"Tapi, kenapa harus di sini...nanti tetangga ada yang lihat gimana?" Risty memegangi kepala. Rion selalu membuat darahnya mendidih.
"Ya udah, kalau ketahuan kan kita ntar dinikahin."
"Sembarangan!" Risty melempar Rion dengan bantal kursi.
"Mbak, sini duduk!"
"Kamu...karena saya minta tolong ya makanya kamu jadi seperti ini. Semena-mena sama saya?" Risty duduk di ujung sofa dan melipat kedua tangannya di d**a.
Rion menoleh, ia menggeser duduknya lebih dekat pada Risty.
"Jangan dekat-dekat!"omel Risty.
Rion tidak peduli, ia terus mendekat."Mbak, saya enggak memanfaatkan keadaan. Tapi, memang momennya kebetulan seperti ini. Saya suka loh sama Mbak. Pengen kenal lebih dekat lagi."
"Tapi, kenapa harus begini, sih, caranya. Maksa masuk rumah. Nyeremin banget,"kata Risty gugup.
"Soalnya Mbak itu marah-marah terus kalau ketemu saya. Gimana coba?" Rion menatap Risty dengan lembut.
"Ma...maaf." jantung Risty berdegup kencang, sekarang tubuhnya dengan Rion sudah berdempetan.
Rion tersenyum, kemudian tangannya mengusap pipi Risty."Enggak apa-apa. Yang penting sekarang...Mbak sudah tahu. Tapi, boleh kan saya pengen dekat sama Mbak Risty?"
"Tapi, kamu duda kan?"
"Iya saya duda, Mbak. Memangnya kenapa? Yang penting saya sendiri kan?"
Risty menggeleng."Enggak apa-apa."
Rion mengembuskan napas berat dengan jawaban tersebut.
Suasana menjadi hening, tiba-tiba listrik padam.
"Loh kok nggak ada angin nggak ada hujan malah mati." Rion menyalakan senter ponselnya.
Risty langsung memeluk lengan Rion ketakutan. Ia tidak suka gelap.
"Punya lampu atau lilin, Mbak?"tanya Rion.
"Ada itu lampu. di laci dekat tv."
Rion bergerak mengambil lampu, lalu menyalakannya. Ia mengintip ke luar jendela, satu komplek sedang padam. Ia segera menghubungi Bu RT untuk menanyakan kenapa listrik mati. Sementara itu, Risty meringkuk di sofa sambil berharap Rion segera kembali duduk.
"Ada yang lagi rusak...terus lagi diperbaiki kata Bu RT, makanya dipadamkan sementara." Rion duduk kembali di sebelah Risty.
"Berapa lama?"
"Sampai perbaikannya selesai. Mbak kenapa?"
"Nggak suka gelap!" Risty mulai keringat dingin.
"Loh...kan udah terang nih ada lampu."
"Tetap aja enggak suka. Kamu temeni saya sampai lampu nyala ya?"
"Nggak mau,"kata Rion.
"Harus mau!" Risty melotot ke arah Rion.
Melihat hal tersebut, Rion jadi tertawa geli. Ia pun mendekatkan wajahnya, lalu mengecup bibir Risty.
Risty memukul lengan Rion."Cari kesempatan!!"
Rion menggenggam tangan wanita itu, lalu mengecupnya."Bukan...Tapi, ini sebuah perasaan yang semakin hari semakin besar. Yaitu rasa sayang."
"Nggak usah gombal. Udah kenyang aku mah sama gombalan begini." Risty membuang pandangannya.
"Kalau dimarahin terus, aku pamit ya?"ancam Rion. "Lelaki apaan main ancam-ancam begini, lama-lama juga kamu mesumin aku di sini!"
"Saya juga masih tahu batas kok, Mbak, biar dikata Duda bertahun-tahun."
"Tahu, ah!"
Risty menghempaskan punggungnya ke sofa. Lalu, tiba tiba Rion mendorongnya hingga posisi Risty terbaring di atas sofa."Kamu...mau apa, Rion?"
"Saya mau cium!" Tanpa menunggu jawaban, lelaki itu langsung memberikan lumatan-lumatan lembut pada bibir Risty.
Mata Risty membulat, napasnya tertahan. Tubuhnya membatu seketika. Ia tidak tahu harus bagaimana.
Rion berhenti sejenak, lalu menatap Risty lembut."Jangan tegang begitu, rileks saja."
Risty meneguk salivanya, ia berusaha tenang, ia ingin menyingkirkan tubuh Rion dari atas tubuhnya tetapi mulutnya seakan sulit bicara. Rion kembali melumat bibir Risty, dan tanpa sadar Risty justru membalas lumatan Rion.
Saat ciuman mereka semakin panas, lampu pun menyala. Keduanya kaget, lalu memisahkan diri. Risty mengusap bibirnya yang basah, wajahnya kini sudah seperti kepiting rebus.
"Sudah nyala,"kata Rion.
"Iya."
Lalu hening.
"Aku...pulang aja,Mbak...kan lampunya udah nyala, sudah berani di rumah sendiri kan?"
Risty mengangguk. Lalu ia mengikuti Rion yang berjalan ke pintu. Lalu saat hendak memegang handle pintu, Rion mendengar suara-suara ribut di depan sana. Ia mengintip dari celah jendela.
"Gawat!"kata Rion.
"Gawat kenapa?"tanya Risty.
"Ada pak RT dan beberapa warga di depan rumah kita,"kata Rion sambil menutup tirai kembali.
Risty mengintip, lalu ia panik."Jangan-jangan mereka tahu kita berdua ada di dalam sini, Rion. Aku takut...kamu jangan keluar dulu! Awas kamu!"
"Iya,Mbak...kita tunggu sampai mereka pergi aja."
Risty kembali mengintip, Pak RT dan beberapa warga tampak bicara serius di sana."Jangan-jangan mereka mau grebek kita, Yon!"
"Enggak mungkin,Mbak!"
"Rion, mati kita, Yon, Pak RT ke sini!" Risty melompat-lompat panik. Lalau beberapa saat kemudian, pintu rumahnya diketuk."Sembunyi sana! Sembunyi!"
Rion pun segera bersembunyi. Setelah yakin aman, Risty pun membuka pintu.
"Selamat malam, Mbak Risty. Mohon maaf mengganggu,"sapa Pak RT.
"Iya, Pak ada apa?"
"Mau minta izin ...malam ini kami mau mengadakan acara di rumah Pak Samad,menggunakan pengeras suara. Takutnya istirahat Mbak Risty terganggu."
"Acaranya malam ini, Pak?" Risty mengedip-ngedipkan matanya tak percaya.
"Iya, Mbak, sebentar lagi. Sampai tengah malam nanti, ya pengeras suaranya hanya sampai jam sepuluh. Tapi, akan terus ramai sampai tengah malam atau bahkan sampai besok pagi. Jadi, mohon izin begitu, Mbak."
"Iya, Pak enggak apa-apa. Saya juga setelah ini langsung tidur kok. Saya enggak terganggu dan memberi izin.
"Syukurlah kalau begitu. Tinggal Mas Rion nih yang belum. Rumahnya kok tutup ya...padahal mobilnya masih di luar. Tapi dipanggil-panggil enggak nyahut." Pak RT melihat ke arah rumah Rion.
"Ehm...anu, Pak, kayaknya tadi dia pergi dijemput temannya. Mungkin buru-buru makanya enggak masukkan mobil ke garasinya."
"Oh begitu ya, ya sudah nanti kalau Mas Rionnya pulang aja saya bilang. Saya permisi ya, Mbak, maaf mengganggu." Pak RT pamit undur diri.
"Iya, Pak, sama-sama." Risty menutup pintunya dengan lega. Ternyata Pak RT bukan mau menggerebeknya dengan Rion. Ia segera mencari pria itu.
"Rion!"
"Hmmm." Terdengar suara gumaman Rion.
Ternyata, lelaki itu sedang berada di kamar Risty dan tengah berbaring di kasur.
"Kamu...berani banget baring di kasurku. Udah pulang sana!"usir Risty.
"Pak RT masih di depan?"
"Masih,mereka ada acara di rumah Pak Samad. Tadi minta izin mereka pakai pengeras suara, takut ganggu,"jelas Risty.
"Pak Samad itu rumahnya depan rumah kamu loh, Mbak."
"Terus?"
"Terus saya keluar dari rumah ini, dan di depan mereka akan lihat saya. Acaranya di luar kan?"
Risty menepuk jidatnya."Astaga...terus gimana dong?"
"Mbak mau ditanyain begitu?"
"Enggaklah, ya udah kamu di sini aja sampai acaranya selesai." Risty mengalah.
"Saya numpang tidur aja, Mbak di sini."
"Di sofa sana, depan." Risty menarik tubuh Rion dengan paksa dan mendorong pria itu keluar dari kamar. Rion menahan tubuhnya, lalu berbalik mendorong tubuh Risty dan membenturkannya ke dinding.
Risty menahan napas, jantungnya berdegup kencang saat Rion sudah mengurung tubuhnya. Ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Rion menatapnya intens, lalu menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Risty. Sekujur tubuh Risty bergelenyar, seperti sedang dialiri listrik.Ia bisa merasakan lehernya terasa hangat terkena embusan napas Rion.
"Aku sayang kamu, Mbak,"bisik Rion mesra.
"Ri...Rion...sudah...." Risty mendorong tubuh Rion. Wajahnya terasa panas.