Bab 14

1084 Kata
Rion mengendarai sepeda motornya dengan semangat ke rumah. Begitu memarkirkan kmsepeda motornya di halaman rumah, ia langsung menuju rumah Risty. "Mbak...." Rion mengetuk pintunya dengan semangat. Tidak ada jawaban dari dalam. Ia kembali mengetuk."Mbak!" Mendengar suara Rion, Pak Samad keluar dari rumahnya dan menghampiri Rion."Mas Rion!" Rion menoleh "Iya, Pak?" "Mbak Risty tadi pergi buru-buru...baik ojek. Enggak tahu kemana itu sampai sekarang belum pulang,"jelas Pak Samad. "Oh begitu...iya, Pak. Terima kasih atas informasinya." "Ini, Mas...tadi kuncinya Mbak Risty jatuh. Saya titip ke Mas Rion aja ya, takutnya pas Mbak Risty pulang saya enggak di rumah." Pak Samad menyerahkan kunci rumah Risty. "Iya, Pak. Saya simpan ya." Rion menerima kunci itu dengan wajah kecewa. "Ya sudah, saya permisi ya, Mas." Pak Samad pergi. Iya, Pak." Rion terduduk di kursi teras rumah Risty. Ia mengambil ponselnya, lalu menghubungi wanita itu. Setelah terdengar beberapa kali nada terhubung, akhirnya ia bisa mendengar suara wanita yang saat ini sedang ia rindukan. "Halo?" Suara Risty bergetar. "Mbak, di mana? Kata Pak Samad Mbak pergi ya?"tanya Rion. "Tiba-tiba ditelpon suruh pulang ke rumah, Yon." "Naik apa,Mbak? Kok enggak pamit ke saya tadi. Saya nyariin loh." "Iya, soalnya buru-buru. Pulang dari ngajar...langsung dapat telpon. Aku Naik mobil travel. Maaf." "Sudah sampe di kampung ya berarti?" "Iya sudah." "Wah, besok sudah balik ke sini belum, Mbak?" "Kayaknya belum, Yon. Kenapa?" "Saya mau ajak Mbak ke nikahannya temen saya,Mbak. Sayang banget ya..." "Pergi aja sama mantan isteri kamu!" Air mata Risty akhirnya tumpah. Ia sudah berusaha bersikap biasa saja. Tapi, rasa cemburu ini tidak bisa ia tahan. "Waduh? Kok gitu, Mbak?" "Ya kan kamu lagi sama mantan isteri kamu di rumah." "Dia itu kakak iparku, Mbak, dia datang sama suaminya kok. Tadi...saya keluar karena bantu-bantu persiapan nikahan temen saya besok. Ini baru pulang terus ke rumah Mbak, tapi kosong. Saya bahkan belum masuk rumah saya sendiri." Suara Rion berubah menjadi sedih. "Tapi, dia bilang mantan isteri kamu dan...anak kecil tadi...." Suara Risty tertahan."Itu...anak kamu kan?" "Bukan,Mbak, saya belum punya anak waktu itu. Itu anaknya kakak saya. Mbak...? Saya jemput ya?" "Aku enggak bisa, Yon, lagi pula...aku pulang karena memang ada urusan mendadak di sini." "Bukan karena menghindari saya?" "Bukan. Memang tadi, Bapakku telpon nyuruh pulang. Kalau urusan di sini selesai saya langsung pulang." "Mbak...." Rion tertunduk sedih."Saya rindu...." Jantung Risty berdebar kencang mendengarnya. Ia ingin sekali bertemu dengan Rion,tentu dia sangat ingin. Tetapi ia ada di sini sekarang. Tidak bisa pergi sebelum diizinkan pergi. "Mbak..." "Iya?" "Cepat kembali ya...." "Kenapa Aku harus cepat kembali?" "Karena saya membutuhkan Mbak di samping saya." Rion menimang kunci rumah Risty."Malam ini saya tidur di rumah Mbak ya. Tadi kunci Mbak jatuh di depan rumah. Pak Samad yang ambil. Sekarang udah sama Saya." "Ya silakan...asalkan enggak dimarahi Pak RT." "Enggaklah, jadi...besok saya ke kondangan sendirian,Mbak...tega bener,"kata Rion mulai manja. "Biasanya juga sendiri kan...enggak apa-apa." Risty tertawa geli. "Ya kan beda...sekarang udah ada Mbak." Rion senyum-senyum sendiri. "Ya mau bagaimana lagi, kan enggak nyangka bakalan begini juga. Maaf ya..." "Risty, kamu telponan sama pacar kamu ya?" Tiba-tiba Bapak merebut ponsel dari tangan Risty. "Bapak! Sini, Pak...sini." Risty berusaha merebut ponselnya. Tetapi tidak berhasil karena postur tubuh Bapakku ih tinggi. "Halo, ini Bapaknya Risty. Ini pacarnya Risty ya?" sapa Bapak dengan ramah. "Bapak, jangan sembarangan!" Risty memanyunkan bibirnya. "Selamat malam, Pak. Perkenalkan saya Rion..." "Oh, iya, Nak Rion...pacarnya Risty kan?" Rion tersenyum."InsyaAllah jadi suaminya aja, Pak." Bapak tertawa lepas."Saya tunggu lamarannya ya, segera!" "Iya, Pak. Saya segera ke sana." "Baik saya tunggu." Bapak menyerahkan ponsel itu kembali pada Risty. Lalu ia bersorak dan pergi menemui isterinya. Risty menepuk jidatnya."Rion...maafin Bapak. Bapak suka becanda." "Sekali pun tadi Bapak kamu bercanda, ya...saya tetap serius jawabnya. Mbak udah makan kan? Tadi uangnya cukup?" Risty tersenyum, rasa kesalnya pada lelaki itu perlahan menghilang."Cukup kok uangnya. Sebentar lagi saya makan. Ya sudah, ini sudah malam. Kamu istirahat saja...di rumahku." "Iya, Mbak. Sampai ketemu besok. Selamat istirahat ya...." "Dahhh...." Risty mengakhiri teleponnya. Rion senyum-senyum sendiri. Ia kembali ke rumah untuk mengambil pakaian yang akan ia pakai besok. "Kamu mau kemana, Yon?"tanya Nindi saat Rion tengah mengambil pakaiannya di lemari. "Ndi, ini kamar pribadi saya...harap diketuk dulu sebelum masuk," balas Rion dingin. Ia segera mengambil semua keperluannya lalu keluar dengan cepat. "Kamu mau kemana, Yon?" panggil Nindi sambil mengikuti keluar. Rion pun mengunci kamarnya agar wanita itu tidak bisa masuk sembarangan. "Bukan urusan kamu!" "Kamu ngindarin saya, Yon?" Langkah Rion terhenti."Iya. Saya menghindar. Karena saya malas berurusan sama kamu." "Kenapa, Yon?" "Kehadiran kamu sekarang ...mengganggu. Please, saya sudah melupakan kamu dan...kamu itu kakak ipar saya." Rion membuang wajahnya dengan kesal, lalu pergi ke rumah Risty untuk beristirahat.   ** Rion berdiri di tengah-tengah kemeriahan resepsi pernikahan Reno dan Maya. Ia meneguk segelas air putih, pikirannya melayang pada wanita pujaan hati. Randy menghampiri dan menepuk pundaknya. "Temen nikah itu muka malah kusut!" Rion tertawa."Mikirin seseorang." "Wow? Wanita?" "Ya iyalah, masa banci!" "Ya kali aja, kau berubah haluan." Randy tertawa. "Sendirian, Ran?" "Menurutmu? Aku datang sama siapa? Mantan isteri?"balas Randy sedikit nyolot. Rion tertawa geli."Masih ingat mantan isteri. Ya ampun!" "Ah, bukannya itu kau ya? Aku cuma ingat anakku, mantan isteri ya udah...bodo amat. Udah jadi isteri orang." Skak mat untuk Rion, duda yang gagal moveon selama tujuh tahun. Rion terkekeh malu."Itu kan dulu...Aku udah enggak ingat mantan isteriku. Aku memikirkan wanita lain." Randy melirik."Wanita lain? Maksudnya...kau sudah mulai membuka hati untuk wanita lain?" "Iya. Harusnya aku datang sama dia hari ini. Tapi, dia enggak bisa." "Syukurlah!"balas Randy santai. "Malah disyukurin!" "Aku jadi ada temennya kan...kalau kau bawa pasangan, kasihan kelihatan sekali aku ini masih belum lakunya." "Terima kenyataan aja. Lagi pula, Bos kok jomlo!"ejek Rion. "Aku memang sudah berniat cari pasangan. Tapi, ya ...tahu sendiri aku lagi punya banyak masalah di perusahaan. Karyawanku lagi bikin masalah besar." Rion mengangguk-angguk."Yaudah sabar, Bro, nanti juga semuanya bakalan terlewati." "Om...Om..." Maya datang sambil mengangkat ujung gaun pengantinnya. "Kenapa, Maya?" "Om...ngapain berduaan terus di sini, ayo ikutan foto sama kita dong,"kata Maya. "Malu,Maya...." "Biar nular, Om, biar cepetan nyusul." "Memang ngaruh ya?" Randy tertawa. "Ya iyain aja deh, Om, biar Maya senang." Rion geleng-geleng kepala. Isteri sahabatnya ini memang ajaib. Mau tidak mau mereka menuruti keinginan Maya untuk berfoto bersama. Padahal, tadi mereka berniat foto dengan Reno saja. Maya bertepuk tangan bahagia usai berfoto bersama. Lalu, ia mengambil dua tangkai bunga dari bucket yang ia pegang pada Rion dan Randy."Ini, Om..." Randy dan Rion bertukar pandang."Kenapa dikasih bunga, May?" "Biar cepetan nyusul, kawin...kawin, eh nikah." Reno mengecup pipi Maya karena gemas dengan tingkah lakunya."Belum ada pasangannya." "Sebentar lagi ada kok, ya kan...,Om." "Aamiinn,"balas Randy.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN