Makan siang bersama yang terlambat akhirnya terselenggara dengan ditemani pemutaran film bajakan yang berada di Flash disk Dimas melalui proyektor ruangan (jangan di contoh ya gaes! Usahakan menonton versi originalnya ya. Wkwk) Hitung-hitung sembari meng-check kelayakan proyektor yang ada dan mengurangi kesuntukan mereka dalam memecah waktu sampai Maghrib.
Mereka ber lima belas duduk berjajar rapi lesehan di lantai. Para laki-laki menunggu pembagian nasi padang dan kopi dari para wanita. Benar saja akhirnya Raga memutuskan untuk mengganti uang empat ratus ribu yang tadinya digunakan untuk pembelian makanan tersebut.
"Kok makan seblak sih!" protes Dino saat Difa mengangsurkan dua porsi bungkus seblak dan satu gelas cup kopi Janji Palsu pada dirinya.
"Kan kamu tadi bilangnya terserah," ucap Difa dengan datar.
"Kan aku tadi udah bilang ganti nasi padang kayak biasanya aja, Bi," ucap Dino dengan menatap Difa memelas.
"Ya makan itu dulu aja. Aku lupa tadi. Ntar kalau ada sisanya aku kasih ke kamu," balas Difa dengan menatap tajam Dino.
"Haha! Calon bini ngambek tuh," ledek Dimas yang duduk di samping Dino saat Difa sudah meninggalkan mereka.
"Halah meneng wae kowe, Dim! Nek iri mbok golek kono," (Halah diem aja kamu, Dim! Kalau iri sana cari) jawab Dino dengan menatap malas Dimas.
"Ro Ayu wae lah ya. Kan ijih jomblo," (Sama Ayu aja lah ya. Kan masih jomblo) ucap Dimas dengan menaik turunkan alis nya.
"Nek nggo dolanan mending rasah. Galak ngono bocahe!" (Kalau buat mainan mendingan nggak usah. Galak gitu anak nya!) komen Rafi yang duduk di sebelah kanan Dino dengan menatap tajam Dimas.
"Ra gur Ayune sing galak. Pawange yo galak barang. Mundur wae mendingan kowe, Dim! Golek sek liyane wae," (Nggak cuma Ayu nya yang galak, pawang nya galak juga. Mundur aja mendingan kamu, Dimana! Cari yang lain nya aja) goda Ridwan dengan tawanya.
"Lho kan muk kancane. Sek penting mah perasaan e Ayu wae. Yo ra, Bro?" (Lho kan cuma temen nya. Yang penting mah perasaan nya Ayu aja. Ya nggak, Bro?) ucap Dino sembari merangkul Rafi.
Mereka berempat sontak tertawa saat melihat ekspresi wajah Rafi yang terlihat sepet dan kesal. Terlihat sekali Rafi ingin marah tapi memang kenyataannya dia tidak punya hak untuk marah. Dia sering sekali menjadi bahan olok-olokkan para geng lelaki tim bidang perlengkapan ini. Sebenarnya Fasa juga bernasib sama sepertinya, tapi karena Fasa adalah tetua di tim ini jadi tidak ada yang berani meledek nya. Lagian Fasa jika di ledek oleh yang lain bukan nya sepet malah senang dan semakin menunjukkan kebucinan nya kepada Aura sampai-sampai mereka yang meledek malah muak melihat pasangan absurd tersebut.
Tiba-tiba Dimas mengaduh saat kupingnya di jewer oleh seseorang yang pelakunya tak lain adalah Ayu, "aku yo ra gelem nek karo kowe. Dasar buaya banyu peceren!" (Aku juga nggak mau kalau sama kamu. Dasar buaya got).
"Yu, loro banget asli! Pedes men tanganmu," pekik Dimas saat Ayu sudah melepaskan jeweran nya dari kuping kanan Dimas. Ia langsung mengusap-usap kuping tersebut yang sudah memerah.
Sontak satu ruangan menjadi ramai dengan gelak tawa mereka. Para tetua hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat para adik tingkat mereka tersebut.
"Sedih ya kalau ntar rangkaian acara Dies Natalis nya udah selesai. Nggak bakalan ada lagi rame-rame begini," ujar Lifa dengan menghela napasnya.
"Masih bisa kok. Mereka mah diajak makan keluar aja langsung ngumpul," ucap Raga dengan menatap Lifa dengan senyuman tipis nya. Ia tahu Lifa sebenarnya kesepian hidup di Jogja. Maka dari itu ia selalu mengusahakan berada di samping Lifa setiap harinya.
