"Dik, pasangkan kembali kalung tersebut ke Aisyah. Itu memang hak dia dan kamu benar, apa yang kita beri tidak elok kalau diambil kembali," titah Pak Ridwan ke Sidik. Sidik tersenyum lega. Diambilnya kalung tersebut dan ingin memakaikan kembali ke leher Aisyah. "Tunggu, maaf Yah, ini sebagai apa? Pemberian atau … barter?" cegah Aisyah menahan tangan Sidik yang ingin memasangkan kembali ke lehernya Aisyah. Ucapannya tajam menohok. Pak Ridwan mengulas senyum simpul. "Bukan. Seperti di awal, itu murni hadiah untukmu. Kamu benar tentang utang tersebut. Mau jadi keluarga atau tidak, utang ya tetap utang dan harus dibayar. Tidak peduli kamu siapa dan punya hubungan apa. Kecuali kedua belah pihak saling merelakan. Namun sepertinya tidak bukan? Apalagi hal itu sudah beberapa tahun, dan berlang

