Fasilitas Di Cabut

1005 Kata
Kinara masih bergeming di kamarnya. Tubuhnya meringkuk di atas kasur, sementara rasa sakit di perutnya kian menjad-jadi, terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum yang panas. "Aaakh, sakiit!" teriaknya parau. Ia berguling ke kanan dan ke kiri, meremas seprai, berusaha menghalau rasa sakit yang menyiksa fisiknya, juga batinnya yang sedang hancur. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Bu Sarah melangkah masuk dengan wajah tenang, tangannya menggenggam beberapa lembar contoh undangan pernikahan yang elegan. "Ra, ini kamu mau yang mana undangannya?" tanya Bu Sarah tanpa basa-basi, seolah tidak melihat penderitaan putrinya. Kinara menoleh dengan mata yang memerah. "Mama! Aku tuh lagi sakit perut, malah disuruh milih undangan!" rengeknya. Air mata yang sejak tadi terbendung kini luruh membasahi bantal. Bu Sarah hanya mendengus pelan, menatap Kinara dengan tatapan datar. "Hmm, cuma nanya aja malah nangis," gumamnya dingin. "Mama sama Papa bilang apa sama Revan?" tanya Kinara di sela isak tangisnya yang sesak. Nama itu, Revan, adalah satu-satunya pegangan yang ia punya, namun kini terasa semakin menjauh. Bu Sarah menghela napas panjang, lalu duduk di tepi tempat tidur. "Ra, Mama sayang kamu, Nak. Mama ingin kamu itu hidup bahagia, nggak kekurangan. Rayan itu masa depannya terjamin. Dia punya perusahaan, rumah, mobil, dia juga baik. Coba lihat Revan, dia punya apa, Ra? Adiknya dua, ayahnya kerja pas-pasan, rumahnya saja masih ngontrak. Kamu mau dikasih makan apa kalau nikah sama dia?" "Kan kita bisa usaha, Ma! Kita bisa kerja berdua, kumpulin uang buat beli rumah!" sergah Kinara membela cintanya. Bu Sarah menggelengkan kepala, senyum sinis tersungging di bibirnya. "Nggak gampang, Ra. Nikah itu nggak cukup hanya modal cinta. Kamu butuh materi. Banyak perceraian yang awalnya dimulai dari masalah keuangan yang pas-pasan, dan Mama nggak mau itu terjadi sama kamu. Mama ingin kamu punya banyak uang dan bahagia." Kinara tidak mampu lagi mendebat. Ia hanya bisa terisak, menyeka air mata yang terus mengalir membasahi pipinya yang pucat. "Masih ada waktu kok buat kenalan lagi sama Rayan. Ya? Kalian dulu kan akrab, sering main bareng waktu kecil," bujuk Bu Sarah lembut, berusaha mencairkan suasana. "Dia jahat sama aku, Ma..." keluh Kinara manja, merujuk pada sikap kasar Rayan belakangan ini. "Dia baik kok, percaya sama Mama, ya?" Bu Sarah tersenyum penuh kemenangan. "Jadi, yang mana ini?" Dengan sisa tenaga dan hati yang terpaksa, Kinara menunjuk asal salah satu undangan tanpa benar-benar melihatnya. Setelah memastikan Kinara meminum obatnya, Bu Sarah pun pergi meninggalkan kamar itu. Kinara kembali berbaring, menatap langit-langit kamar dengan mata sembab yang terasa berat. Siang berganti malam, dan konflik tak berhenti di sana. Saat Kinara mencoba memejamkan mata, ponselnya bergetar. Nama Rayan muncul di layar. "Kenapa lagi sih?" cetus Kinara ketus saat mengangkat telepon. "Kita harus ketemu!" suara Rayan terdengar penuh tekanan dan tidak ingin dibantah. "Gue sakit, Rayan! Kalau nggak percaya, lo ke sini aja, ke rumah gue!" tantang Kinara kesal. "Itu mah maunya lo, biar gue perhatian?" cibir Rayan di seberang sana. "Lo tuh ya... akh! Udahlah, gue nggak ada tenaga buat debat!" "Gue nggak mau nikah sama lo!" bentak Rayan tiba-tiba. "Lo pikir gue mau? Hah?" balas Kinara tak kalah keras. ​"Kalau lo di deket gue sekarang, udah gue cekik lo! Berani-beraninya teriak sama gue!" ancam Rayan dengan emosi yang meluap. ​"Lo yang mulai! Lo yang marah-marah nggak jelas! Aneh lo!" Kinara berteriak frustrasi lalu langsung mematikan sambungan teleponnya. ​"Kampret cewek ini! Akh!" Rayan menggeram di apartemennya. Perasaan sesak dan kesal membuatnya merasa tercekik. "Gimana ya? Libur lagi, masa gue cuma bengong di apartemen sendirian sih?" ​Malam itu, Rayan memutuskan mencari pelarian. Ia pergi ke sebuah klub malam ternama, berniat menenggelamkan rasa jenuhnya dalam dentuman musik dan alkohol. ​"Gue traktir kalian semua!" seru Rayan lantang sambil menghisap rokoknya dalam-dalam. ​"Wih! Lo lagi ulang tahun, Yan? Baik banget!" seru David kegirangan. ​"Lagi mau aja," jawab Rayan singkat, menyembunyikan kekacauan hatinya. ​"Thanks banget, Yan! Kita happy-happy party malam ini!" teriak Nico menimpali. ​Mereka berpesta pora. Rayan duduk di pojok VIP, merangkul Nayra, kekasih gelapnya. Malam semakin larut, botol-botol minuman keras telah kosong, dan kesadaran mereka mulai menipis. Namun, saat Rayan hendak membayar tagihan yang fantastis itu, pelayan kembali dengan wajah ragu. ​"Maaf, Mas, kartunya ditolak," ucap pelayan itu sopan. ​Rayan mengernyit, kepalanya mulai pening. "Kenapa? Banyak kok saldonya, masa nggak bisa?" Ia membuka aplikasi m-banking dengan jari gemetar. Matanya membelalak. Saldo di rekening utamanya: 0. Ia memeriksa rekening lainnya, hanya ada uang recehan yang tak cukup untuk membayar sebotol air mineral sekalipun. ​"Gimana ini..." bisik Rayan dengan wajah kacau, pipinya memerah akibat pengaruh alkohol. ​"Kenapa, Yan?" tanya Rendi yang melihat gelagat aneh sahabatnya. ​"Kartu gue ditolak..." ​"Masa Sultan nggak punya duit?" celetuk Nico setengah mabuk. ​"Nggak ada, asli! Pinjam dulu, besok gue ganti!" ucap Rayan panik. Akhirnya, Rendi maju untuk melunasi tagihan tersebut. ​Rayan keluar dari klub dengan langkah sempoyongan, tubuhnya hampir ambruk jika tidak didekap oleh Nayra. Namun, langkah mereka terhenti di depan mobil. Di sana, Wisnu dan Farida, orang tua Rayan, sudah menunggu dengan wajah sekeras batu. ​"Mama... Papa... lagi apa di sini?" tanya Rayan terbata, kesadarannya tersisa sedikit. ​Nayra mencoba bersikap sopan dan hendak menyalami orang tua Rayan. Namun, Farida dan Wisnu hanya menatapnya dengan tatapan merendahkan dari ujung rambut hingga ujung kaki. ​"Ini pilihan kamu, Rayan? Wanita seperti ini?" tanya Farida sinis, suaranya sedingin es. ​"Ma... jangan bahas ini sekarang..." rintih Rayan. ​"Masukkan dia ke dalam mobil!" perintah Farida tegas kepada sopir pribadi mereka. ​"Ma... Ma... jangan bilang apa-apa sama dia!" teriak Rayan lemah saat sopir menyeret tubuhnya masuk ke dalam mobil. ​Farida kemudian berbalik, menatap Nayra yang mematung. "Kamu tahu Rayan mau nikah, jadi jangan hubungi dia lagi. Dia akan menikahi gadis baik-baik, nggak kayak kamu," ucap Farida telak, menusuk harga diri Nayra. ​"Tapi Tante..." Nayra membeku, suaranya tercekat di tenggorokan. ​"Kita pulang," ajak Farida pada Wisnu tanpa menoleh lagi. ​Mobil mewah itu melesat pergi, membawa Rayan yang tak berdaya dan meninggalkan Nayra sendirian di kegelapan malam, di depan klub yang masih bising, dengan hati yang hancur berkeping-keping. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN