Rion menguap lebar, menggeliat sejenak."Jam berapa,Mbak?"
"Jam empat pagi."
"Bapak kemana?"
"Bapak sama Ibu ke mesjid buat sholat."
Rion memeluk pinggang Risty, lalu bersandar manja di pahanya. Sepertinya ia sedang mencari kesempatan dalam kesepian.
"Rion..."
"Saya kangen tahu, Mbak..."
"Iya, tapi...jangan macem-macem di rumahku. Nanti Bapak sama Ibu tiba-tiba muncul gimana?" protes Risty.
"Nggak apa-apa. Palingan kita langsung diseret ke KUA,"balas Rion sambil memejamkan mata.
Risty berusaha menyingkirkan tangan Rion yang melingkar di pinggangnya. Tetapi, lelaki itu justru mengeratkan pelukannya. Rion tersenyum geli melihat usaha Risty gagal. Satu tangannya dengan nakal menelusup ke dalam piyama wanita itu. Mengusap punggung, pindah ke perut, lalu menelusup lagi ke dalam bra. Tubuh Risty membatu, merasakan titik sensitifnya disentuh. Rion menatap ekspresi wanita itu, ia merasa menang. Risty terlihat mulai gelisah. Rion menarik tangannya, lalu ia duduk di hadapan wanita itu.
"Kita teruskan di rumah kita aja ya ntar." Rion mengecup kening Risty lalu melarikan diri ke dalam kamar mandi.
Risty yang sedang nafsu-nafsunya kini ditinggal sendiri. Namun, ia tidak kesal, hanya saja wajahnya terasa panas. Mereka juga tidak mungkin melakukannya di rumah ini. Bisa saja tiba-tiba Bapak dan Ibu pulang. Ia pun segera bersiap-siap untuk pulang.
Sepanjang jalan, mereka saling diam. Terlarut dalam pemikiran masing-masing. Hingga akhirnya mereka tiba di depan rumah mereka. Risty berniat untuk keluar dari mobil karena mereka sudah sampai.
"Jangan keluar," kata Rion. Lantas ia berjalan membuka pagar, lalu berjalan membuka pintu garasi mobilnya. Setelah itu, mobilnya langsung ia masukkan ke garasi.
"Mbak keluar setelah saya tutup pintu garasi ya. Setelah itu, saya tutup pagar. Mbak masuk dari pintu itu,"tunjuk Rion.
Risty mengangguk pasrah. Lelaki itu keluar, lalu beberapa saat garasi terlihat gelap karena Rion sudah menutupnya dari luar. Ia segera keluar, lalu masuk ke dalam rumah Rion. Ini kali pertama ia masuk ke dalam rumah Rion. Ia merasa asing. Jadi, ia hanya berdiri saja di depan pintu.
Rion masuk ke dalam rumahnya, lalu mencari keberadaan Risty. Ia tersenyum senang, lalu menarik tangan wanita itu.
"Kamu mau apa?" tanya Risty.
Rion menarik Risty dengan cepat ke dalam kamar. Tubuh Risty dihempaskan ke tempat tidur. Rion membuka kaus yang ia pakai lalu menindih tubuh Risty.
"Rion..." Risty meneguk salivanya.
Rion menatap Risty dengan napas yang memburu. "Jadilah milikku, Mbak."
"Dengan tidur denganmu?"
"Ya bukanlah, kita nikah!" Rion menyentil kening Risty.
"Sakit!"
Rion tersenyum. Lalu, ia melumat bibir Risty. Dalam beberapa detik saja tubuh Risty langsung lemas tak berdaya. Tentu saja ia tidak bisa menolak ciuman ini, karena kemarin ia sangat merindukannya.
"Rion, jangan bikin aku enggak tahan, tapi...setelah itu kamu nolak untuk melanjutkan,"kata Risty dengan napas yang tak teratur.
“Terima lamaranku, aku akan melakukannya, Mbak.”
Rion kembali melahap b*******a Risty. Wanita itu menggelinjang dengan hebatnya.
"Tapi, aku..." Risty sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Rion sudah berhasil membuat sekujur tubuhnya memanas. Miliknya terasa berkedut membutuhkan Rion.
Sementara itu, hati Rion sendiri sedang dilema. Ia ingin meniduri wanita ini, tetapi ia tidak ingin menyakiti. Di sisi lain, ia juga sudah tidak tahan lagi ingin melepaskan semuanya.
