Rion mengecup pundak Risty, lalu mengusap puncak kepala wanita itu."Jangan lama-lama, sayang.Aku tunggu." Setelah itu, Rion pergi. Wajah Risty terasa panas, debaran di dadanya semakin kencang saja. "Memang kamu sama Rion udah pacaran berapa hari? Bisa sampai begitu dekat? Setahu aku, Rion enggak gampangan gitu orangnya." Kali ini nada bicara Nindy berubah agak dingin. Risty menarik napas panjang, berusaha tidak terpengaruh dengan omongan Nindy."Kami enggak pacaran, tiba-tiba aja dia lamar saya." "Oh...kalau dulu, kami pacaran lumayan lama. Soalnya dia masih meniti karir, sekarang sih udah sukses. Pas susahnya dulu...sewaktu sama saya. Seneng deh kamu, udah dapat pas senengnya." "Itu kan pilihan kamu, Nindy. Alhamdulillah rejeki saya dapat lelaki mapan dan sukses." Risty menyiapkan bil

