“Nak Naya?”
Suara baritone yang berat membuat Naya tersadar dari renungan dan rasa frustrasinya. Wanita itu langsung mengangkat kepala, membeku begitu mendapati pemilih suara yang memanggilnya adalah Pak Rama—ayah dari pria bernama Krist yang saat ini masih berada di dalam ruang perawatan ICU dengan kondisinya yang masih harus dalam pemantauan extra.
Naya menelan saliva susah payah, merasa belum siap untuk menghadap kedua atau salah satu dari orangtua pria itu lagi, setelah sebelumnya Nyonya Rinka menangis haru karena berterimakasih padanya—sebelum dirinya dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan tadi, dan sebelum Naya tahu bahwa hasil penanganan kasus juga operasi pria itu akan menjadi semenakutkan ini untuk dirinya.
“Sudah selesai memberikan keterangannya, Nak?” Pria paruh baya itu tersenyum tipis, meski raut sedih dan sendu masih bisa Naya lihat dengan jelas di balik senyum yang berusaha pria itu tunjukan.
Naya mengangguk kaku, tak mampu memberikan senyum yang sama meski dirinya sudah berusaha melakukannya. Hatinya terlalu berat, otaknya kacau hingga sulit rasanya memberikan respon yang lebih baik untuk dilihat.
Pria yang menjadi lawan bicaranya itu lantas mengangguk mengerti, mengisyaratkan agar Naya tetap duduk—karena sebelumnya Naya menunjukan gerakan tubuh yang seolah hendak berdiri untuk membungkuk memberi salam padanya. Rama yang menghampiri gadis muda itu, duduk di sana di kursi panjang yang tersedia tersebar di seluruh penjuru rumah sakit.
Hari masih terlalu pagi, dan rumah sakit jelas masih sepi karena rata-rata bagian-bagian praktek pemeriksaan umum di rumah sakit akan di mulai pukul 8 atau 9 pagi, sementara saat itu jam besar di salah satu dinding lobi rumah sakit megah itu masih menunjukan pukul setengah tujuh pagi.
“Nak Naya... Pasti sudah dengar bagaimana kabar Krist dari petugas polisi yang menghubungi kami beberapa jam lalu, kan?”
Naya mengangguk pelan, menunjukan raut menyesalnya.
“Istri saya terpukul sekali saat tahu Krist akan kehilangan kemampuan berjalannya untuk beberapa waktu, dan harus dipulihkan dengan terapi yang intensif untuk mengembalikan kemampuan motoriknya yang satu itu. Begitu juga penglihatannya yang terancam—semuanya... Semuanya benar-benar di luar kuasa kami.” Cerita pria separuh baya itu pilu.
Niat Rama untuk mencari udara segar pagi itu memang berbuntut pada dirinya yang menemukan keberadaan Naya di lobi utama rumah sakit. Dengan raut menyesal dan sedihnya yang Rama bisa duga kenapa. Gadis muda itu mengkhawatirkan putranya, meski entah dengan alasan valid macam apa—tapi yang bisa Rama duga, karena Naya melihat kecelakaan itu, karena Naya menjadi saksi putranya dalam keadaan kritisnya.
Jadi, meski sebenarnya urusan Naya seharusnya sudah selesai sampai pada batas mengantar Krist ke rumah sakit dan memberikan keterangannya pada polisi mengenai kecelakaan itu, gadis muda itu nyatanya tidak bisa pergi begitu saja sebelum menyaksikan sendiri kondisi terkini pasien yang ditolongnya. Tidak bisa lepas tangan begitu saja sebelum memastikan sendiri dengan matanya bahwa Krist sudah jauh lebih baik dibanding saat dirinya mendapati pria itu terhimpit di dalam mobilnya beberapa jam lalu.
Sejauh ini, memang hanya itu yang terpikirkan oleh Rama mengenai alasan Naya tetap berada di sana, meski gadis muda itu terlihat kusut dan berantakan bukan main. Baik penampilannya atau raut wajahnya yang tidak bisa disembunyikan.
Rama sungguh tidak tahu, kalau gadis muda di sampingnya itu tengah bergelut dengan perasaannya. Gadis itu tengah bertarung dengan keegoisan dan rasa bersalahnya yang menyerang bertubi-tubi. Antara tetap berperan sebagai orang baik di sana, mendapat sebutan dewi penyelamat dari putra pria di sampingnya, atau mengakui, kalau semua yang terjadi adalah kesalahannya dengan Rayya.
***
“Gue bisa aja bilang sama polisi kalau malam itu lo ada sama gue. Gue juga bisa minta mereka lihat sendiri buktinya di cctv yang terpasang di club yang lo datengin. Mereka bisa lihat semuanya di sana. Dan menurut lo untuk orang-orang sekelas polisi, apa cari tahu hal se-simple itu jadi sesuatu yang nggak mungkin buat mereka? Karena—”
“NGGAK! GUE NGGAK SALAH!” Rayya terpancing, tidak ingin mendengar lebih lanjut apa yang hendak Naya katakan padanya.
Sementara itu Naya sih tersenyum senang, saudari beda ibu yang hanya selisih dengannya beberapa bulan itu berhasil terpancing oleh umpannya, dan kebahagiaan untuk Naya melihat gadis itu terlihat frustrasi sendiri.
“Naya, Mama sudah cukup banyak ya denger hal konyol dari mulut kamu hari ini. Kalau sampai kamu nyudutin Rayya lebih jauh lagi, Mama nggak segan-segan akan—”
“Kenapa? Takut, kan? Kalian takut kalau memang Rayya yang akhirnya terbukti jadi penyebab kecelakaan malam itu?”
“Naya!”
“Maka dari itu. Kalau kalian nggak mau keluarga Hardiandi itu tahu yang sebenernya, silakan kirim Rayya untuk jaga anak laki-laki mereka. Sekalian biar Rayya tahu dan belajar apa yang namanya tanggungjawab! Karena seperti yang aku bilang sebelumnya. Aku nggak akan mau diminta untuk tanggungjawab atas semua ini seorang sendiri!”—termasuk menanggung rasa bersalah ini. Lanjut gadis 21 tahun itu dalam hati.
Naya tidak peduli jika dirinya dibilang menggertak atau mengancam. Toh setelah ibunya meninggal lima belas tahun lalu, dan dirinya harus dihadapkan pada keluarga lain ayahnya yang ternyata sudah terbentuk dan menjalin hubungan bahkan sejak ibunya masih hidup, Naya sudah terbiasa dihadapkan pada kehidupan macam ini—digertak dan diancam, maka jangan salahkan dirinya jika sekarang Naya melakukan hal yang sama pada mereka.
“Berani lo ya? Lo berani mengancam kami?!”
“Kenapa harus takut? Kalau gue bisa disalahin kenapa lo nggak bisa? Gue bahkan bisa meminta keterangan pada supir truk itu untuk buktiin kalau lo yang nganggu gue saat nyetir!”
Senyum sarkas terbit di bibir Naya, gadis itu sama sekali tidak terlihat takut meski ia kini tengah di serang dua orang yang bisa dibilang akan sangat mempengaruhi hidupnya dengan keputusannya untuk memberontak ini. Lagipula siapa yang peduli? Naya toh sudah kebal dan semua yang mereka lakukan pada Naya, kini gadis itu merasa dirinya sudah tidak peduli dengan apapun, meski ancaman anak dan ibu itu yang mungkin akan mengusirnya segera dari rumah yang sebenarnya milik mendiang ibunya itu.
“Hoh, bener-bener berani ya lo? Bener berani? Dan lo pikir lo juga nggak akan keseret karena kejadian itu? Gimana pun lo yang nyetir, dan udah pasti lo yang akan lebih diberatkan kalau kita memang sama-sama diadili!” Rayya tidak mau kalah, berusaha terlihat kuat meski ketakutan terlihat jelas di matanya.
“Itu lebih baik dibanding lo enak-enakan sendiri di sini, lebih baik kalau kita masuk penjara sama-sama.”
“Apa—”
Naya sudah akan benar-benar beranjak untuk pergi ketika Rayya menarik tali tas selempangnya hingga tas situ kembali terlempar ke sofa.
“Pokoknya gue nggak mau dan nggak akan mau jadi pengasuh cowok nggak berguna itu!” Teriak Rayya.
“GUE JUGA NGGAK MAU! Lo pikir gue mau, hah?” Balas Naya, meski alasannya jelas berbeda dari yang Rayya katakan.
Saudari satu ayah itu kemudian terdiam, dengan tensi amarah masing-masing yang membuat keduanya menatap penuh kebencian pada satu sama lain.