"Nggak mau ya aku kalau dengan cara kamu yang bayarin makanan p pacar anya mereka! Mending nggak usah sekalian," jawab Lifa dengan tegas dan menyilangkan kedua tangannya di d**a.
"Ya sekali-kali aja Mas traktir. Yang lainnya mereka biar bayar sendiri," ucap Raga dengan menggenggam tangan Lifa.
"Dahlah gelap! Dimana-mana aku hanya menjadi saksi pasangan bucin. Pindah yuk, Mas!" ucap Aura yang duduk di samping Lifa dengan mengajak Fasa yang duduk di sampingnya.
"Maka nya jadi pacarku biar bisa nge bucin juga kita," ucap Fasa dengan menggoda Aura dan Mengerlingkan matanya.
"Kuat ke imanmu Gaes! Tetap fokus menonton film dengan menyantap nasi Padang mu. Mburi ono buaya peceren tebar pesona njok nang ngarep ono kadal buntung lagi ngebet arep pacaran check!" ucap Raja dengan lantang. Sontak mendapatkan respon sorakan "ciye-ciye" Yang dibarengi dengan tawa oleh yang lain.
Aura langsung menabok lengan tangan Fasa hingga terdengar bunyi plak menggema pada ruangan mereka. Aura yang tidak menyangka jika tabokan nya akan sekeras itu langsung meminta maaf pada Fasa dan mengusap-usap lengan Fasa yang sudah memerah.
"Pantes lah nek wedhok-wedhok sek mlebu tim kita mereka cucok banget. Antep-antep ngono cuy tanganne. Ngeuri!" (Pantesan cewek - cewek yang masuk tim kita cocok banget. Mantap - mantap gitu tangan nya. Ngeri!) komen Irsyad yang sepantaran satu angkatan dengan Lifa dan Aura, "asem keceplosan! Ampun-ampun Bu ibu" sembari menutup mulutnya.
Langsung saja para geng cewek-cewek menyerang Irsyad tanpa ampun. Irsyad hanya bisa mengaduh ketika merasakan adanya cubitan, geplakan, dan jeweran yang dilayangkan kepadanya dari ke empat perempuan tim bidang perlengkapan yang strong dan bar bar tersebut.
Beberapa dari mereka sudah menyelesaikan santapan nasi padang nya. Sedangkan Dino terlihat ogah-ogahan menyantap seblak di hadapannya. Mana masih ada satu bungkus lagi yang belum ia makan. Difa yang duduk santai di sampingnya sedari tadi menyantap nasi ayam geprek dengan khidmat.
"Bi, Suapin nasi mu," ucap Dino dengan mengarahkan tangannya pada mulut nya.
Difa yang melihat wajah memelas Dino akhirnya tidak tega menjahili pacar nya. Ia langsung mengangguk namun setelah itu bukannya mendapat suapan dari Difa. Difa malah berjalan ke meja tempat para kresek-kresek makanan berada.
"Nih ada nasi padang kesukaanmu. Itu yang satu porsi punyaku, Bi" ucap Difa setelah kembali dengan memberikan satu bungkus nasi padang kepada Dino yang cengoh menatapnya dan kemudian ia mengambil satu bungkus seblak milik nya ke hadapannya.
"Ya Allah! Sabar! Sabar! Kamu kalau lagi PMS nyebelin banget ya, Bi" ujar Dino dengan frustasi dan mengelus d**a nya.
"Haha! Kapokmu kapan, No No!" ledek Rafi dengan senang.
"Udah diem deh kalian. Baru bagus-bagusnya tuh film. Ganggu aja," celetuk Ayu dengan menatap tajam Dino dan Rafi.
Dimas, Ilham, dan Raihan yang berada di sekitar mereka hanya dapat menahan tawa nya. Memang di sini sepertinya banyak bibit-bibit calon suami-suami takut istri dan pastinya ke empat perempuan yang ada adalah calon istri-istri plus emak-emak galak nan bar-bar.
Setelah semua sudah selesai makan. Mereka memutuskan untuk melaksanakan sholat ashar berjamaah di dalam ruangan tersebut. Mereka tidak ikut melaksanakan sholat berjamaah di musholla Rektorat karena sekarang sudah menunjukkan pukul 16.37 WIB dan jarak untuk ke musholla Rektorat dari gedung utama Rektorat lumayan juga. Jadi mereka memutuskan untuk sholat di dalam ruangan tersebut karena ruangan itu juga sudah dibersihkan serta pada bagian belakang ruangan itu terdapat space kosong yang steril dari makanan dan pijakan alas kaki mereka. Ya karena selama mereka di dalam ruangan tersebut memang harus melepas sepatu.
TBC