“Meski begitu saya harap Mas bersedia mendengarkan apa yang ingin saya sampaikan pada Mas.” Suara Naya terdengar lagi, di antara hening ruangan rawat dan deru napas Krist yang terdengar jelas. Gadis yang ditatapnya melalui layar kaca menunduk, mencengkram kedua tangannya di pangkuan dan terlihat berusaha mengatur napasnya yang berantakan karena gugup. “Malam itu… Saya menjemput Rayya yang mabuk di salah satu bar. Saya akui saya yang menyetir mobil karena Rayya memang sudah tidak mampu melakukannya. Saya tidak pernah menyangkal soal yang satu itu, Mas. Saya pastikan saya tidak pernah.” Tangan Krist yang mengepal, di pinggiran tablet yang tengah dipegangnya. Pria itu ingin menghentikan video itu karena merasa tidak akan mampu mendengarkan penjelasan Naya sampai akhir kalau semua yang dide

