Sepanjang kencan, Bryan terus menggenggam jemari Anne. Mereka berjalan mengelilingi taman kota. Melihat orang berlalu lalang, membawa keluarga atau kekasih mereka juga. Ada sebuah bangku coklat di bawah pohon. Bryan tertarik untuk duduk di sana. Ia merengkuh pundah Anne, membawanya duduk. Di hadapan mereka ada sebuah kolam besar. Terdapat beberapa angsa berenang di atasnya.
"Kenapa sepanjang jalan kau diam saja, Ann?"tanya Bryan.
Anne menggeleng sembari tersenyum."Aku baik-baik saja, Bee. Terima kasih sudah membawaku ke tempat ini. Aku suka."
"Lain kali aku akan membawamu ke tempat yang lebih bagus lagi. Kita pergi ke Pantai."
"Aku tidak suka pantai. Panas." Anne terkekeh."Tapi, jika pergi di pagi hari, mungkin lebih menyenangkan."
Bryan mengusap puncak kepala Anne."Kau ini seperti Kevin saja. Dia tidak suka cuaca panas seperti di pantai. Kevin lebih menyukai pegunungan."
Anne mengangguk-angguk. Ia memiliki banyak kemiripan dengan Kevin."Ah, tapi, aku akan tetap pergi ke pantai bersamamu. Pasti akan lebih menyenangkan."
"Bagaimana keseharianmu di sana?"tanya Bryan.
Anne mengernyit. "Maksudmu...sebelum aku tinggal bersama kalian?"
"Ya."
"Biasa saja. Setiap hari aku bangun pagi untuk mencari pekerjaan. Beberapa kali mendapat panggilan wawancara. Aku selalu gagal." Anne tersenyum pahit.
"Kau gagal mendapatkan pekerjaan?" Bryan menatap Anne serius. Ini sulit dipercaya."Kenapa?"
"Belum beruntung saja." Anne terkekeh."Kenapa kau kaget seperti itu? Memangnya aneh, jika gagal wawancara?"
"Maksudku...kau ini wanita cerdas. Kenapa mereka menolakmu."
"Mungkin~bukan aku yang mereka butuhkan." Mata Anne berkaca-kaca. Ternyata, jika diingat kembali, hatinya terasa begitu perih. Ini yang dinamakan membuka luka lama.
"Kau benar-benar ingin bekerja?"tanya Bryan.
Anne mengubah posisinya, menghadap pada Bryan."Tentu saja. Kau sudah menanyakan hal ini berkali-kali bukan? Jawabanku tetaplah sama."
"Maksudku~kau bisa meminta pekerjaan pada Kevin. Bicaralah padanya selama aku pergi. Bila perlu, kau harus merayunya." Bryan sangat bersemangat. Ini bisa menjadi alasannya untuk menekan Anne agar berdekatan dengan Kevin. Lalu, Kevin bisa menembus milik Anne.
"Kau ini ada-ada saja. Mana mungkin aku merayu saudaraku sendiri." Wajah Anne terlihat merona.
"Ayolah, kau pasti bisa. Kau tidak mau mati kebosanan di rumah, kan, Ann?" Bryan meraih dagu Anne, menatap wanita itu dengan intens.
"Tentu saja."
Bryan mengecup bibir Anne sekilas. Kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling."Aku cari air minum dulu."
Anne mengatur perasaannya saat ini. Besok, ia harus bersiap-siap menghadapi Kevin. Namun, ia juga harus bersiap jika pria itu menolaknya. Sikap Kevin berubah-ubah. Sebagai orang baru, tentu Anne tidak bisa memahami ritmenya. Setelah dipikir-pikir, Anne bisa menggunakan saran Bryan. Meminta pekerjaan pada Kevin. Ah, pekerjaan apa saja, yang penting ia memiliki aktivitas. Dan tidak menjadi benalu di rumah itu lagi.
Kencan telah usai. Bryan dan Anne kembali ke rumah tengah malam. Di saat semua lampu sudah dimatikan.
"Gelap sekali." Anne menggumam. Ia memeluk lengan Bryan dengan erat.
"Ini menyenangkan bukan?" Bryan berbisik.
"Menyenangkan bagaimana?" Anne mengkerutkan keningnya.
"Menyenangkan karena hanya kita berdua." Bryan terkekeh. Namun, beberapa detik kemudian lampu menyala. Kevin muncul mengejutkan keduanya yang tengah berpelukan.
Pria itu berjalan mendekat dengan tatapan dingin."Sopir sudah menunggumu."
"Astaga!" Bryan menepuk jidatnya."Aku lupa kalau aku harus berangkat sekarang."
"Sekarang?" Anne menatap Bryan kaget."Bukankah kau bilang besok, Bee?"
"Ya, ini kan sudah berpindah hari, Ann." Bryan melirik Kevin. "Ah, ya sudahlah...aku harus pergi. Baik-baik di rumah, ya, Ann. Kevin, aku titipkan Anne padamu." Pria itu menepuk pundak Kevin. Sementara Anne mematung beberapa detik setelah kepergian Bryan begitu saja.
"Istirahatlah, Ann!" kata Kevin membuyarkan lamunan Anne.
Wanita itu tersentak."Ah, iya?"
"Istirahatlah. Kau pasti capek setelah berkencan seharian." Kevin berkata datar, kemudian melangkah meninggalkan Anne.
"Kau mau ke mana?"panggil Anne.
Langkah kevin yang sudah menaiki anak tangga terhenti. Ia membalikkan badan, kemudian menatap Anne yang kebingungan."Tentu saja aku harus istirahat. Sampai ketemu besok."
Anne mematung di tempat. Sikap Kevin kali ini membuatnya bingung. Padahal, ia baru saja akan meminta pekerjaan padanya. Jika sudah begini, tentu semuanya menjadi sulit.