Membujuk

1391 Kata
Aisyah menoleh ke arah Bella yang cekikikan ketawa sendiri. Lamunannya buyar oleh sahabatnya yang asyik tertawa menatap layar ponsel dengan jemari yang tidak berhenti di atas sana. "Hussstttt!" tegur Aisyah. Bella yang mendengar, menolehkan kepalanya ke arah Aisyah. Ia bertanya lewat dagu yang terangkat. "Tuh, pak supir sampai bergidik ngeri mendengar tawamu di pagi buta ini," jawab Aisyah melirikkan netranya ke arah depan. Mereka sedang di dalam taksi online yang melaju sedang menuju rumah. Aisyah yang memesannya segera, setelah beberapa menit tiba di terminal bis. Bella bukannya sadar malah tertawa terbahak. "Pak Supir tenang saja. Saya masih waras. Nih, saya lagi asyik baca komen lucu di hape," jawabnya tanpa sungkan malah menegur Pak Supir yang duduk di depan kemudi seraya menunjukkan layar ponselnya yang menyala. "Iya, Mbak. Saya ngerti. Cuma ketawanya bikin saya merinding." Jawaban Pak Supir refleks membuat Aisyah mengulum senyum. Apalagi mendengar sahutan Bella yang terdengar ketus. "Memangnya saya Kunti apa. Ini kan bukan tengah malam." Ia kembali menatap ponselnya. "Aku ngakak baca komentar Wiwin di kolom komentar akun Gosip Terkini. Nih!" Bella memberikan ponselnya ke Aisyah. Lagi-lagi video viral Irwan yang ditonton Bella. Ia bukan melihat video itu berulang kali, tapi kolom komentar di sana yang menariknya tetap membuka postingan tersebut. [Gue kenal nih cowok. Suka sekali minjam uang sama ceweknya. Kalau datang ke rumah ceweknya nggak lengkap tanpa ngutang. Parah sih. Bahkan slogan yang tepat buat dia itu adalah nggak ngutang nggak hidup. Cocok banget buat dia. Wajarlah si cewek nagih. Wong utangnya aja dari beberapa tahun yang lalu belum dibayar. Diendapkan dengan dijanjiin nikah, eh malah nikahi cewek lain. Anj*ng, gue ngumpat kan! Kesel gue. Secara gue udah curiga nih cowok pasti nggak bener. Awas aja kalau ketemu, gue bejek-bejek!] Aisyah kenal betul akun dengan foto profil perempuan mengenakan kacamata. Dia salah satu pegawai online shop-nya. Tentu saja Wiwin mengenal dan bahkan berkomentar kasar begitu di akun Gosip Terkini karena Wiwin tahu dan sering melihat Irwan mampir ke rumah yang sekaligus dijadikan Aisyah toko online shopnya. Aisyah menggelengkan kepala dengan senyum tipis setelah membaca komentar Wiwin. Masih banyak komentar sadis lainnya yang masuk di postingan tersebut. Namun ia enggan tuk membacanya. "Lucu kan? Aku udah komen juga di sana. Melampiaskan uneg-uneg dan kekesalanku sama dia. Sekalian ku unggah catatan utangnya yang berupa fotokopian itu. Makin banyak yang percaya, dan menghujat Irwan setelah melihat foto tersebut." "Hah! Kamu unggah ke …." Aisyah membelalakkan matanya tak percaya. Bella mengangguk lemah. Rasa takut seketika menyergapnya. "Kok nggak bilang?" Wajah Aisyah berubah. Nada bicaranya meninggi. Bella sampai memundurkan duduknya mendekati pojok kursi hingga bagian belakangnya menyentuh pintu mobil. "Ke-napa? Nggak boleh ya? Maaf," gumam Bella lirih, ia tak enak hati pada sahabatnya. Bella menyesal tidak izin dulu dengan Aisyah. Bagaimanapun juga itu ranah pribadinya. Aisyah mengembuskan napas kasar mencoba mengontrol emosinya. "Bukan begitu, cukup akun Bunga saja yang mempermalukan dia, kamu jangan ikut-ikutan. Kalau dia tidak suka dan melaporkanmu dengan kasus pencemaran nama baik, gimana? Aku nggak mau kamu terlibat masalahku." "Uh … Sayang, maaf." Bella memeluk Aisyah. "Tenang saja, aku nggak papa kok kalau sampai dilaporkannya. Lagian itu bukti nyata, bukan hoax. Kalaupun dilaporkan, justru dialah yang bakal masuk penjara." Bella terharu mengetahui Aisyah malah mengkhawatirkannya. Ia kira Aisyah tadi mau marah atas tindakannya yang tanpa izin mengunggah foto tersebut. *** "Bel, kapan pulang?" Wiwin bertanya penasaran melihat Bella berbaring di sofa ruang tengah. Ia menghampirinya. "Baru. Izin bentar, tiduran." Bella kembali memejamkan matanya. "Ya, silakan." Wiwin memilih duduk di seberang Bella. "Eh, aku baca komen kamu di akun itu," timpal Bella yang tetiba bangun dan memilih duduk. "Keren," lanjut Bella mengacungkan jari jempolnya. "Hah? Oh, itu. Habis aku kesel. Bos gimana? Dia sedih? Nangis atau?" "Biasa aja. Kan kamu lihat videonya. Keren nggak? Keren lah! Dia menyusun rencana yang nggak terbayang olehku. Bikin karangan bunga yang anti-mainstream. Terus nagih utang di depan umum sampai mukanya si Irwan merah padam. Entahlah itu dia marah atau malu. Mungkin dua-duanya." "Terus, karangan bunganya masih ada nggak disitu waktu kalian pulang?" Secara tuh papan karangan ikutan viral juga. Aku awalnya belum ngeh siapa nama yang disebutkan di karangan bunga itu, sampai pas melihat wajah Irwan di video tersebut, baru kenal." Wiwin tampak antusias menimpali. "Udah nggak ada. Kayaknya udah dibuang atau diamankan mungkin, karena waktu kami keluar dari gedung itu, sudah tidak terlihat lagi karangan bunga tersebut di samping depan pintu masuk." "Oh gitu, sayang ya, tapi aku tetap dukung bos. Itu sudah tindakan yang tepat. Utang harus ditagih. Enak aja. Bos kita yang kerja keras, eh malah cewek lain yang dinikahi. Sampai rela menunda kuliah. Itu nyesek Bel. Kamu kalau lihat wajah bos sebelum pergi ke kotamu, hm …," jedanya seraya menggelengkan kepala. "Pasti ikutan sakit, Bel." Mengarahkan telunjuknya ke d**a. "Memang Bos kenapa?" "Mata Bos bengkak. Kayak habis nangis. Waktu aku tanya, ia bilang sakit mata. Aku percaya aja dan malah nyuruh Bos segera ke dokter mata dulu. Kan aku nggak tahu kisahnya waktu itu. Aneh sih waktu dia cerita mau nyusul kamu ke sana buat nengokin bibimu. Kukira kondisi bibimu tambah parah, eh ternyata …." "Ya sudahlah. Jangan bahas lagi tentang video itu atau apapun yang berkaitan dengan Irwan. Ingatin anak yang lain. Takutnya mereka malah keceplosan. Kita harus bersikap biasa saja dihadapan Aisyah. Aku yakin Aisyah masih sedih, hanya saja dia menutupinya. Nggak gampang loh melupakan hubungan yang sudah berjalan selama lima tahun." "Sip." *** Aisyah mencoba berbaur dengan pegawai yang sudah dianggapnya sebagai keluarga sendiri di gudang barang--tempat pengepakan atau penyimpanan barang yang masuk. Ia ikut membantu, bertanya tentang perkembangan jualannya dan bersikap biasa saja seolah kejadian sehari sebelumnya tidak pernah