Rion menjauh sedikit, lalu ia kembali mendekat dan melumat bibir Risty. Kali ini ia memeluk tubuh wanita itu dengan erat, sesekali mengusap punggung sampai ke pinggang. Risty membalas lumatan Rion, tangannya bergerak mengusap pinggang Rion dan kini meremas rambut duda itu.
Rion mengangkat tubuh Risty dan membaringkannya ke atas tempat tidur. Mereka berdua terus berciuman sampai kehabisan napas. Ciuman terlepas, Keduanya tampak mengatur napas. Risty tidak menyangka kalau ini semua akan terjadi. Ia berciuman dengan pria yang pernah ia kira seorang anak kecil. Tapi, saat ini ia membalas ciuman Rion. Bukankah itu berarti ia memiliki ketertarikan pada Pria itu.
Rion mengusap pipi Risty."Percayalah kalau aku sayang kamu, Mbak."
Risty menggeleng. Rion kembali mendaratkan ciuman bertubi-tubi di area wajah sampai ke leher.
"Rion!" Terdengar suara desahan dari mulut Risty.
Rion menghentikan gerakannya."Mau tidak mau aku harus menginap di sini,Mbak. Dan aku...maunya di sini, sama Mbak."
"Enggak bisa, Rion..."
"Bisa,Mbak." Rion melumat bibir Risty,kali ini ciuman mereka lebih panas. Perlahan tangan Rion menjalar ke lengan, lalu ke bagian-bagian lainnya. Kini tangannya juga sudah menelusup ke dalam baju yang dipakai Risty.
"Sudah sampai itu saja?"tanya Risty heran.
"Memangnya Mbak tahunya sampai mana?"tanya Rion dengan tatapan nakal.
"Sampai milik kamu dan milikku bersatu."
Rion tertawa."Wah, wah, wah...pikiran Mbak."
"Rasanya sudah sepantasnya wanita seusiaku tahu soal itu, Rion. Aku juga ingin merasakannya."
"Kalau aku lakukan itu, itu akan menyakiti Mbak. Nanti-nanti saja."
"Memangnya kamu tidak menginginkan itu?"
"Ya pengenlah. Gila aja udah duda bertahun-tahun juga."
"Berapa tahun jadi duda?"
"Tujuh tahun."
"Lama banget! Pasti butuh hubungan badan kan?"
"Ya iyalah!"
"Terus kenapa enggak diterusin? Jangan-jangan ini modus kamu aja sama aku."
"Modus apa?"
"Untuk menyembunyikan hubungan kamu sama orang itu."
"Orang itu siapa?"
"Laki-laki yang kemaren datang. Kalian kayak...mesra banget pas naik motor."
"Astaga...dia itu laki-laki, Mbak. Sebentar lagi dia juga nikah."
"Ya makanya itu, kamu patah hati terus sekarang deketin saya buat pelampiasan."
"Mbak, saya masih normal loh."
"Nggak yakin, masa iya jadi duda tujuh tahun...lama banget. Enggak masuk akal. Jangan-jangan kamu punya hubungan spesial sama temen kamu itu." Risty merasa yakin.
"Mau saya buktikan ya kalau saya ini lelaki normal?"
Risty terdiam,”Nggak perlu, aku percaya kok.”
"Saya nginap di sini, Mbak. Kita tidur yuk!"
"Hmm..." Risty hanya bisa bergumam. Ia merasa sangat lelah dan kini malah mengantuk. Mereka berdua pun tertidur.
**
Ini sudah pagi, Risty terbangun,lalu ia tersadar bahwa ada sosok pria sedang terbaring di sebelahnya. Dengan perlahan, ia bergerak meninggalkan tempat tidur untuk segera mandi dan menyiapkan sarapan pagi. Risty menyiapkan sarapan sambil senyum-senyum sendiri karena teringat peristiwa semalam. Lalu, tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang melingkar di perutnya.
Rion terbangun karena aroma masakan Risty. Lalu ia melihat gadis itu tengah memasak, dengan spontan ia bergerak menghampiri dan memeluk wanita itu dari belakang. Dagunya ia tempelkan di pundak Risty. Tidak peduli mungkin saja saat ini ia bau karena baru bangun tidur.
"E...eh, kamu u...udah bangun." Jantung Risty berdebar-debar.
Rion mengangguk."Mbak udah mandi ya...rambutnya basah dan wangi."
"I...iya. Ka...kamu mandi sana." Konsentrasi Risty pada masakan jadi pecah. Saat ini ia hanya bisa mengaduk-aduk masakannya tanpa tujuan yang jelas.
Rion melepaskan pelukannya."Ada sikat gigi enggak, Mbak?"
"Ada di kamar mandi aku, di lacinya ada sikat gigi baru. Di lemari sebelah bawah juga ada handuk bersih.
"Oke." Rion pergi begitu saja meninggalkan Risty.
Wanita itu segera menyiapkan masakannya, lalu menata di atas meja makan. Ia hanya tinggal menunggu Rion selesai mandi. Wajah Risty tiba-tiba terasa panas, ia kembali mengingat kejadian semalam. Entah apa yang ada di pikirannya sampai berbuat seperti itu dengan tetangganya sendiri. Andai saja orang tahu, bisa dipecat ia sebagai Dosen. Tapi, ia juga manusia biasa, membutuhkan hal-hal seperti itu dalam hidupnya.
Rion keluar kamar dengan wajah yang segar, rambut yang basah, dan senyuman yang menawan. Ia duduk di hadapan Risty lalu menatap makanan yang tersaji."Sudah boleh sarapan?"
"Silakan," kata Risty dengan wajah merona.
"Mbak ngajar?"
"Iya, tapi...masih nanti. Jam sepuluh."
Rion mengangguk-angguk. Lalu, meneguk air putih."Ngajar sampai sore, Mbak?"
"Iya, sampai sore. Kamu...nanti mau ngapain seharian di rumah aja?"
"Kerja. Saya banyak kerjaan,Mbak, harus segera diselesaikan,"jawab Rion.
"Kerjaan? Kerjaan apa?"
Gerakan Rion terhenti. Ia lupa kalau Risty belum tahu kalau ia ini orang yang cukup sibuk di rumah."Saya ini bukan pengangguran kok, Mbak, seperti yang Mbak bilang selama ini. Saya ini content creator. Pekerja Industri kreatif. Makanya kerjaan saya di depan komputer terus."
"Oh...maaf. Aku enggak tahu."
"Makanya saya kasih tahu,Mbak." Rion tertawa geli.
"Iya...maaf."
"Mbak enggak apa-apa kan pergi ke kampus sendiri? Seharusnya kerjaan saya itu dikerjakan semalam. Tapi, karena ada pak RT di depan, enggak bisa pulang."
"Iya enggak apa-apa, aku naik ojek aja bisa kok."
Rion mengeluarkan dompet, lalu menyerahkan lima lembar uang seratusan."Ini buat pegangan,Mbak."
"Kok banyak banget?"
"Loh, saya kira malah kurang. Saya cuma pegang uang cash segitu, nanti kalau kurang bilang aja, Mbak."
"Oke, nanti gajian aku balikin." Risty menerima uang itu dengan segan.
"Santai aja, Mbak." Rion melanjutkan makannya. Setelah selesai, ia melirik jam dinding. Rasanya ia sudah harus kembali ke rumahnya untuk bekerja. Waktunya sangat singkat untuk bisa menyelesaikan semuanya.
Ia segera berdiri."Saya harus pulang,Mbak."
"Oke." Risty mengantarkan Rion sampai ke depan.
Sebelum keluar, Rion mengintip dari jendela ke arah luar. Terlihat sepi. "Kayaknya udah aman,Mbak, saya pulang dulu ya,"kata Rion dengan tatapan yang hangat.
Risty meneguk salivanya, lalu mengangguk."Iya."
Rion mengurung tubuh Risty di balik pintu, lalu melumat bibirnya. Tubuh mereka bergesekan, ciuman lelaki itu seakan memabukkan Risty di pagi hari yang indah ini. Rasanya tidak ingin berhenti sampai di sini.
Rion melepaskan ciumannya,lalu mengusap bibir Risty."Sampai ketemu nanti."
Risty mengedipkan matanya berkali-kali, cukup kaget dengan serangan Rion pagi ini."I...iya."
"Dah...." Rion membuka pintu lalu keluar. Tak lupa ia menutupnya kembali.
Risty kini terduduk lemas, bersandar di daun pintu. Baru beberapa detik, Ia sudah merindukan bibir lelaki itu.
**
Pintu terdengar diketuk saat Rion sedang seriusnya bekerja. Ini memang sudah sore, mungkin saja itu Risty yang mengantarkannya makanan atau wanita itu merindukannya. Rion membuka pintu dengan semangat. Senyumnya langsung sirna melihat sepasang suami isteri di hadapannya.
"Hai, Yon!"
Rion membatu beberapa saat,lalu ia tersenyum tipis."Eh, kakak...ayo masuk-masuk."
Daffa dan Nindy masuk ke dalam rumah Rion.
"Sorry nih ganggu,"kata Daffa.
"Nggak kok...biasa aja." Rion terkekeh."Ada apa nih,kak...tumben mampir nggak ngasih kabar dulu."
"Iya...kita mau pergi liburan sih, tapi pas nyampe dekat sini mobil malah harus masuk bengkel. Besok baru selesai. Kalau boleh...kita nginap satu malam di sini, Yon. Boleh nggak?" tanya Daffa.
Rion tersenyum tulus."Ya boleh dong, Kak. Silakan...anggap aja rumah sendiri. Eh tapi...malam ini Rion harus pergi.