Hari ini tim bidang perlengkapan mendekorasi ruangan yang kemaren belum sempat tekdekor karena waktu sudah sangat larut. Masih ada empat ruangan lagi yang belum tersentuh dekorasi dan nanti malam setelah maghrib juga akan diadakan gladi resik agar acara pembukaan Dies Natalis Universitas yang akan berlangsung besok dapat berjalan dengan lancar.
Ke empat ruangan tersebut akhirnya sudah selesai juga di dekorasi dengan rapi. Sekarang masih menunjukkan pukul 14.00 WIB. Mereka ber lima belas sedari tadi belum melaksanakan makan siang. Terlihat raut wajah lelah dari para kaum lelaki. Ya, mereka ber sebelas sedari pagi sudah berada di lokasi karena mengurus tenda yang akan di pasang dan membersihkan rumput tinggi yang berada di lapangan olahraga.
"Emang kayaknya bidang perlengkapan tuh paling sibuk dari awal sampai akhir ya, Mbak. Mana tukang angkut-angkut pula. panteslah kalau isinya kebanyakan anak Fakultas Keolahragaan sama Fakultas Teknik nih tempat kita. Cuma kita berempat aja yang kepretan di sini," ucap Ayu yang sudah selonjoran di panggung.
"Mungkin yang bikin capek banget sekarang karena acaranya gedhe, Yu. Jadinya riweuh banget," ujar Lifa dengan menatap Raga yang sudah tiduran di atas kursi-kursi yang sudah mereka tata sebelumnya. Hampir semua lelaki sudah tertidur di deretan kursi-kursi. Hanya ada dua nyawa yang masih terjaga dengan mata yang fokus pada hand phone nya yaitu Rafi dan Doni.
"Eh kalian nggak pada laper kah?" tanya Aura dengan lemas.
"Laper banget, Mbak. Aku nunggu-nunggu siapa yang mau ngajak makan dari tadi," ucap Difa dengan mata berbinar.
"Yuk cari makan! Sekalian beliin buat mereka. Kita makannya di sini aja bareng-bareng sama yang lain," ajak Lifa dengan semangat.
"Mau kemana geng ciwi-ciwi rempong?" tanya Rafi saat mereka berempat melewati Rafi dan Doni yang delosoran menutupi jalan.
"Heuh! Kalian tuh di tengah jalan. Mbok minggir ngono lho!" ucap Ayu dengan menatap malas dua sejoli gamers itu yang tidak di gubris oleh kedua lelaki tersebut.
"Kita mau cari makan. Kamu mau titip apa?" tawar Difa dengan menatap Doni.
"Ngikut aja sama kalian yang penting porsi cowok," jawab Doni dengan pandangan yang tidak terlepas dari layar hand phone nya.
"Beneran mau kayak gitu? berarti kalau kami mau beli seblak aku beliin dua porsi ya," ucap Difa dengan menghela napasnya.
Doni langsung mematikan hand phone nya dan menatap Difa dengan dalam, "Nasi padang kayak biasanya aja" dan mendapatkan balasan deheman dari Difa dan melangkah keluar dari ruangan tersebut.
Ke empat orang yang berada di sekitar dua sejoli yang berstatus pacaran itu hanya bisa menyaksikan interaksi dingin diantara ke duanya. Rafi pun akhirnya mematikan hand phone nya dia tidak mau terkena semprot dari Doni setelah ini.
"Nah lho marah kan doi! Makanya jadi cowok tu peka sama ceweknya. Jangan nge game mulu," ucap Ayu dengan nada mengejek.
Aura dan Lifa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah empat adik tingkatnya tersebut. Memang selama tiga bulan mereka bersama di bidang perlengkapan ini ada banyak kisah yang terjadi salah satunya ya terjadinya percintaan baru kahanan keseringan bersama.
Tak lain seperti ada Lifa dan Raga yang akhirnya baru berpacaran dua minggu yang lalu, Doni dan Difa yang sudah jadian mendahului para tetuanya yaitu sejak 1,5 bulan yang lalu, Kedekatan Aura dengan Fasa, Lalu kelakuan Ayu dan Rafi yang seperti musuh bebuyutan tapi terlihat sekali diantara keduanya saling peduli satu sama lain. Bahkan tim bidang perlengkapan juga mendapat label tim teramai dan tersolid dibandingkan tim-tim lainnya. Ya bagaimana lagi, hampir setiap hari mereka bertemu untuk rapat atau pun melakukan survey-survey. Tak heranlah kalau kekeluargaan mereka kuat. Para kaum perempuan yang berada di tim bidang perlengkapan sangat beruntung sekali diperlakukan dengan baik oleh mereka.
"Mau makan apa nih kita? " tanya Difa sembari menyalakan mesin mobilnya.
"Kalian mau apa? Nasi atau yang berkuah atau mie-mie an?" tanya Aura yang duduk di kursi penumpang samping Difa.
"Aku pingin seblak sebenernya, Mbak. Haha," ucap Difa dengan terkekeh.
"Ah elah jadi tadi kamu ngomongin seblak ke Doni gegara baru nyidam," ejek Ayu dengan menggoda.
"Nggak ya. kesel aja sama dia yang nggak jelas mau makan apaan. Makanya aku bilang kalau mau beli seblak. berarti ntar aku beliin dia dua porsi karena dia minta porsi cowok sedangkan dia tuh nggak kuat sama pedas," elak Difa dengan runtut.
"Aku kok pingin yang berkuah ya. Tapi ntar bingung makannya gimana," ucap Lifa.
Akhirnya mereka memutuskan untuk membeli nasi padang, seblak, dan ayam geprek. Ditambah pula dengan membeli kopi Janji Palsu agar para lelaki menjadi melek saat gladi resik. Setelah mendatangi satu persatu lokasi makanan yang mereka inginkan, Difa langsung menjalankan mobilnya untuk kembali ke kampus.
Saat mereka tutn dari mobil, ternyata berpapasan dengan dua orang dari tim acara yang akan mengantarkan flashdisk berisi file yang nantinya akan di copy ke komputer yang berada di setiap ruangan.
"Kalian beli makanan sebanyk ini?" tanya Fasa yang berada di Lobby gedung.
"Laper kita, Mas. Ini kita juga udah beliin buat kita semua kok. Aman udah perut-perut kalian," jawab Ayu dengan mengangkat kresek yang berisi bungkusan nasi padang.
"Ini ada titipan dari anak tim acara," ucap Aura sembari mengangsurkan flashdisk yang telah diberikan kepadanya tadi.
"Oh udah ternyata. Tahu gitu aku nggak usah turun buat nyamperin mereka," jawab Fasa sembari menerima flashdisk.
Aura yang gemas dengan tingkah Fasa langsung menabok lengan Fasa dan memberikan bungkusan kopi Janji Palsu kepada lelaki tersebut. Fasa langsung mengejar Aura yang sudah berjalan duluan ke arah lift.
"Nggak usah ngambek dong, Yang!" goda Fasa dengan bersandar pada dinding lift.
"Anjirr! Gilo aku karo kowe, Mas!" ucap Difa dengan merinding.
"Halah, Ra ngoco! Kowe ro Dino yo podo wae, Dif," balas Fasa dengan mendengus.
"Masih mending akulah! Kan udah resmi pacaran Bos!" ledek Difa dengan senyum smirk nya.
"Tapi pancen gilani sih, Mas!" ujar Lifa dengan bergidik ngeri.
Aura yang menjadi topik utama mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Nasib banget mendapatkan orang-orang gesrek seperti mereka. Setiap hari tidak ada yang namanya ketenangan. Mereka selalu memiliki cara-cara aneh untuk membuat keramaian. tapi yang paling sering terjadi ya adu bacotan satu sama lain.
"Ini belinya pakai uang siapa?" tanya Fasa yang sudah menjadi mode serius.
"Pakai uang sisa anggaran kemaren, Mas!" ucap Lifa yang diberi amanah sebagai bendahara tim bidang perlengkapan.
"Nanti bilang ke anak-anak buat ganti ya, Lif!" pinta Fasa dengan tegas.
"Jelas nek itu, Mas! Enak aja kalian mau bikin aku keimpungan mikirin duit yang harus dibalikin lagi," dumel Lifa dengan sebal.
"Kan ada Aa' Raga yang tajir, Mbak. Bisalah kalau cuma ganti empat ratus ribu," ucap Ayu dengan menaik turunkan alisnya.
"Bener banget tuh, Mbak! hitung-hitung traktiran di tanggal tua. Sedekah ke anak rantauan kan pahalanya tetep sama aja," ucap Difa mengompori Lifa agar membujuk Raga.
"Kalian ngomong sendiri! Aku nggak mau berurusan hal beginian sama dia," ucap Lifa dengan menghela napasnya.
Ya, Raga memang berasal dari keluarga yang sangat berada. Ayah Raga adalah salah satu duta besar perwakilan Indonesia di Polandia. Namun Lifa baru mengetahuinya akhir-akhir ini. Pantas saja pacarnya itu sering sekali memberikan barang-barang branded untuknya dengan embel-embel hadiah darinya. Padahal Lifa tidak senang dengan Raga yang seperti itu. Menurutnya terlalu berlebihan dan membuatnya bingung untuk membalasnya lagi karena jelas saja ia tidak mampu membelikan barang-barang branded seperti itu untuk Raga. Raga sudah memberitahu padanya untuk tidak perlu membalas hal tersebut. Namun Lifa dengan ego dan gengsi tingginya jelas saja tidak akan mematuhi perkataan Raga dengan mudah.
TBC