Bab 13

1028 Kata
"Pergi kemana?"tanya Daffa curiga."Nggak menghindar kan?" "Nggaklah, kak. Besok temen aku nikah, si Reno. Malam ini mau bantu-bantu persiapannya. Jadi, enggak apa-apa aku tinggal kan?" Rion menatap Nindi dan Daffa bergantian. "Enggak apa-apalah." "Oke kalau gitu, ini kamarnya." Rion berjalan ke kamar tamu, membukakan pintunya." Daffa masuk ke dalam."Aku ke toilet sebentar." Rion mengangguk, lantas ia hendak duduk. Tetapi, ada Nindi di sana tengah menggendong anak berusia dua tahun. Itu adalah anak keduanya bersama Daffa. Sementara anak pertama mereka duduk manis di sebelah Nindi. "Saya...masuk dulu." Rion pergi begitu saja. Nindi mengikuti Rion."Rion!" "Ada apa, Ndi?" "Boleh...minta tolong, aku haus." Rion mengangguk, ia pergi ke dapur untuk mengambilkan air minum. Wanita itu tersenyum lirih, lalu ia melihat ke arah kiri,ada ruangan yang pintunya terbuka. Nindy masuk ke ruang kerja Rion. Lalu ia terperangah melihat kertas warna-warni yang tertempel di dinding. Ia membaca salah satunya. Karena penasaran, ia mulai membaca satu demi satu. "Ndi ini..." Rion kaget karena tak menemukan Nindy. Ia menoleh ke arah ruang kerjanya. Ia melihat Nindy sedang berdiri. Langkah Rion melambat, Nindy membaca semua tulisannya tentang Nindy. Padahal pagi tadi, sepulang dari rumah Risty ia berniat membuang semua puisi-puisi cintanya itu. Rasanya semua itu sudah tidak bermakna karena sekarang ia sudah melupakan Nindi. Sekarang, Risty lah yang mengisi pikiran dan hatinya. Nindy menoleh, lalu melempar senyuman manis. "Selama tujuh tahun...kamu menulis semua ini? Manis sekali." "Ehm...itu...." Rion menggaruk kepalanya. Bingung bagaimana harus menjelaskan. Memang benar ia menuliskannya karena ia masih belum bisa melupakan Nindy. Tapi, sekarang sudah berubah. "Kamu masih sayang sama aku?"tanya Nindy. "Enggak, Ndy,itu...dulu. iya...memang dulu aku susah ngelupain kamu. Tapi, sekarang...aku sudah tidak sayang sama kamu. Kamu adalah kakak iparku. Sudah itu saja. Jangan dibahas yang dulu lagi. Ini juga nanti mau aku buang kok." "Jangan dibuang...aku suka." "Harus dibuang karena kita udah enggak ada hubungan apa-apa." Rion melepaskan kertas-kertas itu, lalu membuangnya ke tempat sampah. "Enggak apa-apa kok, Yon, aku bisa paham. Aku pun enggak sepenuhnya menerima Mas Daffa...karena...." "Stop, Nindy...jangan diteruskan karena itu tidak pantas diucapkan." "Sayang...!" Suara Daffa terdengar. Rion buru-buru pergi agar tidak terjadi salah paham. Nindi menemui suaminya itu, lalu mereka satu keluarga itu masuk ke kamar yang disediakan Rion. Rion menarik napas panjang. Sebenarnya ia merasa tidak nyaman dengan ucapan-ucapan Nindi tentang masa lalu mereka. Ia sudah menerima semua ini. Jadi, sebaiknya jangan dibahas lagi. Hari sudah sore, Rion segera mandi dan pergi ke rumah Reno. Ia sudah janjian dengan Randy untuk pergi bersama. Setelah berpamitan, Rion melanjutkan sepeda motornya menuju rumah Randy. Risty baru saja turun dari ojek, melirik ke arah rumah Rion dengan senyuman penuh arti. Setelah ini, ia akan segera memasak untuk makan malam mereka berdua. Dengan semangat yang menggebu-gebu, Risty menyiapkan semuanya. Setelah itu, ia mandi dan pergi memanggil Rion. Ia mengetuk pintu perlahan. Terdengar suara langkah dan pintu dibuka. Risty terkejut karena bukan Rion yang membuka. "Cari siapa ya, Mbak?"tanya Nindy. Tubuh Risty menegang seketika saat mendapati ada wanita lain di rumah Rion."Saya cari Rion." "Rion sedang keluar, Mbak. Ada yang bisa dibantu?" "Enggak...tadi cuma mau nawarkan makan malam aja, saya...tetangga Rion." Risty tampak canggung. "Oh...makasih,Mbak, saya sudah masakkan makan malam untuk Rion kok." "Mbak ini siapanya Rion?"tanya Risty. "Saya...mantan isterinya Rion." Tubuh Risty terasa lemas, tapi ia berusaha tersenyum."Ya udah, Mbak...kalau Rionnya enggak ada. Saya permisi." "Iya,Mbak." Risty membalikkan badannya hendak pulang. "Mama...." Risty menoleh, seorang anak kecil tampak merengek pada mantan isterinya Rion. Hati Risty terasa berdenyut."Anaknya,Mbak?" "Iya ini anak saya...,"balas Nindi. "Iya,Mbak...mari." Risty mempercepat langkahnya sebelum air matanya tumpah. Mungkinkan Rion dan isterinya akan rujuk kembali? Sesampai di rumah, Risty menangis sejadi-jadinya. Hatinya terasa sakit sekali. Rion dan mantan isterinya bersama dalam satu rumah. Ada anak mereka juga di sana. Hati Risty hancur, baru saja ia merasakan bahagia, ternyata bukan. Ya tentu saja bukan, memang dirinya siapa. Bukan siapa-siapa Rion. Saat sedang menangis, ponselnya berbunyi. Risty menyeka air matanya, lalu berusaha bersikap seolah sedang tidak terjadi apa-apa. "Halo?" "Risty...." "Iya, Pak?" "Ibumu sakit....pulang sekarang ya?" "Sekarang? Memangnya Ibu sakit apa, Pak?" Risty langsung berdiri. "Pokoknya pulang sekarang ya." "Iya, Pak...Risty siap-siap sekarang." Risty memutuskan sambungan telepon. Ia pergi ke kamar untuk mengambil tas dan uang yang diberikan Rion pagi tadi. Ia rasa cukup untuk ongkosnya saja. Di rumah, ia bisa pinjam uang Bapak. Ia segera memesan ojek. Setelah ojek datang, dengan buru-buru ia naik tanpa memerhatikan Pak Samad yang terbingung-bingung. "Mbak Risty!"panggil Pak Samad. Namun, gadis itu tidak melihatnya karena mungkin sudah panik. Kunci rumah Risty terjatuh dan disimpan oleh Pak Samad. Rumah Orangtua Risty berjarak dua jam dari rumah Risty yang ia tinggali sekarang. Jadi, perjalanan itu tidak begitu panjang. Setelah sampai di rumah, Risty masuk dengan panik tanpa mengucapkan salam. "Ibu...,Bu....!!" "Hei, bukannya ngucapin salam. Main nyelonong aja sih." Ibu menepuk jidat Risty. "Loh... Risty mencium tangan Ibu."Katanya Ibu sakit? Sudah sehat?" "Ibu memang sakit, nih,"tunjuknya pada jarinya yang melepuh sedikit. Terkena minyak panas saat menggoreng ikan. "Ibu...seriusan dong?" Bapak keluar dari kamar setelah mendengar suara anak gadisnya."Risty..." Risty mencium tangan Bapak."Pak, katanya Ibu sakit." Bapak mengusap puncak kepala Risty."Iya itu tangannya sakit kena minyak panas." "Bapak bohong dong." Risty merengut. Bapak tertawa, seakan-akan bahagia sudah berhasil membohongi anaknya sendiri."Habisnya kamu kalau enggak dibegitukan enggak mau pulang. Kayak udah enggak punya orangtua aja." "Habisnya Bapak sama Ibu pasti mau jodohin Risty terus...jadi, Risty kan...jadi males, Pak." Ibu menarik Risty supaya duduk."Ya kan...Bapak sama Ibu sudah pingin gendong cucu. Di kampung ini, cuma Bapak sama Ibu yang belum punya." "Iya, nanti juga Risty nikah kok." Risty menahan rasa kesalnya. "Oh ya? Calonnya udah ada? Bawa ke sini dong...." Bapak terlihat bersemangat. "Ada...masih on the way." "Jawabannya itu terus dari dulu." "Iya, Ma, tahun ini Risty nikah kalau memang sudah ketemu jodohnya." "Kalau tahun ini enggak juga, terpaksa Ibu jodohin ya?" Risty mengangguk pasrah. Sebenarnya ia tidak mau membuat orangtuanya memohon seperti ini. Tetapi, mau bagaimana lagi. Dipaksakan seperti apa pun juga, kalau memang belum waktunya ia tidak akan menemukan sang jodoh. "Kamu istirahat aja, udah malam. Mau makan enggak biar Ibu hangetin makanannya." "Nanti Risty makan kalau lapar ya, Bu...,Ibu istirahat aja. Nanti Risty panaskan sendiri." "Ya sudah. Ibu nonton tv dulu, ya takut ketinggalan jalan cerita sinetronnya."Ibu terkekeh. Bapak masih duduk sambil bermain game di ponselnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN