Sesampainya di rumah, Rayan langsung menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu yang mewah. Kepalanya berdenyut hebat. Ia berusaha menutupi wajahnya yang memerah akibat pengaruh alkohol dengan telapak tangan, merasa malu sekaligus terpojok di hadapan ayahnya.
"Jadi, kamu lebih suka gadis model begitu, Rayan?" suara Wisnu memecah keheningan dengan nada dingin yang menusuk.
"Dia baik, Pah," gumam Rayan pelan, mencoba membela diri meski suaranya terdengar parau.
"Masa baik mainnya di club?" sindir Farida tajam, matanya menyipit penuh rasa tidak suka.
"Dia baik, Ma! Aku cinta sama dia!" seru Rayan, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.
Farida berdiri tegak, menatap putranya dengan gusar. "Lantas bagaimana dengan Kinara? Dulu kamu sendiri yang minta dijodohkan dengannya, Rayan. Masa sekarang harus dibatalkan? Mau ditaruh di mana muka Mama dan Papa kalau sampai ini batal?"
Rayan memalingkan wajah, bayangan wajah Kinara yang ketus melintas di benaknya. "Kinara sudah berubah, Ma. Dia sekarang nyebelin," keluhnya lirih.
"Sudah, sudah! Kamu mabuk. Masuk kamar!" potong Wisnu tegas, mengakhiri perdebatan. "Besok kita bicara lagi. Dan besok malam, kita akan ke rumah Kinara untuk mematangkan rencana pernikahan ini. Pastikan besok pengaruh alkohol itu sudah hilang dari kepalamu!"
Dengan langkah gontai dan tubuh yang terasa berat, Rayan pun menyeret kakinya menuju lantai atas.
"Akh, sial!" umpat Rayan sambil menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuknya. Di tengah rasa pening, ia meraih ponsel dan menghubungi satu nama: Nayra.
"Halo..." suara Nayra terdengar di seberang sana, serak dan basah seolah habis menangis hebat.
"Sayang, kamu nangis?" tanya Rayan, suaranya melembut seketika.
"Kok kamu nggak bilang kalau kamu dijodohkan? Kata kamu... kamu akan nikah sama aku, Yan. Kamu bilang aku yang paling utama," isak Nayra mulai pecah.
Rayan memejamkan mata, hatinya teriris. "Aku akan usahakan, Sayang. Aku akan tetap menikahi kamu kalau masalah ini sudah selesai."
"Selesai gimana, Yan? Ibu kamu nggak suka sama aku. Lihat saja tatapannya tadi!" sahut Nayra penuh keputusasaan.
"Maafkan aku..." hanya itu yang sanggup keluar dari mulut Rayan.
"Sudahlah. Mungkin kita memang nggak jodoh. Selamat buat pernikahanmu," ucap Nayra sebelum akhirnya memutus sambungan telepon secara sepihak.
"Nay? Nayra!" Rayan memanggil-manggil panik. Ia mencoba menelpon kembali berkali-kali, namun ponsel gadis itu sudah tidak aktif.
"Akh, sialan!" Rayan melempar ponselnya ke sisi bantal. Kepalanya terasa berdenyut-denyut seperti dipukul palu godam hingga akhirnya ia tertidur karena rasa pusing yang tak tertahankan.
Keesokan harinya, tepat pukul setengah delapan malam, keluarga Rayan tiba di kediaman Kinara. Suasana terasa formal dan penuh kepura-puraan.
"Sini, Bu Farida, silakan masuk," sambut Bu Sarah dengan senyum sumringah yang dipaksakan.
Farida, Wisnu, dan Rayan melangkah masuk. Mereka disambut oleh Bagas yang sudah menunggu di ruang tamu. Tatapan mata para orang tua itu penuh dengan ambisi masa depan.
"Kinaranya mana?" tanya Bu Farida mencari-cari calon menantunya.
"Kinara lagi sakit. Biasa, kalau hari pertama haid memang suka begitu," jawab Bu Sarah memaklumi.
Farida menoleh ke arah putranya. "Rayan, coba lihat Kinara di atas. Bawa parsel buah ini untuk dia," ucapnya lembut namun mengandung perintah.
Dengan langkah malas dan wajah tanpa ekspresi, Rayan membawa parsel buah itu menuju lantai atas, ke kamar Kinara. Sementara itu, di lantai bawah, para orang tua mulai tenggelam dalam pembicaraan serius mengenai detail acara pernikahan yang akan digelar hanya dalam waktu enam hari lagi.
Di dalam kamar, Kinara sedang duduk melamun di dekat jendela. Matanya kosong menatap kegelapan malam di luar sana.
Tok... tok... tok...
"Masuk," ucap Kinara datar. Wajahnya sangat pucat, tak ada energi sedikit pun yang terpancar dari tubuhnya yang ringkih.
Rayan membuka pintu perlahan. "Kenapa lo? Sakit apa?" tanyanya ketus sambil meletakkan parsel buah di atas nakas dengan kasar.
Kinara menoleh perlahan, tatapannya dingin. "Apa peduli lo? Ngapain ke sini?"
"Kepaksa gue," jawab Rayan singkat, lalu menarik kursi dan duduk dengan jarak yang cukup jauh.
Kinara menghela napas panjang, kembali mengalihkan pandangannya ke kaca jendela. Ia merasa seperti burung dalam sangkar emas yang sedang menunggu waktu untuk dipindahkan ke sangkar lainnya.
Rayan diam tak bersuara. Ia justru mengeluarkan ponselnya dan mulai tenggelam dalam layarnya sendiri. Baginya, berada di kamar ini lebih baik daripada harus mendengarkan obrolan membosankan para orang tua di bawah. Di dalam ruangan itu, meski berdekatan, keduanya tampak seperti dua orang asing yang dipaksa berbagi takdir yang sama.
Kinara menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, matanya menatap kosong ke arah kegelapan malam. Jari-jarinya menari-nari gelisah di atas kusen jendela, seolah sedang menghitung sisa hari kebebasannya.
"Jadi... kita beneran jadi nikah?" tanya Kinara lirih. Suaranya terdengar lesu, nyaris seperti bisikan yang tertiup angin.
Rayan, yang sedang merebahkan diri di sofa kamar, mendengus kasar. "Gimana lagi? Aset gue disita semua sama Bokap. Puas lo?" semprotnya tanpa perasaan.
Kinara menoleh perlahan, menatap Rayan dengan tatapan sedingin es. "Kok nyalahin gue sih?"
Rayan tertegun sejenak. Ia bangkit dari posisinya dan duduk tegak, menatap Kinara dengan kening berkerut. "Tumben lo nggak teriak-teriak atau ngomong kasar ke gue?"
"Gue lagi sakit, Rayan. Berapa kali gue harus bilang?" sahut Kinara datar, nyaris tanpa emosi.
Rayan mendecih, ekspresinya kembali ketus. "Halah, alasan lo!"
"Terserah," jawab Kinara singkat, kembali membuang muka ke arah jendela.
Rayan memperhatikannya dari belakang. Keheningan itu membuatnya merasa tidak nyaman. "Lo... nggak akan bundir, kan? Diam di sana terus kayak orang stres."
Kinara menarik napas panjang. "Ngapain bundir? Dosa."
"Ya sudah, sini dong. Ini ada buah buat lo, dimakan," ucap Rayan, nadanya sedikit melunak meski tetap terdengar kaku.
"Ogah. Najis deket-deket sama lo, tukang mabuk!" ketus Kinara tanpa menoleh.
Kalimat itu menghantam telak ego Rayan. Ia terdiam sesaat, wajahnya menegang. "Gue... gue nggak seburuk itu, Ra," gumamnya membela diri.
Kinara tiba-tiba bangkit. Dengan langkah gontai namun pasti, ia turun dari ambang jendela dan berjalan menghampiri Rayan. Langkahnya terhenti tepat di depan lelaki itu.
"Gue tahu semua, Rayan. Gue tahu lo suka ke club sama Rendi dan Nico. Gue tahu lo sering main biliar dan balapan motor. Dan gue juga tahu, habis balapan lo mabuk-mabukan, kan?" Kinara menjeda kalimatnya, dadanya sesak saat melanjutkan, "Kenapa... kenapa Bokap gue harus nikahin gue sama orang kayak lo?"
Rayan berdiri dengan cepat. Emosinya tersulut, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Gue juga bisa jadi orang baik! Tergantung siapa pasangan gue nanti!" bentaknya dengan napas yang memburu.
Kinara tidak gentar. Ia melirik kepalan tangan Rayan, lalu menantang mata lelaki itu dengan berani. Ia memajukan wajahnya, memberikan celah bagi Rayan untuk menyerang.
"Mau mukul? Ayo, pukul gue! Biar pernikahan ini batal sekalian!" tantang Kinara dengan suara bergetar menahan tangis.
Rayan mematung. Ia berusaha keras mengendalikan amarah yang meledak-ledak di dadanya. Napasnya naik turun tak beraturan saat ia membuang muka. Ia melirik jam tangan, baru pukul setengah sembilan malam. Masih terlalu lama untuk pergi dari sini.
"Oke," ucap Rayan akhirnya, berusaha menekan emosinya. "Kita nikah. Tapi kita harus bikin surat perjanjian."
Kinara menghapus air mata yang nyaris jatuh dengan punggung tangannya. "Deal," sahutnya tegas.
"Kapan?" tanya Rayan lagi.
"Sekarang."
Rayan kembali menjatuhkan dirinya ke sofa dan merogoh ponselnya. "Lo yang tulis. Gue malas nulis."
Tanpa banyak bicara, Kinara beranjak menuju meja belajar. Ia menarik selembar kertas dan sebuah pulpen, jemarinya bergetar saat menyentuh kertas putih yang akan menentukan nasibnya itu.
"Apa isinya?" tanya Kinara tanpa menoleh.
"Tulis aja dulu semua kemauan lo. Nanti gantian gue tulis kemauan gue," jawab Rayan acuh tak acuh, matanya sudah kembali terpaku pada layar ponsel, melanjutkan game yang sempat tertunda seolah tidak ada hal besar yang baru saja terjadi.
Di meja belajar, dalam keheningan yang mencekam, Kinara mulai menggoreskan pena. Ia menuliskan syarat demi syarat, mencoba membangun tembok benteng untuk melindungi sisa-sisa harga dirinya di masa depan nanti.
Bersambung...