Bab 17

1039 Kata
Risty menatap kepergian Rion, ia tidak berusaha mengejar pria itu. Begitu juga Rion, ia sedang tidak ingin kembali lagi ke dalam rumah Risty untuk bicara. Lebih baik ia menyendiri saja dulu. Lagi pula, beberapa hari ini ia kurang fokus bekerja karena sibuk jatuh cinta. Rion kembali membuat content-content terbarunya sampai malam tiba. Tepatnya pukul sebelas malam. Dimana saat ini, hujan deras dan mendadak listrik mati karena ada pohon tumbang. Mendengar kabar tersebut dari pesan yang dibagikan oleh salah satu tetangganya. Rion segera mencabut semua colokan komputernya, lalu menyalakan lampu dan berniat tidur saja. Listrik juga mungkin akan berfungsi normal besok. "Rion!"panggil Risty di jendela ruang kerja Rion. Wanita itu, yang tadinya sudah terpejam di kamarnya, spontan terbangun. Tentu saja karena listrik mati, kamarnya gelap dan ia merasa pengap. Ia memberanikan diri keluar dari rumah, dan melarikan diri ke sebelah rumah. Ia tidak mengetuk pintu depan, melainkan langsung ke jendela ruang kerja Rion. Rion tidak menjawab panggilan Risty. Ia masih sedikit kesal pada wanita itu. "Rion!" Risty mengetuk jendela dengan keras. Bahunya mulai basah terkena tetesan hujan dari genteng. "Ada apa?"balas Rion dari balik jendela. "Aku takut gelap, Yon!"ucapnya lirih. Keringat dingin kini mengalir deras di tubuhnya. "Pulang ajalah,Mbak. Enggak ada gunanya juga kan saya ini. Cuma bisa bikin marah Mbak aja. Enggak apa-apa kok, palingan juga sebentar lagi lampunya nyala,"balas Rion. Tidak ada balasan dari Risty. Gadis itu terduduk di bawah jendela ruang kerja Rion, gaun malamnya yang tipis mulai basah. Ia tidak berani kembali ke rumah. Dan akhirnya ia menangis terisak-isak. Rion mengintip untuk memastikan apakah Risty masih di situ apa tidak. Hatinya terpukul melihat wanita itu menangis. Rion tidak tega, ia segera keluar membawa payung, mendatangi Risty. "Masuk ke dalam,"katanya sambil membangunkan Risty. Ia mengajak wanita itu ke dalam rumahnya. Hujan semakin deras saja. Mereka berdua berhasil masuk ke dalam rumah. Risty masih terisak. Rion merasa bersalah, akhirnya memeluk wanita itu. "Sudah, tidak apa-apa. Mbak sudah enggak sendiri." Rion mengusap punggung Risty. Risty terisak dalam pelukan Rion. Ia merasa sangat sedih atas perlakuan Rion tadi padanya. Begitu tega membiarkan ia gelap-gelapan serta kehujanan di luar. Jelas-jelas pria itu tahu ia sangat tidak suka kegelapan. "Bajunya basah,Mbak, diganti aja ya nanti masuk angin. Pakai kaus aku aja mau enggak?" Risty menyeka air matanya. Lantas ia membuka kimono yang sedikit basah. Gaun malam di dalamnya masih kering."Aku begini saja. Enggak apa-apa?" Rion mengangguk."Iya. Digantung aja biar besok kering." Risty memeluk lengan Rion dengan erat. Rion menarik napas panjang, berusaha rileks. "Kita ke kamar,Mbak. Jangan takut. Ada lampunya kok." "I...iya." Risty berjalan sambil memerhatikan sekitar. Rion mendudukkan Risty di atas tempat tidur."Mbak tidur..." "Kamu tega banget biarin aku tadi di luar, Yon. Aku ketakutan!" Rion mengecup kening Risty."Maaf, Mbak, ya...saya sedikit kesal saja. Tapi, ya sudahlah...sekarang sudah tidak apa-apa. Kita sudah ada di sini sekarang." "Jangan tinggalkan aku, Yon...,"isak Risty. "Saya enggak tinggalin, Mbak." "Maksudku, jangan seperti tadi lagi. Sakit...." Risty memegangi dadanya. Rion menggenggam jemari Risty,"Maafin saya, Mbak. Mbak yang meminta saya untuk bersikap biasa saja selayaknya tetangga pada umumnya." "Iya, tapi...tadi itu rasanya sakit. Aku enggak mau lagi, Yon." Risty memeluk tubuh Rion. Tubuh Rion menegang seketika. Perlahan, tangannya membalas pelukan Risty."Iya, Mbak...saya janji enggak gitu lagi. Tapi, saya ...juga ingin berarti di dalam hidup Mbak." Risty mengangguk."Iya...kamu berarti untukku, Yon." Rion tersenyum. Ia mengecup bibir Risty. Risty menarik tubuh Rion hingga mereka berdua terhempas ke atas tempat tidur. Malam ini mereka menciptakan hawa panas dalam udara yang begitu dingin.   ** Rion terbangun saat mencium aroma masakan dari arah dapurnya. Ia mengerjapkan mata berkali-kali, lalu melirik ke sebelahnya, Risty sudah tidak ada. Ia segera bangkit dan mencarinya. Ternyata, wanita itu sedang memasak. "Mbak masak apa?" Rio. Duduk di kursi makan. "Karena cuma ada beras, telur bumbu-bumbu seadanya, ya...nasi goreng. Kalau ke rumah lagi, takut ntar ketahuan tetangga,"balas Risty. "Oke." Rion mengangguk-angguk. Lalu suasana menjadi hening. Ponsel Rion di kamar berbunyi, ia segera mengambil ponselnya. "Halo?" "Halo, Rion, gimana kabar kamu?" Suara Mama terdengar begitu bahagia. "Kabar baik, Ma. Mama gimana? Sehat?" Rion melangkah keluar kamar, lalu kembali duduk di kursi makan. Risty melirik ke arah Rion karena penasaran. "Mama baik, kami semua juga baik, Rion. Mama rindu sekali, kamu enggak mau jenguk Mama sama Papa?" Rion tersenyum tipis."Sebenarnya rindu, Ma. Rindu sekali." "Pulanglah sesekali. Kamu juga enggak terikat jam kerja kan?" "Iya, Ma. Rion pulang...tapi, Ma...boleh enggak kalau Rion bawa seseorang ke rumah,"ucap Rion dengan hati-hati. "Seseorang? Siapa?" Rion menatap Risty yang kini tengah menata piring di atas meja makan."Calon isteri Rion, Ma. Rion mau kenalin calon isteri Rion ke Mama dan Papa." Tubuh Risty membatu, jantungnya berdegup kencang. Ia jadi salah tingkah. Tangannya pun gemetaran saat menyendokkan nasi goreng ke piring. "Syukurlah kalau begitu. Tentu saja boleh. Kapan kamu mau datang?" "Siang ini kami berangkat, ya, Ma kalau tidak ada halangan." Rion mengerlingkan matanya ke Risty. "Baiklah, Mama seneng banget dengernya. Mama tunggu ya, Yon." "Iya, Ma. Aku sayang Mama." "Mama juga sayang kamu, Yon." Sambungan telepon terputus, lalu Rion meletakkan ponselnya di atas meja. Ia menopang dagu dengan kedua tangannya."Mbak..." "Ke...kenapa?" Risty menarik kursi, lalu duduk. "Siang ini kita berangkat ya? Ke rumah Orangtua aku." Risty menyerahkan seporsi nasi goreng pada Rion."Ehmmm...kenapa aku harus ikut?" "Ya karena Mbak...calon isteri saya." "Calon isteri kok masih panggil Mbak?" Risty mendengus sebal. Rion tertawa."Jangan ngambek gitu dong, sayang." Mendengar panggilan sayang, wajah Risty terasa panas dan merah. Lalu, perlahan ia memberanikan diri untuk menatap Rion. Ia menarik napas panjang."Kamu...siap punya calon isteri cerewet kayak aku?" "Ya...mau gimana lagi, dapatnya Mbak." Risty langsung melotot. Sekarang Rion suka menarik ulur hatinya. "Becanda, sayang... Itu karakter kamu, kalau memang kita berjodoh, pasti Tuhan punya tujuan kenapa menjodohkan kita. Kelebihan kamu menyempurnakanku, kelebihanku, menyempurnakanmu. Pasangan itu...diciptakan untuk saling melengkapi, mengimbangi, dan...membahagiakan." Rion menaikkan kedua alisnya. "Iya." "Gitu aja jawabnya?" Rion menggeleng-gelengkan kepalanya. Pura-pura kecewa. "Maaf...." Risty mengusap punggung tangan Rion. Rion menatap tangan Risty, lalu ia tersenyum. Ia menggenggam tangan Risty."Jadi, siang ini kita berangkat, kan? Kamu mau, kan? Kalau setuju...artinya kamu juga setuju bahwa kamu adalah calon isteriku dan...itu artinya dalam waktu dekat kita akan menikah." Risty mengangguk malu-malu."Iya." "Syukurlah kalau begitu,"balas Rion. Dikecupnya punggung tangan Risty."Terima kasih. Setelah ini siap-siap ya. Kita packing." "Iya...ayo sarapan dulu,"kata Risty. "Iya, sayang." Rion melepaskan genggaman tangannya.  Mereka berdua menghabiskan sarapan dengan hati yang berdebar-debar.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN