Bab 18

1008 Kata
Siang ini, Rion dan Risty berangkat menuju rumah orangtua Rion. Rencananya, mereka akan menginap selama tiga hari di sana sesuai dengan permintaan Mama Rion. Kebetulan Risty juga sedang tidak mengajar. "Deg-degan enggak?"tanya Rion ketika mereka hampir sampai. "Enggak sih, cuma...masih ada keraguan...ini beneran enggak sih?" "Beneranlah,sayang. Please, jangan bilang ragu atau enggak yakin. Karena kita sudah melangkah sejauh ini." Rion mengarahkan stir ke arah rumahnya yang tinggal beberapa meter lagi sampai. Risty menarik napas panjang."Baiklah,apa pun yang terjadi...aku harus yakin...harus yakin." Rion tertawa geli melihat Risty yang bicara sendiri. Ia mengacak-acak rambut Risty."Kita hampir sampai. Dan...sudah sampai." Risty melihat keluar jendela, sebuah rumah yang tidak begitu besar. Namun, cukup untuk menjadi tempat tinggal sepasang suami isteri dengan dua anak. "Ayo turun." Rion keluar, lalu membuka pintu mobil bagian belakang untuk mengambil tas mereka. Mama dan Papa Rion keluar karena mendengar suara mobil. Wajah mereka terlihat begitu senang, menyambut anak mereka dengan hangat. "Akhirnya sampai juga!" Rion memeluk sang Mama dan Papa bergantian. "Ini...Risty, Ma,Pa..." "Calon isteri kamu?"tanya Papa. "Iya."Rion tersenyum, ia merasa bangga sekaligus bahagia bisa memperkenalkan Risty pada kedua orangtuanya. Risty menjabat tangan keduanya."Saya Risty...Om, Tante." "Kayaknya kalian cocok banget!"ucap Mama. "Tante bisa aja." Risty tersipu malu. Lalu tiba-tiba ada sosok wanita yang juga keluar dari rumah. Raut wajah wanita itu terlihat dingin sekali. Senyum di wajah Risty sirna. Ia berharap semua ini tidak seperti yang ia pikirkan. Mama menoleh ke arah belakang karena pandangan Risty tertuju ke sana."Oh...Nindi. Risty...kenalkan ini Nindy... Nindi ini isterinya Daffa, kakaknya Rion." "Iya, Tante..." Risty tersenyum lalu menjabat tangan Nindy."Risty." Nindy membalasnya dengan dingin."Nindy!" "Ayo masuk...pasti kamu capek banget ya." Mama memeluk lengan Risty dan membawa wanita itu masuk. Sementara Rion membawa tas mereka ke dalam. "Siapa dia?"tanya Nindi. Ia bertanya pada Rion tetapi lelaki itu hanya berlalu begitu saja mengikuti semua orang yang masuk ke dalam rumah. Seperti tidak mendengar atau pura-pura tidak dengar. Nindi mendengus."Rion!" Rion menoleh."Ada apa?" "Siapa dia?" Nindi melipat kedua tangannya di d**a. "Dia siapa?" "Perempuan yang kamu bawa!" "Oh, calon isteriku dong!" Rion memainkan alisnya lalu berjalan masuk ke dalam. Nindi masuk ke dalam rumah, tatapannya begitu tajam pada Risty yang kini diapit oleh Mama dan Rion. Mereka berbincang-bincang, suasana begitu hangat. "Ndi, tolong buatkan air minum dong untuk mereka. Masa tamu enggak disuguhin minuman!"kata Mama. Nindi meneguk salivanya."Iya, Ma." Hatinya kesal, namun ia tidak bisa menolak permintaan sang mertua. "Kalian jadi, kan nginap di sini?"tanya Mama memastikan. "Iya, Ma, jadi...sekalian kan biar Risty pendekatan sama Mama." "Wah...Mama ini ya beginilah, Risty. Kamu bisa nilai sendiri. Kalau butuh apa-apa, kamu minta aja sama Nindi,ya. Soalnya biasa yang urus ini itu di rumah ini ya Nindi." "Kak Nindy, tinggal di sini,ya,Tante?" "Iya. Tinggal di sini bareng Mama dan Papa. Sama dua cucu. Makanya...kalian cepetan nikah, biar tambah rame lagi." Mama terkekeh. Risty meremas tangannya sendiri. Saat ini, ia ada di rumah sang calon mertua. Tetapi, ia juga harus berhadapan dengan Nindy, mantan isteri Riom yang juga merupakan calon kakak iparnya. Nindy datang membawa empat cangkir teh hangat, lalu menyajikannya di atas meja. "Risty kegiatan sehari-harinya apa, Nak?"tanya Papa. "Saya...ngajar, Om, di salah satu perguruan tinggi,"jawab Risty sopan. "Kamu Dosen?"tanya Mama tak percaya. "Iya, Ma...Risty ini Dosen." "Wah, hebat...pinter dong!"puji Mama."Kok mau sama Rion?" "Ish Mama...." "Udah jodohnya,Tante." Risty tertawa, lalu ia menangkap sorot mata Nindy yang tampaknya tidak menyukai kehadiran ia di rumah ini. Risty mulai tidak nyaman, tapi ia sudah berjanji akan menginap di sini. Mungkin, ia harus menyiapkan hati untuk menghadapi mantan isteri Rion. Malam pun tiba. Mama menyiapkan makan malam untuk mereka semua. Semua anggota keluarga berkumpul di ruang makan. "Besok...kita liburan yuk,"ajak Papa. "Liburan kemana,Pa? Daffa kerja,"balas Daffa. "Liburan ke mana gitu, kita nginap di villa, mumpung Risty di sini kan...,"kata Mama. "Ide bagus, Ma,ke tempat yang dingin ya,"balas Rion dengan tatapan nakal ke arah Risty. Risty memukul lengan Rion pelan, ia malu mendengar Rion berbicara seperti itu sambil menatapnya. "Mentang-mentang udah ada pasangan sekarang minta ke yang dingin-dingin."Papa terkekeh. "Iya, Pa...sudah ada yang bisa dipeluk,"sambung Mama dan kemudian mereka terkekeh. Nindy hanya diam sejak tadi, sesekali menyuapi anak-anaknya meski mereka sudah bisa makan sendiri. Usai makan, Risty berdiri."Saya yang cuci piring ya, Tante." "Dengan senang hati, tapi.. ini ikhlas kan ya, Risty, takutnya nanti kamu kecapekan enggak sih?" "Nggak ,Tante." Risty mengangkat piring kotor ke dapur. Nindy membantu Mama membawa sisa makanan ke dapur, dan menyimpannya di dalam lemari. "Risty, Tante senang sekali kami bisa mengambil hati Rion. Secepatnya kalian menikah ya. Soalnya Mama kasihan dia sendiri terus,"kata Mama saat tiga wanita itu ada di dapur. "Iya, Tante." Risty tersenyum. Lalu tiba-tiba ia dikejutkan dengan kehadiran Nindy yang mengambil alih mencuci piring. "Saya yang cuci kamu yang bilas aja,"kata Nindy. "Kalian cepat akrab ya,"puji Mama. "Iya, Ma...Mama istirahat aja. Biar Nindy dan Risty yang beresin semua." "Baiklah, Mama menonton saja di sini." Nindy melirik ke arah Risty."Ma, biasanya Rion habis makan minta makan buah,kan, Ma? Tadi pagi, Nindy beli semangka, udah dipotong tinggal dibawa ke depan." Mama tertawa. Ia menepuk jidatnya."Oh iya, Mama lupa. Nah, Risty, jangan kaget...Rion memang begini, agak manja dan rewel soal makanan." "Saya baru tahu, Tante." Risty kaget karena selama ini ia hanya menyediakan makanan apa adanya tetapi Rion tidak pernah protes atau meminta yang aneh-aneh. Enggak apa-apa, sabar-sabar aja ya ngadepin manjanya Rion dalam hal apa pun."Mama pun mengambil buah di kulkas lalu mengantarkannya ke ruang makan." "Iya...Rion itu memang begitu, apalagi sama pasangan. Kalau sudah bangun tidur, enggak mau langsung bangun, maunya dipeluk-peluk dulu, dicium-cium dulu,"kata Nindy tanpa menatap Risty. Tangannya sibuk mengusapkan sponge pada piring kotor. Gerakan Risty terhenti sejenak, lalu ia lanjut membilas piring."Iya saya tahu semua itu kok, Ndi. Semua itu sudah Rion lakukan ke saya." Nindy tertawa dengan nada mengejek."Rion itu kalau pacaran enggak mau terlalu deket, dia ngejaga aku banget waktu itu. Jadi, enggak mungkinlah dia begitu." Baru saja Risty hendak menjawab,Tiba-tiba terdengar suara derap langkah ke arah mereka. Dan saat itu juga, Rion memeluk Risty dari belakang. Nindy dan Risty sama-sama kaget. "Sayang, habis ini langsung ke kamar ya. Ada yang mau aku bicarakan,"kata Rion lembut. "I...iya,"balas Risty gugup.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN