Langkah di anak tangga membuat pria yang tengah sarapan melirik. Anne tampak cantik sekali pagi ini. Dengan rambut kecoklatan dan bergelombang. Diberi jepitan kecil pada bagian samping atas kanan.Tampaknya Anne sudah memodifikasi gaya rambut. Sialnya, itu semakin membuat wanita itu tampak menarik. Kevin berdehem untuk mengurang kegugupannya.
"Selamat pagi, Kevin."
"Pagi,"jawab Kevin datar.
Anne duduk di seberang Kevin dengan perasaan tidak nyaman. Anne sarapan dengan tegang. Sesekali melirik ke pria di hadapannya, tapi, Kevin selalu diam. Tidak ada sapaan atau senyuman seperti hari kemarin. Hal ini membuat Anne berpikir, kalau sebenarnya Kevin tidak menyukai ia tinggal di sini.
"Kenapa terus-terusan menatapku?" Kevin menangkap basah Anne yang tengah menatapnya.
Anne tertunduk malu sekaligus takut."A-apa aku boleh mencari pekerjaan? Atau melamar di kantormu?"
"Kau ingin bekerja?"
"Ya." Anne mengangguk kuat."Sebagai tukang bersih-bersih juga tidak apa. Setidaknya itu pekerjaan."
Kevin terdiam, seakan tidak menanggapi. Anne menunggu jawaban, tapi, nyatanya, sampai Kevin selesai sarapan, jawaban itu tidak pernah dilontarkan. Anne semakin tidak enak hati. Ia menyudahi sarapannya yang masih sedikit.
"Maaf, Kevin. Kalau begitu, aku izin keluar hari ini,ya. Aku mau cari pekerjaan. Aku sudah selesai sarapan." Anne beranjak dari kursinya, kemudian kembali ke kamar dengan hati teriris. Ia sedikit kecewa dengan Kevin. Tapi, mungkin ia sudah melakukan kesalahan, dan Anne tidak menyadari hal itu.
Anne duduk di sisi tempat tidur dengan sedih. Ia berusaha menenangkan diri yang sudah mulai emosional. Seharusnya ia memang mencari pekerjaan sendiri, tanpa hadus bergantung pada Bryan dan Kevin. Anne tengah berusaha mengontrol diri, kemudian terdengar suara ketukan pintu.
"Siapa?"teriak Anne.
"Anne!"
Jantung Anne berdetak kencang saat mendengar suara Kevin. Ia membuka pintu dan pria itu langsung masuk tanpa dipersilakan.
"Ada apa, Kevin? Aku pikir~ kau ke kantor."
Kevin menggeleng pelan."Aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat. Mungkin beberapa hari."
"Ke mana?"
"Ke tempat yang menyenangkan. Jauh dari polusi dan hiruk pikuk pekerjaan. Jadi, siapkan pakaianmu. Kita pergi sekarang." Kevin menatap Anne yang masih terlihat kebingungan.
"Iya, memangnya kau tidak bekerja?"
Kevin menghampiri Anne, memegang kedua pundak wanita itu, meremasnya lembut."Tidak. Sudah ada yang menanganinya di sana. Aku sudah memutuskan untuk libur dan pergi bersamamu."
"Kevin, maafkan aku sudah membuat kalian repot. Tapi, ini sungguh tidak perlu. Aku ingin bekerja dan tidak lagi menyusahkan kalian."
"Oh, jadi, kamu menolak kuajak kencan?" Kevin menatap Anne penuh luka. Kemudian membuang tatapannya dengan sedih.
"Bu-bukan itu maksudku, Vin. Tapi~" Anne kehilangan kata-kata. Ia masih bingung bagaimana harus bersikap pada Kevin. Wataknya sulit sekali dimengerti."Aku hanya tidak mau menyusahkan kalian."
"Ini hanya ajakan kencan, Anne. Kita bersama selama beberapa hari saja. Tapi, ah, sudahlah~aku terlalu percaya diri kau akan menerima ajakanku." Wajah Kevin merah menahan malu."Maaf, sudah mengganggumu."
"Kevin!" Anne cepat-cepat memanggil Kevin yang sudah nyaris memegang handle pintu.
Gerakan Kevin terhenti, tapi, tidak menoleh sedikit pun."Aku tahu, aku bukanlah pria semanis Bryan. Tolong lupakan yang barusan kukatakan."
"Bukan begitu." Anne menghalangi Kevin di pintu."Kenapa jadi seperti ini. Aku minta maaf, tidak bermaksud menolak."
"Lalu apa?" Tatapan sedingin salju itu kembali muncul. Begitu menakutkan.
Tangan Anne bergetar,"aku mau pergi. Ta-tapi, aku merasa takut itu akan menyusahkanmu."
Tatapan dingin itu perlahan mencair. Berubah menjadi tatapan dengan binaran cahaya yang mampu melelahkan siapa saja."Tentu saja tidak menyusahkanku. Kita hanya kencan beberapa hari."
"I-iya, jadi, berapa lama? Supaya aku bis menyiapkan pakaianku?"tanya Anne. Kemudian ia sadar, mendapatkan tatapan menyeringai. Wanita itu kembali tidak paham apa maksudnya."Aku minta maaf kalau pertanyaanku salah. Akan segera kusiapkan." Anne berlari menuju walk in closet, menyiapkan beberapa pakaian.
Kevin mengikuti ke mana wanita itu pergi, lalu mengawasinya dengan tatapan tajam. Gerakan Anne tidak beraturan. Memasukkan apa saja yang ia ingat ke dalam koper kecil miliknya.
"Jangan menatapku seperti itu. Kau membuatku takut,"komentar Anne.
Kevin bersedekap dengan wajah cemburu."Hah, lalu aku harus bagaimana? Apa hanya tatapan Bryan yang membuatmu nyaman, huh?"
Anne menyipitkan matanya heran."Kenapa kau selalu mengkaitkan segalanya pada Bryan? Padahal, obrolan kita sama sekali tidak ada hubungan dengannya. Kita hanya berdua di sini." Tangan Anne mengancing koper dengan cekatan.
"Sudahlah. Kau sudah siap bukan?"
"Iya sudah."
Kevin meraih koper Anne, kemudian menggenggam jemari gadis itu dan membawanya melangkah keluar. Limosin sudah menunggu. Keduanya masuk, lalu mobil berjalan perlahan. Perasaan Anne dicampuri dengan rasa cemas. Akan sikap Kevin yang tiba-tiba bisa berubah seperti musim. Lalu,tentang tempat yang akan mereka kunjungi kali ini. Apakah tempat itu menyenangkan, atau justru membuatnya semakin tidak nyaman.
Anne membuang tatapannya ke luar jendela. Tangan Kevin terulur meraih wajah wanita itu, dan melumatnya lembut. Kecupan demi kecupan itu menghujani wajah dan leher Anne. Tubuhnya menegang seketika, Kevin sungguh membangunkan gairahnya. Ia hanya menerimanya dalam diam. Ia sungguh tidak bisa melakukannya di dalam mobil yang sedang berjalan ini.