'sial! Sudah puluhan kali kucoba menghubungi Aisyah, tapi tidak diangkatnya. Pasti dia sangat marah padaku,' Irwan berucap dalam hati. Perasaannya makin kacau saat keluarga Dina terutama ayah mertuanya memaksa pulang ke kotanya hari ini juga. Rencana menginap di hotel seperti yang dijanjikan Dina musnah sudah. Acara ketemu keluarga di rumah neneknya juga batal. Pak Ridwan marah besar hingga membeli tiket pesawat hari ini juga. Untung saja aku masih dibelikan tiket pulang olehnya, pikir Irwan.
***
"Yah, tidak. Mama tidak akan setuju kalau Ayah mengusir Dina dari rumah ini. Kemana ia akan tinggal?" Mama Yuli menentang keputusan suaminya. Ia berucap lirih dengan memeluk erat Dina. Sedangkan anak perempuan semata wayangnya itu tersenyum dalam hati karena mendapatkan dukungan dari mamanya. Dipeluknya erat sang Mama yang netranya mulai berkaca-kaca.
"Mereka sudah dewasa. Kemarin saja berbuat dosa bisa kok, nggak perlu dibantu. Masa' mencari tempat tinggal nggak bisa, payah."
Irwan hanya mampu mendesah berat. Pasrah. Ucapan sang ayah mertua begitu ketus dan menusuk. Baru saja sampai di rumah besar di kawasan elit milik kediaman keluarga Dina, ia sudah disidang seperti dugaannya. Rasa lelah selama berdiri di pelaminan masih belum hilang.
"Yah, soal pekerjaan. Irwan janji nggak akan minta bantuan Ayah, tapi bisakah kami tinggal di sini dulu sebelum Irwan mempunyai pekerjaan dan mampu mengontrak rumah. Saya hanya mengkhawatirkan keadaan Dina. Ia lagi hamil, dan tidak boleh stres. Bisa berakibat buruk ke janinnya, begitu kata dokter. Saya hanya minta waktu saja, Yah," bujuk Irwan Memelas, mencoba merangkai kata yang mampu meluluhkan hati sang mertua dengan memasang wajah sendu. Ia ingat perkataan dokter saat pertama kali menemani Dina cek kehamilan, dan untuk membuktikan juga waktu itu kalau Dina memang hamil atau tidak. Ia berpikir tidak mungkin keluar dari rumah ini di hari pertama menikah, dan kembali ke rumahnya sendiri. Apa kata Ibu? Beliau pasti marah besar.
Pak Ridwan menatap tajam Irwan lalu beralih ke Dina yang dipeluk istrinya. Sebenarnya hatinya tidak sekejam itu. Dia bersikap keras agar menantunya ini benar-benar bisa bertanggung jawab melindungi dan membahagiakan anaknya--Dina. Ada kekhawatiran juga kalau keputusannya tadi malah membuat hidup anaknya menderita.
Melihat istrinya tergugu menangis, akhirnya Pak Ridwan mengalah. "Baik, silakan tinggal di sini, tapi tidak lama. Hanya sampai kamu mendapatkan pekerjaan. Namun jangan jadikan kemurahan hatiku ini disalahgunakan. Jangan menunda mencari pekerjaan, apalagi bermalas-malasan di rumah ini. Saya tidak suka," ucap Pak Ridwan tegas. Ia masih mengintimidasi menantunya ini agar takut dan tidak bersikap semena-mena di rumahnya. Dia tidak ingin omongan orang tentang memelihara benalu menjadi kenyataan.
***
"Syukur Ayah masih memberikan kesempatan buat kita tinggal di sini," ucap Dina pada Irwan saat mereka sudah berada di dalam kamarnya. Kamar biasa khas perempuan, tanpa ada hiasan cantik di dalamnya layaknya kamar pengantin.
Irwan hanya diam. Dia melepas pakaiannya, mengambil handuk bersih yang terlipat rapi di atas tempat tidur dan masuk ke kamar mandi tanpa menggubris ucapan Dina.
Dina melongo diabaikan begitu saja oleh Irwan. Dipukulnya keras kasur empuk sebagai pelampiasan kekesalannya. Baru kali ini ia diabaikan Irwan.
Tidak begitu lama terdengar bunyi derit pintu dibuka, memaksa netra Dina menoleh ke sumber suara. Irwan baru saja keluar dari kamar mandi. Diamatinya dengan seksama suaminya tersebut. Rambut basah dengan handuk yang melilit di pinggangnya membuat rasa kesal Dina pada Irwan lenyap seketika berganti dengan rasa takjub. Tidak salah ia memilih Irwan jadi suaminya, walau harus dengan cara licik. Setidaknya masih ada yang bisa dibanggakannya dengan ketampanan suaminya sekarang.
"Wan, nanti malam." Dina berucap sambil mengedipkan sebelah matanya dengan senyum merekah. Ia menggoda Irwan lewat kode yang diyakini Dina pasti dipahaminya. Berharap dengan begini sikap Irwan berubah hangat.
Irwan masih memasang wajah datar. Ia berpura tidak tertarik walau harus diakui Dina sangat pandai memuaskannya di atas peraduan. Padahal hanya sekali, tapi rasanya masih dapat ia bayangkan sampai saat ini. Sesalnya cuma satu, kenapa tidak menggunakan pengaman saat itu hingga akhirnya harus membuahkan janin di rahim Dina.
"Wan, kenapa? Tidak mau? Aku berniat tiga ronde buat kamu," ucapnya dengan sengaja bicara mendesah menarik perhatian Irwan.
Irwan mencoba mengendalikan diri. "Din, kenapa kamu diam saja? Kenapa kamu tidak membelaku di hadapan keluargamu, terutama saat ayahmu menampar keras pipiku ini? Sakit Din, tamparannya masih membekas. Lihat nih!" tunjuk Irwan dengan mendekatkan pipinya ke arah Dina. Memang benar jejak warna merah masih ada di sana. Irwan akhirnya mengungkapkan kekesalan hatinya pada Dina.
"Maaf. Aku takut. Ayah memang keras. Apalagi saat marah. Aku saja yang anak perempuannya juga dapat tamparan sama sepertimu waktu itu."
"Paling tidak kamu bersuara membelaku walau sedikit saja. Setidaknya aku tidak merasa sendiri di rumah ini."
"Maaf," lirih Dina mencoba mendekati Irwan.
"Ini tidak seperti kesepakatan kita di awal, ka--" Irwan tak mampu melanjutkan perkataan saat Dina merangsek, membungkam mulutnya dengan bibirnya. Hilang sudah rasa kesalnya menguap berubah menjadi hasrat untuk menuntaskan gejolak jiwanya yang naik karena dipancing Dina.
***
'Aku selalu lemah bila berhadapan dengan Dina. Dia tahu kelemahanku dan menggunakannya sebagai senjata. Berbeda dengan Aisyah. Walau sudah 5 tahun bersama, aku belum bisa mendapatkannya seutuhnya. Ia selalu menolak dengan alasan dosa. Padahal apapun yang kelak terjadi, aku pasti akan menikahinya. Aku sangat mencintaimu Syah, hanya saja, aku juga butuh wanita yang bisa membuatku nyaman saat bersamanya, seperti Dina'. Irwan membatin. Ia menerawang menatap langit-langit kamar Dina. Wanita yang baru saja memuaskan dahaganya tersebut sudah tertidur pulas di sampingnya. Irwan tidak bisa tidur, pikirannya selalu tertuju ke Aisyah.
***
"Kak Aisyah benar-benar mengesalkan. Sudah puluhan kali dihubungi tapi tidak diangkatnya Bu," keluh Serli yang fokus ke ponsel.
"Telepon Ibu juga nggak diangkatnya. Ibu kirim pesan panjang lebar cuma dibaca saja. Dasar sundel, rasanya nyesel pernah memimpikannya jadi istrinya Irwan, nggak bisa diatur rupanya," balas Bu Mina yang duduk menyender di bahu sofa.
"Sebenarnya Winda ngerti Bu, Ka, kenapa Kak Aisyah bisa berbuat seperti itu di resepsi Kak Irwan. Pasti sakit rasanya ditinggal nikah begitu saja dan--"
"Alah, kamu ini malah belain dia. Harusnya kan dia bisa bicara baik-baik. Ibu pasti akan menjelaskan kenapa Irwan harus menikahi Dina. Bukan dengan mempermalukan kita di hadapan banyak orang." Bu Mina menyela ucapan anak bungsunya dengan nada tinggi.
"Mana videonya dimuat di akun gosip lagi. Bang Irwan dihujat satu Indonesia, Bu." Serli menunjukkan ponselnya ke arah Bu Mina.
"Tuh, wajah Ibu kelihatan di sana. Pantas banyak yang menghubung Ibu, mempertanyakan kebenaran tersebut, Ibu jadi malu, Ibu tambah gedek sama Aisyah. Besok kita harus pulang, kita datangi rumah Aisyah. Ibu yakin ia sudah ada di sana."
"Ini yang Nenek khawatirkan. Perasaan Nenek sudah tidak nyaman waktu di resepsinya Irwan. Eh ternyata kejadian kan? Lagian Nenek malu sudah berkoar ke warga dan tetangga dekat sini kalau cucu mantu Nenek orang kaya, anak pemilik toko Mas. Eh malah jadi bumerang buat Nenek karena Irwan dituduh menikahi orang kaya untuk hidup enak." Neneknya Irwan menimpali dan duduk di samping Serli.
"Kamu benar, Mina. Kalian pulanglah dan secepatnya datangi Aisyah untuk minta maaf. Harus sampai dapat. Terserah kamu mau menghiba seperti apa. Yang jelas bukti utang ini jangan sampai dibawanya ke meja hijau. Memalukan!" Dilemparnya lembaran fotocofyan bukti utang Irwan yang dihadiahkan Aisyah di atas pelaminan.
Bu Mina hampir berteriak karena kaget. Lemparan ibu mertuanya itu hampir saja mengenainya.
"Kami harus minta maaf Bu? Bukannya harusnya kami marah sama Aisyah?" Pelan Bu Mina bertanya pada mertuanya.
"Eh, kamu pikir kalau musuh dimarahi bakal luluh? Pikir! Kartu As Irwan di tangannya. Kalau dia marah dan pergi ke kantor polisi, kamu pikir anak kamu itu bakal bisa tidur nyenyak di rumah mertuanya?" Gegas Bu Tuti bicara pada mantunya.
Bu Mina manggut-mamggut tanda mengerti. 'Benar, aku harus mengambil hati Aisyah. Membujuknya agar dia tidak marah. Biarlah mengalah untuk menang,' Bu Mina membatin dalam hati.