jangan tersinggung ya," ucap Aura dengan menunduk.  "Silahkan! Mas akan jawab pertanyaan adek sejelas mungkin. Mau tanya apa?" ucap Fasa mempersilahkan dengan lembut dan menggenggam kedua tangan Aura.  "Mas! Gimana ya ngomongnya... Ehm, selama ini perasaan Mas ke aku tuh beneran atau cuma candaan guyon aja? Pliss jangan tersinggung ya!" ucap Aura dengan terbata-bata dan panik. Lalu ia menatap Fasa dengan khawatir dan mengeratkan kepalan tangannya yang telah di genggam oleh Fasa.  Fasa langsung mengelus-elus kepalan tangan Aura dan menatap Aura dengan dalam, "Mas serius dengan perasaan, Mas. Tapi Mas nggak mau memaksa adek untuk segera menyambut perasaan, Mas. Mengalir aja tapi Mas juga tetap berusaha membuat adek pelan-pelan menerima kehadiran, Mas. Makanya Mas selalu bikin itu sebagai candaan biar adek nggak risih sama, Mas". Aura langsung mendongak memandang wajah Fasa untuk melihat keseriusan lelaki yang sudah 3 bulan ini selalu berada di dekatnya. Dia sebenarnya peka dengan kode-kode yang selalu Fasa layangkan selama ini kepadanya. Tapi entah kenapa ia masih belum yakin dengan lelaki yang mengaku meyukainya ini. Ia merasa harus mengenali Fasa sampai ke seluk beluk nya. Ia ingin mengetahui semua tentang Fasa karena ia menginginkan jika memang ia sudah yakin dengan Fasa dan menerima lelaki tersebut maka ia akan fokus pada Fasa hingga akhir. Ya, dia tidak mau terjerumus ke lubang yang sama seperti dengan yang sebelumnya karena jika ia sudah menyayangi dan mencintai seseorang bucin nya sangat keterlaluan dan akan menjadi sangat posesif pada orang tersebut. Mungkin dia menjadi seperti itu karena sudah pernah ditinggalkan oleh orang yang terpenting di hidupnya dalam umur yang masih belia. Maka dari itu ia tidak mengalami hal yang sama. Jika menjalin hubungan hanya untuk main-main pebih baik tidak sekalian dan memilih jadi jomblo saja until halal. Ia tidak mau lelah-lelah melewati fase move on dan harus mengenali orang baru lagi dari awal. Itulah yang jadi penyebab ia menanyakan keseriusan Fasa. Walaupun hati manusia dapat dengan mudah di bolak-balikkan oleh Allah SWT, tapi setidaknya jika sekarang Fasa memiliki pikiran ke arah situ berarti tidak ada main-main untuk hubungan yang akan mereka jalani ke depannya.  "Maaf ya, Mas. Aku udah bikin Mas nunggu lama dan nggak ngasih kepastiannya kayak gimana selama ini," ucap Aura dengan mata berkaca-kaca.  "Aku memang nggak mau janjiin bahwa akan selalu menjadi yang terbaik buat kamu karena aku pun juga bukan manusia yang sempurna. Tapi aku akan selalu berusaha melangkah sama kamu. Saling memahami, saling mengerti, menjadi teman diskusimu. Kalau sekarang jelas aku belum punya niat untuk menikah karena belum siap secara batin, fisik, psikis, dan material tapi aku berharap kamu mau menemani aku berproses sampai akhirnya aku resmi melamarmu sebagai istriku," terang Fasa dengan menatap dalam mata Aura dan tersenyum tulus. Akhirnya ia merasa lega karena dapat mengutarakan apa yang ia rasakan untuk Aura selama ini. Ya, ia memang ingin serius menjalin hubungan dengan Aura.  Aura yang mendengar perkataan tulus dari Fasa merasa sangat terharu dan tersentuh. Ia tidak menyangka Fasa yang sering melayangkan candaan dan menjahili dirinya selama ini memiliki niat yang serius dengannya. Air mata yang sedari ia tahan langsung luruh begitu juga menghiasi kedua pipinya.  "Eh, kok malas nangis sih!" ucap Fasa dengan panik dan mengusap Air mata Aura dengan ibu jarinya. Ia tidak menyangka malah akan membuat Aura menangis malam ini. Untung saja lingkungan di sekitar mereka sepi jadi tidak akan memicu pertanyaan orang lain apa yang terjadi diantara mereka berdua saat ini.  "Mas aku mau-" ucap Aura yang masih sesenggukan namun telah di potong oleh Fasa yang menggelengkan kepalanya.  "Biar Mas yang mulai. Untuk sekarang nggak ada lagi candaan dan guyonan," ucap Fasa tersenyum sumringah, "Mas mau menjadikan kamu pacar Mas!". Aura malah tertawa renyah, " Haha. Iya iya aku mau jadi pacar Mas Fasa ini," dengan geli dan menatap Fasa dengan bahagia.  "Kok ketawa sih? Kan Mas ini ngomong serius, Dek!" ujar Fasa dengan mengernyitkan keningnya. Ia takut perkataannya salah saja dan malah dikira candaan lagi oleh Aura.  "Muka Mas lucu banget udah gitu kata-katanya baku pula. Nggak style Mas Rafa banget," ucap Aura dengan geli, "ini nggak usah ngerut-ngerut gitu dong!" dengan mengusap kening Fasa.  Tiba-tiba sorot lampu motor menyinari mereka berdua. Mereka langsung canggung satu sama lain. Lebih tepatnya malu karena ketahuan dengan orang lain. "Mohon maaf ya adek-adekku! Kakak mau lewat terlebih dahulu," ucap Ida dengan sok sokan spaneng. Ida adalah salah satu anak kos-kosan Aura. Dia adalah mahasiswa kedokteran yang sedang melanjutkan sekolahnya untuk mendapatkan gelar dokter spesialis. Umurnya sudah 30 tahun dan sudah bersuami juga satu tahun yang lalu. Dia adalah tetua pada kos-kosan Aura.  Fasa langsung meminggirkan motornya untuk memberi akses Ida masuk ke parkiran kos-kosan. Sedangkan Aura dari tadi menatap pergerakan Ida dengan gugup. Ia takut kakak kos-kosan nya ini akan menjahili mereka setelah memasukkan motornya seperti yang terjadi pada teman-teman kosnya yang lain.  "Silahkan dilanjutkan lagi ya! Tapi jangan sampai larut malam berduaan nya. Takut ada setan yang jadi orang ketiga. Ntar pagarnya jangan lupa di gembok ya, Ra!" ucap Ida dengan tatapan menggoda yang ia berikan kepada Aura.  "Siap, Mbak! Udah sana masuk!" ucap Aura dengan sebal tapi pipinya bersemu merah.  "Haha! Iya-iya Mbak masuk," ucap Ida dengan tawanya sembari mengambil bungkusan martabak yang ia gantungkan pada cantelan motor untuk disantap bareng-bareng dengan anak kosan lainnya, "yang sabar ya, Dek. Rada galak itu anaknya" lalu langsung berjalan masuk ke dalam.  Fasa tertawa saat mendengar petuah dari teman kos-kosan Aura tersebut. "Ternyata kamu emang terkenal galak dimana-mana ya". "Apaan sih? Udah sana pulang, Mas!" omel Aura dengan salah tingkah dan mendorong Fasa ke motornya.  "Jadi sekarang kita udah pacaran kan?" ucap Fasa dengan terkekeh. "Hmm! Udah pulang sekarang!" jawab Aura dengan mengalihkan pandangan Fasa ke arah lain.  "Iya deh iya, Haha. Mas pulang dulu ya. Besok pagi Mas kabari kalau mau ke sini," ujar Fasa mengalah dan naik ke motornya.  "Oke. Mas hati-hati ya. Nggak usah ngebut-ngebut," nasehat Aura dan menatap Fasa.  "Iya Sayang. Udah sana masuk!" perintah Fasa dengan senyumnya yang mengembang dan menepuk kepala Aura dengan pelan.  Aura langsung berjalan ke dalam dan menunggu Fasa pergi di dekat pagar. Fasa sudah menyalakan motornya. "Mas pulang dulu ya. Assalamu'alaikum!"  "Iya, Wa'alaikumsalam. Hati-hati!" jawab Aura sembari melambaikan tangannya mengiringi kepergian Fasa. Setelah Fasa menghilang dari pandangannya, ia langsung menggembok pagar dan masuk ke dalam.  Ternyata di ruang tamu ada teman-teman kos nya yang sedang berkumpul menonton film di televisi yang memang disediakan untuk anak-anak kos dan ditemani martabak manis plus martabak telor yang dibawa oleh Mbak Ida.  "Cihuy! Ada yang baru jadian lho gaes!" ucap Fiza dengan semangat dan pura-pura tidak melihat Aura.  "Wah siapa tuh?" timpal Ida dengan sok penasaran.  "Eh anak ibu kos udah pulang ya. Kok lama tadi di luarnya, Bun?" tanya Nafi dengan menggoda.  Aura yang sudah tahu akan mendapatkan godaan seperti ini sejak tadi Ida datang, " Awas ya kalian! Ku usir dari sini kalau rese begini!" Gelak tawa langsung menggelegar memenuhi ruang tamu kos kosan keluarga Aura.  Well, I will call you darlin' and everything will be okay 'Cause I know that I am yours and you are mine Doesn't matter anyway In the night, we'll take a walk, it's nothing funny Just to talk Put your hand in mine You know that I want to be with you all the time You know that I won't stop until I make you mine You know that I won't stop until I make you mine Until I make you mine(Make You Mine-PUBLIC)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN