Rion menerima bunga itu dengan senyum penuh arti. "Oh ya...aku pamit duluan ya, semuanya...."
"Mau kemana, Om?"
"Menjemput jodoh!"
Reno, Randy, dan Maya tampak bengong. Sementara Rion melambaikan tangannya, perlahan berjalan keluar dari gedung ini. Ia akan pergi menjemput Risty, di rumah orangtuanya.
"Jalan-jalan pulangnya beli buah saga. Om Randy enggak mau jemput jodoh juga?"tanya Maya.
Randy menggeleng."Jodohku belum lahir."
"Buset...kok putus asa banget, Om, sabar ya, Om."
Randy mengangguk, pura-pura sedih."Iya, Maya...saya selalu sabar kok biar udah hampir kepala empat."
Reno tertawa."Yaudah, dicari...biar enggak sendiri lagi. Karena sendiri itu...berat! Kau tak akan kuat!"
"Kamvret lu, Ren!" Randy mendengus sebal pada teman sependeritaan yang sudah melepas masa dudanya.
"Risty, mana Rion?"
Risty melirik ke arah Bapak."Rion siapa, Pak?"
"Rion calon suami kamu. Yang kemarin bicara sama Bapak di telpon,"kata Bapak lagi.
Risty menggeleng."Bapak ini...itu bukan pembicaraan serius loh, Pak. Lagi pula...Rion itu bukan siapa-siapa Risty. Kamu cuma temen."
Ibu datang membawa nampan berisi cemilan dan tiga cangkir teh panas. Ini adalah kebiasaan mereka, setelah magrib, biasanya mereka ngobrol di ruang tamu sambil menikmati teh panas.
"Jadi, belum ada tanda-tanda kamu akan nikah dong, Ris?"
"Belum, Bu."
"Ya udah deh, sabar-sabar aja, Pak. Namanya juga belum jodoh mau bagaimana lagi."
"Tapi, umur Risty ini loh, Bu, udah tiga puluh dua." Bapak mencomot pisang goreng yang dibawa Ibu.
"Ya enggak apa-apa, Pak. Banyak kok artis itu sudah tiga puluh limaan belum nikah,"kilah Risty.
"Mereka kan artis, sementara kamu Dosen,"balas Bapak sinis.
"Bapak ini...." Risty memanyunkan bibirnya.
Lalu mereka bertukar pandang saat mendengar ada suara mobil berhenti di halaman rumah mereka.
"Siapa itu?" Ibu melihat keluar.
"Permisi, Bu...."
"Iya? Cari siapa, Nak?"
"Benar ini rumahnya Mbak Risty?"
"Risty?" Ibu mengerutkan keningnya."Risty....Risty, sini...ada yang cariin kamu."
Risty keluar dan jantungnya langsung berdegup kencang. Pria berkemeja batik itu tersenyum hangat padanya."Ri...Rion."
"Mbak Risty...."
"Oh...kamu Rion? Temennya Risty?" Suara Ibu menjadi ceria. Sekarang wanita paruh baya itu mendekat ke Rion.
"Iya, Bu." Rion menjabat tangan Ibu.
"Ayo masuk...masuk! Pak! Bapak!"
Bapak keluar."Ada apa, Bu?"
"Ini loh, Rion yang Bapak ceritakan tadi."
Rion menjabat tangan Bapak."Saya Rion, Pak."
"Silakan masuk."
Rion mengangguk, kini ia duduk bersama Bapak dan Ibu. Sementara Risty harus membuatkan minuman untuk tamu tak diundang tersebut. Risty bisa mendengarkan suara Bapak yang terdengar begitu keras. Apa lagi saat tertawa. Dengan malu-malu, Risty menyuguhkan minuman itu.
"Kamu darimana tadi? Jauh-jauh ke sini."
"Tadi habis kondangan, Bu, terus langsung ke sini. Lumayan perjalanannya jauh." Rion tertawa kecil.
"Pasti lapar kan, Bu, siapkan makan malam!"perintah Bapak.
"Jangan repot-repot, Pak,Bu."
"Tamu jauh yang datang ke sini, harus makan! Kalian ngobrol saja ya." Bapak membawa Ibu pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Kini tinggallah Risty dan Rion berdua saja.
Risty berdehem."Kamu tahu alamat orangtuaku darimana?"
Rion merogoh kantong, lalu mengacungkan sebuah dompet di hadapan Risty."Ini."
Mata Risty membulat."Loh? Dompetku? Kok di kamu?"
Rion tertawa."Ceritanya panjang."
"Ah, panjang gimana...kamu yang ambil ya?" Risty meraih dompetnya.
"Waktu kamu lagi nyariin dompet kamu, sebenarnya aku udah nemu sih di dekat pot bunga. Kayaknya jatuh pas kamu mau berangkat. Terus...aku sembunyikan aja."
Risty menepuk pundak Rion."Duh, jadi...sengaja ya!"
"Iya sengaja. Biar saya bisa Deket sama Mbak."
"Masa pakai beginian, sih, bikin syok tahu. Mana mobilku masih di kantor polisi lagi." Risty memeluk dompetnya dengan haru.
"Soalnya Mbak kan galak banget. Marah-marah terus sama saya. Gimana saya bisa deketin coba."
"Itu lagi dibahas."
"Memang faktanya begitu."
"Kamu...kenapa jauh-jauh datang ke sini, Yon? Besok juga aku pulang."
"Saya rindu, Mbak, sangat rindu,"balas Rion.
Wajah Risty merona."Rindu?"
"Iya,Mbak...saya sayang Mbak."
"Sayang yang bagaimana?"
"Sayang, sebagai lawan jenis. Ingin memiliki Mbak seutuhnya. Boleh tidak? Makanya saya jauh-jauh datang. Kemarin...Mbak salah paham ya soal mantan isteri saya."
Raut wajah Risty berubah."Jangan bahas mantan isteri."
"Mbak cemburu, kan? Berarti Mbak memiliki perasaan yang sama seperti saya."
"Nggak tahu." Risty membuang wajahnya.
"Mbak, dulu...saya punya pacar, hubungan kami jarak jauh. Jarang ketemu. Lalu, saya lamar dia. Tapi setelah lamaran, ternyata dia selingkuh dengan kakak saya sendiri. Tapi, saat itu saya belum tahu sampai akhirnya kami menikah. Lalu, di usia pernikahan kami yang masih dua Minggu...saya harus menerima sebuah kenyataan bahwa isteri saya waktu itu sudah mengandung delapan minggu. Ternyata itu adalah hasil hubungan antara isteri saya dengan Kakak saya. Setelah itu kami bercerai. Sekarang, mereka hidup bahagia dan sudah memiliki dua anak. Kemarin, mereka memang berkunjung ke rumah."
"Tapi, dia bilang dia adalah mantan isteri kamu."
"Itu benar, tapi enggak sepenuhnya benar. Dikatakan salah, juga tidak sepenuhnya salah. Namanya Nindy, dia memang mantan isteriku, tapi...sekarang dia adalah kakak ipar saya,"jelas Rion dengan sabar.
"Lalu...kenapa kamu harus menceritakan semuanya padaku?"
"Supaya Mbak tidak salah paham. Saya ini sudah move on, sekarang...Mbak lah satu-satunya wanita di hati saya,"ucap Rion tanpa sadar. Ia sudah mengungkapkan isi hatinya pada wanita itu.
Telinga Risty terasa panas."Usiaku...tiga puluh dua tahun,Yon.
"Bukan masalah. Saya duda sudah tujuh tahun, Mbak. Mbak mau enggak bikin saya enggak duda lagi? Kita nikah yuk, Mbak?"
"Hah?" Risty mengedipkan matanya berkali-kali. Ini sangat sulit dipercaya.
"Terima...terima...." Terdengar suara bisikan-bisikan dari arah dapur.
Risty dan Rion menoleh ke arah sumber suara. Bapak dan Ibu berdiri tak jauh dari dekat mereka.
“Bapak...Ibu?" Risty terlihat malu dan kesal karena pembicaraan nyeleneh mereka didengar."Katanya Masak?"
“Bapak dan Ibu menampakkan diri."Kami...mau denger aja. Kamu dilamar tuh, Risty. Terima sajalah."
"Kamu cinta enggak sama Rion?"tanya Ibu.
"Enggak tahu, Bu. Kami baru kenal."
"Ya justru itu, baru kenal...saya ke sini langsung ketemu Bapak sama Ibu kamu, biar Mbak yakin saya enggak main-main. Biar Bapak dan Ibu menilai sendiri keseriusan saya." Sebenarnya perasaan Rion sudah mulai tidak enak melihat reaksi Risty. Wanita itu sedikit keras kepala.
Tiba-tiba perut Bapak berbunyi dengan keras. Mereka semua tertawa.
"Bapak malu-maluin saja." Ibu tertawa lagi.
"Bapak lapar, Bu."
"Kita makan di luar saja, Bu, Pak...kalau belum masak. Yuk,"ajak Rion.
"Ayo...ayo, sekalian memberi waktu Risty untuk mikirinjawabannya,"jawab Bapak.
Mereka berempat pun pergi untuk makan malam di luar.
**
Malam ini, Rion menginap di rumah orangtua Risty karena hari sudah malam. Rencananya, besok setelah subuh, Rion dan Risty akan kembali lagi untuk melaksanakan aktivitas mereka seperti biasa. Pembicaraan masih menggantung karena Risty belum bisa menjawab lamaran Rion. Bapak dan Ibu Risty harus ekstra bersabar menanti jawaban Puteri mereka yang keras kepala. Rion memilih tidur di ruang tengah, di atas karpet tebal di depan televisi.
Pukul empat pagi, Risty membangunkan lelaki itu karena mereka harus bersiap untuk pulang.
"Rion! Rion!" Risty menepuk pipi Rion pelan.
Rion membuka matanya."Kenapa, Mbak?"
"Bangun, katanya kita mau pulang, kan?"kata Risty