“Ada apa?”tanya Risty dengan mata sendu.
Rion menggeleng.
“Aku enggak tahan, Rion,”ucap Risty lirih.
Tidak ada jalan lain, Rion memilih jalan lain untuk memenuhi keinginan Risty. Rion mendesah lega, begitu juga dengan Risty. Mereka saling memandang lalu tertawa bersamaan.
“Terima kasih.”
“Sama-sama.” Mereka berpakaian kembali dan tertidur karena masih mengantuk dan juga kelelahan.
Perut yang keroncongan membuat Risty terbangun. Ia melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul empat sore. Lama sekali mereka tertidur. Ia melirik Rion yang ada di sebelahnya. Dengan perlahan ia bergerak turun dari tempat tidur. Tangan Rion langsung menggapai tubuh Risty hingga wanita itu terhempas kembali ke tempat tidur.
"Jangan kemana-mana,"kata Rion manja.
"Tapi, aku harus balik ke rumah."
Rion menggeleng tak setuju."Jangan, di sini aja sama aku." Rion memberikan kecupan-kecupan kecil di leher dan pundak Risty.
"Aku...juga lapar."
Rion menghentikan ciumannya."Lapar? Aku enggak." Lalu ia tertawa geli.
"Ya udah, aku mau pulang ah!" Risty berusaha bangkit.
Rion pun duduk di sisi tempat tidur."Iya...iya, kita makan. Eh...mau masakin Saya enggak,Mbak? Bahan makanan yang kita beli tempo hari masih ada kan?"
Risty mengangguk."Iya, Masih. Tapi...gimana caranya aku keluar dari sini, Yon. Takutnya di depan ketemu sama tetangga."
"Nah, makanya...enggak enak kan, Mbak kalau sembunyi-sembunyi begini. Kalau sudah menikah, ya...udah bebas aja gitu,"kata Rion.
"Kamu ini malah bikin tambah pusing aja. Aku cuma nanyagimana caranya keluar dari sini tanpa ketahuan tetangga,"balas Risty.
"Saya ngasih tahu aja, kalau yang begini tuh ribet, Mbak. Jadi, alangkah baiknya kita...."
"Udah ah!"potong Risty.
"Mbak masih mau menghindari saya setelah apa yang kita lakukan tadi?"kata Rion membuat Risty tercekat.
Mata Risty merah, seperti ingin menangis."Terus? Kamu maunya apa?"
"Loh kok ditanya sih? Ya saya maunya ajak Mbak Nikah lah. Diajak nikah baik-baik kok enggak mau, sih, Mbak." Rion menggaruk-garuk kepalanya kesal. Lalu ia keluar dari kamarnya untuk mencuci muka.
Risty terdiam di tempat, entah apa yang dipikirkan wanita itu. Ia menarik napas panjang, lalu keluar rumah dengan cepat. Kali ini tidak ada rasa takut dilihat tetangganya. Ia sudah terlanjur kesal. Memangnya menikah segampang yang Rion katakan. Mereka bahkan baru saja saling mengenal. Bagaimana kalau seandainya mereka punya banyak ketidakcocokan lalu berakhir dengan perceraian kembali. Risty sulit membayangkannya.
"Mbak....loh!" Rion melihat kamarnya sudah kosong. Lalu ia melihat ke ruang tamu, pintunya terbuka sedikit.
"Mbak, jadi...maunya gimana sih." Rion terheran-heran."Ini jadinya gimana...dimasakin apa enggak." Rion segera ke rumah Risty."Mbak!"
“Kenapa?" Risty langsung muncul dengan nada jutek.
"Jadi dimasakin enggak nih?"tanya Rion.
"Iya aku masakin, tunggu aja di rumah."
"Jangan galak-galak ah, jelek banget, Mbak! Nanti aku cium loh!"
Risty yang tadinya ingin marah-marah terus langsung tersenyum."Apaan sih!"
"Nah, gitu, Mbak...cantik dan seksi kalau senyum."
"Enggak usah gombal lagi!"
"Takut Mbak enggak kuat ya, pengen lagi?"goda Rion.
Risty mendorong Rion agar pergi dari rumahnya."Nanti aku telpon kalau makanan udahMateng."
Rion tertawa."Ampun, Mbak...iya saya pulang. Jangan lama-lama ya,Mbak. Nanti saya rindu."
"Tahu, ah!" Wajah Risty merona. Ia segera masuk ke rumahnya. Jantungnya kembali berdegup kencang. Sebenarnya hal yang paling membuat ia sulit menerima Rion adalah karena usianya lebih muda. Menurutnya, lelaki yang lebih muda itu akan sangat sulit mengerti dirinya. Tapi, mengingat apa yang sudah mereka lakukan tadi sampai kelelahan dan tertidur pulas, sepertinya Risty harus berpikir ulang mengenai prinsipnya tadi.
Pukul lima lewat lima belas menit, Risty menghubungi Rion dan memberi tahu kalau masakan sudah selesai. Lelaki itu segera ke rumah Risty. Tentunya dengan mencuri-curi pandang ke tetangga. Apakah mereka melihat atau tidak. Rion berhasil masuk ke dalam rumah wanita itu.
"Yuk makan." Risty duduk di kursi makan.
Rion menikmati masakan wanita itu, sesekali menatap Risty. Tetapi, wanita itu malah membuang wajah. Bukan karena malu, tetapi seperti kesal atau malah terlihat tidak ingin melihat wajah Rion. Mereka saling diam sambil terus menghabiskan makanan mereka.
Rion meneguk segelas air putih, lalu ditatapnya Risty."Mbak tambah cantik deh."
Risty terlihat tidak mood menanggapi ucapan Rion. Ia kembali membuang wajahnya.
"Mbak." Rion meraih dagu Risty agar menatapnya. "Ada apa, sih?"
"Enggak apa-apa."
"Saya ganggu ya di sini? Atau...saya pulang aja nih?"
"Iya, pulang aja."
"Tega banget." Rion tidak mau pergi dari sana dalam keadaan seperti ini. Mereka sedang tidak baik-baik saja.
"Rion, jangan bikin aku tambah males deh." Risty merengut.
Rion bangkit dari kursinya, lalu berdiri di sebelah Risty."Mbak...Saya paham betul apa yang membuat Mbak bersikap seperti ini. Tapi, Mbak...saya enggak bisa. Saya takut Mbak tersakiti."
Risty membuang wajahnya."Aku enggak mau bahas. Lagi pula...kan aku yang tersakiti. Kenapa kamu yang harus repot."
"Kok gitu sih,Mbak." Rion berlutut di hadapan Risty."Saya ini orangnya nekat loh, Mbak."
Risty melirik sebal."Nekad gimana?"
"Saya enggak akan bilang, tapi...akan saya lakukan." Wajah Rion terlihat sangat serius."Kalau Mbak bersikap seperti ini terus...saya bisa langsung izin ke Bapak buat nikahin Mbak. Sekarang juga. Urusan surat menyurat bisa belakangan. Yang penting saja secara agama. Biar saya bisa nurutin semua kemauan Mbak itu."
Risty mengembuskan napas berat " Enggak usah dibahas lagi. Rion, sudahlah...kita berteman biasa saja. Seperti tetangga pada umumnya."
"Enggak bisa. Saya udah suka sama Mbak. Lagi pula kita udah sangat dekat. Saya juga udah datang ke rumah Mbak. Saya cuma butuh kata 'Ya' dari Mbak. Sudah." Rion mulai stres.
"Aku belum kenal keluarga kamu."
"Akan kukenalkan. Malam ini kita berangkat!"kata Rion tak tanggung-tanggung.
"Kalau mereka enggak merestui bagaimana?"
"Enggak mungkin. Semua pilihan ada di tangan saya, Mbak. Ayo kita pergi malam ini, tapi...bukankah Mbak ngajar ya."
"Anak-anak udah ujian, aku enggak ngajar lagi."
"Itu bagus. Kita bisa menginap beberapa hari di rumah orangtuaku."
Risty menggeleng."Aku belum ambil mobil di kantor polisi. Enggak bisa pergi kemana-mana."
"Alasan!"balas Rion. Ia mulai kesal."Saya permisi,Mbak. Terima kasih atas makanannya."
Usai berkata demikian, Rion langsung pergi. Ia tidak ingin membujuk atau pun merayu Risty lagi. Pertengkaran hanya akan menguras tenaga dan pikiran mereka. Ia tidak suka itu. Oleh sebab itu, lebih baik ia pergi saja. Biarkan Risty sendiri dengan rasa egonya yang tinggi.