terjadi. Para pegawai di dalam rumah yang berjumlah lima orang bersikap biasa juga. Bella dan Wiwin sudah memperingatkan mereka agar jangan mengungkit apapun tentang video viral tersebut. *** Setelah dirasa cukup, Aisyah kembali ke kamar. sebenarnya ia menangis kembali di dalam kamar kala mengingat kenangan bersama Irwan. Potongan puzzle kebersamaan mereka selama lima tahun selalu terlintas dan sangat membekas di benaknya. Tidak mudah untuk melupakan kenangan manis, apalagi ditambah kenangan menyakitkan yang baru saja digoreskan oleh lelaki yang sangat dicintainya tersebut. Aisyah buru-buru menghapus air matanya saat sayup terdengar keributan dari arah depan. Tidak lupa ia memoleskan make up sebelum keluar kamar untuk menyamarkan jejak air mata. "Eh, kalian ini cuma anak buahnya. Apa hak kalian melarang kami masuk?" "Memang kenapa? Kami yakin Bos tidak ingin ketemu dengan kalian berdua," balas Wiwin berkacak pinggang. Kamu kurang ajar ya, awas nanti saya la, eh Aisyah. Lihat! Mereka melarang Ibu masuk. Tolong Ibu, Nak," hiba Bu Mina melihat Aisyah berdiri di ambang pintu. Ia menurunkan nada bicaranya yang awalnya bernada tinggi sampai terdengar ke kamar Aisyah dan mengusik ketenangannya. Aisyah maju mendekati Wiwin dan Bella yang memasang badan menahan langkah Bu Mina dan Serli di depan pintu. "Syah, mereka--" ucap Bella terjeda melihat Aisyah menganggukkan kepala. "Pergilah, biar aku yang menghadapi mereka." "Tapi Syah–" "Kerjakan apa yang bisa kalian kerjakan di dalam." Kali ini nada Aisyah lebih tegas. Wiwin dan Bella tidak dapat membantah. Mereka terpaksa masuk ke dalam. "Syukurlah. Kamu tetap Aisyah Ibu yang dulu. Ibu boleh masuk kan? Kita bicara di dalam." "Maaf, saya tidak bisa mempersilakan kalian masuk, disitu saja," tunjuk Aisyah ke kursi yang berada di teras rumahnya. "Tapi–" "Nggak papa kok Kak. Disini juga nggak masalah. Asal Kak Aisyah mau bicara sama kami," tukas Serli menyela ucapan ibunya. Kursi teras hanya ada dua. Jadi Serli mengalah dengan berdiri di samping ibunya. "Seharusnya kalian tidak perlu repot datang kemari." "Kami senang kok da–" Dengan saya tidak menerima telepon atau membalas pesan kalian, itu artinya saya tidak mau bertemu apalagi berhubungan kembali dengan kalian. Ini saja terpaksa karena saya tidak mau ada keributan di depan rumah. Jadi to the point saja. Apa mau kalian datang kemari," sela Aisyah tanpa memberi kesempatan Bu Mina berbicara. Serli terlihat kesal tapi ditahannya dengan mengumbar senyum manis. Misi mereka harus berhasil membuat Aisyah mempercayai mereka lagi. "Syah, apa yang kamu lihat itu tidak seperti yang orang lain atau kamu pikirkan. Ada rahasia yang tidak kamu ketahui tentang Irwan." "Rahasia? Sudahlah Bu, tidak perlu mengarang cerita, saya tidak punya waktu untuk mendengarkan kebohongan kalian." Aisyah berdiri. "Pergilah. Saya sibuk." "Tunggu Nak, itu … kamu harus tahu kalau Irwan terpaksa …." Bu Mina menjeda ucapannya seraya menatap Serli. Dia terlihat bingung menjelaskan. Serli menyela, "Lebih tepatnya dipaksa Kak untuk menikahi Dina karena perempuan itu …."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN